
"Cha, kamu ngerasain sesuatu gak?" tanya Aliando.
"Apa?"
"Kamu merasa aneh ga sama diri kamu?"
"Kenapa?"
"Kamu makin manja, mudah lelah, ngantukan, banyak makan, kadang gak berselera sama makanan," jelas Aliando.
"Lalu kenapa? Aku sih ngerasanya fine aja,"
"Kamu lain dari biasanya, Cha,"
"Oh, terus Abang gak suka?"
"Bukan, aku justru seneng banget dengan sikap manja kamu,"
"Lalu?"
"Kamu yang mudah lelah, dan banyak makan, itu yang bikin aku khawatir,"
"Hee, takut uangnya Abang abis ya?"
"Aku gak ngekhawatirin itu, aku ...." Aliando menatap Alisha serius.
"Aku .... apa?"
"Aku takut kamu hamil," kata Aliando pasti.
"Hah?" Alisha menghentikan makannya. Ia ikut serius menatap Aliando. Dia memang menyadari jika keadaan dirinya saat ini memang seperti apa yang dikatakan oleh Aliando, tapi apa yang sedang dialaminya dan dirasakannya, menurut Alisha dia baik-baik saja.
"Iya, Cha, jangan-jangan karena pengaruh hormon kehamilan,"
"Abang jangan nakutin aku,"
"Aku bukan nakutin aku hanya mengkhawatirkan kamu,"
Alisha terdiam seperti memikirkan sesuatu.
"Kayaknya ... Abang nggak bahagia ya kalau kita punya anak sekarang atau emang Abang nggak pengen punya anak dari aku?" tanya Alisha dengan mode wajah kecewa.
"Hei, jangan bicara sembarangan, aku pasti bahagia dan aku selalu mengharapkan kita memiliki anak, tapi tepat pada waktunya, bukan sekarang,"
"Emang waktu yang tepat kapan? kita tidak pernah tahu kan, Bang ... kapan Tuhan memberikan anak kepada kita, kalau menurut Tuhan saat ini yang terbaik buat kita, kenapa enggak, di luaran sana, banyak pasangan suami istri yang sudah lama menikah dan sangat mengharapkan seorang anak, masih belum juga dikasih sama Tuhan,"
"Kamu bener, Cha, gak ada yang salah dengan semua itu, tapi kamu masih sekolah, apa kamu udah siap jadi seorang ibu dari anak-anakku?"
Alisha kembali terdiam, dia memang membenarkan apa yang diucapkan oleh Aliando tapi ia juga tidak memungkiri bahwa ada kebahagiaan yang muncul di sudut hati kecilnya yang terdalam. Andai kata dia memang benar-benar hamil, dia yakin, pasti akan ada jalan keluarnya.
"Kayaknya Abang juga nggak kepingin ya jadi seorang ayah sekarang?" tanya Alisha masih dengan mode kecewa.
"Kalo menurut usia, jujur aja aku belum siap, tapi, apapun yang terbaik yang Tuhan kasih buat kita, aku pasti terima dan sangat bahagia, bukankah hal ini patut kita syukuri?" jelas Alindo dengan wajah yang berbinar.
"Abang serius? Kalo misalkan aku beneran hamil, Abang gak marah? Abang siap jadi seorang ayah muda?" tanya Alisha penuh kebahagiaan dan harapan.
"Iya, bunda chayank ...." kata Aliando merayu.
"Hah? panggilan apaan tu?"
"Kenapa? Apa salah? Kalo memang kamu bener hamil, itu berarti kamu sudah menjadi seorang ibu, dan aku rasa, panggilan diantara kita harus berubah, gimana? Bagus kan Bunda?"
"Aih rasanya emang risih ya, masih muda dipanggil bunda,"
"Tapi suka kan?"
"Iya, serasa sesuatu banget," kata Alisha sambil mengusap perutnya.
Aliando yang memperhatikan sikap Alisha bergegas mendekatinya, duduk di samping Alisha, dan turut mengusap lembut perut Alisha.
