Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
71. Menyelidik


__ADS_3

Pengusiran Vanya penuh drama. Dia menangis tidak menerima, namun pintu maaf Arsyad telah tertutup begitupun dengan pintu rumahnya. Percuma pintu di gedor, tak ada yang menggubrisnya sama sekali, karena sudah menjadi ultimatum dari Arsyad jika Vanya tidak akan pernah diterima lagi di rumah tersebut.


Vanya benar-benar merasa tidak ada harganya, malam itu, ia pergi membawa barang-barang, mencari penginapan. Ia menelepon Alex meminta bantuan, tapi Alex tidak bisa membantu. Saat ini dia benar-benar menyesal.


🌡


Aliando menuju tempat Alisha dan mengajaknya makan malam. Ia benar-benar merasa bahagia.


"Ada apa sih, Bang?" tanya Alisha saat menunggu pesanan makanan datang.


"Kenapa?"


"Wajah Abang menyiratkan kebahagiaan yang berlebih,"


"Iya, aku memang sedang bahagia,"


"Ada apa?"


"Besok aku akan kasih tau,"


"Ih, mulai deh, main rahasia-rahasiaan, eh, tapi aku juga mau bilang sesuatu soal pekerjaan aku,"


"Apa?"


"Masa kontrak kerjaku udah mau selesai, dan ntar, kalo honorku udah masuk, berarti aku udah bisa bilang ma Abang apa pekerjaan aku,"


"Boleh aku tebak apa pekerjaan kamu?" tanya Aliando. Ia sudah memilki gambaran apa pekerjaan Alisha sebenarnya.


"Jangan ah, nanti kan aku yang mau ngasih tau Abang,"


"Ah, ya sudah,"


"Ntar Abang juga janji kan ya akan ngasih tau apa pekerjaan Abang,"


Aliando mengangguk.


"Iya, aku pasti kasih tau, dan bukan hanya itu, aku juga akan mengenalkan kamu dengan seseorang yang istimewa," kata Aliando.


"Siapa? Apa istimewa banget?" perasaan Alisha mulai tidak nyaman. Adakah yang lebih istimewa dari dirinya? Rupanya dia egois, ia tidak ingin jika ada yang lebih istimewa darinya di hati Aliando.


"Iya," jawab Aliando singkat.


"Laki-laki atau perempuan?" tanya Alisha.


"Seseorang yang kamu juga sangat mengharapkan kehadirannya,"


Mendengar hal itu, Alisha justru semakin penasaran.


"Siapa, Bang?" tanyanya sambil mengernyitkan keningnya.


"Tunggu besok ya,"


"Wah, aku bisa ga tidur nih karena mikirin ini,"


"Jangan, pokoknya, kamu harus cukup tidur, biar bangunnya fresh, wajahmu segar dan terlihat makin cantik,"


"Harus ya?"


"Harus banget, Cha, udah, sekarang, kamu makan," kata Aliando sambil menyodorkan piring berisi nasi yang baru saja diletakkan oleh pengantar pesanan makanannya.


🌡


"Kamu datang dulu ya, aku mau ke kampus bentar," itu pesan yang dikirim Aliando melalui aplikasi chat miliknya pada Alisha siang itu.


Untuk itulah, Alisha datang sendiri ke mall, ia mencari tempat makan bernama 'love', tempat yang telah disepakati oleh Aliando dan Arsyad kemarin, yaitu tempat makan favorit ibunya Aliando.


Akhirnya ia menemukan tempat yang dicarinya. Kemudian ia pun masuk dan memilih tempat duduk yang cukup nyaman menurutnya.


"Halo Alisha," sapa seseorang ketika Alisha sedang memilih menu makanan.


"Lho, Om Arsyad," kata Alisha melepas pandangan dari daftar menu ke arah orang yang menyapanya.


Arsyad hanya tersenyum.

__ADS_1


"Om, di sini juga?" tanya Alisha kemudian.


"Iya, Om ada janji," jawab Arsyad.


"Oh, kalo gitu kita sama," balas Alisha.


"Hmm, boleh saya ikut duduk di sini?" tanya Arsyad.


"Oh, silahkan, Om, saya juga masih nunggu seseorang,"


"Pacar?" tanya Arsyad bada-basi. Padahal ia tahu siapa yang sedang ditunggu oleh Alisha. Ia pun menarik kursi dan duduk di hadapan gadis cantik itu.


