
Aliando terbangun, ia menyipitkan mata memindai sekeliling sembari pelan-pelan mengembalikan kesadarannya. Ia ingat terakhir kali, sebelum sampai ke rumah, setelah mengantar Alisha ke sekolah, ia mampir ke sebuah mini market membeli larutan penyegar, multivitamin, dan beberapa sachet penolak masuk angin. Namun ketika dia hendak pulang dan menaiki motornya, tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang mengenai lehernya, semacam jarum yang ditembakkan.
Aliando mengenali alat ini, bius jarak jauh. Hanya beberapa perkumpulan ahli bela diri yang bisa menggunakannya. Sayangnya, ia terlambat menyadari karena seketika itu juga ia pingsan, dan berakhir di ruangan ini. Sebuah kamar kosong, tanpa ada apa-apa. Dia sendiri tertidur di lantai.
"Ini dimana? tempat apa ini?" tanya Aliando dalam hatinya. Kemudian, samar-samar ia mendengar suara dari balik pintu..
"Dia pingsannya kebo juga ya ... lama banget gak bangun-bangun," kata orang kesatu.
"Bener, kapan sih dia sadar, padahal, pagi tadi kan kena biusnya, tapi nyampe sore kayak gini, masih belum bangun," ujar orang kedua
"Hmm, trus sebenarnya mau diapain sih ni bocah yang di dalam," imbuhnya.
"Hei, yang minta tolong nyulik anak ini juga bocah kan, paling usianya gak beda jauh dengan bocah yang di dalam!" kata orang kesatu
"Bener, ah ya sudah lah, kita kan cuma melaksanakan perintah aja! Selebihnya, biar tu bocah di urusin sama temennya si bos,"
"Ah iya juga, kita latihan yuk," ajak orang kesatu akhirnya.
Aliando bangun, kesadarannya mulai pulih. Ia sadar kalau telah diculik dan dibawa ke tempat ini. Ia berjalan menuju pintu mengintip dari celah-celahnya, sepertinya tempat ini adalah sebuah sasana bela diri. Tapi dimana?
"Hmm, siapa yang menculikku? Apa maksudnya?" gumam Aliando berbisik pada dirinya sendiri.
"Alisha," akhirnya hanya satu nama yang dia ingat saat ini. Seseorang yang selalu dia rindukan dan khawatirkan.
"Bagaimana keadaan kamu saat ini, Cha? Pasti kamu menungguku dan mencariku," gumam Aliando dalam hatinya.
"Maaf, aku gak bisa menghubungimu, aku gak tau dimana hapeku, semoga kamu baik-baik saja, Cha!" ucapnya lirih. Perutnya terasa perih dan lapar, tenggorokannya juga merasa sangat dahaga.
"Alisha, aku merindukanmu! Jaga diri kamu, jangan khawatir, aku disini baik-baik saja!" ucapnya sambil penasaran siapa dan dengan tujuan apa sebenarnya orang yang telah menculik dirinya.
__ADS_1
"Tuhan, jagalah Alisha," pasrah Aliando pada Tuhan. Saat ini ia tidak tahu harus menghubungi siapa, karena masih belum jelas kenapa dia diculik.
βοΈ
Alisha tidak bisa tidur, sepulang dari rumah Aliando, ia benar-benar merasa khawatir dan tak karuan.
Biasanya menjelang tidur, ia masih bisa mendengar suara dan menatap Aliando melalui panggilan videonya. Tapi malam ini tidak. Ratusan kali ia pandangi layar ponsel, sampai meremasnya karena gemas. Berguling ke sana ke mari di tempat tidur, memperlihatkan sebegitu gelisahnya Alisha saat ini.
"Bang, aku kangen, kamu dimana? kemana? kamu baik-baik aja, kan?" gumam Alisha sambil memandangi ponselnya. Ia begitu mengharapkan Aliando akan menelepon atau membalas pesannya.
"Kak Ando pliiiiis, jawab pesan aku!" teriak Alisha gemas.
