Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
47. Tidur di malam pertama


__ADS_3

"Kamu mau melakukannya malam ini, Cha?" tanya Aliando tak percaya.


Alisha dengan cepat menggeleng.


Aliando tergelak. Nyatanya, gadis itu tak sesiap ucapannya.


"Udah, ga usah mikirin itu, ya, kita lakukan, kalau kamu siap," kata Aliando, jujur saja Aliando juga belum sesiap itu untuk melakukannya.


Alisha mengangguk.


"Bang, mau tanya, rumah yang mana yang Abang jadikan mahar?" Alisha teringat mengenai mas kawin yang Aliando sebutkan saat akad nikah. Ia terkejut ketika Aliando mengatakan sebuah rumah dan isinya. Padahal, yang dia tahu, hanyalah seperangkat alat sholat dan uang senilai dengan tanggal pernikahannya, yang juga tanggal lahirnya.


"Rumah panggung di belakang rumah pak Aman, kenapa? kecil ya?"


"Eh, nggak bukan itu, jadi, rumah itu punya Abang?aku kira punya pak Aman,"


"Tapi kamu mau kan tinggal disitu?"


"Mau lah, gak perlu ngontrak,"


"Hahah, iya juga, biar pun kecil gak perlu mikir uang sewa ya kan?"


Alisha mengangguk sambil tertawa kecil.


"Ya udah, sekarang keluar ya, kita gabung ma yang lain, kayaknya pak Haikal dan pak Idris mau pamit," kata Aliando sambil mengecup pucuk kepala Alisha, membuat hati gadis itu kembali berdebar kencang. Perasaannya indah, nyaman, tenang dan teramat bahagia.


"Eh, tunggu, Bang," cegah Alisha menahan Aliando untuk membuka pintu kamar.


"Apa lagi, hm?" Aliando berbalik menatap Alisha yang sepertinya masih banyak pertanyaan.


"Apa nanti kita sekamar?"


Aliando langsung tersenyum.


"Maunya kamu gimana?"


"Kok gitu,"


"Lah kamu udah tau ilmunya belum?"

__ADS_1


"Maksudnya?"


"Seorang istri itu harus gimana sama suaminya?"


"Emmm, ngikut apa yang dikatakan suami selagi tidak melanggar syari'at,"


"Nah, itu tandanya, kemanapun suami pergi, berarti dia harus ngikut, okke, dan ini bukan lagi aku yang maksa karna memang sudah aturan agama,"


Mendengar penuturan Aliando, Alisha pun mengangguk pasti. Ia paham akan hal itu, dimana seorang istri memang seharusnya mengikuti suaminya.


"Aku tunggu di luar ya," kata Aliando.


"Tunggu, Bang, kita bareng aja, aku masih bingung dan kaku sendirian di sini," kata Alisha sambil bangkit dari duduknya. Untung saja dia telah berganti pakaian harian sebelum membersihkan riasan wajahnya.


"Ya udah, ayok!"


Keduanya pun keluar kamar menuju tempat orang-orang saling berbagi obrolan. Akhirnya, diketahui, jika pak Haikal sengaja datang dari kota T semalam dan menginap di rumah pak Idris. Alisha sempat dibuat terkejut, karena ternyata pak Idris adalah guru dari Haikal dan Reynaldi, ayahnya. Pantas saja, segalanya terasa mudah ketika Alisha masuk sekolah Garuda.


Berbeda halnya dengan Aliando, ia sudah tahu sebelumnya dari Haidar dan Maryam, bahwa yang membawa Alisha hingga bisa masuk SMA Garuda adalah pak Idris. Ia dimintai bantuan untuk menjaga Alisha oleh pak Haikal.


Acara ramah tamah sore itu pun berakhir, para tamu undangan akhirnya pulang kecuali tiga sahabat Aliando. Bahkan selepas makan malam mereka masih asyik bercengkrama di teras depan.


Ya, maklum saja, otaknya tidak seencer Aliando, tanpa harus belajar, dia sudah memahami pertanyaan dan mudah dalam menjawabnya. Sedangkan gadis itu, harus berjuang dulu untuk mengingat materi, memahami soal kemudian menjawabnya walaupun harus dengan sistem kebut semalam.


🌡


Alisha sudah terlelap, saat Aliando memasuki kamar. Cowok tampan itu hanya bisa tersenyum. Ia duduk di bibir tempat tidur, memandangi wajah polos tanpa beban gadis yang kini telah resmi menjadi istrinya. Rasa yang ada begitu luar biasa. Jujur saja, ini merupakan cita-cita indahnya, memiliki gadis cantik impiannya.


