
Aliando bahagia melihat Alisha sudah bisa membalasnya dengan memukul dan mencubitnya. Itu berarti hatinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Papah, papah, calon mantu, calon suami, hmm, enak ajah!" cemberut Alisha.
Aliando hanya tersenyum gemas.
"Pah, Chaca ma kak Ando pulang dulu, semoga papah bahagia di sana," ucap Alisha berpamitan pada ayahnya.
Kemudian, mereka pun keluar area makam. Benar saja, makam tidak terlihat mengerikan meskipun malam hari, banyak sekali orang-orang yang berziarah ke makam wali yang letaknya kurang lebih seratus meter dari tempat pemakaman umum tempat ayahnya Alisha dimakamkan. Di sepanjang jalan ramai para penjual dan peziarah.
Sebelum pulang, Alisha dan Aliando juga menyempatkan berziarah ke makam wali.
Setelah itu, Alisha dan Aliando menikmati makan malam lesehan di alun-alun kota. Seperti biasa, yang dipilih Alisha adalah bebek bakar.
"Tadinya, kalo sendiri, aku mau nginep di rumah Ella, tapi karena kesininya bareng kamu, kita pulang aja, perjalanan malam, gak papa, kan?" tanya Alisha pada Aliando di sela-sela makannya
Aliando mengangguk. Ia merasa tidak masalah.
"Serius?" Alisha memastikan, karena sebenarnya ia merasa Aliando sedang tidak baik-baik saja sejak keluar dari makam Aidyn. Wajahnya lebih terlihat pucat.
"Iya, Cha, kita pulang, tapi apa kamu yakin ... kamu udah pengen pulang? kamu udah sampai sini lho ... Emangnya, kamu nggak mau ketemu temen kamu?" tanya Aliando.
"Pengen sih, tapi malam-malam kayak gini, nginep di rumah temen, bawa temen cowok lagi, aku nggak enak,"
"Ya udah, aku biar tidur di mobil aja!"
"Aku nggak nyaman harus ngebiarin kamu tidur sendirian di mobil,"
"Ya udah, aku nginep di hotel aja atau kalau kamu mau, kita berdua nginep di hotel aja gimana?"
"Gak! dan jangan ngarep ya!" kata Alisha dengan mata mendelik.
Aliando hanya tersenyum, padahal jika biasanya Alisha seperti itu, ia akan tergelak gemas.
"Ya udah, kita pulang aja, tapi mungkin nyampe rumah tengah malam banget," ujar Aliando.
"Iya nggak papa, nanti aku hubungin pak Mamat penjaga kompleks,"
Aliando pun mengangguk.
βοΈ
Perjalanan sudah berlalu selama tiga jam, Tapi, Aliando justru merasa tak karuan, kepalanya tiba-tiba terasa sakit. Penglihatannya pada jalanan seakan berputar.
"Kita istirahat dulu di pom bensin ya," kata Aliando sambil menahan rasa pusing dan mual.
"Iya, gak papa," Alisha mulai merasa khawatir.
"Kamu ngantuk?" tanya gadis itu kemudian.
Aliando mengangguk, dia berbohong, agar gadis cantiknya itu tidak semakin cemas.
Namun, Alisha tau jika Aliando tidak jujur, seperti berusaha menutupi, karena sejak perjalanan mulai dari sejam yang lalu, Alisha merasa tidak nyaman, beberapa kali mobil terasa oleng, dan Aliando terlihat sering mengusap tengkuknya. Sudah pasti ada yang Aliando rasakan.
Aliando tiba-tiba menginjak rem, sehingga tubuh keduanya sempat terhuyung ke depan.
"Ada apa?" tanya Alisha panik.
__ADS_1
"Kita istirahat dulu di sini, bentar aja, ya!"
Alisha mengangguk.
"Kamu gak papa?" selidik Alisha.
Tak ada jawaban.
Aliando menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya. Kemudian ia menjatuhkan kepalanya pada kedua lengan yang dilipat di atas setir mobil.
Alisha mengulurkan tangannya memegang pundak Aliando. Terasa hangat, tidak, tapi lebih hangat lagi, bahkan sangat-sangat hangat.
"Kamu demam, Kak," kata Alisha sambil menempelkan punggung tangan ke leher Aliando.
"Ya Tuhan, gimana ini?" Alisha melirik ke kanan dan ke kiri. Sempurna. Tempat mereka berhenti begitu sepi, kanan kiri hanya hutan pohon jati.
"Ya, ampun, Bang Dodo, kenapa berhenti disini sih? gelap banget! Tau tempat apa ini?" Alisha panik. Merinding, karena tak terlihat cahaya lampu rumah. Ini menandakan hanya mereka yang ada di situ. Padahal malam belum terlalu larut, sesekali hanya ada cahaya dari lampu kendaraan pengemudi lain baik itu mobil maupun motor. Namun tetap saja, Alisha sama sekali tidak tenang.
"Jalan lagi, ya! istirahatnya jangan disini!" pinta Alisha dengan nada memerintah.
Aliando hanya diam.
"Biar aku aja yang nyetir!" kata Alisha sambil menggoyang tubuh Aliando.
