Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
106. Armadon


__ADS_3

"Tapi siapa dan apa motifnya," tanya Dhea.


"Aku tau, tapi aku harus memastikan sesuatu dulu," tegas Aliando.


"Soal apa?" tanya Dhea.


"Keluargamu!" jawab Aliando.


"Keluarga Wijaya?" tanya Fahri memastikan.


"Bukan, tapi keluarga dari ayah mereka," jawab Aliando lagi.


"Ah, iya, bukannya ayahku sudah meninggal? Apa kamu tau siapa namanya?" tanya Dhea.


"Iya aku tau, namanya Reynaldi, aku juga tau dimana makamnya,"


"Kamu pernah kesana?"


"Tentu!"


"Bolehkah aku diantar kesana?" pinta Dhea.


"Tidak di kota ini,"


"Benarkah?"


"Iya, next, jika kita sudah menemukan Alisha aku akan mengantarmu,"


Dhea mengangguk menyetujui.


🌡


Alisha hanya diam termenung, di atas kasur sebuah kamar yang begitu mewah dan indah. Di hadapannya ada meja kecil dengan beberapa hidangan makanan di atasnya, tatapannya kosong. Meskipun tangannya terus bergerak mengaduk-aduk sup dengan sendoknya, tapi pikirannya tidak berada di kamar mewah tersebut.


Seolah-olah, jiwanya melayang entah kemana. Hanya melamun sendu. Yang ada dalam ingatannya saat ini hanyalah Aliando, kekasih halalnya. Sungguh, ia benar-benar sangat merindukannya.


Seorang pelayanan wanita masuk ke kamar tersebut. Kehadirannya sama sekali tidak disadari oleh Alisha. Ia menatap sedih dan tega melihat keadaan Alisha. Perlahan ia menepuk bahu gadis yang sedang melamun itu.


"Non," panggilnya pelan membuat Alisha kembali tersadar dari lamunannya.


"Dimakan, Non, itu sup udah dari tadi, atau saya hangatkan lagi ya,"


Alisha menggeleng pelan.


"Aku gak ingin makan, aku hanya ingin tau, aku berada dimana dan ini rumah milik siapa? kenapa sudah dua hari ini aku hanya dikurung di kamar ini?" tanya Alisha. Ia ingat betul saat dirinya terbangun dua hari yang lalu, dia sudah berada di kamar yang super lux itu, fasilitasnya sangat lengkap.

__ADS_1


Pakaian sudah disediakan, makanan selalu diantar tiap waktu makan, untuk camilan pun sudah tersedia di kulkas mini yang berada di kamar tersebut. Alisha bagai hidup seperti seorang putri, yang hanya berdiam diri menikmati hidup dan dilayani. Namun sayang sekali, ia tidak bisa menggunakan ponsel, bahkan ponselnya sendiri pun ia tak tahu keberadaannya, apakah hilang, tertinggal di halte ataukah diambil oleh


orang yang menculiknya.


"Maaf, Non, saya tidak bisa menjawabnya,"


"Kenapa?"


"Saya tidak tau apapun, kalaupun saya tau, saya juga gak berhak menjawab, karena saya pasti akan kehilangan pekerjaan,"


"Baiklah, aku mengerti," kata Alisha lemas. Sudah beberapa kali ia membujuk para pelayan yang masuk ke kamar, tapi masih juga tidak mendapatkan jawaban.


"Sebaiknya, Non tunggu aja, mungkin sebentar lagi, tuan besar atau tuan muda datang ke sini," ujar pelayan itu.


"Kapan tuan besar ataupun tuan muda itu datang?" tanya Alisha penuh rasa penasaran.


"Saya tidak tau, maaf ya Non, saya bener-bener tidak tau,"


"Ya udah gak papa," ujar Alisha.


Ah, tak ada gunanya dia memaksa, karena sampai kapanpun dia tidak akan mendapatkan jawabannya. Yang harus ia lakukan saat ini hanyalah menunggu kedatangan tuan besar dan tuan muda yang dimaksudkan oleh pelayan tadi.


"Baiklah, Non, saya tinggal dulu ya, kalau Non membutuhkan sesuatu, Non bisa telfon aja ya," pamit si pelayan sambil menunjuk interkom yg terpasang di kamar tersebut. Alisha hanya mengangguk pelan, mengizinkan pelayan itu pergi.


"Abang ... aku kangeeeennn," gumam Alisha pelan sambil mengusap air matanya. Saat ini, dia sungguh sangat merindukan Aliando. Nyatanya, sendiri berada di kamar yang luas, justru malah membuat hati Alisha merasa sesak, ia merindukan kehangatan rumah panggungnya, hidup tenang bersama Aliando.


