Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
61. Kangen


__ADS_3

Akhirnya, semua berjalan sesuai dengan yang Alisha inginkan dan Aliando hanya mengikuti aturan main yang dibuat oleh istrinya itu, meskipun menjalaninya penuh dengan kerinduan.


Baru dua hari berlalu, dan dalam dua hari ini, Alisha selalu mendapatkan makanan karena ada yang mengantarkannya mulai dari sarapan, makan siang, bahkan makan malam.


Tentu saja yang memesan adalah Aliando, semua yang dikirimkannya adalah makanan kesukaan Alisha. Meskipun Aliando tidak mengatakannya, namun Alisha cukup tahu siapa yang mengirimkan makanan-makanan itu.


"Kamu ngapain sih ngurusin makanan ku segala, ini udah hari kedua kayak gini, aku gak mau, aku akan makan kalo lapar, jadi jangan kasih-kasih aku makanan, kalo ga dimakan, kan ntar mubadzir!" Akhirnya Alisha menghubungi Aliando, padahal beberapa pesan Aliando dari kemarin tak ada satu pun yang dibalas, panggilan telepon pun tak diangkat olehnya.


"Kalo gitu makanlah, biar gak mubadzir, aku gak bisa makan di sini sendirian, keingetan kamu, jadi, tiap beli, aku pesan dua porsi," jawab Aliando bahagia, karena akhirnya ia bisa mendengar suara istri yang sangat dirindukannya.


"Udah jangan pesen lagi, kalo aku lapar aku akan cari makan sendiri,"


"Aku akan tetap memesannya, dan mengirimkannya ke kamu,"


"Gak usah maksa!"


"Kamu gak bisa nolak, dan aku gak butuh persetujuan kamu!" tegas Aliando.


"Kamu gak ngerti banget sih, aku kan makan kalo laper,"


"Maka makanlah setiap kamu laper!"


"Susah ngomong sama kamu!" Alisha mode ngambek. Ia pun mengakhiri panggilannya.


Aliando tak menyerah, ia pun kembali melakukan panggilan pada istrinya itu. Namun sayang, Alisha hanya membiarkannya.


"Sungguh tersiksa hidup tanpa lihat kamu, Cha,"


"Kembalilah, Cha,"


"Udah dong marahnya,"


"Maafin aku, masa kamu gak mau maafin suamimu ini?"


"Aku tau aku salah, aku udah boong, tapi kalo gak kayak gitu, mana mungkin kakek nenek ngerestui kita nikah?"


"Kamu tau, Cha, percayalah, pernikahan kita murni karena cinta, aku cinta kamu, kamu juga, kan?"


"Cha, aku tau kamu juga kangen aku kan?"


"Cha, kamu lagi apa?"


"Cha, aku kangeeeen,"


"Cha udah makan?"


"Cha, aku lagi nonton film Brave kesukaan kamu, gadis berambut merah yang pemberani,"


"Udah hari kedua, marahnya lama amat sih, Cha aku kapok, gak akan boong lagi, tapi soal cinta, aku gak pernah boong sama kamu, aku cinta banget sama kamu, Alisha leandra,"


"Cha, balas dong, satu aja pesen aku,"


Itulah rentetan pesan yang selalu dikirimkan Aliando dalam dua hari ini. Ia terus berusaha meskipun tak ada satupun balasan dari Alisha.


"Duh, susah juga ngadepin istri ngambek," gumam Aliando sambil menyugar rambutnya ke belakang.


🌡


Pagi itu Alisha membuka pintu depan, seperti biasa, pasti pengantar makanan yang sudah dipesan Aliando.


"Mas, makanannya buat mas aj ...,"


Alisha menghentikan ucapannya ketika tubuhnya tiba-tiba dibopong oleh Aliando di pundaknya.


"Hei, lepasin!" kata Alisha sambil memukul punggung Aliando berkali-kali. Ia tidak mengira jika yang ada di hadapannya adalah Aliando bukan pengantar makanan.

__ADS_1


"Sudah kubilang, aku akan membawamu paksa jika tidak membalas pesanku!" tegas Aliando. Ia masuk ke rumah mengambil kunci yang menggantung di pintu, kemudian menguncinya dari luar.


