
"Jawab, Cha, jangan bengong!"
"Kenapa pertanyaanmu gitu lagi?"
"Aku ingin 'kamu' sebagai hadiah ku,"
"Bisa ganti hadiah ga?"
"Aku cuma mau kamu, aku ingin bareng kamu dengan cara yang halal,"
"Apa gak terlalu dini ya kita ke arah nikah?"
"Aku ingin bertanggungjawab atas kamu!"
"Boleh minta waktu gak untuk berpikir?"
"Okke, sampai jam dua belas malam, pokoknya kamu jangan berpikir untuk menolak, tapi berpikirlah untuk siap menjadi istriku,"
"Apa?"
"Iya, dan kalo setelah pergantian hari, kamu jawab tidak, itu tandanya kamu gak ngasih aku hadiah,"
"Aish, endingnya aku harus bilang 'iya' juga kan?"
Aliando tersenyum. Ia merasa menang. Kemudian ia pun melanjutkan perjalanannya, dan membiarkan gadis cantiknya itu berpikir.
☘️
"Ayo turun!" perintah Aliando ketika tiba di halaman rumah neneknya Aliando, nek Maryam.
"Kenapa malah diam?" Aliando bingung dengan cara Alisha menatap rumah nek Maryam.
Menurutnya, ini adalah istana seperti di negeri dongeng. Sebenarnya, rumah ini hanya berlantai dua, namun gaya arsitekturnya memberi kesan elegan, megah dan mewah, ketika masuk sudah disuguhkan pemandangan taman yang luar biasa indah. Ada kolam dan air mancur serta bunga yang berwarna-warni di sekitarnya.
"Ternyata, kamu anak orang kaya," komentar Alisha terdengar lirih. Ia merasa kecil dan tak berharga.
Aliando mengernyitkan keningnya, memang ada apa dengan keadaan keluarganya? Apa hubungannya kaya atau tidak? dan apa sebenarnya yang ada dalam pikiran gadis cantiknya ini?
"Kenapa?" tanya Aliando.
"Gak papa, sudah aku duga, kamu bukan orang sembarangan, kamu pasti sultan, makanya hidup sendiri pun tak masalah,"
"Apa maksud kamu?"
"Aku mau pulang!" pinta Alisha tegas. Ia merasa sangat tidak percaya diri.
"Ada apa, Cha?" Aliando masih bingung.
"Aku takut nenek kamu gak bisa nerima aku?"
Aliando tersenyum, ia mengerti apa yang ada dalam pikiran Alisha.
"Masuklah, nenek dan kakek sudah nungguin,"
"Kamu serius bawa aku ke sini?"
"Iya,"
"Tapi aku gak yakin,"
"Udah, gak usah banyak mikir, ayo!" kata Aliando sambil membuka pintu mobil.
__ADS_1
Walaupun penuh keraguan, akhirnya Alisha pun menurut. Ia ikut masuk ke rumah nenek Maryam dan Kakek Khaidar.
☘️
"Ya ampun, cantik banget ternyata anaknya," komentar nek Maryam saat Alisha mencium punggung tangannya, "Kenapa baru diajak ke sini, hah?" protes nek Maryam pada Aliando.
"Baru sempet, Nek,"
"Duh, lembut banget, kamu cantik banget sih," puji nek Maryam mengusap pipi Alisha dan kepalanya, ia tidak henti mengagumi Alisha.
Gadis itu terenyuh, perlakuan hangat nek Maryam, menghapus segala persepsinya tentang orang kaya.
"Hai, kalian udah datang ya," suara dari arah tangga, ada kakek Khaidar sedang turun dan menghampiri ketiganya.
"Itu kakek Khaidar, salim sana, nanti kalian istirahat, lalu makan siang, nenek sudah menyiapkan makanan kesukaan Aliando semoga kamu juga suka ya, Cantik,"
Alisha tersenyum mengiyakan. Melihat sikap nenek dan kakek selama berinteraksi dengan Alisha membuat gadis itu melupakan rasa mindernya dan pikiran negatif pada keluarga Aliando. Karena ternyata mereka benar-benar hangat, bahkan Alisha bisa merasakan kenyamanan dan ketenangan di sana.
