Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
68. harus kuat (menghadapi)


__ADS_3

"Kamu makin cantik, aku kangen," kata Alex, lelaki yang ditemui Vanya. Mereka saling melempar senyum, memeluk, kemudian mencium pipi kanan dan kiri.


"Sama, aku juga kangen, padahal dua minggu yang lalu kita ketemu," kata Vanya terlihat sumringah. Ia kemudian duduk di hadapan Alex.


"Iya, kangennya gak ketulungan," kata Alex terkekeh. "Bagaimana kabar Arsyad?" tanyanya kemudian.


"Seperti biasa, tak ada yang berubah," jawab Vanya sambil menyeruput minuman yang sudah dipesan sebelumnya oleh Alex.


"Kenapa wajahmu jadi sendu?" tanya Alex.


"Aku bosan, dia mungkin menyayangiku, tapi cintanya, hidupnya, ingatannya hanya milik istrinya yang sudah mati itu,"


"Tenanglah, apakah kamu kurang bahagia?"


"Ntahlah, andai kamu tidak memiliki istri, aku pasti sudah meninggalkan Arsyad,"


"Jangan seperti itu, istriku sangat setia, aku yang salah, kita sudah berjanji, hubungan kita ini hanya kesenangan saja, tidak akan merusak rumah tangga kita masing-masing,"


"Iya, aku tau,"


"Maaf ya, cepat habiskan minum kamu, setelah ini kita cari kebahagiaan surga dunia,"


"Ah iya, aku suka, tapi setelah ini aku tagih janji kamu,"


"Iya, iya, aku gak akan lupa, kita nanti ke toko perhiasan, kamu ingin cincin berlian itu kan?"


"Iya, kamu inget ya? makasih, soalnya, aku gak enak minta sama Arsyad,"


"Kenapa? Pasti minggu ini kamu udah kebanyakan permintaan,"


Vanya hanya nyengir, membenarkan apa yang dikatakan Alex.


"Iya, khawatir kalo ntar dia gak percaya aku lagi, mana dia selalu saja bercerita bagaimana hebatnya istrinya yang sudah meninggal itu,"


"Hahaha, gak enak ya jadi yang kedua?"


"Iya," ucap Vanya manja.


"Ah, manis sekali, bagaimana mungkin, kita para lelaki bisa melupakanmu, pesona kamu gak mungkin bisa ditolak, apapun keinginan kamu pasti akan dituruti,"


"Kamu pinter ngegombal," kata Vanya sambil menghabiskan minumnya.


"Ini bukan gombal, ini kenyataan, Van, nggak ada yang bisa menghindar dari pesona kecantikan kamu,"


Vanya semakin tersipu dan Alex semakin tidak tahan untuk terus menggodanya.


"Ya sudah, ayok, aku akan berikan kamu surga dunia," ajak Alex sambil menarik tangan Vanya.


*


Itulah percakapan yang didengar oleh Arsyad dari rekaman yang diberikan oleh Alisha.


"Kurang ajar!" umpat Arsyad.


"Om, tenang, Om," kata Alisha sambil mengusap-usap lengan Arsyad.


"Kamu nyuruh aku tenang?"


"Iya," jawab Alisha santai.


"Gak bisa! Aku gak akan bisa tenang!"


"Bisa!" tegas Alisha. "Gak akan selesai baik jika Om marah-marah!" imbuh Alisha.


"Kamu pikir ini masalah sepele?" tanya Arsyad.


"Tidak, saya bisa merasakannya kok Om, papah pernah di posisi Om, ditinggalkan istrinya, saat aku berusia sekitar tiga tahun,"

__ADS_1


"Bukan saatnya kamu curhat!" ucap Arsyad tak habis pikir.


"Saya bukan curhat, Om, saya hanya penasaran aja, gimana bisa orang sebaik Om menikah dengan wanita seperti itu? Bagaimana kalo anak Om tau, kalo ibunya kayak gitu?"