"Gak mau! Turunin aku!" Alisha memberontak.


"Berisik, Cha, tenanglah, biar tetangga gak ribut!" seru Aliando.


"Biarin! Biar tetangga tau kalo aku diculik,"


"Mana ada suami nyulik istrinya?" tanya Aliando sambil mendudukkan Alisha di motor bagian depan.


"Ini buktinya ada!" kata Alisha cemberut.


"Ini bukan nyulik tapi membawa istri," kata Aliando langsung menaiki motornya. Kedua lengannya memegang stang motor sehingga Alisha ada dalam kungkungannya.


"Sama aja, ini kamu mau bawa aku kemana?"


"Kita sarapan bersama, gak boleh nolak!" perintah Aliando sambil melajukan motor.


Alisha hanya terdiam. Ia juga tidak berniat untuk berdebat. Sebenarnya, hati kecilnya bahagia bisa bertemu dengan Aliando, jujur saja, dibalik sakit hatinya, dia menyimpan rindu yang mendalam pada suaminya itu.


Mereka sampai ke alun-alun kota, di sana sudah berjajar penjual sarapan. Aliando menghentikan laju motornya di depan warung lesehan nasi uduk dan bubur ayam. Sambil menggenggam erat tangan Alisha, ia memesan semangkuk bubur dan sepiring nasi uduk.


Tak peduli dengan tanggapan orang lain. Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah bisa memanfaatkan waktu sebaik mungkin, kebersamaan dengan Alisha, sebelum mood istrinya itu berubah seketika.


Saat ini mereka duduk berhadapan. Namun Aliando masih saja menggenggam erat tangan Alisha.


"Lepasin tangannya," pinta Alisha.


"Gak akan, ntar kamu kabur,"


"Nggak, aku janji, aku akan tetap disini," kata Alisha cukup meyakinkan.


Akhirnya Aliando pun melepaskannya. Kini ia menatap Alisha penuh kerinduan.


"Kenapa lihatin aku kayak gitu?" tanya Alisha mulai salah tingkah.


"Oh," ucap Alisha singkat, ia memalingkan wajahnya ke arah lain, sambil mengusap-usap kedua lengannya agar hangat. Maklum saja, ia hanya mengenakan baju tidur dengan lengan pendek tanpa jaket ataupun sweater.


Padahal, pagi ini cukup dingin karena cuaca mendung, terlebih semalaman telah turun hujan.


Aliando segera melepaskan jaketnya, lalu ia memakaikannya di punggung Alisha.


"Ini pakailah, jangan sampai tubuh kamu kedinginan! Maaf, aku lupa kalo kamu gak pake jaket,"


Alisha tak menolak, ia pun segera mengenakannya. Ah, rasanya begitu hangat, aroma parfum dari jaket menguar menembus indra penciumannya, membuat otaknya menjadi rileks, terasa begitu nyaman dan tenang.


Kemudian gadis itu menggosokkan kedua tangannya beberapa kali lalu didekatkannya ke mulut, agar mendapat kehangatan udara dari dalam mulutnya.


"Sini, biar hangat," kata Aliando sambil menarik kedua tangan Alisha dengan kedua tangannya. Kemudian, ia mengusapnya beberapa kali dan menggenggamnya erat.


"Udah lebih hangat, kan?"


Alisha hanya menatap Aliando. Sebenarnya, Alisha sangat menyukai sikap Aliando. Menurutnya, cowok tampan itu sangat baik, meskipun pemaksa, namun itulah yang membuatnya menjadi unik.


Sayang sekali, ia tidak menyukai cara dia yang berbohong, mengatakan Alisha hamil, membuat harga dirinya jatuh dan itu sangat menyakiti hatinya. Biarlah, dia ingin memberi waktu, sebagai hukuman untuk kesalahan Aliando.


"Sampai kapan kamu kayak gini, Cha?" tanya Aliando saat menatap wajah Alisha yang datar. Ia menciumi kedua punggung tangan gadis cantik itu. Lalu membenamkan bibirnya diantara kedua genggaman tangannya.


