Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
93. Sebenarnya....


__ADS_3

"Bang, lepasin! kamu terlalu kuat pegangnya, tanganku sakit," kata Alisha sambil berusaha untuk melepaskan pegangan tangan Aliando.


Aliando menghentikan langkahnya dan berbalik, kemudian menatap istrinya dengan perasaan yang tak karuan, antara marah, cemburu dan kasihan.


"Maaf!" kata Aliando singkat. Ia melepaskan pegangan tangannya.


"Abang kenapa? sakit banget tau!" kata Alisha sambil mengusap pergelangan tangannya.


"Kenapa kamu berbicara hanya berdua dengan dia?" tanya Aliando penuh emosi. Ia ingat betul bahwa kesepakatan keduanya, hanya membolehkan Alisha untuk menatap laki-laki hanya dua detik saja, jadi Aliando sama sekali tidak mengizinkan untuk Alisha berbicara berdua saja dengan seorang laki-laki.


"Abang marah? Abang cemburu?" tanya Alisha.


"Iya, kamu udah menyalahi kesepakatan kita, kenapa kamu berbicara dengan dia?"


Ini sudah yang kesekian kalinya, semenjak keduanya menikah, Alisha merasa ada perubahan pada diri Aliando, ia semakin over protektif dan possesif.


"Maaf, aku salah," tutur Alisha lembut. Saat ini ia tidak mungkin berdebat dengan Aliando,


"Sudah lah," kata Aliando ketus.


"Iya, udah, kita bicarakan nanti aja di rumah, aku harus masuk kelas," kata Alisha terlihat menahan sakit hati.


"Kamu belum istirahat, nanti makanlah yang sudah aku titipkan pada Naira," kata Aliando sambil meninggalkan Alisha dengan perasaan yang begitu sulit digambarkan oleh Alisha.


🌵


Setelah makan malam, Alisha segera ke kamar, ia mencoba untuk tidur, ia sengaja tidak menghiraukan Aliando, karena sejak pulang sekolah tadi, Aliando terus saja bersikap tak acuh.


Sebenarnya, mata memang terpejam, namun pikirannya terjaga. Ia sama sekali tidak bisa tidur.


Kira-kira setengah jam kemudian, terdengar suara pintu kamar dibuka. Alisha tahu jika yang masuk ke kamar itu adalah Aliando. Ia segera memiringkan tubuhnya membelakangi pintu, hatinya berdebar kencang, namun ada nyeri yang luar biasa yang ia rasakan, sehingga dadanya terasa sesak.


"Aku tahu kamu belum tidur," kata Aliando sambil duduk di bibir tempat tidur. Ia memandangi punggung istrinya itu.


Tak ada respon. Alisha memang mendengarnya, namun ia memilih untuk diam dan tidak menjawabnya.


Kemudian Aliando pun berbaring di samping Alisha dan memeluk tubuhnya dengan erat. Ia membenamkan wajahnya di tengkuk Alisha.


"Maafin aku, aku terlalu cemburu!" ucap Aliando tegas sambil menciumi tengkuk Alisha.


Alisha masih diam, hatinya berkecamuk. Ada air mata yang akhirnya mengalir.


"Abang udah nyakitin aku, tau!" kata Alisha sambil menahan isak tangisnya.


"Aku tau, tidak selayaknya aku tadi siang marah dan sesorean ini aku mendiamkanmu!" kata Aliando. Ia berusaha agar Alisha berbalik menghadapnya. Alisha pun luluh, kini ia memiringkan tubuhnya menghadap Aliando.


"Jangan nangis, maafkan aku!" kata Aliando sambil mengusap air mata Alisha kemudian mengecup lembut keningnya.


"Abang, abang sering banget gak percaya sama aku,"


"Aku percaya kamu!"


"Nggak! Abang itu selalu meragukan aku!"


"Tidak ragu! Aku hanya tidak suka melihat kamu berduaan dengan laki-laki lain yang jelas dia memang memberi perhatian lebih sama kamu!"


"Semenjak kita udah nikah, Abang terlalu possesif,"


"Iya, memang, itu karena aku gak mau kehilangan kamu! Aku takut gak bisa melindungi kamu, kamu adalah milikku, dan aku ingin selalu menjaga kamu,"


"Tapi Abang nggak percaya kalau aku bisa menjaga hati aku, aku udah jadi milik Abang, tapi kenapa Abang seakan-akan meragukanku,"


"Aku tidak ragu dengan perasaanmu, tapi aku takut orang lain bisa berbuat seenaknya sama kamu, dan aku tidak bisa menjaga kamu,"


"Abang kebangetan tau gak?"


