
Alisha merasa hangat, tubuhnya tidak lagi menggigil. Pelan-pelan ia membuka matanya, aroma tubuh Aliando tercium jelas oleh penciumannya, membuat dirinya betah berlama-lama berada di dekat Aliando.
"Abang," panggilnya lirih, ia tersenyum bahagia, rasanya sudah lama sekali tidak mendapatkan wajah tampan Aliando saat bangun tidur, semenjak ia memutuskan tinggal di kontrakannya sendiri tanpa Aliando.
Aliando menyipitkan matanya, melirik Alisha. Sejak semalam, dia memang tidak terlalu nyenyak tidur. Oleh karenanya, ia bisa dengan cepat menyadari jika ada yang sedang memperhatikannya.
"Cha, Alhamdulillah, kamu sudah hangat, makasih ya Alloh, makasih, Cha, kamu udah baikan," kata Aliando sambil memegang kening Alisha kemudian membelai kepalanya dan mengecupnya agak lama. Hatinya merasa lega, hilang sudah rasa khawatir yang semalam melanda dirinya.
"Ada apa, Bang?" tanya Alisha sambil membenamkan kepalanya di dada Aliando. Rupanya ia belum menyadari jika mereka sedang bersama dalam satu selimut tanpa mengenakan pakaian.
"Semalam, kamu kena hipotermia, wajah kamu sudah pucat, bibir mulai membiru, kamu ngigau gak sadar," jelas Aliando.
Alisha segera sadar, ia tahu tentang hipotermia, bagaimana gejala dan seperti apa pertolongan pertamanya.
"Aaaaaa!" teriak Alisha. Sebelumnya, ia melihat tubuh dirinya dan juga Aliando.
"Apa yang udah Abang lakukan?" tanya Alisha sambil memukul dada Aliando kemudian mengeratkan selimut ke tubuhnya.
"Hei, tenanglah, aku hanya menyelamatkan kamu!" kata Aliando.
"Aku tau, tapiiiiiii ...." Alisha menjeda kalimatnya tanpa menatap Aliando. Ia menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Kenapa?" tanya Aliando mencoba melihat wajah Alisha dengan menarik selimut yang menutupinya.
"Abang pasti lihat seluruh tubuhku, iya kan?" tanya Alisha memastikan. Ia memperlihatkan separuh wajahnya di balik selimut, hanya terlihat kedua matanya saja yang saat ini menatap Aliando meminta kepastian.
"Iya aku melihatnya," jawab Aliando jujur.
"Semuanya?" tanya Alisha.
"Tentu saja! Kan aku yang melepas seluruh pakaianmu,"
"Haaaaa ...." Alisha merengek, ia kembali menyembunyikan wajahnya di balik selimut.
"Kenapa?"
"Aku kan malu, Bang,"
"Hei, aku kan suami kamu, semua hal tentang kamu milikku, kapanpun, aku bisa melihatnya,"
"Aaaaa tetep aja, aku masih malu,"
"Lagian, kamu kenapa gak nurut untuk ganti baju, hm?"
__ADS_1
"Aku males," jawab Alisha dengan wajah tanpa dosa. Ia kembali memperlihatkan wajahnya, kali ini tidak separuh tapi semuanya, ia nyengir memperlihatkan gigi putihnya yang rapih.
"Makan hanya tiga suap, baju basah gak mau ganti ... Katakan, apa kamu hujan-hujanan sebelumnya?"
Alisha mengangguk pelan.
"Lain kali jangan berbuat seperti itu, aku sangat mengkhawatirkanmu, kamu gak tau betapa paniknya aku,"
"Maaf," ucap Alisha lirih.
"Hm," ucap Aliando sambil menciumi kening Alisha.
"Hei, semalam Abang gak ngambil kesempatan kan?" selidik Alisha sambil mendorong tubuh Aliando agar menjauh.
"Menurutmu?" Aliando memberikan tatapan menggoda.
"Bang, serius,"
"Serius lah, kan biar kamu makin hangat, emang kamu gak merasakannya?" tanya Aliando dengan mode mengerjai Alisha.
"Bang, yang bener,"
"Iya,"
"Kenapa?"
"Ini curang namanya, cuma Abang yang menikmati,"
"Hahaha, jadi kamu pingin menikmatinya? Ini, sini, nikmatilah," kata Aliando sambil menarik tangan Alisha, sehingga telapak tangannya menyentuh dada Aliando. Kemudian, ia sengaja menaikkan selimut agar Alisha bisa melihat tubuh Aliando di balik selimut.
"Iih, Abang apa-apaan sih," kata Alisha sambil menekan dada Aliando sedikit mendorongnya.
