
"Abang?"
Alisha terkejut ketika ia membuka pintu rumah. Ia sedang menyapu dan hendak membuang debu-debu yang dia sapu keluar.
Ia melihat suaminya itu sedang duduk memeluk kedua lututnya yang terlipat di bibir teras sambil memandang taman kecil milik Alisha. Meskipun saat ini masih jam setengah enam pagi, namun, langit sudah remang-remang menuju terang.
Aliando melirik sekilas, kemudian ia berdiri menghampiri istri cantiknya itu.
"Gimana keadaan kamu, hm?" tanya Aliando sambil mengusap pipi Alisha.
"Abang sejak kapan di sini?" tanya Alisha malah menjawab pertanyaan Aliando dengan sebuah pertanyaan juga.
Aliando tak menjawab, karena dia memang tak ingin memberitahukan jika dia ke rumah Alisha tadi malam, sesaat setelah Alisha mengakhiri panggilan teleponnya.
Ia sengaja menunggu di teras, dan tidak ingin membangunkan Alisha. Ia hanya mengantisipasi, jika Alisha kembali bermimpi buruk, dia sudah siap berada di dekatnya.
"Jangan bilang ... dari semalam Abang ke sini?" Alisha mencoba memastikan.
Aliando hanya diam, ia mencoba menjawab dengan tatapan yang sudah pasti bisa dimengerti oleh Alisha.
"Sudah kubilang, Abang gak perlu datang," kata Alisha.
"Aku tau," jawab Aliando santai namun tegas. Dari ucapannya bisa diartikan bahwa meskipun seribu kali Alisha melarang Aliando datang, pasti dia akan datang, karena dia tidak memerlukan persetujuan Alisha dan seharusnya Alisha sudah hafal betul bagaimana sifat Aliando, suaminya itu pasti akan melakukan apapun untuk menjaga dirinya.
Alisha menarik nafas panjang. Ia menatap Aliando dengan tatapan penuh rasa sayang dan terima kasih.
"Pasti dari semalam Abang kedinginan, ayo masuk, aku buatkan susu hangat," kata Alisha sambil menarik tangan Aliando menuju ke dalam rumah.
π΅
Aliando duduk di kursi makan, dia hanya diam memperhatikan Alisha. Tak ada yang berubah, namun hatinya merasakan sesuatu yang lain, walaupun dia sendiri masih belum mengerti apa maksud perasaannya ini.
"Ini, Bang, diminum," kata Alisha sambil meletakkan segelas susu hangat di meja.
"Makasih, Cha," kata Aliando singkat. Tiba-tiba tangannya langsung melingkar di pinggang Alisha kemudian menarik tubuh mungil itu dan mendaratkannya di pangkuan.
"Eh, kenapa ni, Bang?" Alisha terkejut, namun dia tak memberontak. Hanya saja, hatinya cukup dibuat tak karuan. Ini baru pertama kalinya ia duduk di pangkuan Aliando.
"Duduklah dengan tenang, kayaknya semalam kamu ga tidur nyenyak,"
"Trus, maksudnya apa, aku harus duduk di pangkuan Abang?"
"Aku gak tau isi mimpi kamu apa, tapi kalo sampai itu membuat kamu akhirnya menelfon aku, itu berarti, ada sesuatu yang membuatmu cemas dan sakit hati karena aku,"
Alisha memperhatikan wajah Aliando, sekilas ia terbayang akan mimpinya semalam, sangat mengerikan, bahkan walaupun ia tak ingin mengingatnya, namun bayangan mimpi itu terus hadir menghantui pikirannya.
Aliando terkapar berlumuran darah.
"Abang gak boleh ninggalin aku," ucap Alisha langsung memeluk Aliando erat.
"Kalo Abang pergi, aku dengan siapa?" tanya Alisha masih memeluk Aliando.