"Oh bukan, Om," jawab Alisha membuat Arsyad terkejut dengan jawabannya.


"Lalu?" tanya Arsyad penasaran.


"Hanya teman, Om," ucap Alisha enteng.


"Teman?" tanya Arsyad lagi. Bagaimana mungkin Alisha bisa mengatakan jika Aliando hanya teman? Padahal Aliando sendiri mengatakan bahwa gadis yang dihadapan dia saat ini adalah istrinya.


"Iya, Om," kata Alisha.


"Laki-laki atau perempuan?" Arsyad mulai menyelidik.


"Laki-laki, Om,"


"Benar hanya teman?" tanya Arsyad memastikan.


"Teman hidup Om,"


"Maksudnya?"


"Suami, Om, teman hidup dunia akhirat," kata Alisha sambil tersenyum memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih.


"Apa? Kamu sudah punya suami?" tanya Arsyad mulai merasa lega, karena Alisha akhirnya mengakui jika Aliando adalah suaminya.


"Iya, Om," jawab Alisha singkat.


"Kamu kan masih kecil?"


"Bagaimana masa depanmu? bukannya kamu masih sekolah?"


"Kami tetap akan melanjutkan masa depan kami, Om,"


"Kamu yakin bisa menjalaninya? Kamu lihat, kan, bagaimana rumah tangga saya,"


"Awalnya saya gak yakin dengan hubungan ini,"


"Lalu kenapa kamu malah bisa menikah dengannya?"


"Dia baik, Om, dia bisa bimbing saya, dia sayang banget sama saya Om,"


"Apa kamu yakin? Emang berumah tangga cukup dengan rasa sayang?"


"Nggak sih, Om, tapi sejak pertama bertemu, dia sudah menunjukkan rasa tanggung jawabnya walau sedikit pemaksa dan keras kepala,"


Arsyad tersenyum mendengar kepolosan gadis ini dalam membicarakan Aliando yang pemaksa dan keras kepala.


"Dia pemaksa dan keras kepala? Kenapa kamu mau sama orang seperti itu?"


"Karena dia baik, dan sayang ma saya, Om, feel saya mengatakan jangan sampai melepasnya, karena saya merasa nyaman, tenang dan aman bersamanya,"


"Apa kamu juga dipaksa menikah dengannya?"


"Iya sih, Om, dia maksa, tapi saya mau kok, ya walaupun sebenarnya pengen nikahnya ntar-ntar, kalo udah usianya dua puluh ke atas,"


"Lalu kenapa malah udah nikah?"


"Biar ga dosa dan timbul fitnah, dan lagi, dia bisa meyakinkan juga membuktikan kalo dia benar-benar menjaga saya, Om,"


"Kamu gak punya keluarga kah?"


"Iya, saya sendirian, makanya saya bersyukur ada yang mau dengan saya yang sebatang kara, melindungi dan bertanggung jawab atas saya, bukankah seperti ini lebih baik, Om? Menurut Om gimana?"

__ADS_1


Arsyad menarik nafas panjang. Kalau melihat keadaan Alisha yang sendirian, ia setuju dengan keputusan menikah, tapi kalau melihat Aliando, rasanya sangat disayangkan seorang Aliando menikah dengan gadis yang ga jelas keluarganya siapa.


"Itu baik, sangat baik," kata Arsyad kemudian. Mau bagaimana lagi, Alisha sudah menjadi pilihan Aliando. Ia yakin jika feel Aliando tidak pernah salah. Ia pun mencoba menerima Alisha dengan segala keadaannya, walau bagaimana pun, gadis yang ada di hadapannya ini, adalah seorang gadis yang baik, cantik serta menarik. Semua sifat dan cara dia bersikap semuanya terlihat baik. Tidak munafik.


"Iya, Om, saya juga berpikir seperti itu," kata Alisha.


"Apa dia masih sekolah atau sudah bekerja?" tanya Arsyad.


"Dia kuliah tahun ini Om, kami menikah saat dia lulus SMA kemarin,"


"Kamu yakin dia bisa menghidupimu?"


"Ia bekerja juga kok, Om,"


"Apa kamu tau kehidupannya?"


"Dia juga hidup sendirian, Om, makanya, dia bilang gimana kalo kita bersama aja? jadi bisa saling menjaga,"


"Kamu gak tau keluarganya?"