"Hahaha, kamu ini dari dulu selalu berpikiran negatif, otak ngeres kamu itu harus dibersihkan, kamu lagi sakit, mana mungkin aku ngambil kesempatan, boro-boro ingat hal itu, aku justru sangat takut kehilangan kamu, denyut nadi kamu sangat lemah, Cha,"
Alisha terdiam, apa yang dikatakan Aliando memang masuk akal, hanya orang yang tidak punya otak saja yang berani melakukannya di saat orang tercintanya menderita sakit dan tidak sadar.
"Sudah, gak usah banyak berpikir, semalam tidak terjadi apa-apa,"
"Bener, Bang?" tanya Alisha memastikan.
"Iya, jujur aja, aku sempat tergoda, semua hal tentang kamu memang indah, Cha, dari ujung rambut hingga ujung kaki ... tapi kecemasanku sangat luar biasa, hingga mengalahkan nafsuku, aku takut kehilanganmu, Cha,"
Alisha tersenyum, ia begitu terharu mendengar apa yang disampaikan oleh Aliando. Sungguh, ia benar-benar sangat bersyukur.
__ADS_1
Alisha pun kembali mendekap Aliando sangat erat, ia benamkan wajahnya di dada Aliando lalu menggesekannya beberapa kali.
"Aduh, Cha, kamu jangan menggoda!" kata Aliando.
"Aku gak ngegoda, Bang,"
"Ini apa? kalo kamu kayak gini, aku malah semakin tergoda ... kamu tau, Cha, menahan hasrat itu, susah dan berat, imanku ga setebal yang kamu kira, Cha,"
Alisha hanya diam dan malah sengaja mengeratkan dekapannya. Meskipun hatinya bergetar hebat, namun ia sengaja memilih menikmati getaran tersebut.
Sumpah, Aliando merasa tak karuan, ada sesak terasa di area intinya yang tertutup celana boxernya.
"Aku udah berusaha nahan diri, Cha, cukup ya, kamu masih sakit, belum fit, istirahatlah," kata Aliando sambil mengecup kening Alisha agak lama. Kemudian, ia bergegas ke kamar mandi, menenangkan diri.
Alisha tersenyum sambil melihat kepergian Aliando ke kamar mandi. Hatinya tergelitik merasa lucu. Sebenarnya, ia tahu, jika Aliando menginginkannya, hanya saja dia masih menahan diri, entah sampai kapan. Mereka belum siap jika harus memiliki anak saat ini.
Kurang lebih sepuluh menit di kamar mandi, Aliando pun keluar hanya dengan lilitan handuk yang menutupi bagian tubuhnya antara pusar hingga lutut.
"Abang yang menggodaku," gumam Alisha lirih, ia masih di tempat tidur bermalasan, berpura-pura kembali tidur padahal ia masih sangat sadar. Matanya menyipit ketika melihat Aliando keluar dari kamar mandi.
"Kamu ga tidur, Cha?" tanya Aliando sambil memperhatikan Alisha yang terlihat seperti sedang tidur. Saat keluar kamar mandi, samar-samar, ia mendengar suara Alisha berbicara.
Alisha masih memejamkan matanya. Ia sengaja ingin memperhatikan Aliando diam-diam. Beberapa kali ia menelan salivanya melihat tubuh Aliando yang atletis. Benar-benar gagah dan sempurna di mata Alisha. Ah, siall, tubuh Alisha menghangat dan semakin memanas.
Sementara, karena mengetahui tak ada jawaban dari Alisha, Aliando menganggap jika istrinya itu sedang tidur. Ia pun cuek saat melepas handuk yang melilit tubuhnya.
"Abaaang," teriak Alisha.
"Astaghfirullah!" Aliando terkejut, ia segera meraih handuk dan menutupi bagian yang bisa ditutupinya.
"Abang yang menggoda aku!" protes Alisha. Ia bangun, sambil mengeratkan selimut ke dada.
Aliando tersenyum, tampaknya ia sudah bisa mengendalikan diri, tidak lagi mode terkejut.
"Siapa yang menggoda? Kamu yang melihatnya, waaah bener-bener ni anak, membuat aku merasa gak perjaka lagi!"
"Aish, sama aja! Aku juga merasa udah gak perawan lagi, bahkan aku gak tau, semalam, Abang ngapain aja ma aku!"
"Hahaha, sini! Biar aku tunjukkan yang seharusnya semalam terjadi," kata Aliando mendekat ke arah Alisha. Ia kemudian mengungkung tubuh Alisha dan mengunci netranya.
"Aku akan melakukannya, apa kamu siap?" ucap Aliando lirih, walau tersenyum, wajahnya menunjukkan keseriusan. Tak ada jawaban dari Alisha.
Beberapa saat, mereka saling menatap, dan akhirnya sebuah ciuman lembut mendarat di bibir mungil Alisha.
__ADS_1
...π»π»π»π»π»...