"Aku akan selalu menjagamu, Cantik," gumamnya sangat lirih. Tangannya terulur merapikan anak rambut yang menutupi sebagian wajah Alisha. Kemudian mengecup sekilas kening Alisha.


Apa yang ia lakukan ini terasa sangat berbeda dan luar biasa. Ada getaran yang berbeda muncul di sudut hatinya.


Aliando merapikan selimut di tubuh Alisha, kemudian ia bangkit dan mematikan lampu kamar, hanya menyisakan lampu tidur sebagai penerangnya.


Ia menempati sisi kasur sebelah Alisha. Ikut berbaring dengan perasaan campur aduk di hatinya.


"Ya ampun," gumam Aliando saat tangan Alisha mengenai tubuhnya. Ia kemudian mengamati sebentar wajah Alisha. Masih nyenyak, tidak terusik apapun. Rupanya gadis ini begitu terlelap.


Tanpa ingin memindahkan tangan Alisha dari tubuhnya, Aliando bergerak sangat perlahan memiringkan tubuhnya sehingga ia bisa menatap Alisha dengan leluasa, meskipun hanya ada keremangan cahaya, ia tetap bisa menikmati kecantikan gadis itu dengan jarak yang sangat dekat dan tak ada yang menghalanginya.

__ADS_1


"Ya Allah, terimakasih," ucapnya dalam hati. Ia menarik kedua sudut bibirnya begitu manis. Tanpa ingin mengganggu tidur Alisha, ia pun perlahan menutup matanya menyusul gadis itu bermimpi.


🌡


Alisha membuka matanya, tak ada cahaya, rupanya listrik padam sehingga cahaya remang-remang di kamar pun tak ada. Ia sangat terkejut, jujur saja ia tidak terbiasa tidur dalam keadaan gelap.


"Astaghfirullah .... ya Allah, tolong," ucapnya panik. Ia menyadari jika keadaan sedang mati lampu. Ia segera bangun, tangannya meraba-raba tempat tidur bermaksud mencari ponselnya.


"Eh, siapa ini!" teriaknya.


Alisha segera menendang tubuh yang ada di sampingnya itu hingga jatuh dari tempat tidur.


"Jangan macem-macem ya!" teriaknya waspada.


"Aww, Cha, kenapa aku ditendang?" Aliando kaget saat dia merasa ada yang menendangnya hingga jatuh dari tempat tidur.


"Eh, Abang?" Alisha mengenali suara khas itu, pelan-pelan ia tersadar, ia teringat kalau ia sudah menikah dan ini bukan di kamarnya sendiri. Ia segera menggeser tubuhnya ke pinggir tempat tidur, meraba dalam kegelapan keberadaan Aliando yang jatuh dari kasur.


"Abang dimana?" tanyanya, suaranya terdengar panik, bukan karena khawatir dengan keadaan Aliando melainkan ia sangat takut gelap.


"Aku di sini!" kata Aliando sambil kembali naik ke tempat tidur.


Alisha merasakan ada yang duduk di tempat tidur. Tangannya meraba tubuh Aliando, dan langsung menghambur ke arahnya.


"Abang, gelap, aku takut," kata Alisha sambil mendekap tubuh Aliando sangat erat.


"Tenang ya, mungkin ini sedang mati lampu, bentar lagi pasti nyala," ucap Aliando menenangkan, ia ingat jika Alisha sangat takut gelap, kemudian ia pun mengeratkan dekapannya.


"Udah, tidur lagi ya," saran Aliando.


"Aku gak bakal bisa tidur, Bang, tadi aku cari hape buat penerang, taunya malah nyentuh tubuh Abang, maaf ya Bang, tadi spontan nendang!"


"Hahaha, gak papa, Cha! Tadi juga aku baru nyadar kalau aku ternyata gak sendirian di kamar ini," kata Aliando, untung saja tidurnya belum begitu lelap.


Aliando kemudian meraba ke sekitar area bantal, tanpa melepaskan dekapannya. Sebelum tidur, dia memang sempat melihat ponsel Alisha, yang pastinya sengaja Alisha simpan di dekatnya agar terdengar alarm bangun pagi.


"Udah terang, sekarang tidur ya," kata Aliando setelah menyalakan mode senter dari ponsel Alisha.


...🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2