
"Eh, Om, itu suami saya datang," kata Alisha sambil menunjuk ke arah pintu masuk.
"Suami saya tampan kan, Om," ucap Alisha memuji Aliando.
"Iya, sangat tampan," balas Arsyad sambil mengangguk dan tersenyum.
"Abaaang, sini!!" panggil Alisha dengan berteriak. Tangannya melambai meminta agar Aliando menuju ke arahnya.
"Maaf, udah lama nunggu ya?" kata Aliando menyapa Alisha ketika sudah berada di dekat gadis itu.
"Nggak juga, sini duduk," kata Alisha sambil menarik kursi di sebelahnya agar Aliando bisa duduk.
"Terima kasih," ucap Aliando sambil duduk di samping Alisha.
"Oiya, Bang, ini, kenalin Om Arsyad, dan Om, ini, suami saya," kata Alisha penuh percaya diri memperkenalkan Aliando sebagai suaminya.
Aliando dan Arsyad hanya saling pandang dan melempar senyuman.
Namun kemudian, Aliando bangun dari duduknya, menghampiri Arsyad kemudian menjabat tangan dan mencium punggung tangan ayahnya itu.
"Jadi, ini istri kamu, Al?" tanya Arsyad membuat Alisha mengerutkan keningnya, benaknya bertanya mengapa cara bicara Arsyad seperti sudah mengenal Aliando? Bukankah tadi dia belum menyebutkan nama Aliando? Tapi kenapa Arsyad justru memanggilnya dengan panggilan Al?
"Iya, Pah, ini Alisha, dia cantik kan, Pah?"
Alisha tercengang, ia menutup mulutnya tak percaya, otaknya bekerja keras mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Matanya bergerak bergantian menatap Aliando dan Arsyad.
"Cha, ini papahku, ini orang istimewa yang akan aku kenalin ke kamu kemarin," kata Aliando membuyarkan keterkejutan Alisha.
Arsyad tersenyum lebar, sedikit terkekeh, ia tak tahan melihat ekspresi kagetnya Alisha.
"Kenalkan, Sha, saya ayahnya Aliando, mertua kamu," kata Arsyad sangat tenang. Ia mengulurkan tangannya agar Alisha menjabatnya.
Wajah Alisha merah padam menahan malu. Sangat malu. Bukankah tadi dia banyak bercerita bagaimana dia bisa menikah dengan Aliando? dan bagaimana dia dengan cueknya menanyakan apakah ayah Aliando akan menerimanya sebagai menantu?
"Udah kagetnya, Cha," kata Aliando sambil menarik tangan Alisha dari mulutnya.
Kemudian Alisha pun menyambut tangan Arsyad dan mencium, punggung tangannya.
"Ya ampun, Om, Bang, aduh gimana ini ya, aduh, Om, Abang, kok jadi gini sih?" Alisha salah tingkah. Ia menepuk pipi dan keningnya beberapa kali.
"Gak papa Alisha, kamu udah berhasil mendamaikan kami, kok," ucap Arsyad.
"Maksud, Om?"
"Kalau bukan karena kamu kemarin bersama saya menyelidiki istri saya, mungkin Aliando tidak akan pernah ke rumah,"
"Abang, ke rumah Om Arsyad, kenapa?"
"Karena aku penasaran kenapa kamu bisa bersama papah, andai kata aku tanya sama kamu, kamu pasti tidak akan jawab jujur, jadi karena rasa penasaran ku udah tinggi, aku datangi papah," jawab Aliando.
"Iya, dia malah mencurigai kita, dikiranya papah ada main sama kamu, karena kita ke hotel dan jalan-jalan di mall," kata Arsyad pada Alisha.
"Ih, Abang tega banget sih, jahat banget pikirannya,"
"Bukan jahat, hanya penasaran, mencoba memastikan, gak papa kan, lagian kamu selalu main rahasia soal kerjaan,"
"Kan sudah aku bilang, kalo udah waktunya aku bakal kasih tau,"
"Sudah, aku sudah tau," kata Aliando.
"Kamu seorang detektif kan? Kamu menyelidiki dan mencari bukti tentang orang-orang yang selingkuh atau tidak, iya kan?" tebak Aliando.
"Iya, Abang pasti tau dari Om Arsyad ya?"
"Nggak, aku udah feel aja,"
"Lalu kenapa ke rumah Om Arsyad?"
"Hanya mencari kepastian,"
"Mencari kepastian apaan, Abang mencurigai aku ma Om Arsyad," protes Alisha.