"Entah, pastinya, sampai sakit hatiku benar-benar sembuh,"


"Maaf, udah membuatmu sakit,"


"Iya, suami apaan fitnah istrinya didepan kakek nenek dan gurunya,"


"Maafin aku, tapi hanya mereka kok, yang tau kamu hamil, yang lain, taunya, kita nikah karena memang aku cinta kamu,"

__ADS_1


"Sahabat-sahabat kamu, gak kamu itung? Bukankah karena mereka kamu menyimpulkan aku hamil, hamilnya sama orang lain lagi,"


"Ah iya mereka juga, maaf, aku sebenarnya gak percaya, aku memang sengaja menjadikan hamil sebagai alasan agar kita bisa nikah,"


"Dasar gila!" komentar Alisha.


"Iya, aku gila, aku tergila-gila sama kamu,"


"Dan bodohnya aku, kenapa gak kepikiran, dan malah percaya gitu aja, kalo anak dibawah umur boleh menikah tanpa ada sesuatunya," kata Alisha penuh penyesalan.


"Kamu gak bodoh, Cha, tapi akunya yang gila,"


"Ah, ternyata, orang bodoh ketemu orang gila!" komentar Alisha membuat Aliando terkekeh.


Sejurus kemudian, pesanan mereka datang.


"Ini, makanlah yang banyak, dua hari gak bersamaku, kamu jadi kelihatan lebih kurus dan makin kecil," kata Aliando sambil menyodorkan mangkuk berisi bubur dan piring berisi nasi uduk.


"Aih, mana ada, dalam dua hari ini aja, kamu ngirimin aku makan, pagi, siang, sore bahkan malam, nyampe bingung mau ngabisinnya, dan akhirnya aku kasihin ke pak Mamat,"


Aliando tersenyum.


"Kenapa senyum-senyum,"


"Ambil aja hikmahnya, kamu jadi bisa sedekah, kan,"


"Hmm, lah ini kamu gak makan? kenapa dua-duanya dikasihin aku,"


"Aku ingin lihat kamu makan,"


"Trus, dengan lihat aku makan, kamu bisa kenyang?"


"Bukan kenyang, tapi tenang,"


"Hm, ini makanlah, jangan nyiksa diri ... baru ditinggal istri dua hari aja gak mau makan!" kata Alisha sambil menyodorkan piring berisi nasi uduk.


Aliando kembali tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Gak usah sok-sok-an gak makan, trus sakit, biar aku simpati dan dapetin perhatian dari aku, karena aku gak mudah diperdaya sama hal kayak gituan, malah aku jadi sebel! Lebay, cowok kok lemah," jelas Alisha bernada ketus.


Aliando terkekeh, ia menggelengkan kepalanya. Istrinya ini memang barbar, namun itulah yang dia sukai.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Halo kak readers sambil tggu up, mampir yuk ke novel sahabatku kak Morata dijamin seru abis. judulnya Perawan lima ratus juta... pokoknya kereen banget. Happy reading yaaa, jangan lupa dukungannya buat kk author.


ini Blurbnya


"Jangan pernah menghindari Ku, Kakak kamu akan mendapatkan perawatan dan pengobatan ekslusif. Asalkan kamu bersedia menjadi teman tidur ku selama dua Minggu. ucap Daniel Gladuks.


Kelamnya masa lalu telah membentuk Daniel Gladuks menjadi seorang laki-laki yang sangat tidak percaya dengan namanya cinta. Itu sebabnya ia kerap memandang rendah pada wanita. Dan selalu menganggap wanita itu hanya mainan saja. Hal itu yang membuat Daniel Gladuks selalu bergonta ganti pasangan untuk memuaskan nafsu birahinya.


Tetapi Olivia Jason hadir di kehidupannya dengan membawa segala ketulusan yang ia punya.


Akankah Olivia Jason mampu membuat Daniel Gladuks berubah dan dapat percaya bahwa cinta tulus dari seorang wanita benar-benar ada?


Simak ceritanya di "Perawan 500 juta


Original by Morata


FB.nolan s


Ig.sihalohoherli

__ADS_1



__ADS_2