Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
76. Menagih janji


__ADS_3

"Lupakan janji itu, Bang, aku sudah bilang, kita udahan aja," kata Alisha lemah.


"Cha, kita sudah menikah, hubungan ini bukan main-main, kamu istri aku," tegas Aliando.


"Aku tau, aku takut gak bisa menjalaninya dengan baik, biarkan aku jalani hidup aku sendiri, Bang, tanpa ada orang yang tersakiti," jelas Alisha dengan nada memohon.


"Tapi tindakan kamu ini justru menyakiti aku, Cha,"


"Belum terlambat, kita masih muda, kita juga belum punya anak, tak akan ada makhluk kecil yang jadi korban,"


Aliando tersenyum tipis. Bisa-bisanya Alisha berpikir ke arah sana. Haruskah ada seorang anak dulu, agar Alisha tidak mudah pergi begitu saja dari sisinya?


"Aku gak tau cara apa untuk bisa meyakinkan kamu, kalau aku itu, hanya mencintai kamu, tidak peduli siapa kamu," jelas Aliando.


Alisha terdiam. Sebenarnya sudah ribuan kali Aliando mengatakan hal ini, dan bukan ia tidak percaya pada Aliando, hanya ia saja yang tidak percaya pada dirinya sendiri.


"Kamu tau, Cha, ketika kamu digosipin cabe-cabean, aku gak bisa diam gitu aja, jujur, aku diam-diam menyelidikimu, sampai aku tau kamu bareng bapak-bapak itu di hotel, kamu tau perasaan aku saat itu? Kacau, Cha, tapi balik lagi, aku sadar, aku bahkan bisa lebih gila jika aku kehilangan kamu," imbuhnya sangat meyakinkan.


"Jadi waktu malam Abang nemuin aku pake rok pendek itu sebenarnya Abang tau aku?"


"Iya, aku kacau, aku sakit hati, tapi rasa cintaku yang besar mengalahkan semua itu,"


Hati Alisha bergetar hebat, ada rasa bersalah, namun juga terharu, padahal, bisa saja malam itu Aliando memarahinya, namun, sebaliknya ia justru mendapatkan perhatian lebih, bahkan ia mendapatkan perlindungan untuk menginap di rumah Aliando.


"Kenapa Abang melakukan hal itu? kenapa Abang gak minta penjelasannya padaku?" tanya Alisha.


"Apa aku akan mendapatkan jawabannya, Cha? Tidak, kan? Sementara, kita sudah menikah saja kamu masih merahasiakan apa pekerjaan kamu,"


"Jadi, Abang selama ini bergelut dengan kecurigaan Abang?"


"Jujur, aku memang curiga, aku juga penasaran, tapi feel aku sama kamu, meyakinkan dan menguatkan hati ini,"


"Makanya Abang percaya kalo aku hamil anak orang, lalu menikahiku?"


"Soal kamu hamil, aku yakin tidak yakin, tapi kamu harus tau, tanpa kamu hamil atau tidak, aku tetap akan menikahi kamu, itu semua karna aku memang cinta kamu! terlepas alasan lain yang mengikutinya, aku hanya mencintai kamu," tegas Aliando.


Alisha terdiam, ia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Bukankah, seharusnya ia bersyukur mendapatkan seorang lelaki yang kini sudah resmi menjadi suaminya itu tanpa melihat keadaan dirinya. Sudah berkali-kali hati Aliando tersakiti, namun, sikapnya tak ada yang berubah, masih selalu saja hangat.


"Maafkan aku, Bang, aku bener-bener gak bisa mikir,"


"Sudah, gak usah dipikirkan, yang penting kamu jangan pergi-pergi lagi, paham?" kata Aliando dengan sangat tegas.


"Aku gak tau!" kata Alisha menggeleng.


"Lihat aku, Cha!" pinta Aliando dengan nada memerintah.


Alisha menurut, apalagi saat ini kedua tangan Aliando sedang menangkup pipi Alisha.


"Dengarkan aku, Cha, aku ... suami kamu, apapun yang berhubungan dengan kamu, lahir bathin kamu, adalah tanggung jawab aku, jadi, jangan suka mengambil keputusan sendiri! Paham?"

__ADS_1


Alisha tak menjawab. Ia hanya menelan salivanya yang tertahan di tenggorokan.


"Ingat, sekarang kamu adalah seorang istri, wajib nurut suami selagi dalam syariat, maka, kamu gak bisa nolak dan pergi gitu aja, kita adalah sepasang, kita adalah kamu dan aku, paham, nyonya Aliando?"


"Hah?" Alisha terkejut dengan panggilan Aliando kepadanya, 'Nyonya Aliando'.


"Kenapa?"


"Gak papa, aneh aja kedengerannya,"


"Kamu sudah menjadi nyonya Aliando, maka kamu gak usah nekat kabur dan pergi-pergi, apalagi sampai ninggalin aku, okke!"


