Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
103. Pertemuan dengan Dhea


__ADS_3

Kelimanya melihat sumber suara, suara milik Fahri. Mereka menatap diam dengan pikirannya masing-masing.


"Kamu jadi cowok, bisa nggak sih jaga pacarnya?" tanya Fahri. Ia benar-benar tersulut emosi mengetahui Alisha tidak diketahui keberadaannya.


"Eh, kenapa lo marah-marah?" tanya Naira.


"Gue ga suka ngedenger Alisha hilang!" jawab Fahri.


"Trus apa hubungannya ma elo?" tanya Naira lagi.


Fahri terdiam. Sebenarnya ia sendiri bingung, kenapa dia harus emosi.


"Gue ... gue gak rela aja kalo gue harus mencari lagi keberadaan Alisha," ungkap Fahri. Ia merasa telah kehilangan Dhea, dan telah menemukannya, tapi kini ia harus kehilangan kembali.


Rafael, Robby dan Benni saling berpandangan, mereka tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Fahri.


Tiba-tiba suara ponsel milik Aliando berbunyi. Panggilan dari Arsyad.


"Ada apa, Pah?" tanya Aliando setelah menjawab salam.


"Papah baru saja melihat Vanya di penjara, ini papah akan kembali ke kantor sudah ditunggu klien, tapi tadi sekilas papah seperti melihat Alisha turun dari taksi, dia sepertinya menuju tempat tahanan untuk menemui Vanya," jelas Arsyad dari sebrang telepon.


"Kamu segera ke kantor polisi, siapa tau kamu masih sempet bertemu dengan dia!" perintah Arsyad kemudian.


"Baik Pah, Al segera kesana, thx infonya," kata Aliando sambil mengakhiri panggilannya. Kemudian tanpa menghiraukan semua yang ada di situ, ia pun segera pergi.


"Hei, Al, tunggu!" teriak Robby yang sama sekali diabaikan oleh Aliando.


" Ayo kita ikuti dia!" usul Rafael bergegas.


Robby dan Benni mengangguk, mereka segera berlari menyusul Aliando.


"Kamu ikut ga Ra?" tanya Rafael.


"Aku ada ekskul, kabari aku aja jika Alisha sudah ditemukan," jawab Naira.


"Ya udah, aku pergi dulu ya," pamit Rafael kemudian meninggalkan Naira dan Fahri.


"Eh, lo mau kemana? " tanya Naira pada Fahri, saat dilihatnya Fahri hendak ikutan pergi.


"Ngikutin mereka lah," jawab Fahri.


"Tapi lo jangan cari masalah kayak tadi,"


"Andai Alisha memang ketemu, aku juga gak akan macem-macem,"


"Ya sudah, gue pegang ucapan lo, pokoknya jangan buat keributan, sekarang, pergi sana," kata Naira kemudian memerintahkan Fahri untuk pergi.


🌡


Perjalanan dari sekolah menuju tempat tahanan menghabiskan waktu sekitar setengah jam. Cukup lama, ada kekhawatiran jika Alisha telah selesai urusannya dengan Vanya.


Sehingga, setelah memarkirkan motornya, Aliando bergegas ke tempat yang dituju.

__ADS_1


Langkahnya terhenti, sebelum dirinya benar-benar masuk ke ruangan. Ia berada dua meter dari pintu masuk, ketika melihat seorang gadis yang benar-benar mirip Alisha keluar. Ia tertegun sesaat menatapnya.


Benar yang dilihatnya, wajah itu wajah Alisha. Tapi Aliando yakin jika gadis yang berdiri dihadapannya bukanlah Alisha.


Beberapa meter dari arah samping Rafael, Robby, Benni dan Fahri diam mematung, memperhatikan bagaimana reaksi dan interaksi antara Aliando dan gadis yang ada di hadapannya itu.


"Kamu siapa?" tanya Aliando mendekati gadis itu.


"Maaf, kita gak saling kenal, apa perlu ya aku jawab pertanyaan kamu?" ujar gadis tersebut sambil mengernyitkan keningnya keheranan.


"Aku butuh tau kamu siapa," kata Aliando.


"Apa kamu seperti melihat seseorang yang mirip dengan wajah ini?"


"Iya!" jawab Aliando singkat.


"Kalian kenapa malah kayak orang yang baru ketemu?" tanya Robby, ia akhirnya menghampiri Aliando disusul kemudian Rafael, Benni dan Fahri.


"Ari?" panggil gadis itu setelah melihat ke arah Fahri.


Fahri terkejut, panggilan itu jelas terasa sangat akrab, dan suara itu pun begitu khas manja terngiang di telinganya. Hanya gadis kesayangannya yang memiliki panggilan 'Ari' kepadanya.


"Dhea?" Fahri menyapa tak percaya.


