
Aliando tertegun sesaat, ia pun melirik Alisha yang sudah berada di sampingnya. Sungguh aneh.
"Kenapa, Bu, bukankah yang lain itu juga dijual?" tanya Alisha sambil menunjuk aksesoris dan souvenir yang dipajang berjajar rapi di gantungan dan etalase.
"Kalian emangnya ga bisa lihat? Itu semuanya ada harganya, kalau yang ini hanya pajangan, ini gelang kutukan cinta, jika memaksa membeli ini maka akan celaka, jika itu pasangan maka akan berpisah," jelas ibu peramal.
Alisha dan Aliando saling melirik, memberi isyarat lewat matanya lalu harus bagaimana.
π΅
"Abang yakin?" tanya Alisha saat Aliando memasangkan gelang tersebut di tangan Alisha. Mereka sudah berada di luar tenda, berjalan meninggalkan tempat itu, kemudian berhenti sesaat di bawah sebuah pohon yang rindang, di depan sebuah masjid yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Pada akhirnya gelang itu diberikan oleh ibu peramal. Tidak dijualnya. Entah benar atau tidak kutukan itu, tapi sempat membuat Alisha merasa takut.
"Kenapa? Kamu takut? kamu percaya ramalan?" tanya Aliando.
"Nggak juga sih, tapi kok ngedenger cerita ibunya, aku ngerasa gimana gitu,"
"Udahlah, bukan kita yang kena kutukan, lagian, soal kita bahagia dan celaka, udah digariskan oleh Tuhan, Cha,"
"Abang gak takut?"
"Gak lah, zaman kayak gini masih percaya hal kayak gitu, Cha, Cha,"
"Bukan percaya, Bang, hanya saja antisipasi, kalo bener gimana?"
"Kalo bener, maka kita hilangkan kutukan itu, mari kita saling percaya, kita berjanji untuk tidak saling meninggalkan dan mengkhianati," kata Aliando sambil meraih pinggang Alisha mengikis jarak. Alisha menahan dengan ke dua tangannya di dada Aliando.
"Jangan sembarangan berjanji kalo ga bisa menepati,"
"Apa kamu meragukan aku? Aku udah janji di hadapan Tuhan, kakek, nenek dan para saksi, menjadikan kamu istriku dunia dan akhirat,"
"Atau mungkin Abang lah yang selalu meragukan ku,"
"Aku tidak pernah meragukanmu,"
"Tapi Abang mudah percaya pada orang lain,"
"Tidak, aku tidak percaya pada orang lain, kamu tau kan, aku hanya percaya pada feel-ku, karena feel aku gak pernah salah,"
"Iya, tapi Abang percaya apa yang temen Abang bilang, kalo aku hamil,"
"Tidak, aku hanya memanfaatkan keadaan, biar semua orang bisa menerima alasanku menikah denganmu, mungkin aku egois, caraku tidak benar, tapi aku sungguh-sungguh mencintai kamu, aku ingin memilikimu, melindungimu dengan cara yang halal, agar Allah gak marah ma kita,"
"Tetep aja, cara Abang bikin aku kesel dan sakit hati, aku juga malu sama nenek, kakek, dan pak Idris,"
"Aku tau, dan aku sudah dinasehati kakek dan pak Idris, juga dimarahi nenek sampe dipukuli,"
"Hah, benarkah?" Alisha menutup mulutnya. Ia tak percaya jika Aliando mendapatkan pukulan dari nenek.
Aliando hanya mengangguk sebagai jawaban dari pertanyaan Alisha.
"Apa sakit?" tanya Alisha kemudian.
"Tidak, tak terasa apa-apa,"
"Berarti, nenek sangat baik hati,"
"Memang, dan gak ada yang bisa nyakitin aku kecuali kamu!"
__ADS_1
"Maksudnya?"
"Kamu yang cuek dan kamu yang pergi menjauhiku, itu sangat menyakitiku!"
"Tapi, ini aku lakukan untuk menghukum Abang,"
"Aku tau, aku terima, makanya aku gak mau kamu pergi lagi, cukup sembilan belas hari saja!"
Alisha mengembangkan senyumnya, kemudian kedua tangannya melingkar di leher Aliando.
"Makasih ya, Bang,"
"Setelah perjanjian ini, jangan pergi lagi ya," kata Aliando meminta kepastian.
"Iya,"
"Jangan ninggalin aku, Cha," mohon Aliando serius.
"Iya, iya, Abang, aku gak ninggalin Abang,"
"Janji?"
Alisha mengangguk.
"Bener, Cha?"
"Iya, Abang, kamu bisa pegang janji aku,"
"Apa janji kamu?"
"Aku gak akan ninggalin kamu, Bang,"
Aliando memberikan tatapan menyelidik, seakan tak percaya dengan ucapan Alisha.
"Kamu yakin dengan ucapan janji kamu?"
"Iya, aku janji, Bang, aku gak akan ninggalin Abang, dan kalo sampai itu terjadi, maka Abang boleh melepas aku,"
"Eh, enak aja, bagaimana mungkin aku melepas kamu gitu aja, untuk dapatkan kamu nyampe titik serius jadi istri aja, susah, udah didapat, dan udah jadi istri juga, kamu masih pergi-pergi mulu,"
Alisha hanya nyengir.