Alisha masih diam dan tidak tahu harus memberikan jawaban apa.


"Kenapa? masih ragu?" tanya Aliando


"Bimbing aku ya, Bang,"


"Kamu percaya aku, kan,"


"Aku percaya Abang, tapi aku yang gak percaya pada diriku sendiri," kata Alisha lirih.


"Ingat, Cha, kamu adalah Alisha Leandra, putri dari papah Reynaldi, istri dari Aliando Ivander, menantu dari papah Arsyad, cukup segitu aja, gak usah inget yang lain, kamu harus bahagia, lupakan masa lalu kamu, paham?"


"Aku gak mungkin bisa melupakan masa lalu, Bang!"


"Ya sudah, kalo gitu, kamu berdamailah dengan hati dan keadaan kamu,"


"Jangan diingat-ingat, itu saja, kamu harus punya impian dan tujuan hidup yang bahagia yang harus kamu raih," jelas Aliando.


"Ayo ikut aku, Cha!" ajak Aliando kemudian. Ia menarik tangan Alisha.


"Kemana Bang?"


Tanpa menjawab pertanyaan Alisha, Aliando membawanya ke makam Reynaldi. Mereka duduk di hadapan makam tersebut. Hujan mulai mengecil hanya menyisakan gerimis halus.


"Pah, Al datang lagi, tapi sekarang Al sudah resmi menjadi suami Alisha, karena kami sudah menikah, Al janji, Al akan bertanggungjawab dan selalu menjaga anak papah lahir bathinnya,"


Alisha hanya melirik memperhatikan Aliando mendoakan dan berkomunikasi dengan ayahnya di depan makamnya.


Hatinya terenyuh, sedikitnya, ia bisa merasa tenang dan yakin jika ia bersama Aliando, maka semua akan baik-baik saja.


"Abang, makasih," ucap Alisha lirih. Namun Aliando dapat mendengarnya.


Aliando pun tersenyum sambil mengusap lembut rambut Alisha.


"Kamu sebenarnya mau kemana, hm?" tanya Aliando. Namun gadis itu hanya menggeleng. Sebenarnya, ia sendiri tidak tahu akan pergi kemana. Ia hanya ingin pergi jauh dari kehidupan Aliando. Itu saja yang ada dalam benaknya.


"Ya udah kita cari penginapan," usul Aliando. Alisha hanya menurut apa yang dikatakan suaminya itu.

__ADS_1


🌡


Kini keduanya berada di sebuah kamar di penginapan yang paling dekat dengan area objek wisata religi, setelah sebelumnya mereka makan malam di warung makan.


"Sudah, ganti bajumu, lalu tidur," perintah Aliando pada Alisha yang duduk di bibir tempat tidur, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur, berusaha mendapatkan kenyamanan.


Namun, Alisha hanya diam. Ia masih bingung apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ingin berpikir, namun lelah.


"Kenapa diam? apa yang kamu pikirkan, hm?" tanya Aliando sambil melirik Alisha.


"Abang, sungguh-sungguh sama aku?" tanya Alisha akhirnya.


"Kamu masih ragu?" Aliando kembali bertanya.


"Abang yakin?"


"Hm," ucap Aliando singkat, ia kemudian mendekat ke arah Alisha.


Alisha masih diam. Benar-benar tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan.


"Kenapa? Kamu ingin bukti yang seperti apa, hm?"


Alisha masih diam.


"Atau aku tagih janji kamu!" ujar Aliando mengingatkan Alisha akan janjinya yang pernah ia buat.


Alisha menatap Aliando dengan tatapan tanya.


"Kamu ingat, kamu pernah bilang, jika kamu meninggalkanku, maka aku boleh meminta apapun," kata Aliando.


"Abang ingin minta apa?" tanya Alisha sambil menatap mata Aliando penuh selidik.


"Aku minta hak ku malam ini!" kata Aliando tegas.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Febyanti, pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.


Judul : Ketulusan Cinta Aluna


Ini blurbnya:


Aluna diagnosis alzheimer, suatu penyakit yang mampu menghapus memori hingga berakhir pada kematian. Di saat raga tak mampu lagi bertahan, Aluna dipertemukan dengan seorang pria bernama Iskhandar. Gadis itu jatuh cinta pada pandangan pertama.


Namun, Iskhandar tak mencintainya. Dia terpaksa menikahi Aluna. Iskhandar merasa terhina karena dirinya orang tak berpunya. Semua bisa didapatkan karena uang, dan Iskhandar merasa cinta itu tak seharusnya ada. Cinta tak bisa dibeli, tanpa ia tahu bahwa Aluna tulus mencintainya. Sampai Aluna rela hidup susah hanya demi cinta.


Apakah Aluna berhasil meraih cinta Iskhandar? Apa dia berhasil mendapatkan kebahagiaan di sisa umurnya?

__ADS_1



__ADS_2