"Assalamu'alaikum Sayang ... ini ayah sama bunda," ucap Aliando lirih sambil mendekatkan kepalanya ke perut Alisha, seakan-akan sedang berbicara dengan janin yang ada dalam kandungan Alisha.
__ADS_1
Alisha tersenyum dengan sangat apik melihat Aliando yang begitu antusias.
"Apa Abang suka?" tanya Alisha masih dengan senyuman apiknya.
"Hmm," Aliando mengangguk. "Makasih ya," kata Aliando sambil mengecup pipi Alisha, sementara tangannya memeluk erat tubuh Alisha kemudian mengusap-usap perut istrinya itu.
"Abang gak marah?"
"Marah? Kenapa harus marah?"
"Yaaa, karena kita punya anak sekarang-sekarang, Abang masih kuliah semester awal, sementara aku belum lulus SMA?"
"Aku gak marah, ini rezeki, aku justru mengkhawatirkan kamu, aku malah merasa bersalah, seharusnya usia kamu belum boleh hamil,"
"Aku gak papa, Bang, andai iya ada anak, aku akan sungguh-sungguh jadi ibu, kalo Abang gimana? tanggung jawab Abang jadi makin bertambah, apa Abang siap?"
"InsyaaAllah siap,"
"Jadi ayah muda? Sanggup?"
"Orang dulu juga nikahnya muda-muda, dan mereka bisa hidup dengan baik bahkan lebih baik daripada orang jaman sekarang, padahal gak ikut sekolah orang tua,"
"Iya seh, tapi kan kehidupan jaman dulu berbeda dengan jaman sekarang,"
"Ya udah, berarti biar kita siap nanti kita ikut kelas parenting,"
"Hah kelas parenting?"
"Iya, minimal kita punya pengetahuan dan persiapan merawat anak-anak kita yang hidup di jaman ini, mau kan?"
Alisha tersenyum sambil mengangguk, tangannya mengusap lembut pipi Aliando.
"Ah, ya udah, ini dimakan, cepet habiskan, biar dedenya gak kelaparan," kata Aliando sambil menyuapkan daging lobster ke mulut Alisha.
"Mmh, ini enak Bang, Abang cobain deh,"
"Buat kamu aja sama dede ya," kata Aliando. "Abis ini kita periksa ya,"
"Males Bang, capek," keluh Alisha manja.
"Abang aja deh, aku pengen cepet pulang, pengen tidur,"
"Ah ya sudah, nanti aku yang beli,"
"Abang gak malu beli testpack? Ntar orang curiga lho,"
"Peduli amat, orang gak tau siapa kita, kita juga gak kenal mereka," kata Aliando penuh percaya diri dan hal itu membuat Alisha merasa tenang.
π΅
"Gimana, Cha?" tanya Aliando pada Alisha yang baru saja keluar dari kamar mandi malam itu. . Perasaannya masih bercampur aduk saat menunggu Alisha melakukan tes kehamilan menggunakan alat tes kehamilan (testpack}.
"Ini," Alisha menyerahkan testpack yang dipegangnya pada Alindo.
"Emh, garis satu?" Aliando merasa heran.
"Iya,"
"Ada kesalahan kali," kata Aliando tidak percaya.
"Ini yang satunya, ini juga," kata Alisha menyerahkan dua testpack yang masih menunjukkan garis satu.
"Kok bisa ya, aneh deh," gumam Aliando masih memperhatikan ketiga testpack yang dipegangnya.
"Iya Abang, cuma garis satu, berarti aku gak hamil,"
"Eh, masih ada tujuh lagi testpacknya kan? Besok pagi dicoba cek lagi ya, siapa tau lebih akurat," saran Aliando. Sebelumnya memang mereka berselisih pendapat mengenai waktu penggunaan testpack. Menurut Alisha kapan pun boleh digunakan, sedangkan menurut Aliando sebaiknya menggunakannya di pagi hari setelah bangun tidur.
