Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
86. Gosip


__ADS_3

"Maaf, permisi!" kata Alisha dengan perasaan campur aduk. Ia bangun dari tempat duduknya dan mencoba bersikap sopan kepada Fahri karena harus meninggalkannya.


Fahri memang bingung dengan sikap Alisha yang tiba-tiba bangun dari tempat duduknya, namun ia cepat mengerti jika Alisha akan keluar kelas. Untuk itulah ia pun memberi jalan agar gadis itu bisa lewat.


🌡


Benar saja, penglihatan dan perasaan Alisha tidak salah, orang yang dia perhatikan saat di kelas tadi adalah Aliando.


"Abang, kenapa bisa di sini? Abang gak pulang? Atau baru ke sini?" tanya Alisha saat menghampiri Aliando di gazebo. Ia pun duduk di samping Aliando.


"Kamu kenapa keluar kelas, hm?" tanya Aliando tanpa berniat menjawab pertanyaan Alisha.


"Karena aku ngelihat Abang,"


"Apa kamu merindukan aku?"


"Iya, aku kira, aku hanya berhalusinasi, tapi ternyata nggak! Eh, Abang belum jawab pertanyaanku,"


"Yang mana?"


"Abang ga pulang?"


"Hmm," kata Aliando sambil mengangguk.


"Kenapa?" tanya Alisha lagi.


"Apa perlu aku jawab?" Aliando balik bertanya.


"Jangan bilang, Abang sengaja nungguin aku, sampai pulang sekolah nanti," terka Alisha.


"Itu sudah pasti,"


"Ya ampun, Bang,"


"Kenapa? Gak boleh? Aku mengkhawatirkanmu,"


"Aku baik-baik aja, Bang ... Abang gak perlu nungguin aku, lagian di sini dingin, Abang sengaja hujan-hujanan? Abang mau bikin aku khawatir kalo abang sakit?"


"Kamu khawatir?"


"Tentu saja!"


"Tapi, kenapa kamu baru ke sini? padahal aku dari tadi ada di sini,"


"Aku beneran baru lihat Abang tadi,"


"Iya, karena kamu hanya fokus sama anak baru itu kan, bahkan saat aku di sini kedinginan, kamu asik mengobrol dengannya dalam kelas,"


"Wah, Abang lihat?"


"Iya,"


"Tapi, Abang salah sangka,"


"Cha, aku ngelihat kalian berdua sedang ngobrol,"


"Abang sayang ... nih, dengerin ya, tadi dia emang nyamperin tempat dudukku, tapi gak ada obrolan panjang, bahkan aku terus memandangi ke luar jendela, aku ingat, gak boleh natap cowok lebih dari dua detik," jelas Alisha.


Aliando tersenyum. Ia senang mendengar penjelasan Alisha yang menurutnya pasti jujur.


"Sini, Cha, aku kedinginan, butuh yang hangat," kata Aliando sambil memeluk Alisha.


"Bang, ini di sekolah, gak enak," kata Alisha sambil membalas dekapan Aliando.


"Bentar aja, Cha," ucap Aliando.


Akhirnya Alisha pun membiarkan dan malah menikmati dekapan tersebut. Hanya sebentar. Kemudian Aliando melepas dekapannya. Selanjutnya ia meraih tengkuk Alisha dan mendaratkan ciuman lembut di bibir Alisha.

__ADS_1


Hati Alisha berdebar kencang, seluruh sendinya terasa lemas. Detak jantungnya tak beraturan. Ia menahan nafas, dan menikmati kehangatan dan kelembutan dari Aliando. Jujur saja, ia juga sangat merindukan Aliando. Setelah kejadian di penginapan itu, Alisha memang menjadi manja, ia selalu merasa tidak ingin berjauhan dari Aliando.


Hanya tiga detik. Tidak lebih.


"Abang, ini sekolah," kata Alisha lirih setelah Aliando melepaskan ciumannya.


"Aku tau, semoga saja tidak ada yang melihat, dan memviralkannya,"


"Kenapa Abang melakukannya?"