"Tau, tapi hanya kakek dan neneknya, ibu dan adik perempuannya sudah meninggal, trus, dia ada masalah sama ayahnya, dan misi saya ingin mendamaikan dia dengan ayahnya ... Om jangan bilang-bilang ya,"


"Bagaimana caranya?" Arsyad mulai tersenyum, ia merasa lucu dan gemas dengan perkataan Alisha.


"Saya sedang meyakinkan dia agar mau berdamai dengan ayahnya, yaaa, walaupun dia emang keras kepala, tapi hatinya itu sangat lembut, saya yakin, dia bisa berdamai dengan ayahnya,"


"Apa dia sudah mau?" tanya Arsyad.


"Belum sih, kan, sudah saya bilang, dia itu keras kepala, saya butuh waktu, meskipun pelan-pelan selalu saya ingatkan dia tentang ayahnya, saya bilang gini waktu kelulusan, emangnya dia gak kangen dengan ayahnya, gak pengen bercerita tentang kelulusannya, eh dia masih gak mau," cerita Alisha.


Arsyad semakin gemas mendengar cerita Alisha.


"Trus Om, waktu kita nikah, saya bilang, emangnya dia gak pengen gitu ngenalin saya sama ayahnya?"


"Lalu dia jawab apa?"


"Tunggu waktu, dia mau memikirkannya, ah, entah sampai kapan," kata Alisha dengan nada sedikit kecewa.


Arsyad hanya tersenyum.


"Oh iya Om, kalo menurut Om, jika suatu hari saya dikenalin sama ayahnya, apa ayahnya akan menerima saya, ya? secara, saya hidupnya sendirian, ga punya keluarga, masa iya, ayahnya mau punya menantu yang ga jelas ... Apalagi saya tau, dia itu, walaupun hidupnya sendirian tapi dia berasal dari keluarga orang kaya,"


"Taunya?"


"Kan, saya tau kakek neneknya, kami menikah di rumah kakek, wah ... rumahnya bak istana, Om, awalnya saya minder, nyadar diri, apalah saya, saya sempat memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan, tapi lagi-lagi, dia berhasil membuat saya luluh, apalagi, ternyata, kakek dan nenek sangat baik sama saya,"


"Kalo gitu, pasti ayahnya juga akan nerima kamu,"


"Kok, Om bisa yakin?"


"Karna kamu baik," kata Arsyad sangat pasti.


Mendengar cerita Alisha, hati Arsyad merasa yakin dengan gadis yang menjadi pilihan Aliando. Ia tidak peduli dengan keluarga Alisha yang gak jelas, yang pasti Alisha adalah sosok gadis yang sangat baik.


Abaikan keturunan siapa, karena saat dia menikah dengan Vanya juga tidak jelas siapa keluarganya, dia hanya tau jika Vanya adalah seorang janda dari rekan bisnisnya yang meninggal yang kemudian semua asetnya diambil anak tirinya tanpa menyisakan sedikit pun untuk Vanya.


"Eh, Om, itu suami saya datang," kata Alisha sambil menunjuk ke arah pintu masuk.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


...Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Reni. T. pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa....


Judul : Balas dendam istri yang terhina.


Ini blurbnya:


Milannita adalah seorang artis papan atas sekaligus istri dari pengusaha kaya raya bernama Caviar Klan. Dia harus menelan rasa sakit hati karena menyaksikan sendiri suaminya berselingkuh dengan assisten pribadinya sendiri bahkan dia melihat dengan mata kepalanya sendiri sang suami bercinta di kamar pribadinya, di ranjang yang sama yang selalu mereka gunakan untuk melakukan hubungan suami-istri.


Milan biasa dia di sapa, yang notabenenya adalah artis papan atas yang memiliki penampilan yang sempurna bahkan di puja banyak pria dan memiliki ribuan penggemar, merasa harga dirinya telah di injak-injak oleh suami serta asistennya itu.


Akhirnya Milan memutuskan untuk menyembunyikan rapat-rapat perselingkuhan suaminya dan menjalani rumah tangga seperti biasa layaknya orang bodoh yang tidak tahu apa-apa dengan tujuan membalaskan dendam kepada dua orang yang telah mengkhianatinya itu.

__ADS_1


Sampai akhirnya, dia bertemu dengan laki-laki bernama Zergo yang merupakan penggemar berat dirinya.



__ADS_2