Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
75. Kamu gak bisa pergi


__ADS_3

"Tapi kalo Papah tidak menikah dengan mamah, aku gak mungkin menikah dengan Alisha," kata Aliando.


"Kamu bener juga, pasti ini cara Tuhan agar kalian berjodoh," ucap Arsyad.


"Iya, dan yang seharusnya tidak terjadi itu, adalah pernikahan Papah dengan tante Vanya,"


"Hahaha, bener juga, entah berapa kali dia jadi janda, karena setau papah, papah menikahinya, dia berstatus janda dari Agustin,"


"Om Agustin?"


"Iya, temen papah SMA yang tinggal di kota Y,"


"Ah, wanita itu, memang hanya mengincar harta, dikiranya menikah dengan papah Rey bisa hidup mewah, ternyata, malah papah Rey, melepaskan diri dari keluarganya! Setelah tau papah Rey hanya hidup apa adanya dia memilih pergi meninggalkan papah Rey dan Alisha," jelas Aliando.


"Hmmh, malang sekali Alisha," kata Arsyad penuh rasa kasihan.


"Dia penuh tekanan, dia trauma, Pah,"


"Papah paham,"


"Ya sudah, Pah, Al pulang dulu mau ngelihat Alisha," pamit Aliando.


"Okke, salam buat Alisha!"


🌡


Pak Mamat segera berlari menghampiri Aliando saat Aliando baru saja tiba di depan rumah Alisha.


"Ada apa, Pak?" Aliando merasa heran.


"Neng Alisha ga di rumah, tadi dia pergi naik taksi, gak tau kemana,"


"Benarkah? Kapan?"


"Iya, kira-kira dua puluh lima menit yang lalu,"


"Ya Tuhan, kemana dia?" gumam Aliando sambil merogoh saku celananya. Memastikan apakah ada panggilan atau pesan dari Alisha untuknya. Namun nihil. Sama sekali tidak ada panggilan ataupun pesan di layar aplikasinya.


Ia pun segera menghubungi Alisha. Syukurlah, ponselnya aktif. Namun, Alisha sama sekali tidak menjawab panggilan Aliando.


Tak kehabisan akal, ia segera mengecek keberadaan Alisha melalui GPS, beruntung, GPS nya aktif.


"Apa? Alisha keluar kota?" Aliando bermonolog.


"Ya udah Pak Mamat, saya akan nyusul Alisha, mudah-mudahan dugaan saya benar, saya akan susul dia,"


Aliando menghubungi Opun, untuk membawakannya mobil, namun sayang, mobilnya baru saja di servis. Akhirnya, dia menghubungi ketiga sahabatnya.


"Maaf, Al, gak bisa bantu," kata Benni pada Aliando. Kini ketiga sahabatnya itu sudah berada di terminal.

__ADS_1


"Gak papa, aku ngerti kok," Aliando paham, jika Benni dan Robby tidak mungkin meminjamkan mobil karena mereka tidak memilikinya sendiri. Harapan satu-satunya adalah pada Rafael yang memang memiliki mobil sendiri.


"Sori Al, aku juga ga bisa bantu, mobilku masuk bengkel abis kecelakaan karena dipake ma sepupu,"


"Gak papa, aku titip motor aja, kalian tolong bawa pulang ke rumah pak Aman, dan makasih kalian malah nyempetin buat nganter aku ke terminal.


"It's Okay, Al, apa perlu kita anter?" Robby memberi saran.


"Gak usah, kalian pulanglah, aku akan segera naik bis," kata Aliando.


"Iya udah, kita pulang ya, Al," pamit Benni.


🌡


Sejak Maghrib, gerimis sudah turun. Meskipun begitu, area pemakaman tempat ayahnya Alisha dimakamkan masih saja ramai pengunjung. Disinilah, Alisha berada saat ini, di hadapan makam Reynaldi. Dia menatap makam dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Antara kekecewaan, kesedihan dan kebencian terhadap seseorang.


"Pah, Cha ketemu mamah, dan Cha semakin membenci mamah, dia bukan hanya menyakiti kita tapi juga menyakiti papah Arsyad," Alisha bermonolog di depan makam Reynaldi, setelah dia membacakan doa untuk Arsyad.


"Cha sudah menikah dengan kak Aliando, tadinya kami mau berdua kesini, tapi Cha memutuskan sendiri, karena Cha tidak ingin meneruskan pernikahan ini," Alisha terisak. Hatinya merasakan nyeri.


"Andai bukan karena mamah, Cha pasti tidak punya perasaan ini, Cha malu dan merasa bersalah, Cha anak seorang pengkhianat, Cha gak pantes hidup di keluarga kak Aliando," curhat Alisha tentang perasaan insecure nya.


Kemudian setelah sepuluh menit di hadapan makam ayahnya, Alisha bergegas mencari warung yang berjualan makanan atau souvenir. Area pemakaman ini memang menjadi objek wisata religi, selain ada makam wali juga ada masjid agung yang indah beserta museumnya.


