
"Wah, sayang banget, lidah kamu gak bisa ngerasain betapa lezatnya makanan ini," kata Arsyad seakan mengasihani Michelle yang tidak bisa merasakan kelezatan dari masakan yang dibuat oleh Alisha.
"Lezat kan, Pah?" tanya Aliando pada Arsyad, ia mencoba memastikan apa yang dirasakan oleh Arsyad tentang masakan Alisha dan ia sama sekali tidak peduli dengan komentar Michelle.
"Sangat lezat, ternyata papah beruntung punya menantu pandai masak, kamu pinter Al milih istri, udah cantik, baik, pinter masak lagi," puji Arsyad.
Aliando langsung melirik Alisha. Ia tersenyum melihat wajah Alisha yang merona karena pujian Arsyad.
"Iya, Pah, Al memang beruntung bisa memiliki Alisha," kata Aliando.
Hati Michelle tak karuan, ia merasa kesal melihat bagaimana Aliando dan Arsyad memuji Alisha.
"Ah, sayang sekali, aku selalu ketinggalan untuk ikut makan!" tiba-tiba sebuah suara wanita terdengar, ia baru saja masuk ke ruang makan.
"Ah, tante, senangnya, akhirnya tante datang," seru Michelle tampak bahahgia, ia menyapa wanita yang baru masuk ke ruang makan, dia Vanya, dibelakangnya ada penjaga rumah dengan wajah bersalah, seakan menyesal karena tidak bisa mencegah Vanya masuk ke rumah.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Arsyad, wajahnya terlihat sangat tidak menyukai kehadiran Vanya.
"Maaf, Om, aku yang mengundang tante, soalnya aku gak ada temen," kata Michelle dengan nada manja.
"Boleh ya, Om, tante Vanya disini, ikut makan?" pinta Michelle pada Arsyad seperti anak kecil.
"Kenapa kamu gak bilang dulu? Lain kali jangan sembarang ngundang orang ke rumah ini," perintah Arsyad.
"Mas, aku bukan orang lain," sela Vanya.
"Kamu bukan siapa-siapa lagi di rumah ini!" kata Arsyad tanpa memandang Vanya.
"Tapi, tante Vanya boleh kan ikut makan, malam ini?" tanya Michelle.
Arsyad hanya melirik sekilas. Malas.
"Kalian lanjutkan makan, papah akan menghabiskan ini di ruangan papah," kata Arsyad sambil berdiri. Ia kemudian membawa piring makannya ke ruang kerja.
"Ayo tante sini disini ikut makan, ini lezat banget lho," kata Michelle meminta Vanya untuk ikut makan bersama, dan tanpa sengaja ia telah mengakui jika masakan Alisha benar-benar lezat.
"Siapa yang masak?" tanya Vanya sambil menikmati makanannya. Ia memandang Alisha dengan tatapan tak biasa.
"Kenapa, Tan? Gak enak?" tanya Michelle.
"Nggak, ini ... rasa ini, mengingatkan tante pada seseorang," kata Vanya dengan perasaan kembali ke masa lalu, dimana Reynaldi selalu memasakkan makanan dengan cita rasa yang khas dan unik.
Alisha tidak peduli, tanpa memandang Vanya ia terus melanjutkan makannya.
"Siapa, Tan? Emang gimana rasanya?" tanya Michelle.
"Kamu kan yang masak?" tanya Vanya pada Alisha tanpa memedulikan pertanyaan Michelle barusan.
Alisha hanya melirik sekilas, ia sama sekali tidak bermaksud menjawab pertanyaan Vanya.
Vanya memandang Alisha serius. Sesungguhnya, ia benar-benar penasaran, karena rasa makanan yang ia makan benar-benar seperti rasa makanan yang selalu dimasak oleh Reynaldi.
__ADS_1
"Apa seperti ini ajaran ayah kamu, untuk tidak menjawab pertanyaan dari orang lain? apalagi orang tua?" tanya Vanya dengan nada ketus.
Alisha tetap diam. Ia benar-benar tidak peduli.
"Eh, tante, coba cicip yang ini deh, ini juga tak kalah unik dan enak," sela Michelle sambil meletakkan sesendok makanan lain ke piring Vanya.
Vanya tersadar, ia pun melirik Michelle dan tersenyum.
"Ah iya, bener, tante akan coba juga, mari kita makan," kata Vanya sambil memasukkan satu suapan nasi dan lauknya ke mulut.
"Iya tante, gak usah merusak acara makan kita, ntar malah jadi gak berselera," kata Michelle.
"Ah iya, kamu bener, Chell ... kamu ini emang anak yang baik dan cantik," puji Vanya sambil mengusap kepala Michelle, sehingga terlihat keakraban diantara keduanya.
Alisha menarik nafas panjang dan segera menyelesaikan acara makannya.
"Abang uda selesai?" tanya Alisha saat melihat isi piring Aliando telah habis.
"Iya," jawab Aliando singkat.
"Sini, biar aku bawa ke belakang," kata Alisha sambil mengambil piring bekas makan Aliando.
Ia segera meninggalkan meja makan sambil membawa piring yang kotor milik dirinya dan Aliando.
"Oh lihatlah, gak ada sopan-sopannya, main pergi gitu aja," gumam Vanya sengaja dengan suara yang bisa didengar oleh Alisha dan Aliando, ketika Alisha dan Aliando pergi meninggalkan meja makan.
"Sudah Tante, lanjutkan makan aja, gak usah peduli ma mereka yang gak bisa menghargai orang lain," kata Michelle.
π΅
"Kenapa Abang ngajakin aku ke kamar, kita baru aja makan lho?" tanya Alisha sambil duduk di bibir tempat tidur, ia memandang Aliando yang merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
"Kemarilah!" perintah Aliando sambil menepuk bagian kasur di sebelahnya. Ia bermaksud agar Alisha tidur di sampingnya.
