Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
15.Maaf


__ADS_3

Alisha justru hanya diam. Ia tidak terlalu fokus dengan apa yang dikatakan Aliando. Tubuhnya pun menerima begitu saja apa yang dilakukan cowok tampan itu kepadanya.


Dalam kungkungan kedua lengan Aliando, ia merasakan ketenangan dan kenyamanan. Rasanya begitu damai meskipun sebelumnya suasana hati Alisha sedang tidak karuan, antara kesal, malas dan takut karena Aliando marah.


Semilir angin pagi seakan mendamaikan hati mereka. Aliando pun turut merasakan kedamaiannya.


"Boleh berhenti gak?" tanya Alisha sambil menatap wajah tampan Aliando.


Aliando menatap Alisha sebentar sebelum pandangannya kembali fokus ke jalan. Ia tidak berniat menjawab pertanyaan Alisha.


"Aku ga nyaman motoran kayak gini." Alisha mengungkapkan alasannya kenapa dia minta Aliando untuk menghentikan laju motornya.


Aliando masih diam.


"Aku beneran gak nyaman, Kak Ando," ucap Alisha serius, dan kali ini ia memanggilnya dengan sebutan 'kak Ando', panggilan yang sangat jarang dia ucapkan.


Aliando kembali menatap Alisha sekilas, lalu fokus lagi ke jalan. Ia senang Alisha memanggil dirinya dengan panggilan 'kak Ando'.


"Berhenti ya, Kak," pinta Alisha lembut.


"Ck, aku gak percaya, kamu pasti mau kabur, kan?" kata Aliando tanpa menatap Alisha.


Gadis itu mendongak, ia merasa tersindir karena kejadian kemarin saat dia bersembunyi karena tidak ingin diantar oleh Aliando ke rumah sakit.


"Maaf soal kemarin," ucap Alisha masih dengan nada lembut namun tegas.


Ah, kenapa gadis cantiknya ini bersikap manis seperti ini, membuat hati Aliando menjadi luluh.


Aliando segera menghentikan laju motornya, dan langsung mendekap gadis itu sangat erat. Kemudian ia mengecup pucuk kepala Alisha dengan cepat.


"Aku maafkan," ucapnya kemudian sangat singkat.


Andai saja Alisha tahu, jika Aliando mudah luluh dan memaafkan hanya dengan sikap manis dan ucapan lembut, sudah pasti Alisha lakukan sejak semalam.


Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sama sekali tidak menyangka jika Aliando akan memeluk dan mengecup pucuk kepalanya. Sungguh, hal itu benar-benar membuat Alisha semakin tak karuan. Getaran halus di hatinya kian terasa. Satu kata untuk mewakili perasaannya saat ini yaitu 'indah'.


"Aku duduk di belakang aja ya, ga enak kayak gini, malu dilihatin orang." kata Alisha.


Aliando mengangguk sambil tersenyum manis.


"Cepet banget berubah perasaannya jadi baik," gumam hati Alisha. Ia membalas senyuman itu dengan tak kalah apik dan manis dari senyuman Aliando.


☘️


"Al, aku minta maaf, aku ingin kita balik lagi seperti dulu!" kata Rafael pagi itu di kelas, tepatnya saat ini Rafael menghampiri Aliando dan duduk di kursi yang ada di hadapan cowok tampan itu, sementara di samping kanan kirinya ada Robby dan Benni.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kita hanya salah paham, kita juga sama-sama egois ...." kata Aliando sambil tersenyum tipis.


"Iya, Bro, kita kayak dulu lagi ya," mohon Robby pada Aliando.


"Sesekali boleh, tapi, sekarang, aku gak bisa sesering dulu, karena saat ini ada Alisha,"


"Lo cinta banget ya ma dia?" tanya Benni memastikan, pasalnya sampai detik ini, sebenarnya Benni masih meragukan jika Alisha memang pacar Aliando.


"Iyalah, sejak dia di sini, hidup aku jadi lebih baik,"


"Ajak dia aja, sekalian," usul Robby.


"Tidak! Aku hanya sedang ingin bareng dia, berdua saja!"


"Wah, jangan-jangan lo bucin ya, Al?" tebak Robby asal.