Senyum gadis itu terbit. Ia tak menyangka, sudah hampir satu tahun tidak bertemu dengan Fahri. Kekasih hatinya yang sempat ia berusaha untuk melupakannya.


Sementara itu, Aliando, Rafael, Robby dan Benni hanya terpaku melihat interaksi antara Fahri dan gadis yang benar-benar mirip Alisha.


Dengan cepat gadis itu berlari menghambur ke Fahri dan memeluknya erat.


"Dhea? kamu Dhea?" tanya Fahri sambil membalas pelukan gadis itu. Ia benar-benar tidak percaya.


"Iya, ini aku!" kata Dhea sambil mengeratkan dekapannya.


"Ya Tuhan, akhirnya aku menemukanmu!" kata Fahri penuh syukur.


Tak lama kemudian, mereka pun melepas dekapannya. Wajah keduanya berbinar, seakan kerinduan itu ingin terus ditumpahkan, jika saja mereka tidak ingat ada orang lain bersama mereka saat ini.


"Kamu ke mana aja selama ini? Kamu di mana? hampir satu tahun aku terus mencari kamu, kamu dan keluargamu menghilang tanpa jejak,"


"Ceritanya panjang," jawab Dhea.


"Ada apa? Apa kamu masih salah paham dengan kejadian waktu itu?"


"Kamu berduaan dengan Deasy? Mana mungkin hanya gara-gara itu, aku dan keluargaku pergi,"


"Tapi, kamu menghilang, Ya, tanpa memberi kabar apapun," kata Fahri sambil memanggil Dhea dengan panggilan kesayangan 'Yaya'.


"Memang sengaja, aku memang menutup akses, aku tidak ingin aku dan keluargaku diketahui orang lain," jelas Dhea.


"Termasuk aku?"


"Iya, aku hapus medsosku, aku berusaha melupakan dan mengubur semua masa laluku,"

__ADS_1


"Kenapa? Apa maksudmu?"


"Aku butuh keamanan untuk diriku dan keluarga aku, "


"Apa ada yang mengincarmu?"


"Iya,"


"Tapi kenapa kamu kembali ke sini?"


"Aku ingin bertemu dengan ibu kandungku,"


"Di penjara?"


"Iya,"


"Jadi, kamu bukan ...." Fahri tidak melanjutkan ucapannya. Ia terlihat ragu-ragu.


"Iya, aku diadopsi oleh keluarga Wijaya, dan aku tahu soal ibuku dari tayangan berita di medsos, dia seorang muncikari,"


"Ya Tuhan," ungkap Fahri singkat. Saat ini ia benar-benar tidak bisa mengucapkan kata-kata lainnya.


"Lalu, kenapa kamu bisa di kota ini?" tanya Dhea, saat menyadari raut wajah Fahri yang berubah menjadi bingung dan penuh khawatir.


"Aku mencarimu, saat aku menelusuri medsos, aku mendapatkan akun yang bernama Alisha, wajahnya benar-benar mirip kamu, makanya, sampailah aku di kota ini,"


"Oh gitu," Dhea paham, "Oh iya, jadi, siapa mereka?" tanya Dhea pada Fahri sambil memindai satu persatu orang-orang yang ada di belakang Fahri.


"Mereka teman-temanku," jawab Fahri.


"Jadi, kamu Dhea Wijaya?" tanya Aliando, ia menarik nafasnya panjang, ia tidak menyangka gadis yang ada di hadapannya ini benar-benar mirip Alisha, istrinya.


"Iya, bener," jawab Dhea singkat.


Aliando tersenyum, kini misteri itu pelan-pelan mulai terungkap. Alisha dan Dhea adalah dua orang yang berbeda.


"Maafin gue, Al, lo bener, gue yang gak bisa mengenali," kata Fahri sambil menepuk lengan atas Aliando.


"Ada apa sih?" tanya Dhea masih tak mengerti.


"Eh, kita cari tempat dulu deh, biar ngobrolnya lebih enakan kita-kita juga penasaran, sebenarnya ada apa ini?" kata Robby mengusulkan yang kemudian mendapat persetujuan oleh semuanya.


🌡


"Jadi, sebenarnya kalian mencari yang namanya Alisha kan?" tanya Dhea. Mereka saat ini sedang berada di sebuah warung makan dekat kantor polisi.


"Iya, itu benar," jawab Aliando pasti.


"Hmm, sayang sekali ... aku bukan Alisha, aku adalah saudara kembarnya," jelas Dhea.


"Apa?" Aliando dan lainnya kompak sangat terkejut.


"Iya, aku sudah konfirmasi sama ibu Vanya, ibu yang melahirkan kami berdua," kata Dhea.

__ADS_1


Kelimanya saling bertatapan, kemudian kembali memandang Dhea, seakan meminta kepastian cerita yang sebenarnya.


🌻🌻🌻🌻🌻


__ADS_2