"Aku nggak kemana-mana, Cha, aku selalu ada bareng kamu,"
"Bener ya,"
"Iya, kita kan sudah berjanji, kecuali Tuhan yang menghendaki, aku gak akan meninggalkan kamu,"
"Bolehkah aku minta Tuhan agar jangan membiarkan Abang pergi ninggalin aku?"
"Boleh saja,"
"Tapi kalo Tuhan tetap membiarkan Abang pergi, bolehkah aku minta ikut bersama Abang kemanapun Abang pergi?"
"Iya, ayo kita pergi sama-sama,"
__ADS_1
"Serius, Bang?" tanya Alisha sambil melepas dekapannya dan menatap wajah Aliando, serta memindai kedua netra indah milik Aliando.
"Iya, serius, kita akan selalu bersama," jawab Aliando.
Alisha tersenyum, kedua tangannya kini menangkup pipi Aliando, ia kemudian menciumi wajah suaminya itu, dan hal tersebut justru membuat cowok tampan itu merasa geli.
"Tunggu, Cha, kamu bermimpi apa, hm?" tanya Aliando masih penasaran. Ia menghentikan Alisha dengan memegang kedua tangan Alisha, sehingga istrinya itu terdiam dan tak lagi menciuminya.
Jujur saja, sebenarnya semenjak Alisha mengatakan jika dia bermimpi buruk, dia merasakan hal yang tidak biasa. Hatinya menjadi tidak tenang.
"Gak papa, Bang, kata Abang gak usah diseriusin, jadi, mimpi semalam sama sekali gak aku inget,"
"Apa mimpimu, hm? Gak usah bohong,"
Alisha hanya terdiam. Kedua mata mereka saling beradu.
"Mimpi Abang meninggal," kata Alisha dengan sangat hati-hati. Namun, ia tidak menceritakan detail isi mimpinya seperti apa. Karena, ia sendiri tak sanggup untuk menceritakannya.
Aliando menarik nafasnya panjang dan tersenyum.
"Kamu tau, Cha, kalo kata orang tua, jika kita memimpikan seseorang meninggal dunia, itu tandanya orang tersebut akan panjang umur,"
"Aamiin," ucap Alisha sambil tersenyum.
"Udah ya, gak papa," kata Aliando menenangkan.
"Iya, tapi rasanya masih sakit," kata Alisha sambil meremas baju di dadanya. Ia masih merasakan bagaimana sakitnya saat mendapatkan mimpi tersebut.
"Ntar juga lupa, gimana kalo hari ini kita jalan-jalan?"
"Eh, maaf, gak bisa, Bang,"
"Kenapa?"
"Aku ada tugas yang harus diselesaikan,"
"Ini soal kerjaan aku,"
"Kamu, masih juga bekerja?" Aliando mulai mode serius.
"Iyalah, jangan bilang Abang gak ngijinin aku bekerja,"
"Iya, aku tidak mengijinkannya,"
"Tapi ...." ucapan Alisha terhenti karena Aliando langsung memotongnya.
"Cha, aku suami kamu, aku berhak atas kamu, dan aku bertanggungjawab penuh atas kamu, aku akan penuhi semua yang kamu butuhkan dan kamu inginkan, jadi kamu gak perlu bekerja," kata Aliando tanpa memberikan kesempatan Alisha berbicara.
"Gak bisa, Bang,"
"Kamu istriku, dan kamu harus nurut,"
"Bukan gitu, tapi aku ...."
"Apa? Kamu gak mau merepotkan aku? kamu terbiasa menikmati sesuatu karna jerih payahmu, gitu?" Lagi-lagi Aliando tidak memberikan kesempatan pada Alisha untuk menjelaskan maksudnya.
"Bukan, Bang ...."
"Cha, dengerin aku, aku suami kamu, ingat itu, aku akan memberikan apapun yang kamu mau, kalo kamu minta satu, aku akan memberikan dua, asal kamu gak usah capek-capek bekerja, paham? Cukup, kamu duduk manis, menikmati keindahan hidup dengan tenang dan nyaman bersamaku,"
Alisha tersenyum, ia merasa tersanjung dengan penuturan Aliando.