"Mungkin bukan bucin, tapi Alisha memang layak untuk diperjuangkan dan dipertahankan," celetuk Rafael.


Ketiganya menoleh ke arah Rafael. Ada kebingungan yang melintasi pikiran mereka, bagaimana mungkin Rafael berbicara seperti itu, seakan dia sudah mengenalnya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Aliando, ia mulai geram karena ada yang ikut mengagumi Alisha.


"Maaf, sebelumnya, tanpa sepengetahuan kalian, aku menghubungi Alisha!"


"Apa?" kata Robby dan Benni bersamaan


Sementara Aliando mulai mengepalkan tangannya .


"Jangan salah paham, aku hanya menuruti keinginan Nayna,"


"Eh, Nayna?" Robby dan Benni kompak bebertanya


"Iya dia sudah hampir seminggu di rumah sakit, dia harus menjalani proses pengobatan dan perawatan karena kanker darah,"


"Hah, benarkah?" Robby dan Benni masih kompak, mereka tak percaya dengan apa yang disampaikan Rafael.


"Lalu hubungannya dengan Alisha apa? kenapa Alisha harus ke rumah sakit?" tanya Benni.


"Nayna yang memintanya! Dia ingin bicara empat mata dengan Alisha!"


"Untuk apa?" tanya Benni lagi.


"Mungkin Alisha yang bisa menjelaskan, karena aku tidak terlalu tau apa yang dibicarakan oleh mereka," jawab Rafael.


Aliando benar-benar geram. Dari tadi tangannya tidak berhenti mengepal. Ia berdiri.


"Aku ijin, hari ini gak sekolah!" ucap Aliando penuh ketegasan, wajahnya tenang namun ada emosi yang tertahan dalam hatinya.


"Tunggu, Al, jangan marah, jangan juga salahkan Alisha, Alisha hanya memenuhi permintaan Nayna, karena menurut Nayna hidupnya tidak akan lama lagi," kata Rafael sambil memegang pundak Aliando.


Cowok tampan itu hanya melirik Rafael sekilas. Ia tersenyum tipis sambil membalas sebuah tepukan di pundak Rafael. Kemudian pergi ke kelas Alisha.


"Ada apa?" tanya Alisha pada Aliando dengan nada khawatir.


"Hari ini kita ijin, kamu ikut aku!"


"Eh, mana boleh ijin-ijin!"


"Gak usah nolak, Cha! Saat ini aku ga konsen belajar, aku butuh ketenangan dan aku hanya butuh bareng kamu!"


Alisha diam sesaat kemudian ia kembali ke kelas, lalu berbicara dengan Tio, dan akhirnya kini ia sudah berada di hadapan Aliando.


"Ayo," ajak Aliando. Mereka segera menuju tempat parkir, tanpa membawa apa-apa, hanya dompet dan ponsel. Tas sengaja mereka tinggal dan dititipkan ke teman.


Penjaga sekolah membolehkan karena dikiranya memang ada urusan sebentar, dan kebetulan bel masuk pelajaran belum dimulai.


Aliando sengaja membawa Alisha ke danau tempat biasa mereka saling berbagi cerita. Mereka duduk di pinggir danau, menikmati angsa-angsa yang sedang asyik bermain di danau.


Sudah sepuluh menit tanpa ada pembicaraan.


Alisha hanya diam. Ia sengaja tidak ingin mengganggu mood Aliando. Tugas dia hanya menemani. Itu saja yang ada dalam pikirannya. Sementara Aliando hanya memandang angsa-angsa. Kedua kaki ia selonjorkan, kedua tangan ke belakang dengan telapak tangan ke tanah sehingga bisa menahan tubuhnya.


"Cha, kamu tau aku sayang dan cinta sama kamu?" kata Aliando akhirnya membuka suara.


Alisha hanya diam.


"Aku tau kalo kamu belum percaya, atau mungkin tidak percaya jika aku cinta sama kamu! Tapi aku sungguh-sungguh, Cha," imbuhnya sambil melirik Alisha.


Gadis itu menatap Aliando, memindai manik indahnya, tak ada keraguan, hanya ada ketulusan dan kesungguhan terpancar di sana.


