Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
52. pacaran halal


__ADS_3

"Abang jangan nakal ya, aku merinding niiih," ucap Alisha sambil berusaha melepaskan dekapannya.


"Nakal sama istri, ibadah, Cha," kata Aliando, ia kemudian bangkit sambil menggendong Alisha dan membawanya ke kamar.


"Abang mau ngapain?" tanya Alisha terlihat gugup. Ia kini ada di atas kasur, kepalanya berada di atas lengan Aliando karena cowok tampan itu berbaring miring mensejajarinya.


"Menurut kamu mau apa, hm?"


"Abang gak akan macem-macem, kan?"


"Macem-macem sama istri, ibadah, Cha,"


"Abang, Abang kan janji, kita gak akan dulu punya anak," kata Alisha sambil menelan salivanya yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya.


"Ish, otakmu ini yang ngeres, emang kita mau ngapain, hm?"


"Mmm, m, malam pertama kah?" tebak Alisha hati-hati namun penuh penasaran.


Aliando tergelak.


"Apa kamu sangat ingin melakukannya, Cha?" tanya Aliando sambil mencolek hidung Alisha.


Wajah Alisha menjadi merah muda, ia tersipu dan begitu malu.


"Belum siap sih, Bang, kalo inget resikonya," kata Alisha sambil menatap lekat Aliando.


"Jadi, kalo gak inget resikonya, kamu siap?"


Alisha malah nyengir mendengar ucapan Aliando.


"Emang Abang udah siap?" tanya Alisha kali ini.


"Sama kayak kamu, kalo inget resiko untuk kita, terutama kamu, aku belum siap, tapi kalo aku khilaf, sekarang juga bisa dilakukan, gak ada yang salah kan?" papar Aliando sambil merapikan rambut Alisha ke belakang telinganya.


Alisha mengangguk pasrah. Apalagi saat Aliando lagi-lagi berhasil membuatnya tak karuan saat bibir mereka saling bertemu. Kedua tangannya pun melingkar di tengkuk Aliando.


Cukup lama mereka saling menikmati kehangatan dan kelembutan, hingga akhirnya diakhiri dengan kecupan di kening Alisha.


"I love you more, Alisha Leandra binti Reynaldi Ash Shiddiq,"


"I love you too, kak Aliando Ivander,"


"Sampai sini aja ya, Cha, ini namanya pacaran halal, aku belum bisa melakukannya, keingetan pesen kakek,"


"Apa?"


"Kata kakek, jangan dulu, karna kamu masih sekolah," jawab Aliando berbohong, karena sebenarnya, dia dilarang melakukannya, karena takut Alisha sedang hamil.


"Oooh,"


"Kenapa, kamu kecewa?" tanya Aliando mendengar respon Alisha yang hanya mengatakan oh.


"Nggak, Bang, aku juga masih takut, antara siap dan tidak siap, paling tidak, kalo kita melakukannya, harus ada persiapan, seperti pencegah kehamilan gitu,"


Aliando mengangguk, membenarkan apa yang Alisha katakan. Kini mendengar perkataan Alisha, ia semakin yakin, jika Alisha tidak lah hamil.


Oleh karenanya, ia benar-benar bersyukur. Kalau memang seperti itu kenyataannya, maka ia akan membuat 'malam pertama' mereka dengan sangat istimewa, karena akan menjadi moment spesial untuk keduanya.


"Iya, dan kita akan bulan madu, kamu mau? kita jalan-jalan ke tempat yang bagus," kata Aliando memberikan sebuah janji.


Alisha tersenyum mendengar apa yang Aliando janjikan, ia benar-benar merasa sangat diistimewakan oleh Aliando. Suaminya ini memang paling ahli dalam membuat dirinya menjadi orang yang begitu berharga.


"Okke, aku setuju, Bang, mari kita buat janji, kita lakukan, setelah mendapat restu dari papah,"


"Wah, berarti kita sekalian bulan madu aja setelah dari makam papah," kata Aliando.


"Bukan restu dari papahku, Bang, tapi restu dari papah Abang,"


Aliando langsung mematung, raut wajahnya berubah, ada guratan emosi terpancar di sana, andaikata yang mengatakan bukan Alisha, mungkin dia sudah memarahi orang itu.


Sumpah demi apapun, ia sama sekali tidak ingin mengingat ayahnya, apalagi sampai meminta restu darinya.


"Kenapa kamu ngingetin soal papah, hm?" tanya Aliando penuh penekanan.


"Bang, sebenci apa pun Abang, papah tetap orang tua Abang yang pernah memberikan perhatian dan kasih sayang pada Abang,"


"Apa kamu akan melakukan hal yang sama jika kamu bertemu dengan ibu kamu?"