__ADS_1
"Papah, panggil papah, bukan Om, kamu kan sekarang adalah menantu papah," sela Arsyad.
"Ah iya, bener, Cha, masa sama papah manggil Om," kata Aliando merasa terselamatkan dari protesnya Alisha.
"Eh," Alisha bingung, ia masih kaku.
"Iya, panggil papah, Sha," kata Arsyad.
"Iya, Om, eh, Pah," kata Alisha masih saja merasa tidak percaya diri untuk memanggil Arsyad dengan sebutan papah.
"Sudah, sudah, sekarang kita pesan makan, dari tadi, kita malah ngobrol terus," kata Arsyad memberi saran.
π΅
Akhirnya, suasana lebih tenang, Alisha sudah bisa mengendalikan perasaan bingung dan kikuknya dan dia juga sudah tidak canggung lagi menghadapi Arsyad.
Kali ini mereka tengah asyik menikmati makanan yang sebelumnya dipesan.
"Abang, tau gak, dari tadi cewek itu ngelihatin kesini terus," kata Alisha di sela-sela makannya.
"Mana?" Aliando celingukan mencari.
"Arah jam tiga, Bang, yang duduk bareng ibunya," kata Alisha memberi petunjuk.
"Biarkan aja, gak kenal," kata Aliando cuek, setelah ia melihat seorang gadis manis dengan rambut lurus sebahu sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya.
"Siapa tau itu fans Abang," ujar Alisha.
"Lho, Aliando punya fans?" tanya Arsyad.
"Ugh, banyak banget, Pah," jawab Alisha.
"Kamu cemburu, Sha?" tanya Arsyad.
"Enggak, Pah, udah kebal, apalagi banyak fansnya cukup gila," jawab Alisha cuek hingga membuat Arsyad tertawa kecil.
Tiba-tiba mereka kedatangan Vanya dengan wajahnya yang masih terlihat cantik seperti biasa, meskipun sudah dipastikan hatinya sedang kacau dan galau.
"Apa kalian melupakan aku?" tanya Vanya penuh percaya diri.
"Aku ingin menemuimu, Mas, aku tadi ke kantor, tapi kata sekertarismu, kamu sedang makan di mall ini dengan Aliando, dan tebakanku benar, kalian pasti makan di sini," kata Vanya sambil menarik kursi di sebelah Arsyad kemudian duduk di sampingnya.
"Ada apa lagi, sudah ku bilang, tunggu surat cerai dariku," kata Arsyad tegas.
"Aku gak mau cerai, Mas,"
"Tapi aku sudah tidak ingin lagi berumah tangga denganmu!"
"Plis, Mas, maafkan aku, aku khilaf," mohon Vanya, rupanya dia tidak peduli dengan keberadaan Aliando dan Alisha.
"Kamu berkhianat, Van!" kata Arsyad, ia tidak habis fikir, kenapa dengan mudahnya Vanya mengatakan khilaf, apa dia tidak memikirkan perasaannya?
"Tante jangan bersikap seperti ini, ini tempat umum," sela Aliando.
"Aku gak peduli, karna papahmu juga gak mau bertemu denganku secara pribadi!" tukas Vanya.
"Tapi gak bikin malu diri sendiri juga kan, Bu," sela Alisha kini.
"Eh, ngapain kamu ikut campur, kamu siapa, hagh?" protes Vanya.
"Dia menantu saya," jawab Arsyad sangat pasti.
"Apa? kamu udah nikah Al?" Vanya kaget tak percaya. "Kamu udah ngapain anak orang sampe nikah muda?" lanjutnya.
"Hehh, ternyata anak yang kamu banggakan juga gak lebih baik dari aku!" kata Vanya pada Arsyad.
"Kamu ngehamilin dia, Al?" tanya Vanya pada Aliando sambil menunjuk ke arah Alisha.
"Bu, jaga tu mulut ibu, jangan sembarangan kalo ngomong," protes Alisha.
"Alaaaah kamu juga, masih kecil mau-mauan," kata Vanya pada Alisha.
__ADS_1
"Aku gak seperti kamu, bu Vanya! suka main sama laki-laki lain!"
"Eh sialan kecil-kecil berani," Vanya emosi.
"Aku gak takut sama kamu, bu Vanya,"
Arsyad dan Aliando dibuat bingung bahkan terkejut dengan reaksi Alisha yang sepertinya sangat membenci Vanya.
BYURR
Tiba-tiba wajah Alisha ada yang menyiramnya. Seorang gadis pemilik rambut lurus sebahu yang sejak tadi memang melihat ke arah Alisha. Ia tiba-tiba mendekat kemudian menyiramkan air minum milik Alisha ke wajah Alisha.