☘️
"Padahal kalian nginep aja lah," ujar nek Maryam ketika Alisha dan Aliando berpamitan. Mereka ada di teras rumah bersama kakek Khaidar.
"Nggak bisa, Nek, besok kan masuk sekolah," jelas Aliando untuk ke sekian kalinya, karena sejak tadi nek Maryam selalu meminta keduanya untuk menginap.
"Ya udah, besok sering-sering main ke sini ya, dan harus nginep," usul nek Maryam. Tangannya membelai rambut Alisha.
"Kalo Cha gimana kak Ando aja, Nek," ujar Alisha lembut, ia merasa sangat nyaman dengan perlakuan sayang nek Maryam.
"Ya sudah, Al, kamu segera pulang, sudah sore, hati-hati di jalan, kalo libur ke sini lagi, ajak Alisha sekalian," kata kakek Khaidar.
Aliando mengangguk. Kemudian mereka pun meninggalkan kediaman neneknya Aliando.
"Ada apa? kenapa tiba-tiba diam, hm?" tanya Aliando sambil fokus menyetir, ia merasa ada yang berbeda dari raut wajah Alisha.
"Kamu tau, Cha, ternyata bener kata orang, kalau cewek bilang gak ada apa-apa pasti ada apa-apa,"
"Sok tau!"
"Bukan sok tau, tapi beneran tau!"
"Kalau memang iya aku ada apa-apa, terus menurut kamu aku kenapa?"
"Pasti karena kedatangan tante Soraya dan Michelle, iya kan?"
Alisha melirik Aliando. Membenarkan tebakannya.
"Semenjak mereka berkomentar tentang kamu, kamu langsung berubah, walaupun kamu tertawa, dan juga tersenyum, tapi wajah kamu nggak bisa bohong kalau kamu tersinggung dengan ucapan mereka,"
Memang benar, setelah makan siang tadi, mereka kedatangan Soraya sepupu dari ibunya Aliando beserta anak perempuannya bernama Michelle. Sudah sejak lama Michelle naksir pada Aliando dan Soraya ingin sekali menjodohkan keduanya, namun Aliando tidak pernah ambil pusing dan tidak pernah menanggapi bahkan kakek Khaidar dan nenek Maryam pun tidak terlalu peduli.
🌵
"Eh, kita kemarin ketemu, kan?" kata Michelle memastikan. Sebenarnya Alisha sama sekali tidak mengingatnya. Hanya saja saat Michelle menjelaskan kalau mereka pernah secara tidak sengaja bertabrakan saat di restoran hotel, bayangan itu pun menjadi jelas di ingatan Alisha.
"Waktu itu aku dan mommy lagi nunggu papah meeting, inget gak, Mom?"
"Oh, yang dia duduk sama om-om itu ya?" tanya Soraya seakan mempertegas.
"Iya, Mah, bener," ujar Michelle, "Oh iya, kamu ngapain ama om-om di hotel?" tanya Michelle. Pertanyaan itu, seakan menjatuhkan harga dirinya, ia seperti disudutkan di hadapan Aliando, nek Maryam dan kek Khaidar.
"Hanya pertemuan biasa," jawab Alisha terkesan cuek. Peduli amat dengan apa yang ada dalam pikiran semua yang ada di ruang keluarga saat itu. Dia benar-benar malas untuk menjelaskan, dan sudah dipastikan yang ada dalam pikiran mereka adalah hal negatif. Untung saja, tidak ada komentar lanjutan dari Nek Maryam dan Kakek Khaidar.
__ADS_1
🌵
"Nggak juga, dari kecil aku udah biasa disudutkan, walaupun aku tidak melakukan hal yang disangkakan tetap aja, siapa sih yang percaya pada omongan orang kecil,"
Aliando menghentikan laju mobilnya secara tiba-tiba.
