Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
74. Ternyata...


__ADS_3

"Kita pulang ya," kata Aliando melepas dekapannya.


"Bang, mumpung ada Papah, sebelum terlalu jauh hubungan ini, kita udahan aja," kata Alisha sambil menghapus sisa-sisa air matanya di pipi.


"Apa maksud kamu?" tanya Aliando.


"Pada waktu papah menyewa jasa kami untuk menyelidiki bu Vanya, jujur aja, aku terkejut, ternyata aku menyelidiki mamah,"


"Jadi, dari awal kamu memang tau kalo dia mamah kamu?" tanya Arsyad.


"Iya, aku gak akan lupa wajah mamah, aku senang, aku bersemangat untuk membuktikan kalau dia bersalah dan aku merasa ini adalah waktunya, aku ingin buat mamah hancur sehancur-hancurnya," jelas Alisha.


Aliando dan Arsyad hanya mendengarkan dan saling melempar pandangan.


"Aku ingin agar mamah merasakan akibat dari perbuatannya, aku ingin membalaskan dendam sakit hati aku dan papahku,"


Arsyad mengangguk. Ia sangat memahami penjelasan Alisha.


"Jujur, aku kaget, aku nggak nyangka, kalau papah ternyata ayahnya Abang, rasanya gak pantas aku berada dalam keluarga kalian,"


"Kenapa kamu mikir gitu?" tanya Arsyad.


"Bukankah, sangat menyakitkan karena ternyata aku adalah anak dari orang yang sudah mengkhianati papah,"


"Gak ada hubungannya, kan? kenapa kamu harus mengakhiri pernikahan, Cha?" tanya Aliando kini.


"Karena ada darah bu Vanya mengalir di tubuhku, darah seorang pengkhianat,"


Aliando paham maksud pemikiran Alisha. Gadis cantik yang sudah resmi menjadi istrinya ini, memang benar-benar tidak percaya diri dalam sebuah hubungan. Dia sama sekali tidak memiliki keyakinan yang kuat untuk menjalani sebuah ikatan antara laki-laki dan perempuan. Apalagi sebuah pernikahan. Yang ada dalam benaknya hanyalah sakit hati.


"Tidak peduli kamu anak tante Vanya atau bukan, aku mencintai kamu, hanya kamu, Cha!" Aliando mencoba meyakinkan.


"Aku takut Bang, aku takut gak bisa menjalaninya, aku takut seperti mamah, aku takut nyakiti Abang, aku takut sakit hati," kata Alisha menjelaskan apa yang ada dalam pikirannya.


Aliando sangat memahami perasaan Alisha. Sementara Arsyad masih berusaha untuk memahami. Rupanya, menantunya ini memiliki rasa trauma dan krisis kepercayaan diri dalam sebuah keluarga.


"Cha, kamu adalah kamu, bukan mamah kamu, semua orang itu gak sama," jelas Arsyad mencoba menenangkan.


"Gak Pah, ada darah pengkhianat di tubuh ini, Cha takut akan berbuat yang sama dengan mamah,"


"Gak bisa kah kamu percaya pada dirimu sendiri?" tanya Aliando.


"Aku gak yakin, Bang,"


"Kamu bisa, Cha!" kata Aliando meyakinkan istrinya.


Alisha menarik nafas panjangnya. Ia tidak bisa berkata-kata lagi. Ia memilih diam. Percuma, karena Aliando tidak setuju dengan keinginannya untuk tidak melanjutkan pernikahan mereka.


"Kita pulang aja ya, acara makan-makannya, gimana kalo berganti di rumah aja, ini undangan dari papah," kata Arsyad.


Aliando melirik sekilas pada Alisha. Sepertinya tak ada reaksi.


"Kami terima undangan Papah, tapi kami belum tau kapan kami bisa ke sana, nanti Al kabari," kata Aliando.


Arsyad mengerti, walau bagaimanapun Aliando butuh waktu untuk meyakinkan Alisha. Bukan tidak ingin ikut campur atau memberikan solusi, tapi biarlah, mempercayakan kepada mereka menyelesaikan masalah ini menurut Arsyad adalah lebih baik, agar mereka belajar untuk menyelesaikan masalah dalam rumah tangga.

__ADS_1


"Okke, ya sudah, papah pamit ya, papah harus segera kembali ke kantor," pamit Arsyad.


"Iya, Pah, hati-hati, maaf acara makan siangnya jadi kacau," kata Aliando.


Arsyad hanya menganggukkan kepalanya.


"Sha, kamu baik-baik ya, papah pamit dulu," kata Arsyad pada Alisha.


Gadis itu hanya mengangguk lemah.


Akhirnya, setelah kepergian Arsyad, Aliando mengantar Alisha pulang. Semenjak dalam perjalanan hanya ada keheningan. Sama sekali tak ada obrolan. Aliando memang sengaja membiarkan perasaan gadisnya itu agar lebih tenang.


"Aku mau ke kampus dulu, kamu istirahatlah, ya, nanti aku ke sini lagi," pamit Aliando.


"Iya, Abang pergilah, hati-hati, gak usah mengkhawatirkan aku," ujar Alisha.


Aliando hanya mengangguk, pura-pura mengiyakan. Mana mungkin Aliando bisa tenang melihat Alisha dalam keadaan seperti ini, apalagi pikirannya yang terus mengatakan ingin mengakhiri pernikahan. Ah, gadis ini memang benar-benar membingungkan. Bisa-bisanya istrinya itu mengatakan untuk tidak usah mengkhawatirkan keadaannya?


"Ya sudah, aku pergi," pamit Aliando terdengar berat suaranya.


🌡


"Kamu serius?" tanya Arsyad pada Aliando di ruangannya. Ia telah mendengar semua hal mengenai Alisha.


