
"Apa?" tanya kek Haidar dari seberang telepon. Saat ini Aliando memang sedang menghubungi kek Haidar. Ia sengaja meneleponnya ketika mencari sarapan dan obat penyeri datang bulan.
"Iya Kek, Alisha gak hamil,"
"Kamu yakin?"
"Iya, ni tadi, dia baru saja datang bulan,"
"Alhamdulillah, lega ngedengernya, berarti dia memang gadis baik-baik, Kakek yakin Reynaldi telah mendidiknya dengan baik,"
"Iya, Kek, Al juga seneng, tapi, apa yang harus kita katakan sama nenek?"
"Nanti kakek coba bilangin perlahan, selainnya itu, kamu juga harus jujur yang sebenarnya pada nenek,"
"Tapi, pernikahanku tetep berlanjut kan, Kek?"
"Tentu saja, kamu pikir nikah kamu hanya main-main?"
"Ya, barangkali aja disuruh pisah karena niatnya nenek menikahkan ku disebabkan Alisha hamil, dan sekarang, ketahuan kalo Alisha tidak hamil,"
"Apapun bentuk alasannya, kalian sudah sah menikah, dan harus dijaga itu,"
"Siap, Kek,"
"Oiya, satu lagi, bilang sama pak Idris, soalnya ini menyangkut sekolah Alisha," kata kakek Haidar mengingatkan.
"Iya, Kek, Al ngerti,"
"Iya udah, salam buat Alisha, kakek senang karna ternyata Alisha tidak hamil,"
"APPA?!!" Tiba-tiba terdengar teriakan nenek Maryam, dan sesuai yang Aliando bayangkan, saat ini nenek Maryam berada di belakang kakek Haidar.
"SINI! BERIKAN HAPENYA, CEPAT!" teriak nek Maryam, sepertinya meminta kakek Haidar untuk menyerahkan ponselnya.
"HALO ANAK NAKAL!! DASAR!! SUDAH FITNAH ANAK GADIS BAIK-BAIK HANYA UNTUK BISA MENIKAHINYA! DASAAAAR!"
Aliando menjauhkan ponsel dari telinganya, teriakan nek Maryam benar-benar membuat telinga Aliando menjadi penging.
"Maaf Nek, kita menikah karena saling cinta,"
"Bohong kamu!"
"Beneran Nek, kalo nggak, mana mau Alisha nerima Al jadi suaminya, dia pasti menolak pernikahan ini,"
Dari seberang nek Maryam terdiam, ia seperti mencerna penuturan Aliando.
"Eh iya, bener juga ya,"
"Iya, Nek, itu bener, Alisha taunya kita menikah karna memang aku ingin menikahinya, aku mencintainya dan ingin menjaganya."
"Lalu kenapa kamu sembarangan bilang dia hamil, hagh?"
"Itu karena dia sempat mual-mual dan pucat!"
"Astaghfirullah, emang kamu gak bisa mikir? bisa aja dia masuk angin, atau tidak enak badan, dan lagi ... emangnya kalian benar-benar pernah melakukannya, hagh?"
"Nggak Nek, Al cuma ngarang, agar dapat restu dari nenek dan kakek, biar bisa nikah muda, jadi momentnya pas banget saat dia mual-mual,"
"Haduh, habislah nasibkuuuu ... kenapa punya cucu kayak kamu,"
"Maaf nek, abis gimana lagi, Al udah cinta banget, dan Al yang maksa Alisha buat jawab iya, soalnya sudah beberapa kali Al ditolak,"
"Ya jelas ditolak, dia mikirnya bener! Kalian itu masih kecil! Ya ampuuun, ya Tuhaaaaaan, kok bisa aku ngijinin anak kecil nikah! Dasar, kamu bohongin nenek, Al!!!" nenek Maryam sampai bingung untuk berkata apa, antara menyesal, marah bercampur menjadi satu.
"Maaf, Nek, maafin Al,"
"Sekarang, mana Alisha, hm?"
__ADS_1
"Alisha di rumah, Nek, lagi sakit,"
"Apa? Sakit? Kamu gimana sih, katanya nikah karna mau jaga Alisha, eh, belum ada seminggu kamu udah bikin dia sakit, kamu apain dia hagh?" Nada suara nek Maryam masih tinggi.
"Ya ampun, Nek, jangan suudzon, Alisha lagi datang bulan, ini hari pertamanya!"
"Ooooh," nada suara nek Maryam kali ini mulai rendah.
"Kamu udah kasih obat pereda nyeri belum?" tanya nek Maryam
"Ini lagi nyari apotik yang udah buka, Nek, sekalian cari sarapan,"
"Lho, mana Leha?" Nek Maryam heran, kenapa Aliando harus mencari sarapan, bukannya Aliando tidak perlu repot soal makan karena sudah ada mak Leha yang menyiapkannya.
"Al gak di rumah, Nek, Al lagi di kontrakannya Alisha, kemarin beres-beres,"
"Oh, ya sudah, kamu cepet cari sarapan, jangan sampai Alisha makin sakit,"
"Iya, Nek," ucap Aliando singkat, ia merasa heran, sebenarnya siapa yang menjadi cucunya, kenapa sepertinya Alisha yang lebih disayang.
"Setelah terima raport kalian kesini lagi, nenek masih mau buat perhitungan sama kamu anak nakal,"
Aliando hanya nyengir.
"Denger kamu!"