"Cha, kenapa kamu bilang gitu, aku percaya sama kamu," kata Aliando sangat yakin.
"Udah, Bang, kamu gak usah nenangin hati aku, aku gak papa," ujar Alisha.
Aliando tidak ingin memperpanjang, ia pun kembali melajukan mobilnya. Sementara Alisha memilih untuk memejamkan matanya, meskipun dia sama sekali tidak tidur.
☘️
Pukul delapan malam, Aliando mengantarkan Alisha pulang, setelah sebelumnya mereka makan malam bersama di warung makan bebek bakar. Sengaja Aliando memilih tempat makan itu, selain karena kesukaan Alisha, juga karena ingin mengembalikan mood Alisha yang tiba-tiba buruk.
Namun sama saja, Alisha hanya diam, dan tak banyak yang dibicarakan.
"Maaf telah membawa kamu ke rumah nenek," kata Aliando sesaat sebelum turun dari mobil. Saat ini mereka sudah di depan rumah Alisha.
"Eh, aku gak papa, aku seneng kok dengan nenek dan kakek, mereka baik dan menyenangkan," kata Alisha yang akhirnya tidak jadi membuka pintu mobil. Ia berbalik memperhatikan wajah Aliando. Ia sadar, bahwa semenjak pulang dari rumah nenek Maryam, dirinya tidak terlalu banyak bicara. Ia merasa telah mengabaikan cowok tampan itu.
"Apa kamu baik-baik aja sekarang?" tanya Aliando sangat hati-hati, ia sangat tidak ingin jika gadisnya itu masih badmood.
Alisha menarik nafas panjang.
"Bang, kayaknya kita udahan aja deh, kita nggak usah nerusin hubungan ini," kata Alisha penuh keyakinan.
"Maksud kamu?"
"Maaf, aku nggak bisa nerima lamaran kamu, kita berbeda, kamu bagaikan langit dan aku hanya tanah yang berlumpur, jadi, sebelum kamu terlalu berharap banyak terhadap aku, mending hentikan deh perasaan kamu,"
"Kamu nolak aku? kamu gak mau nikah sama aku? bukankah sudah aku bilang, aku gak nerima penolakan, aku ngasih kamu waktu, bukan untuk berpikir buat nolak aku, tapi untuk menyiapkan diri jadi istri aku,"
"Aku gak pantes, dan cukup sudah aku dipandang rendah oleh orang lain apalagi orang kaya kalian,"
"Kenapa kamu mengatakan hal itu? lihat aku! Aku hidup dengan diriku sendiri, aku bekerja, aku tidak menerima uang sepeser pun dari papahku ataupun nenek! Jangan memandang yang lain, tapi hanya lihat aku, apa itu tidak cukup buat kamu?"
"Kamu harus menikah dengan orang yang sederajat ... Bukan aku?"
"Cha, hampir empat tahun aku hidup sendiri, hanya bermodalkan tabunganku, hasil reward, juga uang jajan, aku keluar dari rumah setelah ujian kelas tiga SMP, aku bertemu dengan pak Aman dan Mak Leha, dulu mereka pernah bekerja sama nenek, lalu aku tinggal dengan mereka,"
"Tetap saja aku gak bisa,"
"Ini ulang tahunku, Cha, bisakah kamu membuatku bahagia?"
"Itu dia, aku gak bisa membuat kamu bahagia,"
"Hanya kamu yang bisa buat aku bahagia," Aliando menggenggam tangan Alisha sangat erat.
"Plis, jangan pergi, jangan tolak aku, tetaplah bersamaku, kita jalani berdua ya," mohon Aliando.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
Halo kak readers mampir juga yuks ke novel sahabatku kak MinNami_ judulnya My Beautiful Venus_pokoknya seru n kereeen bgt, jgn lupa dukungan buat authornya yaaa.... 😘😘😘
...Happy Reading yaaa😘😘😘...
__ADS_1
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...