
"Ish, makanan penutup apanya, Abang emang pinter nyuri kesempatan," gerutu Alisha sambil menuangkan air putih ke dalam gelas, kemudian menyerahkannya pada Aliando.
Aliando makin terkekeh sambil menerima gelas dari istrinya itu.
"Ini, nanasnya dimakan, Bang! Kalo gak, nanti ga enak," kata Alisha sambil menyodorkan piring berisi potongan nanas.
"Iya, makasih," Aliando langsung mengambil satu potong nanas lalu memakannya.
"Ini nanas madu, Bang, makanya manis, ya kan?"
"Hm," Aliando hanya mengangguk, ia tidak terlalu berminat untuk memakannya, cukup hanya satu potong saja.
"Lho, kok udah, Bang, ini masih banyak lho,"
"Udah, ah, cukup,"
"Eh, aku habiskan lho,"
"Silahkan aja kalo kamu masih sanggup memakannya," Aliando mempersilahkan.
"Bener ya, Bang, ini seger banget lho!" seru Alisha sambil lagi-lagi ia memakan nanasnya.
"Awas sakit perut, Cha!" Aliando memberikan peringatan, mencegah agar Alisha hati-hati jangan sampai terlalu banyak makan nanas, karena dikhawatirkan bisa sakit perut.
"Gak akan, Bang, ini kan manis,"
Aliando terdiam mendengar jawaban Alisha. Sebenarnya, bukan itu maksud Aliando, ia takut jika Alisha ternyata benar-benar hamil muda, maka jika ia makan nanas, akan berakibat fatal, itu menurut yang dia ketahui.
"Ya udah, hati-hati, ya," cemas Aliando.
Meskipun Alisha tidak tahu mengapa Aliando terlihat khawatir saat ia makan nanas, ia tetap bersikap cuek sambil menikmati tiap potongan nanas.
π΅
Aliando pulang dari masjid setelah melaksanakan sholat Subuh, ia terkejut ketika membuka kamar, Alisha masih di tempat tidur, wajahnya pucat seperti menahan nyeri di perutnya. Aliando pun segera menghampirinya.
"Cha, kamu kenapa, hm?" teriaknya cemas.
Perlahan Alisha membuka matanya, melihat kecemasan di wajah Aliando.
"Emh, sakit, Bang," rintih Alisha.
"Apanya yang sakit, hm? katakan, mana yang sakit?"
"Perut, Bang, sama punggung bagian belakang terasa panas,"
"Sejak kapan kerasa sakitnya?"
"Tadi, sebelum Abang ke masjid,"
"Ya ampun, kenapa nggak bilang, hm? berarti kamu belum sholat?"
Alisha menggeleng sambil menahan sakit di perutnya, tangan kanannya menekan perut agar nyeri yang dirasakannya bisa berkurang, sementara tangan kirinya menggenggam minyak kayu putih.
"Udah dikasih kayu putih?" tanya Aliando masih cemas.
Alisha mengangguk.
"Baru perut, punggungnya belum,"
__ADS_1
"Ya sudah, sini, aku balur," kata Aliando sambil mengambil minyak kayu putih dari tangan Alisha. Ia bergegas naik ke tempat tidur, lalu duduk di sebelah Alisha yang sedang memunggunginya. Ia pun segera membuka selimut.
"Ya Alloh," Aliando shock, ia melihat banyak darah dari celana Alisha bahkan kasurnya pun ada darahnya.
Alisha mendengar keterkejutan Aliando, namun ia lebih memilih mengabaikannya, ia hanya fokus menahan nyeri di perutnya.
Sementara, pikiran Aliando justru kemana-mana. Ia semakin mengkhawatirkan keadaan Alisha. Ia terlihat sangat bingung. Andai saja, saat ini di rumahnya, ia pasti tidak akan sepanik ini, karena ia bisa meminta bantuan pada mak Leha. Tapi, di kontrakan Alisha, ia bisa minta tolong pada siapa?
"Cha, darah, ini bagaimana? Apa perut kamu sakit banget?" tanya Aliando benar-benar panik. Saat ini dia tidak cukup tenang untuk bisa mengatasi hal yang ada dihadapannya sekarang. Pikirannya hanya satu, Alisha keguguran, diakibatkan banyak makan nanas. Meskipun dia tidak begitu yakin, namun menurut yang sering dia dengar, nanas bisa menyebabkan keguguran.
Alisha terkejut, ia tidak mengetahui jika darah sudah keluar banyak. Ia pun memposisikan tubuhnya menjadi terlentang.
"Kita ke rumah sakit sekarang ya, kita periksa!" Aliando tidak bisa berpikir panjang lagi, satu yang ingin dia lakukan, mengantar Alisha ke rumah sakit.
"Ga usah, Bang, ntar juga sembuh,"
"Tapi ini banyak banget darahnya,"
"Maaf, aku belum sempet pake pembalut, sadar-sadar udah sakit banget," tutur Alisha perlahan.
"Kamu ...," Aliando menjeda ucapannya, ada ketenangan mendengar yang dikatakan oleh Alisha. "Kamu lagi datang bulan, Cha?" tanyanya kemudian.