"Aku kangen, aku cemburu dan aku sedang kedinginan, bolehkan kalo aku memintanya?" ungkap Aliando.


"Boleh aja,"


"Lalu, kenapa kamu mau? kamu kan bisa menolaknya,"


"Abang suamiku, aku juga lagi kangen ... Abang tau, aku sangat merindukan Abang, jujur aja, aku juga menginginkannya, jadi, gak ada alasan untuk aku menolak, kan?"


Aliando tersenyum dengan sangat apik. Ia juga merasakan hal yang sama. Semenjak kejadian di penginapan, ia memang merasa tidak ingin berjauhan dengan Alisha.


"Sini, mungkin, sebagai gantinya, kita begini saja ya," ujar Aliando sambil menggenggam satu tangan Alisha dan mengusapnya beberapa kali.


"Iya,"


"Nanti nyampe rumah, aku akan memintanya, boleh?"


Alisha hanya mengangguk dan tersenyum. Ia tahu kemana arah pembicaraan Aliando.


"Ke kantin aja yuk, Bang, aku laper," ajak Alisha. kemudian.


"Ah, bener juga, tadi kamu gak ke kantin kan pas istirahat, kenapa?"


"Males, gak ada Abang, belum terbiasa, jadi, masih butuh penyesuaian,"


"Kasihan, maaf ya, aku belum bisa nemenin kamu lagi di sekolah ini, tapi, besok aku akan mengusahakan bisa nemenin kamu,"


"Ayok, katanya lapar, lagian kelas masih belum ada pelajaran, kan?" tanya Aliando.


"Iya, guru-gurunya lagi meeting," jawab Alisha.


"Hmm," Aliando segera bangkit dari duduknya kemudian menarik tangan Alisha. Sementara gadis itu hanya patuh menuruti Aliando.


🌡


Ternyata di kantin cukup banyak siswa yang sedang menikmati jajanan. Sepertinya, mereka memang sengaja menggunakan kesempatan tersebut untuk pergi ke kantin ketika guru-guru sedang melakukan meeting.


Aliando langsung mengajak Alisha ke lokal kantin favoritnya "kios Alifia" namanya, yang mengelola pak Dani dan bu Rasti. Ia tahu, Alisha sangat menyukai jajanan di tempat itu, karena aneka jajanan dan minumannya cukup bervariasi, boleh dibilang, jika pak Dani membuka warung nongkrong buat anak muda, pasti laris manis.


Seperti biasa, Aliando sudah memesan makanan favorit Alisha, batagor kuah dan jus mangga.


"Kamu gak pengen makan nasi? tadi pagi kan kamu makan cuma dikit, karena buru-buru, padahal dari rumah papah nyampe sini kan cepet banget," kata Aliando sambil meletakkan mangkuk yang berisi batagor dan gelas yang berisi jus mangga di hadapan Alisha.


"Ya, mana aku tau, kalo Abang lewat jalan pintas," kata Alisha dengan ekspresi yang membuat Aliando tertawa.


"Jadi, kamu mau makan nasi gak? biar aku pesan kan sekalian,"


"Nggak, ntar jadi kenyang banget,"


"Hm, ya udah, makanlah," kata Aliando sambil menikmati siomay yang dipesannya.


"Abang tau, kalau gak bareng Abang di kantin, aku masih bingung, soalnya dulu Abang memang mendominasi aku, nyampe aku ga bisa ngapa-ngapain, aku terlalu bergantung pada Abang, jadi sekarang aku gak mandiri,"


"Oh, istriku ini udah gak barbar ya?"


"Hm, iya, udah jadi manja,"


Aliando terkekeh.

__ADS_1


"Baguslah, jadi biar kamu gak bergantung pada orang lain," komentar Aliando.


Alisha hanya tersenyum sambil menyuapkan batagornya.