Alisha ingat, setelah mengenakan gelang tersebut, Alisha selalu bermimpi buruk tentang Aliando yang berlumuran darah yang berulang mimpi yang sama. Dia memang sempat melepasnya beberapa waktu, namun, tiga hari yang lalu, dia mencoba mengenakannya kembali.


Alisha memang tidak bermimpi buruk lagi, namun justru terjadilah penculikan dirinya dua hari yang lalu, yang menyebabkan dirinya berpisah dengan Aliando.


"Apa benar, gelang ini memang dikutuk?" tanya Alisha pada dirinya sendiri sambil melepas gelang tersebut dari lengannya.


"Apa iya ya, pasangan akan berpisah jika memakai gelang ini? Tuhan ... tolong, lindungi aku dan kak Ando, tolong pertemukan aku kembali dengan kak Ando, satukan kami kembali ya Alloh," gumam Alisha sambil terus menangis. Hatinya nyeri dan terasa sesak.


🌡


Sore ini, Alisha memandang keluar jendela, menikmati senja dari kamar yang ditempatinya itu. Sebuah kamar yang berada di lantai dua, sehingga ketika dia menatap matahari terbenam, keindahannya begitu jelas terlihat.


Meskipun nuansanya indah, namun, tetap saja tidak dapat menghilangkan rasa sedih dan kesepiannya tanpa kekasih hati. Sungguh, rindu yang sangat menyiksa.


"Halo, Nak," sapa seorang bapak paruh baya, ia baru saja masuk ke kamar yang ditempati oleh Alisha.


Alisha terkejut, tatapannya segera teralihkan. Ia memperhatikan bapak tersebut sambil mengingat-ingat pernahkah dia bertemu, karena wajahnya tampak familiar, serta menebak-nebak jika orang yang ada di hadapannya itu adalah tuan besar yang dimaksudkan oleh si pelayan.


"Maaf, Bapak siapa? Apa Bapak ... tuan besar pemilik rumah ini?" tanya Alisha tidak berbasa-basi.

__ADS_1


"Oh, rupanya, kamu sudah bisa mengenali saya,"


"Jadi Bapak yang menculik saya?"


"Bukan, saya tidak menculik kamu, anak buah saya yang membawa kamu,"


"Bukankah itu sama saja? membawa secara paksa itu namanya menculik, Pak,"


"Aih, kamu memang tidak bisa diajak bercanda," kata bapak ini sekali lagi, seakan ia mencoba mencairkan suasana agar tidak terkesan menegangkan.


"Apa maksud Bapak menculik saya? Dan siapa Bapak sebenarnya?"


"Kamu memang bener-bener anaknya Reynaldi, sangat mirip, lantang, berani dan cantik," komentar bapak tersebut.


Alisha terdiam seperti memikirkan sesuatu.


"Kenapa Bapak tau ayah saya?" tanya Alisha dengan nada menyelidik.


"Tentu, aku adalah Armadon, saudara ayahmu, tepatnya sepupunya, yang diasuh oleh orang tua ayahmu,"


"Apa?"


"Apa ayahmu tidak pernah menceritakan tentang keluarganya?" tanya Armadon.


Alisha menggeleng pelan. Nyatanya, memang ayahnya sama sekali tidak pernah menceritakan apapun.


"Kamu tau, ini adalah rumah ayahmu, dan ini hak kamu dan saudaramu,"


"Maksudnya?"


"Tidak taukah kamu, kalau kamu punya saudara kembar?"


"Apa?" Alisha semakin bingung.


"Ah, sungguh menyedihkan hidupmu, ditinggal pergi ibumu si jaalang, ditinggal mati pula oleh ayahmu, dan kamu harus berpisah dari saudara kembarmu!"


Alisha masih bingung. Wajahnya seakan memberi isyarat meminta penjelasan yang sebenarnya.


"Kamu, dilahirkan kembar, saudaramu dijual sejak baru lahir oleh Vanya ... Ayahmu, Reynaldi, sama sekali tidak mengetahui jika anak yang dikandung Vanya itu kembar,"


"Bapak pasti bohong,"


"Panggil aku Om, aku saudara ayahmu!"


Alisha kembali terdiam.

__ADS_1


"Terserah, kamu percaya atau tidak, aku tidak peduli, aku hanya akan menceritakannya yang sebenarnya," tegas Armadon.


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2