Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
70. curhat


__ADS_3

"Papah tahu, tapi apa kamu tidak ingin kembali ke rumah ini? dan hidup bersama papah? kita mulai lagi dari awal, Al," kata Arsyad.


"Maaf, Pah, Al belum bisa, karena ada seseorang yang harus Al jaga lahir bathin dunia akhirat, Al harus bersamanya, Al tidak bisa meninggalkannya,"


"Alisha?" tebak Arsyad.


"Iya,"


"Dia pacarmu?"


"Dia istri Al, Pah,"


"Apa?" Arsyad terkejut.


"Iya, Pah, maaf, Al nikah tidak memberi tahu Papah,"


"Kamu nikah muda? Kenapa? Apa karena kalian sudah melewati batas?" tanya Arsyad dengan nada kecewa dan menahan marah.


"Tidak, Pah, kita menikah karena saling cinta saja, bahkan kami juga belum pernah melakukan hubungan suami istri,"


"Kenapa bisa kalian sampai nikah? kalian masih SMA kan? dan kamu, baru lulus, iya kan?"


"Iya, kami menikah belum ada satu bulan, aku hanya ingin menjaga dia dengan cara yang halal,"


"Mana bisa? usia kalian kan bukan usia menikah?"


"Bisa, Pah, kakek nenek yang menikahkan kami, pakai surat dispen,"


"Ya ampun, apa kamu tidak berpikir panjang, hm? kenapa malah nikah muda? bagaimana cita-citamu? bagaimana masa depanmu?" tanya Arsyad masih tidak habis pikir, kenapa anaknya bisa mengambil keputusan begitu saja untuk menikah di usia yang masih belia.


"Alisha sekarang masa depan dan cita-cita Al, Pah, Al lakukan ini untuk dia,"


"Apa kamu sangat mencintainya?"


"Iya,"


"Apa dia mencintaimu seperti kamu mencintainya?"


"Feel Al, iya,"


Arsyad menarik nafas panjang.


"Kamu yakin? kalian masih terlalu muda, Al,"


"Do'akan kami, Pah, agar kami bisa jaga amanah ini,"


"Ya sudah, kalo gitu, mari kita buat pertemuan bertiga," usul Arsyad.


Aliando mengangguk sambil tersenyum.


"Jadi?" tanya Aliando.


"Apa?" Arsyad bingung.


"Apa hubungan papah dengan Alisha?" tanya Aliando memperjelas.


"Awalnya, hanya hubungan kerja, tapi sekarang sudah menjadi mertua dan menantu,"


Aliando tersenyum, ia merasa bahagia, karena ayahnya bisa langsung menerima Alisha dan status dirinya yang sudah menikah.


Ternyata, semua di luar bayangannya. Alisha benar, seharusnya, dari dulu ia mencoba berdamai dengan ayahnya.


"Gimana kalo besok kita bertemu," kata Arsyad, sepertinya dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Alisha.


"Boleh, Pah, dimana?" tanya Aliando.


"Hmm ... gimana kalo di tempat makan favorit mamah kamu,"


"Yang di mall itu?" tanya Aliando memastikan.


"Iya, lama sekali papah gak kesana, semenjak mamah kamu meninggal,"


"Baiklah, Pah, nanti Al kabari, waktunya,"


Arsyad menepuk pundak Aliando.


"Ternyata, anak papah hidup dengan baik dan semakin dewasa,"


"Papah gak marah, Al nikah muda?" tanya Aliando.

__ADS_1


"Hanya kecewa, tapi sudah terjadi, tak apa,"


"Makasih, Pah,"


"Hmm, lagian, biar kalian ga dosa juga, jadi, jagalah dan pertahankan, ya, karena berumah tangga itu, ga mudah tapi juga ga susah, semua indah, niatkan ibadah biar berkah,"


Aliando menganggukkan kepalanya.


"Semoga Alisha bisa satu visi dan misi bareng kamu, seperti papah dan mamah,"


"Doanya, Pah,"


"Al, kenapa hampir empat tahun ini kamu gak pernah berkunjung? Bahkan lebaran pun kamu gak datang?"


"Al datang, Pah, Al selalu lihat papah, tiap hari lebaran, Al ikuti papah sampai papah ziarah ke makam mamah pun Al tahu,"


"Kamu tahu? Kamu ngikutin? terus, kenapa kamu tidak mau menyapa papah?"


"Maaf, Al terlalu egois,"


"Ya, kamu sama seperti mamahmu, keras kepala, selagi kamu merasa benar, maka kamu akan tetap pada pendirianmu dan tak akan mengalah,"


"Maaf,"


"Sudahlah, kita ambil hikmahnya aja, papah ngerti, kamu juga pasti gak mau, kalau bertemu papah berarti kamu akan bertemu dengan Vanya, ya, kan?"


Aliando hanya terdiam tanpa menjawab apapun, melihat wajahnya saja Arsyad sudah tahu Aliando membenarkan apa yang dikatakan olehnya.


"Lalu kenapa papah tidak pernah mencari Al?" tanya Aliando kini. Ia sebenarnya merasa kecewa karena Arsyad tidak pernah mencarinya, bahkan ingin menemuinya saja tidak.


"Karena kamu tidak akan pernah mau kembali ke rumah ini selagi masih ada Vanya, iya, kan?"


"Tapi papah bisa kan menemui Al? Apa papah sudah sebegitunya tutup mata hanya karena tante Vanya?"


"Papah salah, papah juga terlalu egois dan emosi, juga tidak berpikir panjang, maafkan papah, ya!" kata Arsyad penuh penyesalan.


"Papah tau ... Al sendirian, Al bertemu kembali dengan keluarga pak Aman, dan akhirnya Al memutuskan untuk tinggal bersama mereka," cerita Aliando.