Tidak sedikit pengunjung yang datang baik dari dalam kota maupun luar kota.


Banyak hal yang ia ingat dan banyak sakit hati juga yang ia rasakan. Air matanya tak berhenti mengalir. Sudah berkali ia hapus, namun air mata itu terus saja membasahi pipi cantik merah mudanya.


Lelah menangis, akhirnya, ia pun memejamkan matanya.


"Tidak, Abaaang!" teriak Alisha, ternyata dia mengingau. Mimpi yang sama dalam tiga hari ini, Aliando terkapar berlumuran darah. Matanya seketika itu juga terbuka kemudian kedua tangannya terangkat mengusap wajahnya kasar.


"Ya Tuhan, mimpi ini lagi, tiap tidur pasti mimpi abang," gumam Alisha.


Tubuh Alisha terasa dingin bahkan menggigil. Ia juga tidak mengenakan jaket tebal, hanya jaket berbahan jeans dan itu tidak membuatnya hangat.


Ia pun mencoba mendekap kedua lututnya, agar bisa mendapatkan kehangatan. Kemudian ia benamkan wajahnya diantara kedua lututnya. Berusaha tenang dan melupakan tentang semua kebencian pada ibunya, juga melupakan mimpi buruknya tentang Aliando.


Sebuah jaket tebal menutupi punggung Alisha. Aliando yang melakukannya. Ia datang menghampiri Alisha, meskipun gadis itu membenamkan wajahnya, tapi Aliando mampu mengenalnya dengan baik.


"Abang?" panggil Alisha lirih. Ia terkejut saat melihat Aliando sudah duduk di sampingnya.


"Kenapa sendirian di sini, hm?" tanya Aliando dengan tatapan datar dan dingin, namun menyiratkan kekhawatiran.


"Kenapa Abang tau aku di sini?" tanya Alisha tanpa menjawab Aliando.


"Feel," jawab Aliando singkat. Ia tidak ingin menjelaskan jika dia tau dari GPS.


Alisha diam, ia juga merasa aneh, kenapa Aliando bisa menemukannya, padahal, ia tidak memberitahukan kepada siapapun kemana dia pergi.

__ADS_1


"Kenapa kamu pergi tanpa ngasih tau aku?" tanya Aliando terdengar tegas, dari nadanya menyiratkan kekecewaan dan amarah.


"Aku memang ingin pergi, aku mungkin gak ingin kembali lagi,"


"Apa kamu bilang?"


"Sudah ku bilang, kita udahan aja,"


"Kamu sadar dengan yang kamu ucapkan?" tanya Aliando tak percaya. Ia melihat sebuah tas besar di belakang Alisha, kemungkinan berisi pakaian Alisha.


"Apa pantas seorang istri mengatakan seperti itu? Sementara kita aja gak ada masalah?"


"Itulah, aku gak pantas buat Abang," sela Alisha.


"Lalu kamu pergi gitu aja ninggalin aku?"


"Bukankah aku seperti mamah? meninggalkan suaminya," Alisha mulai terisak.


"Kamu bukan mamahmu, Cha!" tegas Aliando.


"Tapi aku anaknya, darah kentalnya ada dalam tubuh ini! Makanya aku mutusin pergi biar Abang tidak ada hubungannya lagi dengan seorang pengkhianat, aku ingin Abang bahagia,"


"Tau apa kamu soal kebahagiaanku?"


"Aku tau ... Abang harus bahagia, Abang pasti bisa mendapatkan wanita yang lebih baik! Jadi, biarkan aku pergi!"


"Dan sudah ku bilang, aku pasti akan menemukanmu, meskipun kamu pergi! Bukankah kita sudah berjanji untuk tidak saling meninggalkan?" tanya Aliando.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Santi Suki, pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.


Judul : Ketika Cinta, Benci dan Rindu Menyatu


Ini blurbnya:


Jelita, gadis kelas 2 SMA yang dipaksa menikah oleh kakeknya karena sudah menyerah akan kelakuan nakalnya. Dia dinikahkan dengan Erlangga, guru magang sekaligus anak sopir keluarganya. Mereka menyembunyikan pernikahan itu dan akan dipublikasi setelah kelulusan sekaligus diadakan pesta pernikahan.


Namun, tiga hari sebelum pesta pernikahan itu digelar, Erlangga kecelakaan dan memorinya hilang sebagian.


Saat itu, Aulia baru tahu kalau Erlangga sangat membenci dirinya juga kakeknya. Erlangga pun menceraikan, tanpa keduanya sadari kalau Jelita sedang hamil. Hari yang seharusnya membahagiakan menjadi hari yang memilukan. Selain diceraikan oleh Erlangga, Jelita juga kehilangan kakeknya yang meninggal karena serangan jantung.


Apa yang akan dilakukan oleh Erlangga saat ingatannya kembali?


Akankah Jelita memaafkan orang yang sudah membuat hidupnya menderita?


__ADS_1


__ADS_2