
"Dia pacar kamu?" Aliando langsung menebaknya, karena Alisha tak juga menjawab.
Gadis itu memang hanya diam, ia bingung untuk memulai menjelaskan yang sebenarnya.
"Cerita aja, Cha, aku gak papa,"
Sambil menatap Aliando, Alisha pun mengangguk.
Sudah Aliando duga, ia pun menarik nafasnya panjang. Menatap lekat gadis cantiknya itu.
"Jadi, sebenernya cowok kamu itu ada berapa sebelum aku?"
"Dua ... Maaf,"
"Gak papa, apa kamu mencintai Samudra!"
"Ih nggak! sama sekali nggak!"
"Lalu kenapa kamu bisa sama dia? kamu nerima dia kan?"
"Terpaksa,"
"Seperti aku memaksa kamu?"
"Yaa, mungkin, tapi jenis paksaan yang berbeda!"
"Maksudnya?"
"Dia melibatkan orang lain," jawab Alisha.
Aliando mengernyitkan keningnya.
"Aku pernah cerita kan, aku pernah tinggal di kota S selama satu semester pas kelas sepuluh?"
"Ya, sebelum ke kota T dan bertemu Aidyn?"
"Iya, saat itu Samudra adalah kakak tingkat ku kelas dua belas, dia pernah nembak aku, tapi aku tolak, ternyata ditolak secara halus gak mempan, akhirnya dia maksa aku terus, aku pun nolak dengan kasar,"
"Maksudnya?"
"Ya, di maki-maki gitu, tapi dia malah makin emosi, sampai aku harus selalu menghindar dan sembunyi, sampai aku selalu minta papah antar jemput aku,"
"Lalu, bisanya kamu jadi pacarnya gimana?"
"Tara dan Tari temen sekelasku, mereka kembar, mereka adalah sahabatku, ayahnya bekerja di rumah Sam, mereka dapet ancaman kalo aku gak terima cintanya maka nasib mereka jadi taruhan, mereka sebenernya kasihan ma aku bahkan gak setuju kalo aku jadian sama Sam," Alisha menarik nafas panjangnya. Ia melihat Aliando yang serius mendengarkan apa yang dia ceritakan.
"Terus?" tanya Aliando masih penasaran.
"Satu hari, Tara pernah disuruh untuk menyampaikan pesan agar aku datang ke tempat yang sudah dia tentukan, namun kita sepakat, kalo aku ga usah datang, dan taunya Tara babak belur karna dipukuli Sam! Dia gila!"
Alisha kembali terdiam, seakan berat sekali membuka kisah di masa lalunya.
"Udah berbagai cara, Tara dan Tari melindungi aku, tapi pada akhirnya aku yang nggak tega, karena Tara yang cowok, sering dipukuli, untungnya Tari, karena dia perempuan, jadi tidak terlalu diperlakukan buruk," jelas Alisha.
"Pada akhirnya, aku pun harus menerima Sam menjadi pacarku, karena, jika saat itu aku masih nolak juga maka Tari harus tidur dengan Sam atau kalau tidak, ayah mereka akan dipecat," lanjutnya.
"Apa?" Aliando terkejut, ia tak menyangka jika Samudra begitu gila.
"Pilihan yang sulit, kan? Menurutmu apa yang harus aku lakukan ketika dalam posisi seperti itu? membiarkan temanku Tara terus terluka, membiarkan Tari hancur sebagai gadis? atau membiarkan ayah mereka dipecat?"
__ADS_1
"Lalu apa yang sudah Sam lakukan sama kamu?"
"Tak ada, aku bersyukur banget, aku nerima Sam sehari menjelang terima raport, karena besoknya, aku dan papah sudah pindah ke kota T, tak ada yang tau, begitu pun Tara dan Tari, namun sampai sekarang, aku gak tau gimana keadaan mereka!"
"Syukur lah kamu gak kenapa-kenapa,"
"Tapi sekarang aku jadi takut, Sam menemukan keberadaanku, sementara saat ini, papah udah gak ada,"
"Aku akan menjagamu, Cha!" ucap Aliando tegas.
"Tapi kamu gak tau segila apa Samudra!"
"Kamu percaya aku, kan?"
Alisha mengangguk.
"Apa perlu aku nginep di sini aja ya?"
"Hmmh?" Alisha menyipitkan matanya, tanda tidak setuju.
"Ya udah, kamu aja yang nginep di tempat ku,"
"Nggak," tolak Alisha cepat, sehingga membuat Aliando tergelak.
"Eh iya, tapi kok Sam bisa ke kota ini ya?" tanya Alisha heran.
