Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
104. Cerita Vanya


__ADS_3

Kelimanya saling bertatapan, kemudian kembali memandang Dhea, seakan meminta kepastian cerita yang sebenarnya.


*Flashback on *


"Ya Tuhan, kamu lagi datang ke sini, bukannya sudah aku bilang, aku tidak butuh perhatian dari kalian, paham Alisha?" ucap Vanya ketika itu saat baru saja berhadapan dengan Dhea.


"Emhh?" Dhea mengernyitkan keningnya, sesungguhnya, ia tidak paham apa yang dimaksud dari ucapan Vanya, untung saja, otaknya bekerja dengan cepat, ia menduga jika Vanya salah mengenali orang, dia pasti menyangka bahwa dirinya adalah Alisha.


"Apa anda salah mengenali orang, Nyonya?" tanya Dhea dengan nada angkuh.


Vanya terdiam. Ia memandangi Dhea sangat intens.


"Apa kamu ...." Vanya menghentikan ucapannya, ia seperti ragu-ragu untuk meneruskannya.


"Anda sudah mengenaliku?" tanya Dhea.


"Kamu anaknya Wijaya?" tebak Vanya.


"Hm, syukurlah, ternyata Anda dengan cepat mengenaliku,"


"Jadi benar kamu anaknya Wijaya? Kenapa kamu bisa sampai sini?"


"Tidak bolehkah aku mengunjungi ibuku sendiri?" tanya Dhea.


"Hegh, untuk apa? Kita tidak punya ikatan apapun, kamu adalah anaknya Wijaya,"


Dhea menggeleng, ia tidak habis pikir, kenapa ada seorang ibu yang begitu angkuh tidak mengakui anak kandungnya sendiri.


"Ini pertemuan pertama kita, tapi rasanya, Anda sebagai ibuku, sama sekali tidak menginginkan kehadiran aku, tapi, ya sudahlah, tidak masalah, sekarang, aku cukup tahu, kalau ibuku seperti yang diceritakan orang kepadaku,"


"Apa maksudmu?" tanya Vanya.


"Kamu seorang wanita yang cantik dan angkuh,"


"Oh, it's me," kata Vanya bangga dan penuh percaya diri.


"Ya, semua yang diceritakan tergambar jelas di hadapanku," kata Dhea.


"Lalu apa maksud kedatanganmu kesini?"


"Kayaknya, kedatanganku tidak Anda harapkan? tenang aja, aku gak akan berlama disini, aku hanya ingin melihat ibu kandungku dan ingin bertanya beberapa hal,"


"Tentang apa?"


"Di mana ayahku?"


"Dia sudah gak ada,"


"Maksud Anda?"


"Setahuku, dia sudah meninggal,"


"Apa?" Dhea tak percaya.


"Iya, kalau kamu nggak percaya, kamu cari tahu sendiri,"

__ADS_1


"Meninggal karena apa?"


"Aku tidak tahu," jawab Vanya santai.


"Kenapa Anda bisa tidak tau? Apa saat meninggal, Anda tidak ada di sampingnya?"


"Ya, aku sudah lama bercerai dengannya aku tidak tahu lagi kehidupannya,"


"Sejak kapan?"


"Mungkin sekitar usia Alisha tiga tahun,"


"Alisha?" Dhea terheran.


"Ya, dia saudara kembarmu, dan tidak kusangka, kalian tumbuh dengan baik, wajah yang sangat mirip, sama-sama cantik, sampai aku tidak bisa membedakannya,"


"Jadi, bener, aku punya saudara kembar?"


"Iya," jawab Vanya singkat.


"Namanya Alisha?"


"Iya, kalian lahir secara caesar, kamu lebih dulu diangkat rahimku,"


Dhea menarik nafas panjangnya, ada sesuatu terasa sesak di dadanya.


"Kenapa Anda menjualku dan kita berempat tidak hidup bersama?" tanya Dhea kemudian.


"Aku butuh uang yang banyak, saat aku tau aku hamil anak kembar, aku sengaja menutupinya dari ayahmu,"


"Dan Anda bekerjasama dengan dokter yang membantu Anda melahirkan? Apa ayahku tidak tau?"


"Apa ayahku membiarkan Anda pergi dalam keadaan hamil besar?"


"Oh, tentu tidak, aku pergi saat ayahmu bekerja, aku hanya meninggalkan sepucuk surat, aku tau, saat itu dia pasti kebingungan mencariku sepulang kerja, dia tahu jika aku sebenarnya belum saatnya lahiran, tapi aku memilih caesar, yang penting kalian bisa lahir selamat ke dunia,"


Dhea mengangguk memahami sesuatu, ia tidak habis pikir, jika wanita yang ada di hadapannya ini sungguh begitu tega dan tidak tahu malu, begitu lancar dia menceritakan semua hal tentang masa lalunya pada anak kandungnya, tanpa sedikitpun rasa bersalah.


