Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
38. Penyemangatku


__ADS_3

Hari ini acara perpisahan sekolah, dan Aliando sudah dipastikan menjadi peserta didik berprestasi terbaik tahun ini. Banyak yang mengelu-elukan bahkan ketika dia naik ke panggung, riuhnya tepuk tangan menggema seluruh sudut GOR sekolah.


Baginya, tidak ada yang spesial. Jadi juara sudah biasa, mendapatkan ucapan selamat juga biasa, mendapatkan reward juga biasa bahkan ketika ada yang memberikan hadiah, dia biasa juga. Memang benar-benar aneh.


Dan parahnya, Aliando tidak mengundang ayahnya sebagai orang tua ataupun wali untuk datang bersamanya saat acara perpisahan, ia justru mengajak Pak Aman dan Mak Leha. Padahal mereka sudah mati-matian menolak, karena merasa tidak berhak dan tidak pantas. Namun bukanlah Aliando jika dia tidak pandai memaksa. Maka, pada akhirnya pak Aman dan mak Leha hanya bisa menurut, meskipun yang datang, hanya pak Aman, karena mak Leha lebih memilih berjualan bakso.


Entahlah, permusuhan dengan ayahnya sampai saat ini belum juga usai, keduanya memiliki watak yang sama keras dan tidak mau mengalah, jangankan untuk berdamai, mencoba untuk bertemu saja tidak ada yang mau memulai melakukannya.


Kekecewaan Aliando pada ayahnya berawal setelah ibunya meninggal. Belum genap empat puluh hari kepergian ibunya, pak Arsyad, ayahnya Aliando sudah memutuskan untuk menikah lagi.


*Flashback on*


"Sudah aku bilang, Pah, dia tidak pantas jadi istri papah, emangnya apa yang papah lihat darinya?" protes Aliando ketika ayahnya tiba-tiba saja membawa seorang wanita yang telah resmi menjadi istrinya. Saat itu, Aliando bersama ayahnya berada di ruang kerja. pak Arsyad mencoba menenangkan dan memberi pengertian pada Aliando tentang keberadaan dan status wanita yang bernama Vanya itu, yang saat ini telah menjadi ibu tirinya.


Sebelumnya, Aliando memang pernah di kenalkan oleh ayahnya pada Vanya, pada waktu ibu kandung Aliando masih sakit. Ibunya sakit setelah anak keduanya lahir walaupun akhirnya adik Aliando itu bertahan hidup di dunia hanya satu minggu saja.


"Cobalah untuk menerimanya, Al! Dia baik, jadi papah memilihnya!"


"Tapi aku tidak menyukainya!"


"Pelan-pelanlah mengenalnya, dia pasti bisa menjadi ibu yang baik buat kamu!" kata pak Arsyad.


"Tidak, feel aku mengatakan sebaliknya,"


"Terserah, tapi yang jelas, sekarang dia adalah istri papah, dan kamu harus menghormatinya!" titah pak Arsyad.


"Kenapa mesti dia? apa tidak ada wanita lain?"


"Maksudnya apa? apa kamu mengenal tante Vanya sebelumnya?"


"Lupakanlah, Pah!" Aliando malas menjelaskan. Sebenarnya ia pernah melihat Vanya dengan pria lain, sedang berjalan berdua di mall, terlihat bahagia seperti pasangan yang romantis. Namun, untuk menjelaskan, Aliando merasa berat, pikirannya saat itu, mana mungkin ayahnya akan percaya.


"Kita lihat aja, yang jelas dia tidak mungkin bisa menggantikan mamah di sini!" kata Aliando akhirnya.


"Tidak ada yang akan menggantikan mamah, Al, mamah tetap nomer satu!" kata pak Arsyad lembut namun penuh penekanan.


"Nomer satu di hatiku tidak di hati papah!" sanggah Aliando.

__ADS_1


"Jangan sembarangan, Al!"


"Kalo mamah memang satu-satunya, seharusnya papah menghormatinya, tapi ini, bahkan belum ada empat puluh hari mamah pergi, papah sudah membawa istri baru ke rumah ini!"


Pak Arsyad menarik nafas panjangnya. Mau bagaimana lagi, memang sudah terjadi. Dan dia memang sangat membutuhkan seorang istri. Sudah hampir satu tahun ibunya Aliando sakit, dan dia menahan keinginannya. Disaat bulan-bulan terkahir sebelum meninggalnya Ibu Aliando, ia mengenal Vanya, dan menjadi wanita yang dekat dengan Arsyad dan mau bersabar dengan keadaannya saat itu.


Semenjak itulah, Aliando berubah, dari orang yang selalu ceria dan aktif, menjadi seseorang yang introvert dan membatasi diri. Yang ia lakukan hanya ke sekolah, lalu berdiam di makam ibunya hingga sore.


Amarah mulai tidak bisa dibendung lagi, ketika ia mengetahui seluruh foto ibunya diganti semua dengan foto Vanya, termasuk foto pernikahan.


"Tante gak usah macem-macem!" teriak Aliando sambil menarik paksa bingkai foto Vanya yang sudah terpasang di dinding dan menjatuhkannya.


"Aku sudah ijin papah, Al!" kata Vanya.


"Jangan pernah mengganti foto mamah dengan foto kamu! kamu gak punya hak di rumah ini! kamu hanya numpang!"


"Al!" tiba-tiba pak Arsyad datang dan berteriak.


