
Alisha masih bersikap tenang dan duduk dengan nyaman di kursi yang menghadap ke jendela.
"Kamu tau, ayahmu menikah tanpa persetujuan keluarga ... Orang tuanya marah besar ketika mengetahui ayahmu malah menikahi Vanya, wanita itu, memang tidak bisa dipercaya ... sekali jaalang tetaplah jaalang hingga kakekmu berusaha untuk memisahkan Reynaldi dan dia ... bahkan kakek tidak menginginkan cucu dari rahim Vanya, dia selalu berencana membunuhnya," jelas Armadon sambil duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.
Alisha terkejut, ia mulai menyadari, inilah sebabnya, dia dan ayahnya selalu berpindah tempat, dengan alasan agar selamat dari pembunuhan.
"Tunggu dulu, tapi dia kan ayahnya papah? Apa masih tega membunuh darah dagingnya? walau dari siapa aku dilahirkan, bukankah seharusnya kakek melihat papah yang merupakan keturunannya?"
"Siapa peduli dengan darah daging yang dihasilkan si jaalang itu!"
"Kenapa begitu?"
"Karna kakek tidak suka dengan Vanya, dan semua yang berhubungan dengannya,"
"Kenapa?" Alisha masih bingung.
"Oh, kamu tidak tau bagaimana kakekmu, dia adalah seorang pengusaha sukses dan penguasa bisnis hitam, dia pemimpin dunia gelap, katakanlah dia adalah seorang mafia, sedangkan orang tua Vanya adalah penghianat! Sialnya, ayahmu terbujuk rayuan manis dan kecantikan Vanya ... Sebenarnya, kakekmu tidak ingin hartanya untuk cucunya, karena pasti hanya akan dikuasai oleh Vanya, si jaalang mata duitan,"
Alisha terdiam, tidak bisa berkomentar, nyatanya, ibunya memang mata duitan, sampai tega meninggalkan ayahnya dan dirinya yang masih kecil.
"Kamu tau kenapa ibumu menjual saudara kembarmu saat lahir? Itu karena dia suka duit, dia tidak suka hidup susah, makanya kakekmu membenci dia dan anak dari rahimnya,"
"Jadi kalau begitu, aku diculik ini untuk dibunuh kah?" tanya Alisha hati-hati.
"Awalnya, ya, tapi kita berubah pikiran," jawab Armadon.
"Kita? Maksudnya ... kakek dan Om?" tanya Alisha.
"Bukan, tapi putraku, Arga,"
"Arga?" Alisha mengingat-ingat.
"Iya, dia dekat dengan temanmu Salsa,"
"Oh iya, aku tau," Alisha ingat terakhir kali dia mendapat telepon dari Salsa yang meminta untuk berhati-hati dengan Arga.
"Bagus berarti kamu mengenal dia, kalau begitu, kita bisa segera melangsungkan pernikahan kalian,"
"Apa? Eh, tunggu dulu, Om ... apa maksudnya ini?" tanya Alisha dengan nada kebingungan.
"Iya, kalian akan segera menikah, daripada harus membunuh kamu, mending kamu menikah dengan anakku, dengan begitu aku tidak perlu mengotori tanganku karena kamu akan menjadi menantuku, kemudian, semua hartamu jatuh ke tangan kami,"
"Jadi, ini semua karena harta?" tanya Alisha mulai paham maksud dari cerita Armadon.
"Iya, karena kakekmu itu ... Udah sekarat aja, masih bertingkah, aku yang selama ini hidup bersama mereka, merawat mereka, tapi semua harta warisannya hanya untuk Reynaldi dan aku tidak mendapatkan apa-apa ... Apakah itu adil? Padahal, Rey sama sekali tidak mengurusi orang tuanya,"
__ADS_1
"Kalau om hanya ingin harta warisan, ambillah, asal ... Lepaskan saya, dan saya tidak akan meminta sepeser pun,"
"Tapi sayang sekali, aturan mainnya tidak seperti itu,"
"Apa maksud Om?"
"Kakekmu, merubah surat wasiatnya, setelah mengetahui Reynaldi mati, tiba-tiba saja ia menjadi orang baik, ia menyerahkan semua harta warisan itu untuk anaknya Rey, cucunya, yang berarti kamu dan saudara kembarmu,"
"Jadi, kakek tau kalau papah punya anak kembar?"
"Ya, setelah kematian ayahmu!"
Alisha terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Baiklah Alisha, aku beritahu sesuatu," ujar Armadon melihat ketidakmengertian di wajah Alisha.
"Berawal dari kakekmu yang tidak memberikan harta sepeserpun padaku dalam warisannya, hari itu aku bertengkar, dan membuat kakekmu stroke, lalu aku menemui ayahmu, banyak hal yang kita bicarakan, soal kakekmu yang stroke, soal seluruh hartanya diberikan pada ayahmu dan juga soal dia memiliki anak kembar, namun sayang itu adalah oleh-olehnya terakhir yang dia bawa ke alam baka," cerita Armadon.
"Jangan bilang, kematian papah sudah direncanakan oleh Om," terka Alisha merasa nyeri di sudut hatinya.
"Ada sih rencana, tapi aku tidak membunuhnya, anak buahku yang melakukannya jadi tidak sengaja tertabrak," ujar Armadon tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Om gila! Om pembunuh!" Alisha makin emosi.
"Tenanglah, toh ayahmu juga sudah mati, dia bodoh!"