"Setelah melahirkan, aku menjualmu pada keluarga Wijaya, dan aku sendiri kembali ke ayahmu dengan saudara kembarmu," Vanya lanjut bercerita.


"Berapa yang Anda dapatkan dengan menjualku?"


"Lumayanlah, cukup bisa bikin aku senang, dan tidak kesusahan," jelas Vanya.


"Anda senang?" tanya Dhea lagi.


"Ya!"


"Hmh, rupanya Anda cukup bersenang-senang," komentar Dhea sambil menganggukkan kepalanya.


"Eh, tunggu dulu, kamu juga aku beri kesenangan, aku berikan orang tua yang kaya, agar hidup kamu lebih layak dan bahagia, kalo kita hidup berempat, kamu pasti tidak akan bahagia,"


Dhea makin menggelengkan kepalanya.


"Jujur aja, aku gak bisa hidup dengan ayahmu, dia miskin, awalnya, aku berharap jika aku hidup dengannya, bisa mendapatkan kekayaan yang luar biasa, tapi ternyata, dia memilih hidup menderita, padahal dia orang kaya, asetnya dimana-mana," Vanya masih melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


Dhea masih terdiam. Tidak ingin berkomentar. Ia hanya ingin mendengarkan.


"Kamu tau, pernikahan ku dengan ayahmu tidak direstui orang tuanya, awal pernikahan, aku kira, aku bisa membujuknya untuk bisa kembali ke keluarganya, tapi dia malah lebih memilih bertahan hidup dalam kesederhanaan," cerita Vanya penuh penyesalan.


"Dan akhirnya Anda pun tidak tahan, kemudian meninggalkan ayah dan saudara kembarku?" tanya Dhea memastikan.


"Iya, cukuplah aku menderita selama hampir empat tahun, kemudian aku pergi mencari kehidupan yang layak untukku?"


"Anda tidak merindukannya?" tanya Dhea lagi.


"Siapa? Ayahmu? Tentu tidak,"


"Bukan, tapi anakmu yang usianya masih tiga tahun, saudara kembarku,"


"Oh, anak itu, dia hanya jadi beban dalam hidup aku, biarlah, dia juga bisa hidup baik dengan ayahnya,"


"Luar biasa," gumam Dhea yang masih terdengar oleh Vanya. Ia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran ibu kandungnya itu, bahkan saat ini ia bisa merasakan betapa sakit hatinya ayah dan saudara kembarnya tersebut.


"Apa?" tanya Vanya yang tidak mengerti maksud dari ucapan Dhea 'luar biasa',


"Oh, tidak papa, satu hal lagi, dimana makam ayahku, dan dimana saudaraku saat ini tinggal?"


"Kalau makam ayahmu aku tidak tau, tapi kalau keberadaan saudaramu, saat ini dia tinggal dengan suaminya,"


"Apa? Dia sudah menikah?"


"Iya,"


"Di usia muda?"


"Iya, kalau kamu ingin tahu lebih lanjut, tanyakanlah padanya, aku akan memberimu alamat," kata Vanya dengan wajah yang terlihat malas.


"Oh okke," Dhea mengerti dengan sikap Vanya yang sudah mulai merasa bosan.


Kemudian, tanpa pikir panjang, Dhea pun mengetikkan alamat Alisha yang diberikan Vanya di ponselnya.


"Baiklah, aku pergi dulu, semoga Anda sehat selalu," pamit Dhea tulus.


Vanya tersenyum sinis. Ia tidak terlalu suka dengan ucapan Dhea yang menurutnya itu hanyalah sebagai sindiran, bukan ketulusan dari hati.


"Aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal ataupun hati-hati padamu, pergilah, temui saudaramu, mungkin akhirnya kalian bisa bertemu dan bersama-sama membenciku," kata Vanya angkuh.


"Tenang aja, aku pasti akan bertemu dengannya, terimakasih ... i-bu, aku pamit," ucap Dhea sambil terbata memberi penekanan pada kata i-bu.


"Hmm," Vanya cuek. Bahkan saat ini hatinya sama sekali tidak bergetar mendengar panggilan 'Ibu' dari mulut Dhea.


"Ya sudah, i-bu, syukurlah Anda baik-baik saja di sini, bahkan terlihat sangat nyaman, satu tambahan komentar dariku, selain Anda cantik dan angkuh, Anda juga adalah orang yang sangat jahat," ungkap Dhea sambil akhirnya ia pun pergi meninggalkan Vanya.


*Flashback Off*


Dhea pun mengakhiri ceritanya.


Kelimanya akhirnya mengerti.


"Dan ini adalah saudara iparmu!" celetuk Robby pada Dhea sambil menepuk pundak Aliando.

__ADS_1


Dhea tersenyum.


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2