Alisha mengangguk dengan mata yang masih terpejam menahan nyeri di perutnya.
Aliando menarik nafas panjang. Ia benar-benar merasa lega, dan bersyukur, bahwa apa yang selama ini dia pikirkan adalah salah.
"Sini, biar belakangnya aku balur," kata Aliando hendak membuka kaos Alisha bagian belakangnya.
"Gak jadi, Bang, gak usah," cegah Alisha merasa malu.
"Lho, kenapa?"
"Gak papa, kamu istriku,"
"Tapi aku belum terbiasa,"
"Maka, biasakanlah, ya ... Sini! Biar rasa sakitnya berkurang!" perintah Aliando tegas.
"Tapi ...," Alisha masih merasa risih.
"Gak ada tapi!" kata Aliando lagi-lagi bernada memaksa. Mau tidak mau Alisha menurut. Ia pun kembali memunggungi Aliando, agar cowok tampan yang sudah resmi menjadi suaminya itu bisa mengusap punggung bawahnya.
"Maaf, darahnya banyak, Bang, ntar jijik,"
"Nggak, Cha, aku gak jijik," kata Aliando sambil membuka kaos istrinya itu dan mulai mengusap lembut punggung Alisha. Bahkan dia sedikit memijatnya.
Ini adalah kali pertama, Aliando melihat tubuh Alisha walau hanya sebagian dan itu membuat getaran lain hadir diantara keduanya. Ada yang berdesir membuat detak jantung mereka tak karuan. Namun keduanya mencoba mengabaikan dan hanya fokus untuk mengatasi rasa sakit yang dialami Alisha.
"Gimana? udah berkurang sakitnya?" tanya Aliando.
Alisha menarik nafas panjang, merasa lelah dan lemas. Ia menganggukkan kepalanya pelan. Matanya merah berair karena nangis.
Aliando kemudian ikut tidur di samping Alisha dan mendekapnya.
"Bang, ntar kotor sarung ma bajunya, kena darah,"
"Gak papa, tinggal dicuci, beres,"
"Abang jorok,"
__ADS_1
"Udah diem, kamu istirahatlah," kata Aliando mengeratkan dekapannya.
"Aku risih, Bang, aku pake pembalut dulu ya," kata Alisha sambil berusaha untuk bangkit.
"Bisa jalannya?" tanya Aliando masih merasa khawatir.
Alisha hanya diam tak menjawab, dia masih merasakan nyeri di area perutnya. Akhirnya, Aliando dengan sigap menggendong Alisha ala bridal style menuju kamar mandi.
"Ih, Bang, lepasin! Ntar abang kotor," kata Alisha berusaha melepaskan diri dari gendongan.
"Gak papa sama istri ini,"
"Tapi, Bang ...,"
"Udah diem! Tenanglah, Cha, biar gak jatuh!"
Seperti biasa, jika Aliando sudah bernada memaksa, maka Alisha hanya bisa menurut, kedua tangannya pun akhirnya melingkar di leher Aliando.
Setelah berada di kamar mandi, Alisha pun membersihkan diri, sementara Aliando menyiapkan keperluannya, mulai dari handuk, pembalut, dan pakaian ganti.
Kemudian, ia menarik seprai yang terkena noda darah, menyimpannya di ember. Lalu dengan cepat, ia merapikan tempat tidur dan memasangkan seprai yang baru.
Alisha keluar kamar mandi, wajahnya masih terlihat pucat, namun, yang pasti, tubuhnya sudah lebih segar.
"Udah lebih baik?" tanya Aliando mendekat ke arah Alisha, lalu kembali menggendongnya. Alisha hanya pasrah, saat ini ia tidak membantah.
"Masih sakit banget?" tanya Aliando lagi, ketika Alisha sudah berada di atas tempat tidur.
"Udah lumayan, Bang,"
"Maaf, aku gak tau, kalau datang bulan itu bisa sesakit ini,"
"Biasanya nggak gini, kok ... ini gak tau, kenapa bisa sakit kayak gini,"
"Emang biasanya gimana?" tanya Aliando sambil menyerahkan segelas air hangat yang sebelumnya sudah disiapkan di atas meja dekat tempat tidur.
"Biasanya, kalo hari pertama emang sakit, tapi gak pernah sesakit ini,"
"Apa karena kamu banyak makan nanas?"
"Gak ada hubungannya, Bang, lagian aku gak hamil, ini kan bukan keguguran,"
Aliando tersenyum, mendengar kata 'tidak hamil', ia benar-benar merasa lega dan spontan dia mengecup kening Alisha.
"Ada apa, Bang?"
"Makasih udah baik-baik aja, aku bener-bener khawatir, maaf, aku gak tau harus gimana, ini pertama kali buat aku,"
"Gak papa, Bang, ini juga pertama kali aku sakit yang berlebihan karena datang bulan, dan pertama kali juga ditolong sama laki-laki, untungnya udah jadi suami,"
Aliando tersenyum sangat manis.
"Ini Abang yang beresin?"
"Hm,"
"Wah, rapihnya,"
"Udah, kamu istirahat ya, biar aku cari sarapan dan pereda nyeri saat haid, kamu butuh apa, hm?"
__ADS_1
...π»π»π»π»π»...