"Saya tidak memiliki anak dari dia, dia adalah istri kedua saya, kami sudah menikah selama empat tahun,"


"Empat tahun?" tanya Alisha seperti mengingat dan memikirkan sesuatu.


"Iya, kenapa?"


"Ah, tidak, saya kira itu istri Om, dan udah puluhan tahun,"


"Tunggu, ngomong-ngomong anak, saya punya seorang anak dari istri pertama saya, mungkin dia seusia kamu,"


"Oh," Alisha mengangguk.


"Ya, saya jadi ingat, anak itu pernah menolak kehadiran Vanya sebagai pengganti ibunya," cerita Arsyad dengan wajah penyesalan. "Sebenarnya, dia tidak mempermasalahkan siapa yang akan menjadi istri saya, asalkan jangan Vanya, ternyata ini alasannya," jelas Arsyad.


Alisha menganggukkan kepalanya.


"Seharusnya saya percaya dengan perkataannya ... Benar almarhumah ibunya, feel anak itu memang tidak pernah salah," kata Arsyad.


Alisha mengernyitkan keningnya, kata-kata yang diucapkan Arsyad sangat mirip dengan perkataan yang selalu diucapkan suaminya.


"Feel aku gak pernah salah, Cha," kata-kata itu tiba-tiba saja muncul di kepala Alisha. Suara Aliando yang penuh percaya diri.


"Dimana mereka sekarang?" tanya Arsyad kemudian.


"Saya gak tau, apakah mereka masih di sana atau tidak, tapi terakhir sebelum ke kafe ini, mereka masuk ke kamar di hotel yang sama,"


"Sudah berapa lama?"


Alisha melirik jam yang melingkar di tangannya.


"Kalo sekarang, berarti ... sudah ada sejam lebih, Om,"


"2034," jawab Alisha singkat.


Arsyad terdiam, seperti memikirkan sesuatu.


"Om, mau kesana?"


"Apa kamu punya ide?" Arsyad mengembalikan pertanyaan karena dia sudah sangat malas menghadapi masalah ini.


"Apa yang akan Om lakukan?"


"Aku tidak pernah memaafkan pengkhianat,"


"Aku setuju, jadi Om akan melepas istri Om?" tanya Alisha terlihat puas.


"Tentu! Aku tidak akan menerima seorang pengkhianat sampai kapanpun!"


"Coba Om telfon, dimana istri Om sekarang,"


Arsyad menuruti Alisha. Ia pun segera menghubungi Vanya.


*


"Kamu dimana?" tanya Arsyad melalui panggilan ponselnya.


"Aku lagi di luar, Mas, lagi mau beli ayam panggang kesukaan kamu, buat ntar makan malam," jawab Vanya beralasan.


"O ya udah," kata Arsyad.


"Iya, Mas, tenang aja, sebelum Mas datang, aku dan makan malam pasti udah siap,"


"Hmm, baiklah, kamu hati-hati, tapi aku pulang jam delapan, jadi kamu gak usah nunggu,"

__ADS_1


"Mas ada lembur?"


"Tidak juga, tapi ada sesuatu yang harus diselesaikan dan mungkin membutuhkan waktu lebih lama bisa sampai malam,"


"Oh ya sudah, ayam panggangnya aku simpan di kulkas saja ya," kata Vanya.


*


"Bagaimana?" tanya Alisha, ia hanya ingin tahu pendapat Arsyad soal jawaban Vanya yang dirasa bohong.


"Seperti yang kamu dengar, kan? Dia masih baik dalam melayani saya, seperti tidak ada kesalahan yang dia lakukan,"


"Jadi, Om masih percaya sama dia?"


"Fifty-fifty, saya masih belum bisa menerima kenyataan ini,"


"Om, biar gak asal, Om bisa buktikan sendiri bagaimana istri Om ... sekarang kita ke sana, dan melihatnya, tapi bukan nggrebek ya Om," kata Alisha memberi ide.