"Gak bisa, kamu ganti isi janji kamu!"
"Hee, iya, Bang, aku janji gak akan ninggalin Abang, kalo sampai itu terjadi, Abang boleh melakukan apa aja pada aku, dipukul, dicubit, disiksa, nyampe dihilangkan nyawa juga gak papa,"
"Eh, apa maksud kamu, kenapa nyawa dibawa-bawa,"
"Iya, biar Abang tau kalo aku serius gak akan ninggalin Abang,"
"Iya, tapi gak perlu juga kan aku nyiksa dan ngilangin nyawa kamu! Aku sayang kamu, Cha, dan apa yang kamu katakan itu gak akan pernah terjadi, jangankan untuk berbuat kasar sama kamu, buat marah aja aku gak bisa, aku gak tega lihat kamu sakit karena aku,"
"Makasih ya Bang, ya udah gini aja, kalo aku pergi, Abang boleh minta apa saja ma aku,"
"Bener?
"Iya, tapi Abang juga janji, Abang gak akan ninggalin aku,"
"Aku janji, Cha, aku, Aliando Ivander, segenap jiwa raga aku, aku gak akan ninggalin kamu, kalau itu terjadi, maka dimanapun, kapanpun, aku gak akan pernah mendapatkan kebahagiaan seumur hidupku," ucap Aliando. Telapak tangannya memegang kepala Alisha.
__ADS_1
Kemudian Alisha menarik tangan Aliando yang ada di atas kepalanya, lalu mencium telapak tangannya.
"Iya, Bang, aku janji sama Abang, aku Alisha Leandra, gak akan ninggalin Abang, kalo itu terjadi, aku juga gak akan pernah bahagia selama aku hidup,"
Aliando mengangguk mendengar ucapan janji Alisha, bertepatan dengan berkumandangnya suara adzan yang terdengar syahdu dari arah masjid.
π΅
"Abang, gak papa?" tanya Alisha melalui panggilan telepon.
"Ada apa, Cha, tengah malam nelfon? Aku gak papa," kata Aliando sambil melihat ke arah jam dinding, dan waktu menunjukkan jam dua malam.
"Aku mimpi buruk tentang Abang,"
"Tadi udah berdoa?"
"Udah,"
"Ya udah, mungkin kamu terlalu capek, makanya bermimpi buruk," Aliando mencoba menenangkan.
"Iya, mungkin,"
"Ya udah kamu tidur lagi, atau aku ke situ ya, buat nemenin kamu,"
"Gak Bang, gak papa, gak usah! Ya udah, Abang tidur lagi aja,"
"Beneran, kamu gak papa?"
"Iya, Bang, aku gak papa, Abang gak usah khawatir, aku justru ngekhawatirin Abang,"
"Ya udah, kamu tenang aja, karna aku baik-baik saja, mimpi hanyalah bunga tidur, gak usah kamu seriusin,"
"Iya, Bang, Abang hati-hati ya,"
"Iya, pasti,"
Akhirnya, Alisha pun mengakhiri panggilan teleponnya.
Ia mengusap wajahnya, mengingat betapa mengerikannya mimpi itu, terasa seperti nyata, bayangan mimpinya masih saja berputar dalam ingatannya, sangat membekas rasa sakit di hatinya.
Aliando terkapar berlumuran darah berada di atas pangkuan Alisha, sementara dirinya hanya bisa menangis, berteriak, memanggil nama Aliando sambil memeluk kepala Aliando. Ini adalah isi mimpi buruk Alisha.
...π»π»π»π»π»...
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
...Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Ingflora pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa....
Judul : Puisi Cinta Topeng Cinderella
Ini blurbnya:
Bagaimana takdir membolak balikkan cinta, atau sebenarnya cintakah yang telah membolak-balikkan takdir?
Sebuah buku note berisi puisi mempertemukan Abra, (Abraham Natawijaya 24 tahun) seorang CEO muda pada seorang gadis bertopeng yang misterius di sebuah pesta topeng yang dihadirinya. Gadis itu mampu memikat hatinya karena mampu tampil beda dengan berjilbab hingga ia mencari tahu siapa gadis itu sebenarnya.
Shasa (Shanum Andina Prawira 19 tahun) gadis yatim piatu yang diduga sebagai gadis bertopeng itu terpaksa menyangkal, karena permintaan sepupunya Rika, yang iri padanya. Ia dipaksa pacaran dengan pria yang sedang dekat dengan sepupunya itu(Bima) hingga memupus harapan Abra untuk mendekatinya.
Namun begitu, dunia kerja mendekatkan mereka walaupun kemudian keberadaan Kevin, kakak tiri Abra yang juga menyukai Shasa memperkeruh hubungan mereka.
__ADS_1
Lalu dapatkah Abra mendapatkan cinta Shasa seutuhnya? Kawal terus perjuangan Abra untuk mendapatkan pujaan hatinya.