"Kenapa papah ngijinin foto mamah diganti dengan foto wanita ini, hagh?" Aliando ikut berteriak.


"Tapi dia gak berhak mengganti foto mamah! Wanita ini gak pantes jadi pengganti mamah!"


"Diam, Al! Dia ibumu juga!"


"Tidak! dia bukan ibuku!"


"Jangan keterlaluan kamu! hormati dia! Minta maaflah!"


"Tidak mau! Dia yang seharusnya minta maaf, main copot foto mamah! Gak mikir apa, kalau dia disini cuma numpang?"


"Kamu gak berhak ngomong seperti itu!"


"Kenapa? Dia memang gak punya apa-apa saat datang kesini, hanya punya wajah tanpa dosa,"


"Diam kamu, Al! Kamu gak berhak ngomong seperti itu, ini rumah papah! Jadi, papah berhak menentukan siapa dan apa yang boleh ada di rumah ini,"


"Papah belain dia? Jadi, menurut papah aku gak punya hak apa-apa disini?"

__ADS_1


"Ya! kamu tidak boleh seenaknya pada tante Vanya! Dia sekarang ibu kamu, Al, yang sopan! Papah tau, Vanya sudah berbuat yang terbaik buat kamu! tapi kamunya yang gak mau!"


"Papah nyalahin, Al?"


Aliando geram, ternyata Vanya sudah banyak merubah pemikiran Arsyad. Selain waktu yang berkurang, kini perhatian dan kasih sayang Arsyad untuk Aliando pun tidak ada. Aliando sudah merasakan hampa dan tidak menemukan sosok ayah di rumah itu.


"Oh, iya ... ini memang rumah papah, hanya papah yang berhak dan punya kuasa! Okke, Pah, lupakan mamah, dan lupakan juga keberadaan aku! dan kamu tante, udah puas sekarang? setelah papah menghilangkan mamah di hatinya, sekarang kamu buat mamah hilang di rumah ini! dan sekarang kamu juga udah ngerusak otak papah untuk menghilangkan aku dari rumah ini!" kata Aliando penuh kemarahan.


"Ap- apa maksud kamu?" Vanya terlihat gugup. Padahal dalam hatinya, ia bersorak gembira melihat Aliando bertengkar dengan ayahnya.


"Dasar munafik!!" umpat Aliando saat melihat wajah gugup Vanya.


"Al! jangan keterlaluan!" kata Arsyad dengan telapak tangan kanannya mendarat di pipi Aliando.


Sejak saat itulah, Aliando memutuskan keluar dari rumah dan mulai hidup mandiri.


*Flashback off*


Acara perpisahan hampir selesai, Alisha memang menghadirinya sebagai tamu undangan menggantikan mak Leha. Sebenarnya ia malas untuk pergi ke sekolah, karena memang tidak ada pelajaran, namun Aliando meminta kedatangan Alisha saat acara perpisahan dengan wajah memelas dan penuh paksaan.


"Ayolah, Cha, kamu datang ya, karena aku hanya punya kamu," kata Aliando semalam. Ia memang sedikit merengek manja pada Alisha tadi malam, dan Alisha sama sekali tidak menyukai wajah memelasnya itu, karena pada akhirnya hati dia goyah dan luluh.


Aliando memang pemaksa dan tegas, namun, terkadang dia juga suka menunjukkan paksaannya itu dengan rengekan manja.


Alisha duduk di samping pak Aman, mendengar beberapa kali nama Aliando dipanggil untuk menerima reward, dan menyaksikan Aliando lagi-lagi harus naik ke panggung dengan rasa malas. Andai saja, Aliando bisa mewakilkannya pada orang lain, sudah pasti ia akan melakukannya.


"Kasihan sekali," gumam bathin Alisha. Namun, meskipun ia merasa kasihan pada Aliando, ia juga merasa aneh, karena baru kali ini ada orang mendapatkan reward, wajahnya datar, tidak menunjukkan kegembiraan, bahkan senyum yang terbit di wajahnya terlihat sangat dipaksakan.


Meskipun begitu, Alisha juga sempat menitikkan air mata, kala Aliando diminta menyampaikan sepatah atau dua patah kata sebagai ungkapan rasa syukur dan terimakasih atas prestasinya.


Sebenarnya dia tidak ingin berbicara di panggung, namun, atas permintaan sekolah, ia tidak bisa menolaknya. Untuk itulah, apapun yang dia katakan saat itu hanya bisa membuat semua orang terdiam.


"Rasa syukur spesial saya persembahkan hanya kepada Allah, karena Allah yang meridhoi semua ini, dan selanjutnya, ucapan terimakasih yang terdalam, saya haturkan teruntuk para guru tercinta, rekan-rekan seperjuangan, pak Aman, mak Leha, Opun, Rafael, Robby, Benni dan semua yang menyayangi serta mensupport saya, kalian adalah best of the best ... terakhir, spesial dan teristimewa, untuk penyemangatku, hidupku dan orang yang paling aku sayang ...," Aliando tiba-tiba menjeda kalimatnya, raut mukanya berubah sendu dan sedih, matanya berkaca-kaca.


"Ma-mah ... Ali-fia ... dan Alisha, I love you all, thank you," ucap Aliando terbata sambil mengusap air matanya yang akhirnya mengalir, padahal dia sudah berusaha untuk menahannya agar jangan sampai keluar.


...🌻🌻🌻🌻🌻...

__ADS_1


__ADS_2