"Jangan samakan kasus ku dengan kasus Abang, mamah yang meninggalkan ku, mamah yang tidak menginginkan ku, sedangkan Abang, Abang yang meninggalkan papah,"


"Tapi dia yang mengandung dan melahirkan mu!"

__ADS_1


"Cuma itu saja, mungkin sebenarnya, kehadiranku sama sekali tidak diharapkan, aku ada, karena keterpaksaan, karena papah yang mempertahankan agar aku ada,"


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"


"Entahlah, aku merasa, kehadiranku hanyalah kesialan buat mamah," terang Alisha dengan mata yang berkaca-kaca, ingatannya kembali ke masa lalu ketika dia dikurung di gudang yang sangat gelap. Rasanya sesak sekali. Padahal usianya masih sangat muda, namun bayang-bayang itu tidak bisa hilang dari ingatan Alisha.


"Ah maaf, sudahlah, kita gak usah bahas ini," kata Aliando, ia menyadari jika Alisha mulai tidak nyaman.


"Iya, jangan bahas mamahku, cuma bikin sakit hati!" kata Alisha sambil menarik nafasnya panjang.


"Kamu iuga, jangan bahas papahku!" tegas Aliando.


"Gak bisa, Abang harus baikan sama papah,"


"Kenapa maksa?"


"Karena kita masih punya orang tua yang hidup, kenapa kita tidak minta restunya papah untuk pernikahan kita, biar barokah, Bang, berdamailah dengan papah, ya," pinta Alisha.


"Itu sulit, Cha,"


"Bisa, kalo Abang ada niat,"


Aliando hanya diam tanpa ingin merespon.


"Ayolah Bang, biar aku punya papah mertua, kalo gak, aku gak mau bulan madu,"


"Wah, sekarang kamu pinter ngancam ya,"


"Belajar dari Abang,"


"Aku?"


"Iya, Abang kan tukang maksa, tukang ngancem,"


"Hei, apa itu masih berlaku buatku saat ini?"


"Tentu! nyampe minta nikah aja Abang maksa mulu! padahal udah dibilangin kita masih kecil,"


Aliando tergelak.


"Tapi, kamu juga mau kan? kamu setuju lho, Cha!"


"Iya, karena Abang gak butuh persetujuan ku dan tidak menerima penolakan, iya kan, jadi percuma aja kalo aku bilang gak mau," protes Alisha.


"Tapi kamu bahagia kan, Cha?" tanya Aliando sambil memandang lekat kedua mata Alisha.


"Gimana ya? Terpaksa," ucap Alisha sekenanya. Ia menggulingkan tubuhnya ke sisi kasur sebelahnya, hingga menjauh dari Aliando.


"Apa kamu bilang?" Aliando tak percaya jika Alisha memberikan jawaban seperti itu. Ia pun segera menghambur menangkap tubuh Alisha, kemudian menggelitik pinggangnya, sehingga Alisha kegelian. Suasana kamar itu pun ramai dengan suara tawa dari keduanya.


"Ha-ha ampun, Bang, geli, ih,"


"Cepat bilang, kamu bahagia nggak?" tanya Aliando menghentikan aksinya.


"Tuh, kan, maksa!" gerutu Alisha, sambil menghirup udara sebanyak-banyaknya, karena tadi dia seperti kehabisan nafas akibat kegelian.


"Sini, biar aku kasih hukuman lagi, kalau kamu gak bahagia," kata Aliando sambil menarik kepala Alisha, kemudian ia menciumi seluruh wajah Alisha dengan gemasnya, mulai dari kening, kedua matanya, hidung, kedua pipinya, dagu, dan terakhir, ia mencium bibir Alisha cukup dalam dan lama.


Alisha hanya pasrah menikmati semua yang dilakukan Aliando.


"Masih tidak bahagia, hm? " tanya Aliando setelah melepaskan ciumannya.


"Abang, sekarang seneng banget cium bibir aku," bukannya menjawab pertanyaan Aliando, justru Alisha malah mengomentari Aliando yang mencium bibirnya.


"Mmuaach, bibir kamu manis dan lembut, Cha," kata Aliando sambil kembali mencium sekilas bibir Alisha.


"Abang," Alisha menepuk lengan Aliando bagian atas.


"Kenapa? Mau lagi?" tanya Aliando penuh ancaman.


Alisha menggeleng sambil menutup mulut dengan telapak tangan kanannya.


"Abang, laptopnya tadi belum dimatikan lho," kata Alisha mengalihkan pembicaraan.


"Gak papa, biarin aja, aku lagi pingin bareng kamu, lagi ingin pacaran,"


"Kok, pacaran sih, Bang, kita kan udah nikah,"


"Pacaran halal, Cantik, coba, mana pernah kita tidur bareng kayak gini waktu jadi pacar, hm?" tanya Aliando sambil memindai wajah Alisha, menelusuri tiap inci kecantikan yang terpancar darinya.