"Papah tau, papah pernah bertemu dengan kakek Haidar, dan beliau menceritakan semuanya, kamu yang ga mau tinggal dengan kakek nenek, dan memilih hidup sendiri, papah tau tujuanmu, kamu ingin menunjukkan kalo kamu bisa survive tanpa bantuan siapapun termasuk papah, iya, kan?"


Aliando diam. Apa yang dikatakan Arsyad memanglah benar.


"Ya, bahkan nenekmu juga, dan papah habis dimarahi oleh nenekmu, hanya kakekmu yang bisa menenangkannya," jelas Arsyad.


Ah, Aliando sangat tahu, kakek Haidar memang orang yang sangat bijak dan selalu bersikap tenang.


"Kakekmu bilang, biarkan kamu berjuang untuk hidup kamu sendiri, cukup papah tau kalo kamu baik-baik saja," cerita Arsyad.


Aliando hanya menarik nafas panjangnya.


"Semenjak itu, papah hanya bisa bertanya sama pak Aman tentang keadaanmu," imbuh Arsyad.


Aliando mengangguk mengerti.


"Oh iya, kamu lulusan terbaik lagi kan?" tanya Arsyad kemudian.


"Iya," jawab Aliando singkat.


"Papah bangga sama kamu,"


"Berkat doa papah,"


Arsyad tersenyum, nyatanya, memang benar, dia tidak pernah telat ataupun lupa untuk mendoakan Aliando.


"Kamu jadi kuliah di kampus impianmu, kan?"


"Iya, sesuai dengan jurusan yang Al inginkan,"


"Semoga lancar, dan sukses, bagaimana dengan Alisha?"


"Dia masih kelas tiga ini, Pah,"


"Wah, berarti ... dia masih SMA?"


"Iya,"


"Kalian masih terlalu muda untuk menikah dan menjalani rumah tangga,"


"Doakan, Pah, niat kami baik kok,"

__ADS_1


"Tapi, kalo kalian punya anak, kalian belum bisa ...." ucapan Arsyad terhenti, karena Aliando memotong ucapannya.


"Kami menundanya, Pah, sampai kami bener-bener siap,"


"Oh, ya sudah, targetkan masa depan kalian baik-baik,"


"Iya, Pah, ya udah, Pah, Al pamit,"


"Hmm, hati-hati, salam buat Alisha, semoga kalian bisa saling menjaga hati, jangan seperti papah dan Vanya, dia mengkhianati papah,"


"Papah tau?"


"Iya,"


"Apa yang akan Papah lakukan?" tanya Aliando.


"Seperti yang kamu lihat, papah sedang mengeluarkan barang-barang dan pakaian Vanya,"


"Maaf, Pah, Al gak ngebantuin, sebaiknya Al pamit dulu,"


"Iya, biar urusan ini papah selesaikan,"


Akhirnya, Aliando pun keluar dari kamar, diikuti Arsyad belakangnya, berpapasan tepat dengan Vanya yang akan menuju kamar, ia baru saja dari dapur menyerahkan Bebek panggang yang baru saja dibelinya pada bi Titi.


"Eh, Al-lian-do?" Vanya terkejut. Sudah lama tidak bertemu dengan anak lelaki Arsyad.


"Kamu pulang, Nak? Akhirnya ...." ucap Vanya sangat manis namun terdengar enek di telinga Aliando.


"Sok baik, dasar munafik," gumam bathin Aliando.


"Kamu nginep, kan?" tanyanya lagi sok ramah.


"Nggak, aku hanya berkunjung," jawab Aliando.


"Mas ...." Vanya seperti meminta penjelasan pada Arsyad, kenapa Aliando bisa datang dan untuk apa.


"Kenapa kamu baru pulang?" tanya Arsyad dengan nada penuh penekanan.


"Ini belum waktunya makan malam kan, katanya mas akan pulang malam, jadi aku pulangnya juga telat, dikit,"


"Oh gitu, sebaiknya kamu gak usah pulang sekalian," tegas Arsyad.


"Mas, ada apa?" Vanya merasa heran, karena nada bicara Arsyad penuh dengan amarah.


"Pah, Al pulang dulu," potong Aliando, ia sama sekali tidak ingin menyaksikan drama menyebalkan antara Vanya dan ayahnya.


"Tunggu Al, kalian habis membicarakan apa? kenapa papahmu jadi marah-marah?"


"Ga usah ge-er, karena kami tidak membicarakan tante, okke, soal papah marah, tanyalah, aku pamit!" kata Aliando sambil langsung pergi meninggalkan Arsyad dan Vanya.


Ia sama sekali tidak ingin ikut campur urusan Arsyad dan Vanya. Tujuannya satu, ia ingin sekali bertemu dengan Alisha dan bercerita padanya bahwa dia sudah berdamai dengan Arsyad. Ah, rasanya dia sangat merindukannya.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


...Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Yanktie ino pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa....


Judul : Tell Laura i love her


Ini blurbnya:


Laura seorang designer muda berbakat yang patah hati karena dua minggu sebelum pernikahannya, Tommy sang tunangan meninggal dunia akibat kecelakaan di race mobil yang diikutinya.


Laura berupaya melupakan Tommy, dia pindah ke Cimahi untuk memimpin sebuah panti asuhan balita milik uwaknya.


Banyak pria mengajukan diri sebagai pengganti Tommy. Namun semua tak ditengok oleh Laura.


Siapakah yang akan beruntung memetik bunga cantik ini?


- August sang pilot


- Ariano, yang arsitek


- Adnan, perwira polisi


- Ilyas dokter anak muda


- atau Syahrul, duda beranak dua yang usianya selisih jauh dengan Laura

__ADS_1



__ADS_2