"Iya, iya, Bang, aku paham, ini bukan soal aku butuh apa atau aku ingin apa, aku tau, Abang pasti bertanggung jawab, Sejak kita bersama, Abang selalu memenuhi kebutuhan hidup aku, sampai aku sama sekali gak pernah mengeluarkan sepeser pun, dan aku gak pernah kekurangan,"
"Lalu kenapa kamu masih juga bekerja?"
__ADS_1
"Karena, aku sudah kontrak, dan aku bekerja ini sudah lama, jauh sebelum aku mengenal Abang,"
"Apa pekerjaan kamu, hm?" Aliando berharap Alisha mau menjawabnya.
"Maaf, Bang, itu bagian dari kontrak kerjaku, siapapun bahkan keluarga terdekat sekalipun tidak boleh tau apa pekerjaan yang aku jalani, papah aku pun gak tau,"
"Serius? Mana ada pekerjaan seperti itu?"
"Ada, nanti aku kasih tau jika aku sudah menyelesaikan pekerjaan yang ini, karena setelah ini, kontrak kerjaku sudah berakhir,"
"Benarkah?"
"Iya, ntar kalo kerjaan ini udah selesai, maka aku akan nurut Abang, duduk manis jadi istri Abang, dan menikmati keindahan hidup dengan nyaman dan tenang bersama Abang,"
"Okke, aku tunggu,"
"Hmm, bersiaplah Abang akan menyesal karena aku akan menghabiskan uang Abang buat senang-senang," kata Alisha sangat meyakinkan
"Gak masalah, uangku gak akan habis, Cha,"
"Emh, sombong banget,"
"Bukan sombong, tapi aku akan membuktikan, kalo aku akan penuhi semua kebutuhan dan keinginan kamu, emang apa sih yang kamu inginkan, hm? Kamu pengen pesawat pribadi? pengen kapal pesiar? Pengen pulau pribadi?"
"Haha, aku bukan kaum hedonis, Bang, gak perlu lah barang mewah, meskipun aku senang, tapi aku sadar diri, papah aku bilang, kesederhanaan membuatmu bersahaja dan bahagia, perbanyak bersyukur pada Allah, agar tidak takabur, biasakan bersedekah,"
Aliando tersenyum mendengar penjelasan Alisha. Ia semakin dibuat kagum dengan sosok gadis yang telah halal menjadi pasangannya ini.
"Tapi, kamu harus inget ya, uang aku buat kamu, kamu boleh menggunakannya sebaik mungkin, sekali pun untuk bersenang-senang,"
"Kalo habis gimana?" tanya Alisha.
"Tinggal cari uang lagi aja,"
"Ish, Abang kira cari uang gampang? tinggal metik dari pohon gitu?"
"Anggap saja seperti itu,"
"Ngomong-ngomong, emang apa sih pekerjaan Abang?"
Aliando terdiam.
"Itu rahasia, Cha,"
"Hah?"
...π»π»π»π»π»...
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
...Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Ayu Andila pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa....
Judul : Menjadi Madu Sahabatku
Ini blurbnya:
Viola Rinjani, seorang gadis muda berusia 23 tahun harus terpaksa menikah dengan seorang pria yang merupakan suami dari sahabatnya sendiri.
Awalnya, Viola menolak tawaran pernikahan itu. Namun, keadaan yang terus memburuk terasa mencekik leher Viola hingga membuatnya harus mengambil keputusan untuk menjadi istri kedua.
Biduk rumah tangga pun dimulai, akankah Viola berhasil melewatinya ?
Atau terpuruk dengan segala siksaan dan hinaan yang dilayangkan oleh semua orang ?
Yuk ikuti kisahnya hanya di Noveltoon !
__ADS_1