"Iya nek iya, denger ... Al siap, asal jangan sampai Alisha tau ya Nek, plis,"
"Hmmh, dasar anak nakal!!"
"Iya, Nek, yang Alisha tau, kita menikah murni karena saling cinta tidak ada embel-embel hamil di luar nikah, dan dia taunya nenek merestui ya karena itu,"
"Dasaar, jadi Alisha dijebak sama kamu ya!"
"Mungkin seperti itu,"
"Niat Al baik, Nek, biar gak salah jalan, menjaga Alisha dengan cara halal,"
"Tapi tidak juga dengan bohongin nenek, Al!"
"Kalo gak kayak gitu, apa mungkin nenek ngijinin?"
"Aduh, udah lah capek berdebat sama kamu, cepet pulang, urus istrimu! jangan biarkan dia menunggu terlalu lama,"
"Iya, Nek, iya,"
Aliando menutup teleponnya, ia merasa lega, bebannya terasa terangkat. Ia pun segera kembali ke rumah setelah mendapatkan apa yang di carinya.
π΅
"Kamu lagi apa, Cha?" tanya Aliando yang baru saja datang dan langsung menuju dapur. Ia melihat Alisha sedang merendam seprai dan baju yang terkena noda darah, yang sebelumnya telah dikucek terlebih dahulu dengan sabun mandi.
"Abang udah pulang?"
"Iya, kamu lagi apa, hm?"
"Ini lagi ngerendam seprai,"
"Ya Ampun, biar aku aja, lagian aku kan udah nyuruh kamu istirahat,"
"Tapi ini kotor kena darahku, Bang,"
"Trus kenapa?"
"Gak papa, Bang,"
"Udah, biarkan, nanti aku yang nyuci,"
__ADS_1
"Jangan, Bang, ini tugas aku,"
"Udah, gak usah mikirin cucian, sekarang makan dulu, terus minum obat," titah Aliando
"Ntarlah, Bang, aku nyelesein ini dulu," kata Alisha sambil menunjuk ember yang berisi rendaman cucian.
Kalau Alisha sudah ngeyel seperti ini, Aliando menjadi gemas. Ia pun segera menggendong Alisha, lalu membawanya ke meja yang biasa digunakan untuk tempat makan oleh Alisha.
"Diam, dan jangan bantah!" titah Aliando sambil mendudukkan Alisha di kursi.
Gadis itu hanya diam, memperhatikan Aliando, kali ini, apapun tidak bisa dia bantah sembarangan, karena status Aliando saat ini telah menjadi suaminya.
"Ini, buka mulut kamu!" perintah Aliando sambil menyuapkan bubur yang tadi telah dibelinya. Alisha hanya menurut.
"Gak ada yang namanya tugas istri, mencuci, memasak atau apapun itu, karena semuanya adalah tugas suami," jelas Aliando sambil terus menyuapi Alisha.
"Maksudnya?"
"Emang kamu belum tau? Selama ini, tugas yang selalu dilakukan kebanyakan seorang istri sesungguhnya adalah tugas suami, istri seharusnya hanya taat sama suami, mengandung dan melahirkan sebagai kodratnya,"
"Tapi ...." sela Alisha.
"Kalau ada istri yang melakukannya, itu bagian dari amal kebaikannya membantu suami, itung-itung sedekah,"
"Kalo gitu, biarkan aku bersedekah, supaya dapet pahala,"
"Boleh, asal kamu harus dalam keadaan sehat,"
"Aku udah sehat, Bang,"
"Jangan memaksakan diri, Cha,"
Alisha diam, seperti biasanya, ia tahu jika Aliando tidak akan bisa dibantah.
"Maaf, aku hanya nyusahin Abang,"
"Mana ada? kenapa kamu mikirnya gitu, hm?"
"Aku belum terbiasa, menggantungkan diri pada orang lain,"
"Aku suamimu, ingat itu ya," kata Aliando masih setia menyuapi Alisha.
Alisha hanya mengangguk sambil terus menikmati suapan bubur dari Aliando.
"Apapun, Cha, kamu udah jadi istriku, kamu tanggung jawabku lahir bathin,"
"Kalau aku belum bisa jadi istri yang baik gimana, Bang?" Alisha masih dalam mode ketakutan, ia takut jika akhirnya mengecewakan Aliando. Bayang-bayang seorang ibu dalam benaknya adalah seseorang yang tidak bertanggungjawab.
"Aku takut kayak mamah, pergi ninggalin Abang, aku takut gak bisa jadi istri yang baik," Alisha mulai berkaca-kaca.
"Hei, kita jalani ya, bersama-sama, ini saatnya kita berjuang dan bertahan, aku juga gak sempurna, Cha, tapi tetaplah lakukan yang terbaik untuk kehidupan rumah tangga kita, ya, kamu mau kan?"
Akhirnya tumpah juga air mata yang sejak tadi dibendungnya. Kemudian gadis itu segera mendekap Aliando.
"Kenapa Abang baik banget?" tanya Alisha tanpa membutuhkan jawaban.
Aliando pun mengeratkan dekapannya.
"Maaf, aku belum bisa menjagamu dengan baik, aku masih belajar jadi seorang suami,"
Alisha hanya mengangguk di atas pundak Aliando sambil menangis.
"Kalo aku salah, Abang yang sabar ya jangan marahin aku,"
"Hm," ucap Aliando.
...π»π»π»π»π»...
__ADS_1