Alisha hanya mengangguk. Entah apa sebenarnya yang dipikirkan Aliando dan bagaimana sesungguhnya perasaannya. Alisha tidak mampu menebaknya.
"Ya udah sekarang kamu istirahat ya," perintah Aliando.
__ADS_1
"Eh, mana bisa,"
"Kenapa? Kamu ga ngantuk?" tanya Aliando.
"Bukan gitu, tapi aku ada tugas atau Abang yang ngerjain ya, ya, mau ya,"
" Ya sudah, coba aku lihat,"
Alisha bahagia, ia melompat sekali karena kegirangan kemudian dengan cepat mengambil buku tugasnya dan diserahkannya pada Aliando.
Namun, bukannya diselesaikan, justru Aliando malah menerangkan bagaimana cara penyelesaian dari soal-soal tersebut. Setelah itu Alisha lah yang akhirnya menyelesaikan tugas-tugasnya tersebut.
Sesaat, hanya keheningan menemani mereka. Keduanya sibuk dengan apa yang mereka kerjakan.
"Abang lagi baca apa? Serius amat," tanya Alisha setelah menyelesaikan tugasnya. Ia mendekati Aliando yang sedang asyik membaca sebuah buku sambil duduk lesehan di karpet di depan televisi.
"Oh, ini, hanya baca-baca aja untuk referensi,"
"Wah, orang cerdas emang beda, baca teruuus, kalo gak hape, buku pun masih Abang baca, gak capek?" tanya Alisha sambil membaca judul buku yang dipegang Aliando.
Aliando hanya tersenyum.
"Udah selesai tugasnya?" tanya Aliando tanpa menjawab pertanyaan Alisha.
Alisha hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Sini, udah ngantuk belum?" tanya Aliando sambil memberi isyarat agar Alisha tidur di pangkuannya. Alisha hanya bisa menurutinya.
"Abang," panggil Alisha lirih.
"Hmm," gumam Aliando masih khusyuk membaca bukunya.
"Abang kecewa ya?"
Aliando menutup bukunya lalu menatap Alisha. "Kecewa kenapa?" tanya Aliando yang belum memahami arah pembicaraan Alisha.
"Karena tadi ... karena ternyata aku nggak hamil,"
"Allah tahu yang terbaik buat kita, Cha, apapun yang Allah kasih, aku terima kok, soal kejadian tadi, yaaa, berarti, emang belum saatnya kita untuk memiliki anak, udah, gak usah dipikirin," jelas Aliando.
"Tapi ... Abang masih berharap kan, kalau punya anak, buktinya, Abang masih menunggu penggunaan testpack pagi hari dan tidak percaya dengan penggunaan testpack malam ini,"
"Berharap iya, kecewa juga iya, tapi balik lagi, apapun yang Allah kasih, aku terima,"
Alisha kembali terdiam. Ia seperti mengingat sesuatu, sementara Aliando kembali membuka bukunya.
"Oh ya, Abang tadi kenapa lama, katanya cuma beli testpack di apotik, tapi kok lama banget, Abang kemana dulu?"
Aliando kembali menutup bukunya kemudian menatap Alisha sambil membelai rambutnya.
"Tadi, aku ke rumah Michelle,"
"Kok bisa?"
"Iya, tiba-tiba ayahnya nelfon aku pas tadi di apotik dan minta aku untuk segera ke rumahnya,"
"Ada apa?" tanya Alisha.
"Hanya menyampaikan, kalau Michelle sedang hamil,"
"Serius, Bang?" Alisha terkejut.
"Iya," jawab Aliando.
"Terus kenapa minta Abang datang?" tanya Alisha kemudian.
"Nggak apa-apa, hanya ... ada beberapa hal yang harus dibicarakan,"
"Salah satunya apa?" tanya Alisha.
"Ayahnya meminta aku untuk menikahi Michelle,"
__ADS_1
"Apa?"
π»π»π»π»π»