Semua yang ada disitu terkejut dan merasa aneh. Tidak terkecuali Vanya, ia memang kaget, namun hatinya sangat bahagia melihat wajah Alisha disiram minuman.
"Hei, apa ini, kamu siapa kenapa nyiram aku?" tanya Alisha.
"Lo gak tau gue?" tanya gadis itu, "Gue Mia, anak dari bapak yang di hotel bareng lo!"
"Peduli amat kamu siapa! Tapi kamu gak berhak nyiram aku!" tantang Alisha sambil meraih gelas yang ada dihadapan Aliando kemudian menyiramkannya pada Mia.
"Sial! Dasar lon*e! Gara-gara lo, orang tua gue akhirnya cerai!" ucap Mia penuh emosi, ia mulai menarik baju Alisha.
Aliando segera bertindak, ia dengan cepat menyingkirkan tangan Mia dari baju Alisha.
"Jangan macem-macem, dan jangan pernah menyentuhnya!" teriak Aliando.
"Halah, Al, gak usah dibelain, lihat, ternyata istri kamu hanyalah lon*e!" ujar Vanya merasa puas.
"Diam, Tante! Kamu gak berhak bicara!" teriak Aliando.
"Ya ampun anak ini!" Tiba-tiba wanita paruh baya yang bersama Mia datang dan menarik lengannya. Rupanya, tadi dia baru saja dari toilet. Ketika kembali Mia sudah berada di meja Alisha.
"Mah, ini cewek itu kan, gara-gara dia kan mamah bercerai dengan papah!" protes Mia sambil menunjuk ke arah Alisha.
"Alisha?" Ibu terkejut, namun wajahnya terlihat bahagia.
"Bu Elia?" Alisha terkejut. Ia ingat dengan wanita paruh baya yang ternyata ibunya Mia. Dia adalah salah satu klien yang menyewa jasa Alisha sebagai detektif. Hari itu, aksi Alisha memang sangat berbahaya, karena dia harus beraksi sebagai pela*ur.
Hanya skenario yang dibuat untuk menggrebek ayahnya Mia yang memang suka menyewa jasa wanita penghibur.
"Iya, Sha, saya Elia, saya belum sempet ngucapin makasih malam itu saat penggrebekan suami saya, makasih ya, atas jasa tim kalian, saya berhasil melepaskan diri dari suami saya," jelas bu Elia.
"Mamah!" Mia terkejut.
"Iya, Mia, dia hanya berpura-pura, dia sudah mengambil resiko besar untuk hal ini, terlambat dikit aja mamah datang, dia bisa diapa-apain sama papah kamu yang kurang ajar itu!" kata Elia pada Mia.
"Maafkan anak saya Alisha, dia tidak tau yang sebenarnya tentang kamu!" kata Elia pada Alisha.
Alisha pun mengangguk.
"Gak papa, Bu, saya juga sudah menyiramnya balik! Maaf!" kata Alisha cuek.
"Oh gak papa, memang seharusnya dia mendapatkannya atas ketidaksopanannya!" kata Elia cukup tenang.
"Eh iya, kayaknya saya tau kamu, kamu pemuda yang malam itu di belakang saya kan waktu di hotel? yang pake hoodie itu?" tanya Elia kini pada Aliando.
Aliando menarik nafas panjang. Ia ingat siapa wanita ini. Wanita yang menggrebek suaminya bersama Alisha malam itu di hotel.
...π»π»π»π»π»...
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Senja_90 pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.
Judul : Pembalasan Sangat Pelakor
Ini blurbnya:
Akibat kejadian di masa lalu, Clarissa Dianti Jenia (23 tahun) terpaksa menjalani profesinya sebagai seorang pelakor. Ia menggunakan kecantikannya untuk menjerat para lelaki hidung belang yang dianggapnya pantas untuk mendapatkan ganjaran karena telah berselingkuh di belakang pasangannya yang juga ternyata sama-sama bermain api dengan lelaki lain.
Clarissa terus menekuni profesinya selama tiga tahun, hingga suatu hari ia mendapatkan kabar bahwa seseorang yang berkaitan dengan masa lalunya kembali ke Indonesia dan telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
__ADS_1
Lantas, bagaimana cara Clarissa membalaskan dendamnya kepada orang-orang yang telah menghancurkan kebahagiaannya? Akankah ada seseorang yang tulus mencintai Clarissa setelah tahu masa lalunya yang kelam?