"Baiklah, biar aku hubungi kantor dulu, agar di sana ada yang meng-handle, untung saja, tidak ada meeting setelah ini,"


Alisha mengangguk.


Pada akhirnya, Alisha dan Arsyad menuju hotel tempat Vanya bertemu dengan Alex mereka menunggu di dekat ruang kamar 2034, kemudian mereka mengikuti kemana Vanya pergi hingga ke toko perhiasan berlian.


Semua kejadian itu dilihat oleh mata kepala Arsyad sendiri dan terekam jelas olehnya. Ada amarah yang luar biasa tertahan di dalam hatinya. Ia memang tidak bisa meluapkan amarah saat itu juga, karena Alisha bisa menenangkannya.


Vanya berjalan berdampingan dengan Alex, diikuti oleh Alisha dan Arsyad yang juga berjalan berdampingan, keempatnya seperti pasangan yang sedang berkencan. Ini adalah pemikiran buruk orang yang juga sedang mengikuti keempatnya.


Dari kejauhan Aliando dengan sabar mengikuti kedua pasangan itu, walau sebenarnya ia hanya peduli dengan Alisha bukan yang lain. Entah apa yang harus dia lakukan, ia sama sekali tidak bisa berpikir jernih untuk saat ini.


"Apa ini kencan ganda? Apa papah balas dendam dengan tante Vanya yang selingkuh? Lalu papah pun mencari daun muda? Atau apa?" gumam Aliando.


Jujur saja, Aliando masih bingung dengan pemikirannya sendiri, apalagi melihat Alisha sempat mengusap-usap lengan Arsyad saat mereka berbincang di Coffeeshop dan kini melihat mereka berjalan-jalan bersama.


🌡


Aliando benar-benar penasaran, ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk mengetahui apa sebenarnya pekerjaan Alisha. Sore itu, setelah tahu Alisha telah pulang ke kontrakannya, ia segera mengikuti Arsyad yang ternyata arahnya menuju rumah kediamannya.


Untuk pertama kalinya, setelah empat tahun, ia menginjakkan kaki lagi di rumah besar.


Cukup banyak yang berubah keadaan di dalam rumah, rupanya, semua disesuaikan dengan selera Vanya. Tapi Aliando sudah tidak peduli, hanya satu yang ada dalam benaknya saat ini yaitu menuju kamar ayahnya sesuai info yang diberikan oleh bi Titi sang asisten rumah tangga kesayangan Aliando.


Bi Titi sempat tak percaya dengan kedatangan Aliando ke rumah tersebut.


"Apa den Al baik-baik saja, den Al makin tampan, bibi kangen," ujar bi Titi saat menyambut kedatangan Aliando.


"Sangat baik, Bi, Bibi sehat selalu ya," kata Aliando tanpa bisa berbincang panjang lebar, karena dia harus bergegas ke kamar ayahnya.


"Papah," panggil Aliando sambil membuka pintu kamar.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


...Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Yayuk Triatmaja pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa....


Judul : Salah Ranjang Balas Dendam Sang Mafia.


Ini blurbnya:


Dua gadis kembar Elona dan Elena memiliki sifat yang sangat berbeda. Adik kembarnya sangat membenci kakak kembarnya hingga suatu ketika adik kembarnya menabrak seorang nenek tua dan meminta pertolongan kakak kembarnya untuk mengakui kalau dirinya yang menabraknya.


Alona yang sangat menyayangi adiknya akhirnya mengakui kalau dirinya yang menabraknya hingga salah satu cucu nenek tersebut mengajaknya untuk menikah dengan dirinya.


Siksaan demi siksaan dari suaminya diterima oleh Alona hingga Alona kabur namun selalu tertangkap oleh suaminya hingga suatu ketika dirinya berhasil kabur.


Apa yang akan dilakukan suaminya ketika suaminya mengetahui kalau ternyata Alona bukanlah orang yang menabrak neneknya? Sedangkan Alona sudah pergi entah kemana.

__ADS_1



__ADS_2