☘️


"Mas Al setianya, padahal udah lulus, tapi masih mau nemenin mbak Alisha," celetuk salah seorang murid putri yang duduk tidak jauh dari tempat duduk Alisha dan Aliando bersama keempat kawannya. Mereka merupakan adik tingkat Aliando ketika kelas sepuluh, dan sekarang, mereka berada di kelas sebelas.


"Iya, jadi inget, kehebohan Alilo dan Alianers, kalo udah dukung mas Al," komentar salah satunya lagi.


"Iya, tapi ternyata, semua bubar ketika mas Al mengumumkan mbak Alisha adalah pacarnya," kata murid putri ketiga.


"Sedih rasanya, padahal aku ngefans banget ma mas Al, aku kan ikutan di Alilo FC, tapi sayang, mba Nikita ternyata tukang bully," kata murid keempat.


"Kalo aku malah seneng lihat mas Al ma mbak Alisha, mereka pasangan yang sangat serasi, tampan dan cantik, apalagi mbak Alisha jago bela diri, ah, itu keren banget," jelas murid kelima.


"Iya bener, inget yang video itu ya, saat mbak Alisha dikeroyok mbak Nikita, uh, itu hebat banget,"


"Eh, ngomong-ngomong, kalian pernah denger gak sih, kalo mereka itu udah nikah?" murid pertama mulai bergosip.


"Hah?" keempat kawannya bengong.


"Masa sih?" tanya murid kedua tak percaya.


"Iya, aku juga cuma denger gosip aja," jawab murid pertama.


"Salah gosip kali, apa sebabnya mereka nikah masih SMA? trus, kalo udah nikah, kenapa mbak Alisha masih sekolah? bukannya gak boleh ya," ujar murid ketiga.


"Iya, apa mungkin mbak Alisha hamil? tapi kalo dilihat, mbak Alisha baik-baik saja kan?" tanya murid kelima.


"Iya bener, kalo emang hamil kan, pasti dikeluarkan dari sekolah," komentar murid kedua.


"Kita lihat aja, mbak Alisha nanti perutnya gede apa nggak," celetuk murid kelima.


"Hmm bener juga, kita lihat aja nanti, beneran gosip atau fakta," kata murid ketiga.


"Mudah-mudahan cuma gosip,"kata murid keempat.


"Iya mudah-mudahan cuma gosip, aku juga cuma dengar katanya aja, belum jelas kebenarannya," kata murid pertama.


Alisha dan Aliando saling pandang, mereka mendengar semua obrolan kelima murid yang berada tak jauh dari tempat mereka duduk tersebut.


"Kamu gak papa, Cha?" tanya Aliando berusaha memastikan jika Alisha baik-baik saja, karena raut wajahnya terlihat berubah. Ia pasti tidak nyaman.


Alisha hanya tersenyum kecil sambil mengangguk. Namun Aliando tahu, jika anggukan itu ia lakukan terpaksa.


"Abang, kita rahasiakan status kita dulu ya, daripada sesekolah heboh, masa ada siswa udah nikah boleh sekolah, ntar malah gimana-gimana lagi," bisik Alisha yang masih bisa didengar oleh Aliando.


Aliando mengangguk, ia mengerti bagaimana ketidaknyamanan Alisha dengan gosip tersebut.


"Apapun, Cha, asal kamu nyaman, okke,"


"Makasih ya, Bang,"


"Lalu bagaimana temen sekelasmu yang udah tau kamu nikah?"


"Hanya empat orang, Naira dan Raisa, tapi mereka pasti bisa dipercaya, Tio juga, gak tau kalo Jimmy, dia laki-laki tapi suka ember mulutnya,"


"Lalu gimana?"


"Ya udah, kalo Jimmy bergosip, yaaa bilang aja cuma gosip," jelas Alisha.


"Ya udah, asal kamu tenang dan nyaman di sekolah itu gak masalah, kalo udah gak nyaman, kamu home schooling aja, mau kan?"


"Nggaklah nyaman juga kayak gini, banyak temen-temen, biar gak kelewat masa abu-abunya,"


Aliando pun mengangguk mengerti.

__ADS_1


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2