
Aliando benar-benar menunggu Alisha hingga selesai jam pelajaran. Kemudian, mereka pun pulang bersama, dengan menggunakan satu jas hujan model ponco. Alisha memeluk erat tubuh Aliando membuat suasana semakin nyaman, tenang namun penuh debaran.
Mereka kembali ke rumah Arsyad, kemudian beristirahat di kamar. Keadaan di luar yang hujan dan dingin bersama angin lembut yang mesra membuat suasana hati keduanya semakin bergelora untuk merajut cinta yang romantis dan syahdu.
Dua sejoli itu, benar-benar di mabuk asmara, bergelut dengan rindu dan hasrat cinta yang menyatu.
"Mau kemana, Cha?" tanya Aliando ketika Alisha hendak menyingkap selimutnya.
"Mau mandi, Bang," kata Alisha sudah dalam keadaan duduk.
"Nanti aja, kita tidur dulu, lagian masih dingin, sini biar aku peluk," kata Aliando sambil memeluk perut Alisha sehingga istrinya itu kembali tertidur.
"Mau ntar atau sekarang, cuaca kan tetep dingin, Bang, lagian kan bisa pake air hangat ... Abang alesan aja,"
Aliando hanya tersenyum kemudian menciumi wajah dan leher Alisha.
"Abang, ngegoda lagi ih," kata Alisha sambil menikmati apa yang Aliando lakukan.
"Apa boleh?" tanya Aliando.
Alisha malah malu-malu, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Aliando yang polos tanpa baju. Jujur saja, sampai detik ini, Alisha masih merasakan malu jika harus tidur bersama Aliando dalam keadaan 'spesial'.
"Hmm, tidurlah, Cha," kata Aliando sambil mengeratkan dekapannya.
Kini, Aliando sedang tidur di sebelah Alisha sambil memeluk Alisha. Sementara gadis itu tidur dengan nyamannya, bersembunyi di dada Aliando.
Kurang lebih tiga puluh menit, Aliando sudah bangun, namun ia belum beranjak dari tempat tidur dan justru ia sengaja berlama-lama agar bisa memandang Alisha sambil menikmati setiap inchi kecantikan sempurna wajah Alisha saat tidur.
"Ya Allah, terimakasih, Engkau telah mengijinkan aku untuk menjaganya, tolonglah aku, agar aku bisa menjaga amanah ini," gumam bathin Aliando. Ia merasa sangat bersyukur bisa diijinkan Tuhan untuk bersama Alisha dengan cara yang halal sehingga ia bisa menjaganya dengan lebih leluasa.
"Cha, semoga kamu selalu sehat dan selamat, aku selalu ingin melihatmu bahagia, dan tidak bersedih," ucap Aliando sambil mengecup kening Alisha cukup lama. Entah kenapa, ada perasaan takut kehilangan akan diri Alisha hadir di dalam hatinya.
"Jangan pernah lagi kamu meninggalkan aku, Cha," imbuhnya. Ia memang pernah merasakan jika ia hanya dipermainkan oleh Alisha, karena sudah beberapa kali istrinya itu selalu saja pergi menjauh.
"Mmmh," lenguh Alisha, ia merasakan ada sesuatu di keningnya. Terasa basah dan lembut.
Aliando diam, ia sengaja tidak ingin membangunkan Alisha. Ia memilih tidak mengusiknya. Namun sayang perlahan Alisha membuka matanya dan mengembalikan kesadaran.
"Abang udah bangun?" tanya Alisha dengan suara serak bangun tidurnya yang terdengar menggemaskan.
"Hm," Aliando mengangguk.
"Kok gak bangunin aku?" tanya Alisha.
"Kamu terlihat lelah, aku gak ingin membangunkanmu,"
__ADS_1
"Mmh, tapi tetep harus bangun kan?"
"Iya, udah sore, belum sholat juga," kata Aliando.
"Ah iya, bener, ya udah Bang, bangun yuk, trus mandi," kata Alisha.
"Bareng ya,"
"Malu ah," ujar Alisha. Ia tidak bisa membayangkan jika harus mandi bersama dengan suaminya itu.
"Sholatnya, Cha," kata Aliando sambil menyentil pelan kening Alisha seakan tahu apa yang ada di dalam pikirannya Alisha.
"Aww, kirain aku, Abang mau mandi bareng," kata Alisha sambil mengusap keningnya yang sebenarnya tidak terasa sakit. Ia hanya menyunggingkan senyumnya.
"Kebiasaan ni otak, sukanya ngeres!" komentar Aliando, kali ini ia mengetuk kening Alisha dengan ujung jari telunjuknya.
"Gak papa ngeres, asal sama Abang aja, lagian, ngeres aku cuma di otak, lah Abang malah udah melakukan hal ngeres, Abang cabbull,"
"Apa? Apa kamu bilang?" Aliando berpura-pura terkejut, ia tak percaya jika istrinya itu, menganggap dirinya melakukan hal cabbull.
"Emang bener kan?" tanya Alisha mencoba meyakinkan.
"Hei, mana ada melakukan hal itu sama istri sendiri disebut cabbull," kata Aliando sambil mendekap Alisha dengan sangat erat. Ia benar-benar merasa gemas.
"Lagian kamu juga mau kan?" tanya Aliando.