"Kamu bisa?" Akhirnya Aliando mengangkat wajahnya melirik Alisha.
"Pernah latihan dua kali!"
"Appa?" teriak Aliando, "Aku gak mungkin mempercayakan kamu untuk nyetir mobil!" lanjutnya.
"Kamu takut apa, hm?"
"Takut makhluk yang tak kasat mata, dan juga takut ma kamu!" ucap Alisha spontan.
Aliando menggeleng.
"Makhluk nya takut sama kamu! dan aku, emang kamu kira aku mau berbuat apa, hm?"
"Aku hanya waspada, karna kalo laki ma perempuan berduaan, yang ketiganya setan, siapa tau kamu akan tergoda setan trus khilaf! Mana sepi lagi!"
"Sini!" Jari Aliando memberi isyarat agar Alisha mendekat. Namun gadis itu malah menyandarkan tubuhnya ke pintu mobil sambil menggeleng.
"Gak mau, gak usah macem-macem ya!" ucap Alisha dengan nada ancaman.
"Ya ampun ni anak! Sini! otak kamu memang harus dibersihin, seenaknya, berburuk sangka sama orang!"
"Aku cuma waspada!"
"Eh lihat! Apa itu putih-putih di belakang kamu!" teriak Aliando sok panik dan ketakutan. Ia gemas dengan prasangka yang dilakukan Alisha.
"A a a a a a a a!" teriak Alisha tanpa melihat ke belakang, tubuhnya loncat begitu saja mendekati Aliando, mendekap lelaki itu erat-erat, kemudian ia sembunyikan wajahnya di dada Aliando. Ia benar-benar ketakutan.
"Hahaha, sekarang siapa yang modus, pakai dekap-dekap segala! Awas ya, kalau kamu macam-macam aku masih ori lho!" goda Aliando. Namun ia pun akhirnya menenangkan gadis cantiknya itu dengan belaian lembut di kepalanya, karena cowok tampan itu merasakan betapa takutnya Alisha.
Alisha mendongak, menatap sebal Aliando, karena telah mengerjainya.
"Ga usah bercanda yang gak jelas gitu! Aku gak suka!" Alisha merajuk. Namun posisinya masih dalam dekapan Aliando.
__ADS_1
"Emang kamu takut apa, hm? Bukannya tadi kamu juga ngajakin aku ke makam malam-malam?" Aliando agak heran.
"Tapi, makam papah kan rame, terang lagi, udah kayak tempat wisata! Dan aku gak suka gelap kayak gini!" protes Alisha.
"Iya, maaf! Ayo, kita pergi dari sini!" ucap Aliando meyakinkan, ia melepas dekapannya.
"Kamu fobia gelap, Cha?" tanya Aliando khawatir. Ia mulai melajukan mobilnya. Melihat Alisha yang ketakutan, dia sampai melupakan rasa sakitnya.
"Nggak tau! Tapi aku gak suka yang berbau horor,"
"Hm, maaf ya, aku kira anak barbar kayak kamu, jago bela diri lagi, gak takut sama hal gituan!" komentar Aliando.
Alisha terdiam. Samar-samar masa lalunya muncul dalam ingatan.
Alisha kecil berteriak minta tolong. Terkunci di gudang hingga malam. Di saat ketakutan itulah dia melihat sesosok makhluk yang mengerikan. Hingga dia tak sadarkan diri.
Alisha menggelengkan kepalanya, mencoba menyingkirkan ingatan buruknya itu.
Akhirnya, mereka sampai di sebuah pomp bensin. Aliando segera merebahkan tubuhnya dengan jok yang diposisikan tidur.
"Kamu juga tidur aja, nanti kita lanjutkan perjalanan kalau aku udah agak enakan,"ujar Aliando tanpa membuka matanya.
"Biar aku carikan obat pereda demam, itu ada mini market yang masih buka," ucap Alisha sambil menunjuk sebuah mini market yang memang selalu buka dua puluh empat jam.
Aliando pun mengangguk masih memejamkan matanya.
Sepuluh menit kemudian, Alisha datang. Ia pun memberikan obat pereda demam pada Aliando. Lalu menempelkan kompres instan di kening Aliando.
"Apa ini, kayak anak kecil aja?" tanya Aliando sambil memegang kompres instan itu di keningnya.
"Udah nurut aja, kenapa sih!"
"Hm, iyalah," Aliando pun menurut.
"Ini tinggal sejam lagi, tapi kalo tunggu aku enakan, mungkin akan lebih lama lagi baru nyampe rumah!" kata Aliando.
"Udah, gak usah mikirin itu, yang penting sekarang, keadaan kamu lebih baik dulu!" kata Alisha.
"Makasih ya," ucap Aliando sambil mengusap lembut pipi Alisha.
Alisha mengangguk lembut. Ah, ntah dorongan darimana, tangannya pun membalas, ia mengusap lembut pipi Aliando yang terasa panas.
"Istirahat lah,"
...π»π»π»π»π»...
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
Halo kak readers sambil nunggu Up lagi. mampir sini yuks, novel sahabatku kak David Widia judulnya Identitas Rahasia sang Mafia, trus
jangan lupa dukungan untuk authornya, ya....
Happy Reading yaaaaπππ
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
__ADS_1