"Di sini kan lagi diselenggarakan turnamen bela diri, Cha! Sudah pasti Samudra ikut!"
"Tapi, dia mewakili sekolah mana? kan udah lulus?"
"Mungkin bukan utusan sekolah, dia lewat klub bela diri, atau, dia memang suka mengikuti turnamen bela diri!"
"Kamu gak minat tanding lagi, Bang?"
"Aih, sederhana sekali keinginan hidup kamu, emangnya kamu gak punya target?"
"Target hidupku ... Bahagia bersama orang yang aku bahagiakan, dan orang yang aku bahagiakan itu kamu, kamu mau kan?"
Alisha diam. Ia seperti sedang berpikir.
"Kok gak dijawab?" tanya Aliando.
"Lagi mikir, Bang, biar ga sembarangan melangkah,"
"Otak kamu lama amat mikirnya, Cha,"
"Eh, kan ini soal hati, aku gak mau kecewa dan sakit hati kayak papah, dan gak kepengen ngecewain orang, aku takut semua itu!"
"Tak akan ada yang mengecewakanmu, Cha, karena ... kalo aku mengecewakanmu, itu berarti aku telah menyakiti diri aku sendiri,"
Alisha tersenyum dengan sangat manis. Ia bersyukur bisa bertemu dengan seorang Aliando dalam hidupnya.
"Tapi hidup gak cuma saat ini, Bang, masih ada hari, bulan dan tahun ke depan, apa kamu gak akan merasa bosan sama aku? dan nantinya memilih yang lain!"
"Gak akan, Cha! Hanya kamu!"
"Gimana kalo itu hanya sekarang saja? hanya sesaat?"
Aliando menarik nafas panjang, nyatanya Alisha memang penuh rasa takut untuk menjalin hubungan serius dengan seorang pria. Meskipun dia sudah terus meyakinkan Alisha agar tenang dan semua akan baik-baik saja, namun dia tetap saja merasa khawatir.
__ADS_1
"Kamu boleh tidak percaya tapi aku akan membuktikannya, jika aku sungguh-sungguh mencintaimu, ingin selalu menjaga dan membahagiakanmu, dan gak akan meninggalkanmu!"
Alisha menatap Aliando, memindai matanya, meneliti kesungguhan yang Aliando ucapkan.
"Udah menemukannya? sekarang yakin gak?" tanya Aliando.
"Menemukan apa?"
"Bukannya kamu sedang meneliti dari mata aku, apakah aku sunguh-sungguh, gitu kan?"
"Kok tau?"
"Itu mudah saja buat aku!"
"Ah, iya juga, orang kayak kamu segalanya mudah!" kata Alisha.
"Iya, mudah, kecuali meyakinkan kamu, itu sulit!" ujar Aliando membuat Alisha terkekeh.
"Eh, Bang, tadi kamu lihat gak, yang lagi jalan berdua di trotoar?" tanya Alisha sambil mengingatkan yang tadi dilihatnya sewaktu pulang dari kafe.
"Yang mana?" tanya Aliando sembari mengingat-ingat.
"Salsa!"
"Oh, iya tadi sekilas aja aku ngelihatnya!"
"Bukannya yang jalan bareng ma dia itu adalah cowok yang nabrak dia ya?"
"Sepertinya iya, kenapa?"
"Gak papa, hmm ...." Alisha menghentikan kalimatnya.
"Apa? jangan bilang kamu cemburu?"
"Ish, enak aja!"
"Lalu apa?"
"Aneh aja, kok bisa ya mereka jalan bareng!"
"Gak usah peduli dengan urusan orang, Cha!" titah Aliando.
"Masalahnya, aku kok kayak familiar dengan wajah orang itu!"
"Mungkin memang wajah dia pasaran!"
"Ah iya mungkin aja," Alisha mengiyakan, walau sebenarnya masih ada rasa penasaran dalam dirinya. Ia merasa ada sesuatu yang berkaitan dengannya, namun hatinya merasa tidak tenang.
"Ada apa?"
"Gak ada apa-apa, tapi feel aku gak enak!"
"Kamu yakin?"
Alisha mengangguk.
"Ya udah, tenanglah, toh kita tidak mengenalnya!" kata Aliando menenangkan Alisha, berusaha agar gadisnya tidak perlu khawatir.
"Siapapun dia, sejak pertama kali melihatnya, feel aku sudah bisa merasakan ketidakberesan," gumam bathin Aliando. Mulai detik ini ia harus memberikan ekstra pengawasan dalam melindungi Alisha.
__ADS_1
"Tenang, Cha, aku pasti menjagamu!" ucap Aliando masih dalam hatinya.
...π»π»π»π»π»...