"Itu kewajiban Bang," kata Alisha malu-malu.
"Jadi kalo bukan kewajiban, kamu gak mau?"
"Heheh, itu juga keinginan dan kebutuhan," kata Alisha sambil nyengir, ia mendongakkan wajahnya menatap gemas Aliando. Begitupun Aliando, sengaja menundukkan wajahnya sehingga membuat netra keduanya beradu.
Ah, desiran itu kembali mereka rasakan. Hati mereka berdebar kencang, nafas mereka kembali tak beraturan, seakan keduanya saling berebut udara.
Aliando memandangi netra Alisha, kemudian memberikan senyuman lembut sehingga situasi semakin nyaman dan tidak canggung. Malu yang dirasakan Alisha pun hilang, berganti rasa halus yang indah. Namun, nafas keduanya seakan tertahan ketika bibir mereka semakin mendekat kemudian menyatu dengan penuh kelembutan.
Alisha menutup matanya, membuat dia fokus dan menikmati sentuhan bibir Aliando. Kedua tangannya menyentuh dada bidang Aliando. Sementara Aliando meraih tengkuk Alisha sehingga bisa memperdalam ciuman lembutnya.
Sungguh sore yang sangat indah, romantis, dan membahagiakan. Dua sejoli ini telah asyik memadu kasih.
π΅
"Bi ... buatkan aku coklat hangat!" teriak Michelle dari ruang keluarga. Ia memerintah bi Titi untuk membuatkannya minuman hangat. Namun, karena tak ada sahutan, maka ia pun berjalan menuju dapur karena ia merasa jika bi Titi sedang memasak menyiapkan menu untuk makan malam.
"Oh, rupanya kamu yang masak," kata Michelle pada Alisha, begitu dia tahu siapa yang sedang berada di dapur.
__ADS_1
Alisha hanya diam, ia tidak ingin menanggapi sapaan dari Michelle.
"Lumayan nih, bi Titi ada yang bantuin, itung-itung om Arsyad punya pembantu baru," celetuk Michelle tanpa pikir panjang.
Bi Titi yang sedang membuat coklat hangat hanya diam dan sempat melirik sebentar ke arah Michelle dan Alisha. Ia tidak menyangka jika Michelle berani mengatakan hal seperti itu kepada Alisha.
Alisha tahu ketidaknyamanan bi Titi saat menatapnya. Ia pun memberikan senyuman kecilnya dan seakan mengatakan "Tenanglah, Bi, aku gak papa,"
"Eh, masak yang enak ya, aku ingin mencicipi masakanmu," kata Michelle.
"Eh, Non tadi minta coklat hangat kan, ini bibi udah buatkan," kata bi Titi sambil menyerahkan secangkir coklat hangat pada Michelle. Michelle pun menerimanya kemudian pergi.
"Maafkan non Michelle yang Neng Alisha, dia emang manjanya luar biasa," kata bi Titi setelah kepergian Michelle.
"Oh, saya kira dia orangnya mandiri, karena waktu di rumah nenek Maryam, dia nunjukin bakatnya dalam hal memasak," kata Alisha.
"Non Michelle memang bisa memasak, dia ikut kursus tata boga sejak SMP, tapi, semua karena keterpaksaan, lihat aja, kalo di depan orang tuanya, dia akan menjadi anak yang manis, tapi kalo gak ada orang tuanya, dia akan berlaku seenaknya," jelas bi Titi.
"Lagi masak apa, Cantik?" tanya Aliando pada Alisha. Ia tiba-tiba datang membuat Alisha dan bi Titi terkejut. Apalagi dia langsung mendekap Alisha dari belakang.
"Ya ampun, den Al, bikin kaget aja!" seru bi Titi.
"Abang, bisa gak sih kalo jalan langkah kakinya kedengeran? gak ada angin gak ada suara tiba-tiba muncul," protes Alisha.
"Hahaha, emangnya aku makhluk halus?" tanya Aliando penuh canda. Dia masih melingkarkan tangannya di pinggang Alisha.
"Lepas, Bang, malu sama bi Titi," pinta Alisha agar Aliando melepas dekapannya. Namun sayang, Aliando justru malah mengeratkan dekapannya.
"Gak papa, bibi juga gak masalah, ya kan, Bi?" kata Aliando diakhiri dengan pertanyaan pada bi Titi. Sementara bi Titi sendiri hanya memberikan senyuman karena merasa lucu dengan sikap Aliando.
"Duh, bibi jadi baper," kata bi Titi sambil menirukan bahasa gaul kekinian.
"Hah, emang bibi tau arti baper?" tanya Alisha.
"Tau-lah, bibi kan gaul, Neng," ungkap bi Titi bangga.
Aliando tak peduli dengan pembicaraan antara Alisha dan bi Titi, ia hanya ingin bermanja dengan Alisha. Kini, pipinya ia tempelkan di pipi Alisha, kemudian mengeluskannya beberapa kali.
"Abang, risih tau!" protes Alisha. "Jadi gak bisa gerak neh!" lanjutnya.
"Gak usah mesra-mesraan di sini juga kali, lihat tempat dong,"
Tiba-tiba suara Michelle yang baru saja kembali ke dapur mengagetkan ketiganya.
π»π»π»π»π»
__ADS_1