Rupanya setelah dari kampus, Aliando memutuskan untuk ke kantor Arsyad. Ia sengaja ingin menjelaskan keadaan Alisha kepadanya.


"Iya, Pah, Al serius, kakek nenek lah yang menceritakannya,"


"Ya Tuhan, kenapa jadi melingkar gini?" tanya Arsyad tanpa menginginkan jawaban. Bisa dibayangkan, Aliando menikah dengan Alisha anaknya Reynaldi. Reynaldi adalah orang yang dikecewakan oleh Aliandra, karena memilih menikah dengan Arsyad, kemudian Arsyad menikahi Vanya, ibu Alisha.


"Maksud papah?"


"Berarti aku menikah dengan saudara tiriku ya, Pah?" tanya Aliando pada Arsyad.


"Iya, apa Alisha tau mengenai hal ini?"


"Tidak, dia tidak tahu jika keluarga kita saling mengenal, bersahabat hingga menjadi musuh,"


Arsyad menarik nafas panjang. Pikirannya mengingat kembali peristiwa pernikahannya dengan Aliandra yang penuh drama.


"Sampai saat ini, papah tidak akan pernah lupa kisah pernikahan papah dan mamahmu ... Mamahmu itu nekat dan keras kepala, padahal papa sudah mengikhlaskan mamahmu untuk menikah dengan Reynaldi, andai kata, hari itu papah tidak datang mungkin hal ini tidak akan terjadi,"


"Maksudnya?"


"Iya, seharusnya saat hari pernikahan, papah tidak datang,"


"Lalu kenapa papah datang?" tanya Aliando.


"Mamahmu yang memintanya, dia bersikeras agar papah datang melihat proses akad, sebagai bukti jika memang papah benar-benar rela dia menikah dengan Reynaldi, jika papah tidak datang, dia justru akan berbuat apapun untuk membatalkannya, termasuk kabur atau bunuh diri,"


"Wah, mamah ngancam papah?"


"Iya, dan sayang sekali, ketika aku sudah menurutinya, ternyata mamahmu punya rencana lain yang lebih gila, dia malah nekat berbuat seperti itu tepat di hari pernikahan,"


"Berbuat apa?"

__ADS_1


"Dia berteriak di depan semua orang, minta dibatalkan pernikahan, kalau tidak, ia akan bunuh diri saat itu juga,"


"Ya ampun, mamah bener-bener berani!"


"Bukan berani, tapi nekat, papah gak habis pikir dengan perbuatannya saat itu,"


"Lalu?" Aliando masih penasaran dengan ceritanya.


"Reynaldi sosok yang bijak, papah tau, dia sakit hati merasa dipermalukan, tapi dia mengabulkan permintaan mamahmu,"


*flashback on*


"Aku tidak mau menikah dengan dia," kata Aliandra saat di tempat ijab kabul. Posisinya saat itu, dia sedang duduk berdampingan dengan Reynaldi.


Semua yang hadir di situ benar-benar dibuat kaget.


"Hentikan ini! Atau kalian semua akan melihat aku mati!" tegas Aliandra sambil bangkit dari duduknya. Ancamannya tidak main-main.


Beberapa mencoba mendekat, agar Aliandra bisa tenang.


"Tenanglah Alia, kalo kamu memang tidak ingin menikah denganku, baiklah, kita tidak akan menikah, tapi jangan sia-siakan hidup kamu, hiduplah dengan baik dan bahagia," kata Reynaldi begitu bijak.


"Tidak bisa! Apa-apaan ini?" Shafiya (ibunya Renaldi) tidak bisa menerimanya. Mereka bukan hanya merasa dipermalukan tapi juga dihina.


"Sudah, Mah, gak papa," Reynaldi mencoba menenangkan.


"Jangan gila Rey, ini kamu sedang dihina dan kita dipermalukan!" protes Raihan (ayahnya Reynaldi).


Keluarga Reynaldi sangat terpukul, mereka merasa tidak dihargai dan dihormati. Namun, Reynaldi menenangkan keadaannya. Saat itu juga, Reynaldi dan keluarga besarnya pulang dengan memproklamirkan permusuhan dan mereka tidak pernah terlihat lagi.


*flashback off*


"Setelah kepergian Reynaldi dan keluarganya, mamahmu memanggil papah, saat itu, papah hanya bisa menggeleng, tidak ingin melakukan keinginan mamahmu, tapi mamahmu nekat kan, dia akan bunuh diri!" lanjut Arsyad bercerita.


"Trus papah terpaksa menuruti mamah, dan menikah saat itu juga?"


"Iya, tadinya papah hanya tamu undangan, tapi, justru malah menjadi mempelai prianya, tak ada keluarga papah yang datang! Ah ... pernikahan papah memang gak sewajarnya terjadi," kata Arsyad penuh penyesalan.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Riskejully, pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.


Judul : Cinta Terakhir Dalam Hidupku


Ini blurbnya:


Kelanjutan dari kisah Nadhira di "Apa salahku Pa"


Rifki adalah sosok yang ahli dalam dunia beladiri dan juga dunia gaib, dia pemimpin dari sebuah geng yang diberi nama Gengcobra, sementara Theo adalah sosok yang juga ahli dalam dunia beladiri dan dia menjabat sebagai pemimpin dari geng yang diberi nama Gengters


Kedua lelaki itu saling memperebutkan Nadhira agar menjadi pasangan mereka, lantas siapakah yang akan memenangkan hati Nadhira? Akankah terjadi perkelahian ketika anggota dua geng saling bertemu?


Ingin tau kelanjutannya? Yuk mampir dinovelku

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya ya



__ADS_2