Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
14. Marahkah?


__ADS_3

"Tunggu, Sha!" panggil Nayna sebelum Alisha benar-benar keluar dari ruang rawat.


"Apa lagi?" tanya Alisha, ia berbalik menoleh ke belakang.


"Aku minta diijinkan bertemu Aliando sekali saja!" pinta Nayna.


Alisha terdiam, sambil membuka pintu, ia berkata, "Aku gak bisa janji, tapi nanti aku coba ngomong ma dia!"


"Makasih." ucap Nayna lirih.


☘️


Ketika Alisha sudah berada di luar ruangan, ia melihat Rafael sedang berbincang dengan seorang wanita cantik yang usianya kira-kira empat puluh lima tahun, kemungkinan besar dia adalah ibunya Nayna.


Gadis itu sempat menyalaminya, kemudian, hanya sebentar bercakap-cakap sebagai rasa terima kasih karena Alisha telah menjenguk Nayna.


Rafael mengantar Alisha keluar rumah sakit, dan mereka menyempatkan berbincang di kantin rumah sakit.


Rafael merasa jika pembicaraan antara Nayna dan Alisha, membuat gadis itu tidak nyaman.


"Jadi, gimana?" tanya Rafael.


"Gimana apanya?"


"Apa yang dia minta?"


"Dia ingin aku melepas Aliando, dia ingin bersamanya!"


"Lalu?"


"Lalu apanya?"


"Apa kamu bersedia?"


Alisha tersenyum tipis.


"Ah, iya, pasti kamu ga mau kan?" tebak Rafael.


"Kenapa aku harus mau?"


"Demi menolong orang sakit,"


"Kamu rela membiarkan orang yang kamu sayangi dengan orang lain?" tanya Alisha dengan mata menyipit.


"Berat pada awalnya, bahkan aku sampai harus kehilangan sahabat, hubunganku dengan Aliando jadi renggang, tapi melihat keadaannya seperti ini, aku gak tega, aku lebih memilih bahagia melihat dia bahagia, aku coba ikhlas, bukankah, tingkatan paling tertinggi dalam mencintai itu adalah mengikhlaskan?"


"Cinta boleh, tapi jangan bodoh! Jangan karena dia sakit trus dijadikan alasan untuk mengasihaninya," ujar Alisha sambil meminum cappucino hangatnya.


"Terbukalah, cinta memang harus diperjuangkan, tapi jangan bodoh, ngapain juga masih, mengharapkan orang yang sama sekali tidak mencintai kita, apa untungnya coba?" lanjutnya.

__ADS_1


Rafael hanya terdiam. Dia membenarkan apa yang dikatakan Alisha.


"Bukankah lebih baik move on? Dunia masih luas, jalan masih panjang, yakin aja Tuhan udah nyiapin yang terbaik buat kamu!" tegas Alisha. Jujur saja, ia sangat membenci orang yang terlalu mellow karena cinta, diperbudak cinta, bodoh karena menyukai seseorang.


Ah, mungkin dia saja yang belum pernah merasakan apa itu cinta.


"Dan lagi, Aliando bukan barang yang bisa diberikan begitu saja, dia juga punya hati! kalaupun aku mengiyakan, apa Aliandonya mau?"


Rafael menarik nafasnya dalam-dalam, lalu melepaskannya kuat.


"Jadi, intinya kamu gak mau ngasih kesempatan buat Nayna dan Aliando walau untuk menolong Nayna?"


"Menolong tidak harus mengabulkan segala permintaan konyolnya, kan? Dan kamu jangan lupa, Aliando bukan orang bodoh!"


"Kamu bener, aku yang terlalu bodoh!"


"Ya, baguslah kalo nyadar, daripada gak sadar sama sekali,"


Rafael terdiam. Walaupun ucapan Alisha menyakiti perasaannya, namun apa yang Alisha katakan memang benar adanya.


☘️


Malam itu, Alisha turun dari taksi tepat di depan rumahnya. Suasana begitu gelap, karena dia memang baru pulang, dan belum sempat menyalakan lampu.


"Kak Ando," gumam Alisha. Ia melihat sosok Aliando dalam keremangan cahaya lampu rumah tetangga. Cowok tampan itu sedang duduk lesehan di teras rumah sambil memegang ponselnya yang sudah kehabisan daya.


Aliando menyadari kedatangan Alisha, ia segera berdiri kemudian memasukkan ponsel ke saku celana seragamnya. Wajahnya datar, bahkan Alisha sendiri tidak mampu mengartikan air muka yang ditunjukkan oleh Aliando. Apakah dia marah? Atau khawatir? Atau tidak keduanya.


"Duh, pasti marah ini," ucap Alisha dalam hati.


Alisha melangkah perlahan, mendekat ke arah Aliando. Ia sudah mempersiapkan hatinya untuk menghadapi hal ini..


"Ya, Tuhan, dia belum ganti seragam? Apa jangan-jangan dia nungguin di sini sejak pulang sekolah tadi?" gumam Alisha masih dalam hatinya.


Kini Alisha sudah berada di hadapan Aliando, namun, ia hanya bisa diam. Ia merasa kebingungan untuk memulai percakapan.