"Oh, iya juga ya,"

__ADS_1


"Hm, dan kalo di sini kan kita bebas, gak kayak di rumah nenek,"


"Apalagi ada Michelle dan tante Soraya," kata Alisha terkekeh mengingat Michelle dan Soraya yang jutek akibat melihat kemesraan yang sengaja diperlihatkan Aliando pada mereka.


"Ya udah, kita tidur ya, aku ingin dekap kamu semalaman,"


"Emang gak gerah, Bang?"


"Kalo gerah, tinggal ganti posisi aja, yang penting aku masih dekap kamu,"


"Haish, gimana caranya?"


"Gak usah dipikirin, Cha, kasihan otak kamu, mau tidur aja masih harus bekerja juga," ledek Aliando menggoda.


"Hiiih, dasar!" Alisha mencubit pelan perut Aliando.


"Geli, Cha,!" Aliando tertawa.


Mengetahui Aliando kegelian, Alisha malah sengaja melakukannya berulang. Kini gantian yang merasakan geli adalah Aliando.


"Udah, Cha, aku nyerah,"


Alisha pun menghentikan aksinya, ia tersenyum penuh kemenangan.


"Abang, Abang janji ya, akan baikan sama papah," ucap Alisha tiba-tiba teringat kembali soal ayahnya Aliando.


Cowok tampan itu terdiam seperti memikirkan jawaban.


"Aku belum bisa janji, Cha, tapi kita lihat saja nanti!" kata Aliando.


"Emang Abang gak pengen ngenalin aku?"


Aliando menarik nafas panjang, dia bukan tidak ingin mengenalkan Alisha pada ayahnya, hanya saja menurutnya keadaaan saat ini belum tepat. Dia tidak yakin apa ayahnya bisa menerima begitu saja jika dia sudah menikah, setelah empat tahun tanpa kabar.


"Biar aku cairkan dulu suasananya, ya," kata Aliando.


"Kapan?"


"Jangan maksa, Cha!"


"Tuh, Abang curang, sukanya emang maksa, tapi dipaksa gak mau!"


"Udah ya, jangan bahas ini, plis!" mohon Aliando, ia seperti tertekan.


Alisha sangat memahami perasaan Aliando, ia pun mengangguk, dan berusaha untuk tidak membahas tentang ayahnya Aliando saat ini.


Sebenarnya, ia hanya bermaksud membuka topik yang ke depannya akan selalu dia ingatkan. Dengan harapan, suatu saat nanti Aliando dan ayahnya akan berbaikan, karena itu adalah pesan nek Maryam dan kek Haidar.


"Maaf ya, Bang," ucap Alisha sambil menangkup pipi Aliando, ia merasa tidak enak hati apalagi melihat raut wajah Aliando yang sendu dan menahan emosi.


Aliando mengangguk.


"Gak papa! Ya sudah, tidurlah!" perintah Aliando. Alisha mengangguk. Ia pun menempelkan kepalanya di bantal, posisinya miring menghadap Aliando yang posisinya terlentang dengan kepala di atas kedua tangannya yang terlipat. Pandangannya menerawang melihat langit-langit kamar.


"Bang, katanya mau dekap aku?" kata Alisha memecah lamunan Aliando.


"Ah iya, bener juga, sini!" Aliando segera memiringkan tubuhnya menghadap Alisha. Ia berusaha tersenyum, saat Alisha sedang memperhatikan wajahnya.


"Abang tampan," celetuk Alisha memuji Aliando.


"Udah dari orok, Cha,"


"Emh, mulai deh, narsis!" kata Alisha sambil mengerucutkan bibirnya.


Aliando tergelak.


"Kamu sangat menggemaskan, Cha, dan kamu sangat cantik,"


"Makasih," kata Alisha sambil mengecup sekilas bibir Aliando.


"Hei, kenapa kamu mencuri bibirku, hm?"


"Aku gak nyuri, Bang, aku hanya menggunakan milikku aja, daripada nganggur, ini-ini-ini-ini dan semuanya ini milik aku, kan?" ujar Alisha sambil menunjuk bibir, hidung, pipi dan wajah Aliando.


"Eh, istriku udah pinter ya,"


"Aku bahagia, Bang, aku bahagia bisa menjadi bagian dari hidup Abang," tutur Alisha tulus.


"Makasih ya, Cha," ucap Aliando sambil mengedipkan kedua matanya dengan lembut, lalu ia mengecup sekilas kening Alisha.


"Aku sayang kak Ando,"

__ADS_1


"Aku juga, aku sangat sangat menyayangimu, Alisha Leandra,"


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2