
"Cha, kamu tau, nama kamu mirip nama mamah, Alisha Leandra, sementara mamah , Aliandra, bukankah, ini suatu yang istimewa?"
"Iya Bang, Alisha-Aliando, kita sama-sama ada kata ali-nya, suatu kebetulan yang unik, kan?"
Aliando mengangguk, namun pikirannya menelaah sesuatu.
"Atau mungkin bukan suatu kebetulan, tapi karena papah kamu memang gagal move on dari mamahku, calon istrinya yang memilih orang lain di hari pernikahannya," ucap Aliando dalam hatinya. Ia menarik nafas panjang. Andai kata Alisha mengetahui masa lalu tentang ayahnya dan juga ibunya, entah reaksi apa yang akan diberikan oleh gadis itu.
"Cha, besok aku mau ke kampus, mau ikut? atau mau ke sekolah? udah dua hari kan kamu gak masuk," kata Aliando.
"Aku males ke sekolah, kan udah gak ada pelajaran, paling class meeting aja, kemarin kelas aku udah tanding futsal, dan kalah, tinggal voli, ama basket," kata Alisha yang mengetahui tentang agenda class meeting.
"Kamu gak ingin kasih support gitu? Siapa tau, dengan adanya kamu, kelas kamu jadi menang,"
"Paling ntar nonton basket aja, tapi jadwal kelas aku dua hari lagi,"
"Oh ya udah, jadi, kamu mau disini atau gimana?"
"Ke kontrakan aku ya, Bang, buat beres-beres, kasihan udah beberapa hari gak diberesin,"
"Ya udah, gini aja, aku anter ke sana, trus ke kampus, kamu gak papa beresin sendirian,"
"Haha, Bang, itu kan rumahku, tiap hari juga aku beresin sendiri,"
"Ah iya, bener juga,"
"Ish, Abang ni," Alisha menyipitkan matanya, dan itu membuat Aliando tersenyum. "O, iya, Bang, boleh gak kita nginep di sana?"
"Boleh, emang gimana gitu?"
"Ya, sayang aja ditinggalkan, masih lima bulan lagi, gak mungkin juga kan diambil lagi uangnya, jadi niatnya, seminggu sekali lah kesana, biar bisa beres-beres,"
"Iya, gak papa, lagian, kalo aku sedang pengenalan kampus juga, niatnya mau di sana, karna jarak kontrakan kamu ma kampus lebih deket daripada dari sini,"
Alisha tersenyum, ia senang, Aliando menyetujui idenya.
Tak lama kemudian, mereka pun tertidur setelah sebelumnya menonton film terlebih dahulu melalui ponsel Aliando. Lebih tepatnya Alisha, seperti biasanya, dia pasti akan tertidur jika sedang menonton film.
Aliando membenarkan posisinya tidur istrinya itu, kemudian menyelimutinya dengan hati-hati, tak lupa, dia pun akhirnya mendekap Alisha sebagai bagian dari ritual tidurnya yang baru.
βοΈ
"Assalamu'alaikum," ucap Aliando sambil membuka pintu rumah kontrakan Alisha siang itu.
"Wa'alaikumsalam," balas Alisha dari dalam rumah tepatnya di dapur.
"Abang udah pulang?" tanya Alisha sambil menghampiri dan mencium punggung tangan Aliando. Aliando membalasnya dengan mengusap lembut pucuk kepala Alisha, kemudian ia memberi kecupan di kening istrinya itu.
"Hm, kamu lagi apa?"
__ADS_1
"Ni tadi dapet nanas dari bu Syifa, katanya di kampung dia lagi panen nanas, kemarin saudaranya ke sini," kata Alisha sambil menata nanas di piring.
"Oh," Aliando meletakkan tasnya juga sebuah bungkusan di atas meja kecil yang ada di ruangan itu, kemudian ia memindai ruangan yang ada di rumah itu.
"Ada apa, Bang?" Alisha heran melihat Aliando yang justru malah berkeliling memperhatikan keadaan rumah.
"Nyaman juga rumah kamu," kata Aliando tanpa melihat ke arah Alisha.
Gadis itu tersadar, jika ini adalah pertama kalinya Aliando masuk ke rumah kontrakannya. Tadi pagi saja, Aliando tidak sempat masuk karena harus segera ke kampus.
"Aku bisa betah di sini, apalagi hanya bareng kamu," komentar Aliando sambil menatap Alisha genit.