Aliando melirik jam di pergelangan tangannya. Walaupun gelap, namun Aliando bisa melihat dengan jelas jam berapa sekarang ini. Karena jam tangannya memancarkan cahaya. Pukul 21.10.


"Syukurlah, kamu sudah datang ... masuklah, sudah malam!" kata Aliando lembut namun penuh penekanan.


Alisha bengong, ia tak menyangka, jika Aliando masih saja bisa bersikap manis setelah dibuat jengkel olehnya seharian ini, bahkan sebelum ia naik taksi untuk pergi ke rumah sakit, ia sempat melihat betapa panik dan emosinya Aliando.


"Jangan lupa kunci pintu ya, beristirahatlah!" lanjutnya.


Kemudian cowok tampan itu pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Ia segera mengendarai motornya dan meninggalkan Alisha.


Ah, ada yang nyeri di sudut hati Alisha, biasanya, selain mengatakan jangan lupa mengunci pintu dan beristirahat, Aliando akan mengusap pipinya lembut kemudian akan mengatakan rindukan aku, hadirkan aku dalam tidurmu. Namun kali ini ia tidak mendengarnya.


"Kenapa rasanya sakit ya?" ucap Alisha sambil meremas baju di dadan??ya. Ada penyesalan di hatinya, kenapa ia tidak meminta maaf? Dan kini, ia hanya bisa menatap Aliando yang mulai menjauh dan menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


☘️


Pagi ini, Aliando sudah tiba di rumah Alisha untuk menjemputnya. Ia selalu menghentikan motornya di pinggir pintu pagar halaman mini rumah Alisha. Selalu di jam yang sama, tidak pernah berubah. Alisha bahagia, karena Aliando masih ada untuknya.


Semalam, ketika ia mengaktifkan ponselnya dan mengetahui ada delapan puluh panggilan tak terjawab, ia langsung menghubungi Aliando, namun hasilnya nihil.


Alisha tersenyum saat menghampiri Aliando. Ia memberikan senyuman yang sangat manis dan penuh kebahagiaan.


Namun Aliando hanya membalasnya dengan senyuman kecil.


"Ah, ternyata, dia masih marah ya?" terka Alisha dalam hati. Ia merasa senyuman yang diberikan oleh Aliando berbeda dari biasanya. Tatapan yang diperlihatkannya pun berbeda.


"Ayo naik!" perintah Aliando lembut namun tegas.


Alisha merasa ragu untuk mengikuti perintahnya.


Ia tidak biasa menghadapi Aliando yang menjadi diam seperti itu. Padahal sebelumnya, ia sudah mempersiapkan diri untuk adu mulut jika Aliando marah-marah. Tapi kenyataannya, justru Aliando bersikap lembut dan kalem bahkan terlalu diam.


"Aku mau naik motor sendiri," ucap Alisha. Ia malas bersama Aliando dalam keadaan yang sangat tidak nyaman.


Aliando melirik lembut namun sangat tajam. Alisha tau, jika Aliando tidak setuju dengan ucapannya.


"Naiklah," ucap Aliando kemudian.


"Gak mau, aku mau naik motor sendiri aja!" tegas Alisha. Ia berbalik menuju ke dalam rumah tanpa memedulikan Aliando yang mulai terpancing emosinya.


Aliando menarik nafas panjang. Ia pun turun dari motornya, lalu menggendong Alisha dan menaikkannya di motor bagian depan. Lagi, ini kedua kalinya Alisha duduk di bagian depan motor Aliando.


"Diam dan nurutlah, Cha, dan jangan coba-coba untuk loncat!" ucapnya sambil menaiki motor, kemudian menyalakan mesinnya.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


Hai kak readers jangan lupa mampir juga ke novel karya sahabatku kak Desy Puspita dijamin seru judulnya Gairah Cinta Sangat Presdir


jangan lupa vote like komment ya😘😘😘


Blurb


Tampan, kaya, berkuasa dan sempurna. Tiada kurangnya seorang Mikhail Abercio, tak pernah ia duga kesempurnaan yang ia miliki ternyata belum cukup untuk mendapatkan kesetiaan dari seorang wanita.


Dikhianati sang kekasih dan melihat dengan mata kepalanya sendiri wanita yang dia cintai tengah bercinta bersama sahabatnya di apartemen membuat Mikhail Abercio merasa gagal menjadi laki-laki. Sakit, dendam dan kekacauan dalam batinnya membuat pribadi Mikhail berubah 180 derajat bahkan sang Mama angkat tangan dengan ulah putranya.


Hingga, semua berubah ketika takdir mempertemukannya dengan gadis belia yang merupakan mahasiswi magang di kantornya. Valenzia Arthaneda, gadis cantik yang baru merasakan sakitnya menjadi dewasa tak punya pilihan lain ketika Mikhail menuntutnya ganti rugi hanya karena hal sepele.


"1 Miliar atau tidur denganku? Kau punya waktu dua hari untuk berpikir," bisik Mikhail Abercio sebelum kemudian kembali duduk ke kursi kekuasaannya. Dia tidak suka basa-basi, apalagi jika harus membuang waktu dengan gadis ingusan seperti Valenzia.


__ADS_1


...Happy Reading yaaaa😘😘😘...


...💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝💝...


__ADS_2