Gadis itu pun akhirnya ikut berbaring di samping Aliando. Keduanya terdiam sejenak sembari memandang langit-langit kamar.
"Kamu gak papa kan, Cha?" tanya Aliando membuka percakapan, tatapannya masih ke atas.
"Maksud Abang?" Alisha menoleh, ia tak mengerti dengan pertanyaan Aliando.
"Perasaan kamu," kata Aliando. Ia pun memiringkan tubuhnya menghadap Alisha.
Kini keduanya berhadapan dengan posisi tidur miring. Saling memandang.
"Melihat ibu kandung kamu lebih akrab dengan anak lain daripada anak sendiri," jelas Aliando sambil mengusap pipi Alisha.
"Oh, gak papa, Bang, dia memang tidak pernah menganggapku anak, karna aku anak papah Rey yang miskin,"
"Kamu gak sakit hati melihat kedekatan mereka?" selidik Aliando.
"Aku punya Abang sekarang, andai kata saat ini aku sendirian, aku pasti sakit hati,"
__ADS_1
"Tenanglah, aku gak akan ninggalin kamu," kata Aliando, lalu ia meraih kepala Alisha dan mengecup keningnya.
Sementara tangan Alisha memeluk tubuh Aliando.
"Oh ya, tadi sore sebenernya Abang mau apa minta aku ke teras samping rumah?" tanya Alisha tiba-tiba teringat akan ajakan Aliando tadi sore.
"Oh, aku ingin nunjukin pelangi, pantulannya nyampe terlihat di kolam, aku rasa kamu pasti suka dan kita bisa menikmati indahnya senja,"
"Lalu kenapa gak jadi? Dan Abang malah lari? Ada apa?"
"Oh, saat nungguin kamu, aku ngelihat hape, ngecek CCTV rumah papah, gak taunya aku ngelihat seseorang mirip temenku, aku segera ke gerbang, tapi orangnya udah gak ada," jelas Aliando berbohong agar Alisha tidak khawatir, karena sesungguhnya, yang ia lihat pada cctvnya adalah seorang laki-laki misterius, yang mungkin orang yang sama dengan laki-laki yang mengikutinya selama ini.
"Oh gitu ... yah, tapi aku jadi gak ngelihat keindahan pelangi senja,"
"Maaf, mudah-mudahan ke depannya akan ada pelangi yang bisa segera kamu lihat,"
Alisha tersenyum sambil mengangguk seakan mengaminkan apa yang Aliando katakan.
"Eh, ada apa itu ribut-ribut di bawah?" tanya Aliando saat pendengarannya menangkap suara yang sangat berisik di lantai bawah.
"Papah, itu suara papah dan mamahku," tebak Alisha ketika mendengar keributan.
Keduanya pun bergegas keluar kamar dan menghampiri sumber keributan.
Rupanya, Arsyad sedang mengusir Vanya dari rumah, karena ulah Vanya yang tiba-tiba masuk ke ruang kerja Arsyad dan menggodanya, dan hal itu membuat Arsyad murka. Di saat yang sama Michelle justru malah membela Vanya dengan alasan dia menginginkan seorang teman.
"Kalau begitu, pergilah kalian berdua dari sini, biarkan wanita ini menemani kamu di rumahmu!" tegas Arsyad pada Vanya dan Michelle bertepatan dengan turunnya Aliando dan Alisha di hadapan ketiganya, namun keduanya hanya diam tidak memberikan respon.
"Om, aku ponakan Om, kenapa aku diusir?"
"Kalau kamu mau wanita ini nemenin kamu, maka, biarkan dia menemani kamu di rumahmu, jadi pulanglah, karna di sini tidak menerima keberadaan dia!" tegas Arsyad sekali lagi sambil. menunjuk Vanya.
"Kamu keterlaluan, Mas, aku bukan orang lain, walaupun kita sudah berpisah, tapi aku masih bisa berteman, kan, dan menjadi tamu di sini," kata Vanya membela diri.
"Aku tidak pernah menerima pengkhianat di rumah ini!" kata Arsyad pada Vanya, "Dan kamu Michelle, kalau kamu masih mau di sini, biarkan dia pergi, tapi kalau kamu masih memaksa dia untuk menemani kamu, maka kalian harus pergi dari sini, kamu pulanglah, Michelle!" perintah Arsyad sambil memberi pilihan.
"Om, jangan om, aku kan dititipin sama Mama Papa di sini," kata Michelle membela diri.
"Kalau begitu, bersikaplah selayaknya sebagai seorang titipan yang baik di sini,"
"Om, kenapa Om kayak gini sih, Om pasti terpengaruh sama orang lain yang bukan siapa-siapa, tapi mencoba menjadi bagian dari keluarga ini!" kata Michelle sambil menatap Alisha dengan sorot mata yang tajam.
"Kalau yang kamu maksudkan Alisha, dia adalah menantu Om dan dia memiliki hak lebih di rumah ini!"
"Om lebih ngebelain orang luar daripada keluarga sendiri? Inget Om orang luar tetaplah orang luar dan keluarga tetaplah keluarga," kata Michelle.
"Ah, iya kamu bener, kamu mengingatkan om pada kejadian empat tahun lalu, ketika om harus percaya pada orang luar daripada anak sendiri, padahal feel anak om gak pernah salah! Maka kali ini, om gak akan mengulang kesalahan yang sama, karna om percaya pada anak om, untuk itu, sekarang pergilah!" perintah Arsyad tegas.
"Wah, Om bener-bener ngusir?"
...π»π»π»π»π»...
__ADS_1