"Aih, kenapa aku bisa gila sendiri kayak gini, padahal aku kan cuek ma dia ya, harusnya aku gak peduli dia mau kemana, dimana, mau ngapain, terserah dia, lalu kenapa perasaan ini bisa sekacau ini ya, apa aku galau?" Alisha bermonolog gak jelas.
"Apa aku memang udah cinta ma kak Ando ya? ya Tuhan, aku benar-benar merindukannya,"
"Kak Ando, semoga kamu baik-baik saja ya!"
Entah, itu janji spontan yang dia ucapkan karena begitu merindukan Aliando atau memang sudah direncanakan sebelumnya. Namun faktanya, saat ini Alisha begitu gelisah, ia merasa sangat kehilangan Aliando.
"Kak Ando, kamu tega biarin aku seharian, juga semalaman," gumamnya makin kacau.
"Kamu tau kan kalo sebenernya aku tuh udah sayang banget ma kamu, udah cinta," ungkap Alisha sambil menatap langit-langit kamar.
"Tapi lagi sayang-sayangnya kamu menghilang, ini bikin aku sakit hati, aku kecewa, percuma kamu janji, tapi nyatanya kamu bohong," ungkapnya lagi penuh kecewa.
"Penipu!!! kamu tega, deketin aku, ngaku pacar, giliran kamu udah selesai ujian, cinta kamu juga selesai, atau ... jangan-jangan, selama ini emang kamu hanya main-main, cuma manfaatin aku buat ngehadepin para fans kamu?" pikiran Alisha saat ini benar-benar kacau. Ia mulai memaki Aliando. Ada amarah yang tertahan di hatinya.
"Ah bodohnya aku, mau nerima kamu dan yakin soal kamu," Alisha mulai terisak karena berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
"Untung aja, aku belum ungkapin kalo aku juga udah cinta kamu, nyatanya, sekarang kamu tiba-tiba pergi, kamu menghilang gitu aja, hape non aktif, pesan gak dibales, kamu berusaha ngehindari aku, kan? aku benci ma kamu, dasar pembohong, cuma bisa janji doang!" Alisha makin merasakan sakit hati. Tak terasa air matanya pun mengalir di pipinya.
"Aku benci kamu, aku kecewa, aku gak terima dipermainkan kayak gini!" Nada Alisha mulai meninggi. Tangannya mengepal kuat-kuat.
Namun tak lama kemudian, hatinya kembali tenang. Ia masih punya keyakinan, jika Aliando sangat mencintainya, ia merasa ada sesuatu yang telah terjadi.
"Kak Ando, sebenernya kamu dimana? Aku janji aku akan nurut sama kamu, apa yang kamu katakan aku ikuti dan laksanakan, tapi plisss, jangan kayak gini, jangan biarin aku, aku gak suka dicuekin, aku gak suka diginiin," isaknya makin menjadi. Antara sedih, kecewa, khawatir, gelisah bercampur aduk menjadi satu.
"Pliss, kak Ando, jangan tinggalin aku, jangan pergi, kamu kan janji mau menjaga aku, mau bersama aku, katanya mau nikahin aku! Mana? kamu cuma omong doang!" gerutunya semakin tak karuan.
"Kamu bohong, Bang!"
"Kamu jahat!"
"Kamu tega!"
"Bang, kamu harus tepati janji kamu!"
"Kak Ando, aku sendirian," ucapnya mulai melemah. Masih menangis hingga akhirnya ia pun tertidur dalam keadaan gelisah dan tak karuan.
βοΈ
"Bang Dodo!" Tiba-tiba layar di ponsel menyala dan ada nada panggilan terdengar pagi itu, saat Alisha sedang dalam perjalanan pulang membeli sarapan dengan berjalan kaki, karena warung makan yang dituju memang tidak terlalu jauh, dan Alisha pun memang sengaja, jika membeli sarapan di warung tersebut selalu berjalan kaki.
Segera ia menggeser tombol hijau. Hatinya tak karuan bahagia dan bercampur dengan kecemasan.
"Halo, kak Ando! akhirnya kamu nelpon aku ... kamu dimana?" Alisha tidak sabar ingin mendengar suara yang dirindukannya seharian kemarin.
"Halo, sayang ... ?"
__ADS_1
...π»π»π»π»π»...