"Dia bodoh, hanya bisa berpindah-pindah tempat, apa dia pikir dengan begitu kalian aman?"
"Tentu, nyatanya bertahun-tahun kalian tidak menemukan kami, dan baru bisa menculikku setelah papah meninggal,"
"Hmhh, apa kamu juga ikut bodoh?" sindir Armadon.
Alisha hanya diam, tidak memberikan jawaban.
"Meskipun kakek kamu sangat kecewa dengan Rey, tapi, dia sama sekali tidak bisa membencinya, diam-diam, dia menyuruh orang untuk selalu mengawasi kalian ... di tahun terakhir sebelum kematian ayahmu, kakekmu beberapa kali membujuk ayahmu untuk kembali ke rumah, tapi dia menolaknya,"
"Kenapa?"
"Karena dia tidak ingin mewarisi harta gelap, menurutnya, semua itu haram,"
"Bukannya bagus? Selama ini papah hidup baik dengan pekerjaan halalnya,"
"Iya, bagus, jika saja kakekmu mau merubah warisannya untukku, minimal aku dibagi, tapi sayang, kamu tau ... kakekmu itu, walaupun dia tau Rey menolak sekuat warisannya, dia justru memilih memberikan semua hartanya untuk kepentingan umum, dan aku hanya diberikan satu perusahaan saja, lalu untuk apa selama ini aku menjaga mereka?"
"Anggap saja om membalas budi karena sudah diasuh oleh kakek," kata Alisha tanpa pikir panjang.
__ADS_1
"Inginnya aku berpikiran seperti itu, tapi sayang, aku bukan orang yang baik dan juga bukan orang yang ikhlas, jadi maaf saja, hidup itu butuh harta dan aku suka dengan harta dan kemewahan,"
Alisha terdiam ia tidak tahu harus berkomentar apa, karena yang dia hadapi adalah penggila kekayaan.
"Ah sudahlah, aku terlalu banyak bicara, bersiaplah, aku akan membawamu ke rumah sakit akan aku kenalkan dengan nenek dan kakekmu, sekalian minta restu pernikahan kalian dari mereka,"
"Tunggu, Om, aku tidak mau menikah, dan tidak mungkin menikah,"
"Sudahlah, terima saja, kalian nikah saja dulu, trus kalian cerai, jika kakek tua itu sudah mati, dan hartanya sudah diberikan padamu, kecuali ... jika Arga menginginkan kamu, maka pernikahan kalian diteruskan, gampang, kan?"
"Bukan gitu, Om, tapi aku... "
"Tenang aja, Arga pasti menyayangimu, aku yakin itu, aku bisa lihat dari matanya ... Seminggu yang lalu, dia melihat foto kembaranmu yang sedang dipegang anak buahku, saat itu anak buahku sedang melaporkan jika mereka tidak bisa melacak kembaranmu, hampir saja aku kehilangan semuanya, aku sendiri tidak menyangka jika dia mengenalinya, meskipun dia mengira itu kamu, tapi aku lihat dari matanya binar-binar rasa suka,"
"Aku sudah ..."
"Pacar maksudmu? Sudahlah, tinggalkan dia, sudah sudah aku tidak ingin berdebat, sekarang bersiaplah!" perintah Armadon tanpa ingin mendengarkan Alisha bicara, ia pun kemudian pergi meninggalkan kamar.
π΅
Arsyad, kek Haidar, dan pak Idris tercengang menatap Dhea. Benar-benar gadis yang sangat mirip dengan Alisha.
"Wah, ternyata kamu memang mirip sekali dengan Alisha, berarti papah salah mengenali ya," kata Arsyad pada Dhea.
Gadis itu hanya tersenyum saat diperkenalkan dengan Arsyad, kek Haidar dan pak Idris sore itu, setelah mereka berenam berkumpul di warung makan dekat kantor polisi, Aliando sengaja mengajak kelimanya ke rumah Arsyad.
"Jadi, Om sempat melihat saya menuju ke penjara ya?" tanya Dhea.
"Iya, saya kira kamu Alisha, makanya, saya langsung menghubungi Aliando untuk segera ke penjara, pasti ... Aliando juga salah mengenali kamu, kan? Apa dia langsung memeluk kamu?" tanya Arsyad dengan nada bercanda.
"Tidak, Om, dia langsung mengenali kalau saya bukan Alisha,"
"Wah, benarkah?" kali ini kek Haidar yang berkomentar.
"Iya, Kek, karena ... pada saat kita bertemu, dia langsung bertanya 'kamu siapa?' ... luar biasa, kan, begitu cintanya dia sama adik saya, sampai-sampai dia bisa mengenali kalau saya bukan istrinya,"
"Benarkah, Al? Bagaimana kamu bisa tahu kalau dia bukan Alisha?" tanya kek Haidar pada Aliando.
"Iya, gimana cara kamu membedakannya?" tanya pak Idris kali ini.
"Feel, Pak," jawab Aliando singkat sambil mengangguk, karena ketika itu, ia memang menyadari jika yang dilihatnya bukan Alisha tapi orang lain.
"Iya, Om, dia memang luar biasa, padahal saya sendiri pernah menganggap Alisha itu adalah Dhea, saya benar-benar tidak bisa mengenalinya dengan baik," komentar Fahri kali ini.
"Payah!" celetuk Dhea pada Fahri.
__ADS_1
π»π»π»π»π»