"Tentu, yang bikin betah karena 'aku' nya, kan?" terka Alisha penuh percaya diri. Ia kini berdiri di samping Aliando.
"Hahaha, kamu makin pinter, Cha," kata Aliando sambil mencubit gemas pipi Alisha.
"Gak sia-sia lah satu semester jadi pacar Abang, jadi ketularan pinter," jawab Alisha asal.
"Hahah, berarti aku bawa pengaruh baik dong,"
"Tentu saja,"
"Eh, kamu udah beres-beresnya?"
"Udah, Bang, cuma nyapu ngepel kan cepet, yang lainnya masih rapi,"
"Ya ampun, Bang, beres-beres yang kayak gini mah, udah biasa kaleee,"
Aliando hanya tersenyum.
"Eh, kamu belum makan, kan? Aku bawakan soto dan nasi putih, kita makan ya," kata Aliando. Ia kemudian membuka bungkusan yang tadi diletakkannya di atas meja.
"Abang tau aja kalo aku gak masak,"
"Jelas lah, tiap hari kita kan makan di luar, dan aku yakin, di sini gak tersedia peralatan masak yang lengkap,"
Alisha tersenyum. Memang benar apa yang dikatakan Aliando, di rumah kontrakannya itu hanya ada kompor portabel, satu set tempat minum (satu teko dan empat gelas plastik), piring ada dua buah, mangkok satu buah, garpu dan sendok masing-masing dua buah, satu panci untuk memasak mie instan, serta satu termos air panas berukuran kecil.
"Hee, trus Bang, kita makannya gimana?" tanya Alisha, karena satu piring yang ada, sudah berisi nanas pemberian dari bu Syifa tetangga di samping rumahnya.
"Kita makan sepiring berdua aja, ya," kata Aliando sambil membuka bungkusannya, sementara Alisha dengan sigap memberikan mangkuk dan piring pada Aliando.
Soto dimasukkan ke mangkuk, kemudian untuk nasi diletakkan di piring.
"Ini sendok buat Abang," kata Alisha sambil menyerahkan sendok kepada Aliando.
"Makasih," ucap Aliando.
Mereka pun mulai menyendokkan nasi sambil membaca doa.
__ADS_1
"Romantis kan, Cha," kata Aliando sambil menyuapkan satu sendok nasi yang sudah tercampur dengan kuah soto ke mulut Alisha.
Gadis itu tersenyum, ia menerima suapan Aliando, kemudian ia pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan suaminya itu.
"Bener-bener berasa jadi anak kos ya, Bang," kata Alisha sambil terkekeh.
"Iya, ini namanya, kita hidup berumah tangga dari nol, Cha,"
"Seru ya, Bang,"
"Hm," jawab Aliando singkat sambil menganggukkan kepalanya.
"Tapi tetep enak dan nyaman di rumah Abang, rumah sendiri," komentar Alisha.
"Tentu saja, nanti kalo rumah ini sudah habis masa kontraknya, kita menetap disana ya,"
Alisha mengangguk.
"Ya sudah, sekarang kita fokus makan ya," kata Aliando sambil kembali menyuapkan nasi soto kepada Alisha, begitu pun Alisha.
Tanpa mereka sadari, sejak awal mereka makan sepiring berdua, tidak ada satu sendok pun nasi yang mereka suapkan ke mulut mereka sendiri, mereka justru saling menyuapkan nasinya.
Tinggal satu sendok lagi, dan Aliando sudah mengambilnya.
"Ini, terakhir untuk kamu," kata Aliando sambil menyodorkan sendok yang berisi nasi
"Buat Abang aja,"
"Kamu aja, Cha,"
"Udah, ah," kata Alisha sambil menggelengkan kepalanya.
"Ini!" ucap Aliando dengan nada memaksa. Walaupun lembut, namun suaranya penuh penekanan, Alisha mengetahuinya, jika sudah seperti ini, Aliando tidak bisa dibantah.
Akhirnya ia pun membuka mulutnya.
Dan
"Mmph,"
Ternyata Aliando ikut membuka mulutnya, sehingga bibir keduanya bertemu di sendok.
"Mmh, Abang modus," kata Alisha sambil menepuk lengan Aliando.
Sementara Aliando hanya terkekeh.
"Itu, makanan penutup, Cha," kata Aliando sambil mengusap bibir Alisha yang sedikit belepotan.
...π»π»π»π»π»...
__ADS_1