"Aku tahu aku udah keterlaluan dan sikapku terlalu berlebihan, maaf ya, aku egois," jelas Aliando sambil memeluk Alisha.

__ADS_1


Perlahan Alisha pun membalas pelukan Aliando.


"Apa kamu mau jelasin sesuatu?" tanya Aliando sambil melepas pelukannya.


"Iya," jawab Alisha sambil menganggukkan kepalanya.


"Apa? Apa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Aliando sambil memperhatikan kedua mata Alisha.


"Fahri ngajak aku kencan malam minggu ini,"


"Apa?" Aliando heran.


"Iya, tapi aku tolak, hanya saja dia malah ngancam,"


"Ngancam apa? Kamu gak diapa-apain kan?" tanya Aliando sambil menangkup wajah Alisha.


"Nggak, Bang, dia hanya ngancam, jika aku gak datang, maka dia akan nyebarin video kita saat berciuman di gazebo,"


"Apa?" Aliando terkejut.


"Iya, Bang, dia merekamnya waktu kita di gazebo saat hujan,"


"Apa maksudnya? Pantas saja pertama kali ketemu, feel aku sudah merasa nggak baik,"


"Iya, dan feel Abang gak pernah salah,"


"Jauhi dia!"


"Udah Bang, selama ini aku memang membatasi diri tidak ingin berinteraksi ma dia, aku sampai bilang kalo gak ada hal penting jangan pernah bicara ma aku,"


"Terus? Kenapa tadi akhirnya kamu mau ngobrol berdua ma dia?"


"Karena dia bilang, sangat penting, dia aneh, dia menganggap aku orang lain yang pernah bersamanya di masa lalu, kalo gak salah ingat, dia menyebut nama Dhea Wijaya,"


“Siapa dia?"


"Apa dia ada kelainan? Semacam suka berhalusinasi?"


"Kayaknya nggak deh Bang, dia memiliki foto-foto Dhea, gadis itu bener-bener mirip ma aku,"


"Kamu yakin itu bukan editan?"


"Bukan, itu sangat jelas, tapi aku gak pernah berfoto seperti itu, bahkan berduaan dengan dia,"


Aliando terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Menurut Abang, aku harus gimana?" tanya Alisha kebingungan.


"Katakan aja malam minggu nanti kamu akan datang,"


"Tapi aku nggak mau, Bang,"


"Tenang aja, aku yang akan menemuinya,"


"Abang serius?"


"Iya," ucap Aliando pasti. "Kamu tenang aja ya," imbuhnya menenangkan hati Alisha.


Alisha mengangguk, dirinya sudah lebih tenang dari sebelumnya.


🌵


"Aku tau kamu pasti setuju kita kencan," gumam bathin Fahri sambil memandang foto "Alisha". Baginya itu adalah Dhea.


Saat ini dia berada di sebuah kafe, tempat janji temu yang sudah disepakati malam minggu. Dia sengaja datang lebih awal tiga puluh menit.


Tepat saat waktu yang dijanjikan tiba, Aliando masuk ke kafe yang dimaksud kemudian menghampiri Fahri segera setelah mengetahui tempat duduknya.

__ADS_1


"Aku tidak terlambat kan?" tanya Aliando sambil menarik kursi yang berada di hadapan Fahri dan duduk di kursi tersebut.


"Kenapa lo yang datang?" tanya Fahri dengan wajah terkejut, namun ia tetap bersikap tenang.


"Alisha berhalangan hadir, maka aku yang mewakilinya," jelas Aliando, ia juga bersikap dengan tenang.


Fahri menyeringai sinis. Ia merasa dipermainkan oleh Alisha dan Aliando.


"Apa lo gila? Gue masih normal, gue gak suka dengan laki-laki, dan ini adalah kencan gue dengan Alisha!"


"Aku kesini juga memang bukan ingin kencan denganmu! Aku hanya ingin memberi peringatan padamu, jangan ganggu Alisha!"


"Dia pasti sudah menceritakan semuanya!" kata Fahri masih dengan seringai sinisnya.


"Iya, dan gak perlu kamu mengancam dengan video itu, sebarlah, kami gak takut! Bukankah tindakan kamu itu menandakan kalau kamu seorang pecundang?"