"Aku mohon, kebersamaan kita jangan kamu anggap angin lalu, keberadaan ku jangan kamu anggap sebagai debu yang bisa kamu tiup dan menghilang, juga jangan dianggap spirtus ataupun kapur barus yang bisa menguap begitu saja,"


Alisha diam, ia sedang menunggu apa lagi yang akan disampaikan oleh Aliando.


"Aku mohon, Cha, kamu bisa jujur sama aku, apapun itu, jangan ada yang ditutupi, aku mungkin ga ikut campur urusan kamu, sesuai syarat yang kamu ajukan, tapi aku perlu tau, Cha,"

__ADS_1


"Maaf, soal kemarin, aku salah, soalnya ini hubungannya ama Rafael, sementara aku tau kalo hubungan kalian sedang tidak baik- baik saja,"


Aliando membenarkan posisi duduknya, tangannya terulur meraih tangan Alisha dan menggenggamnya erat.


"Apapun, Cha, ceritalah meskipun itu harus menyinggung atau menyakiti aku,"


"Maaf, ga akan aku ulangi, aku akan berusaha jujur sama kamu,"


"Janji, ya,"


Alisha mengangguk kemudian mengeratkan genggaman tangan Aliando, sebagai tanda kalau dia akan berusaha untuk jujur.


"Makasih ya," ucap Aliando.


"Kamu udah ga marah?" tanya Alisha memastikan.


"Aku hanya kecewa, Cha, ternyata, bagi kamu, aku seperti atom, tak terlihat keberadaaannya,"


"Nggak gitu, aku hanya gak ingin kamu tersinggung karna aku menemui Rafael ataupun Nayna,"


"Aku justru sangat tersinggung kalo kamu tidak mengatakannya padaku, apalagi bertindak seperti kemarin, bersembunyi, kabur, pergi tanpa aku,"


"Maaf," ucap Alisha pelan.


"Dan kamu tau, aku khawatir dengan keadaan kamu, aku cari kamu, aku bingung, aku kacau, aku seperti orang gila, Cha, apalagi ponsel kamu matikan,"


"Maaf," satu kata itu terucap kembali oleh Alisha. Ia ingat, semalam setelah kepergian Aliando, pak Mamat penjaga kompleks perumahan datang dan mengabarkan jika Aliando sudah menunggunya di teras sejak sore.


Ada rasa nyeri yang tak bisa dilukiskan oleh kata-kata, apakah itu rasa haru atau bukan, yang jelas ia mengerti sesuatu jika lelakinya ini begitu tulus menyayanginya.


"Berjanjilah, Cha, jangan pernah pergi lagi tanpa aku, jangan buat aku kacau, cukup kemarin, okke?" mohon Aliando, matanya terlihat berkaca-kaca.


Ah, ternyata begitu rapuh seorang Aliando, tanpa Alisha. Hati Alisha terenyuh dan luluh, ia melepaskan tangan yang digenggam oleh Aliando, kemudian mengusap pipi Aliando lembut.


"Maafin aku," ucap Alisha penuh penyesalan.


Aliando memiringkan kepalanya dan segera menciumi telapak tangan Alisha yang tadi mengusap pipinya.


Alisha membiarkan Aliando mencium telapak tangannya, dan tanpa disadari ada butiran bening lolos dari mata indahnya. Cepat, gadis itu menghapusnya.


"Boleh minta sesuatu?" tanya Alisha setelah keadaan hati keduanya cukup tenang.


"Apa?"


"Maukah kamu menemui Nayna, satu kali aja!"


Sebelum Aliando menjawab, tiba-tiba terdengar nada dering ponsel Alisha. Gadis itu mengambil ponselnya kemudian menggeser tombol hijau.


"Apa? Innalillahi wa inna ilaihi roji'un, kapan meninggalnya?"


...🌻🌻🌻🌻🌻...


Wah, ada kabar duka yang membuat Alisha syok. nih kak readers.....


...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...


Kak readers mampir juga yuk di novel sahabat literasi ku kak Momy Ida judulnya Cinta Pertama


Membawa Luka.... pokoknya seru banget, jangan lupa dukung author nya yaa.....


Happy Reading kak readers😘😘😘



...πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’...

__ADS_1


__ADS_2