"Hegh, gue tahu kalian gak akan takut kalo gue menyebarkannya dan sebenarnya ... gue juga nggak mungkin nyebarin video tersebut, karna lo mau tau kenapa?" Fahri menghentikan kalimatnya dengan pertanyaan di wajahnya seakan meminta Aliando untuk menjawabnya


Namun Aliando hanya diam, ia memandang Fahri dengan tatapan seakan menyiratkan bahwa Fahri harus meneruskan kalimatnya.


"Di video itu, ada kekasih gue yang sedang main peran dengan laki-laki lain, gue nggak mau orang yang gue cintai jadi rusak namanya," jelas Fahri.


"Dia bukan kekasihmu!" sangkal Aliando.


"Dia milik gue, gue yang lebih dulu, dan lo hanya orang ketiga!" tegas Fahri.


"Kamu salah, dalam hatinya, aku satu-satunya, yang pertama dan terakhir!"


"Gak usah kepedean? Dia hanya bermain-main sama lo, kalau sudah puas, dia akan kembali ke gue karena dia milik gue,"


"Dia tidak akan kemana-mana, dia akan selalu bersamaku! Jika kamu masih mengganggunya, maka ... kamu tau kan siapa yang kamu hadapi?"


"Elo kan ... gue gak takut, gue akan mengambil kembali milik gue dari tangan lo! Milik gue luar dalamnya! lo bukan apa-apanya! Paham!"


"Maksudnya?" Aliando agak terpancing emosi.


"Ga usah bodoh! lo hanya berciuman dengan dia, sedangkan gue, sudah pernah bermain dengannya, gue tau dia seperti apa, dan dia menyerahkan dirinya pertama kali untuk gue!"


Aliando mengernyitkan keningnya, ia tahu maksud dari perkataan Fahri, tapi ia sama sekali tidak mempercayainya, jelas-jelas ketika berhubungan suami istri untuk pertama kalinya dengan Alisha, istrinya itu mengeluarkan darah suci keperawanannya.


"Tidak usah membual, kamu terlalu berimajinasi!" tukas Aliando.


"Gue gak bohong dan gue gak berimajinasi,"


"Atau mungkin kamu salah orang!" tekan Aliando.


"Gak mungkin! gue gak mungkin salah! Dia adalah Dhea Wijaya, pergi setengah tahun yang lalu, dan setelah mencari kesana-sini, akhirnya gue temukan dia di media sosial dengan mengganti nama menjadi Alisha, gue yakin dia sengaja menyembunyikan identitas dan penampilannya, tapi sayang, gue mengenalinya!"


"Tapi sayangnya juga, aku tidak percaya dengan semua ceritamu!" ucap Aliando penuh penekanan. Kedua tangannya mengepal menahan amarah.


"Terserah, tapi gue pastikan Alisha akan kembali menjadi milik gue!"


"Tinggalkan Alisha! Jangan pernah mengganggunya dan dia adalah Alisha Leandra bukan Dhea Wijaya!"


"Dia Dhea Wijaya, gue bisa membuktikan, lihat ini! Ini kebersamaan gue dan dia," tegas Fahri sambil menunjukkan beberapa foto di ponselnya.


Aliando melihatnya dengan seksama. Apa yang dilihatnya memang benar wajah Alisha. Sama sekali tidak menemukan hal yang bisa membuktikan jika itu bukan Alisha. Saat ini, hanya feel-nya saja yang mengatakan jika di foto itu bukan Alisha.


"Dan ini yang bisa membuktikan jika Alisha milik gue!"


Aliando menahan segala emosi yang tiba-tiba memuncak di hatinya. Bagaimana tidak, yang dilihatnya adalah gambar saat Fahri dan seseorang yang mirip Alisha bersama di tempat tidur sebuah hotel hanya bertutupkan selimut pada tubuh bagian atas mereka. Keduanya terlihat bahagia seperti telah melakukan hubungan layaknya suami istri.


Mungkinkah ada kebohongan? Lalu siapa sejatinya Alisha dan siapa sebenarnya Dhea Wijaya? Apakah mereka sama atau dua orang yang berbeda. Itulah yang melintas dalam pikiran Aliando.


"Dia memang imut dan sangat nakal, tapi gue suka, apa lo kepikiran dia orang lain? atau kita yang telah ditipu dan dipermainkan oleh satu orang gadis? lo mau ngebuktiin?" tanya Fahri.


🌻🌻🌻🌻🌻

__ADS_1


__ADS_2