
Nayna tidak main-main, sebenarnya dia sangat ingin menjalankan apa yang dia ucapkan pada Aliando. Namun, ia urung melakukannya karena ada rasa takut akan apa yang Aliando katakan, jika tidak terbukti maka dia akan menuntut lewat jalur hukum.
Akhirnya,dia hanya mengirimkannya hanya pada Alisha dan Melly. Ternyata Melly masih kerabatnya Nayna, lebih tepatnya saudara sepupu. Sungguh suatu kebetulan yang tak terduga, kedua orang ini sama-sama menyukai Aliando.
Kemudian melalui Melly inilah, akhirnya foto-foto itu berhasil masuk ke grup kelas dan medsos sekolah. Pada akhirnya Alisha mulai menjadi perbincangan banyak orang terutama warga sekolah.
Untung saja, saat ini sedang ujian kelas dua belas, jadi kelas sebelas dan sepuluh belajar di rumah. Oleh karena itu, meskipun hal ini menyebar dengan cepat, namun tidak terlalu mempengaruhi Alisha.
"Putus dengan Aliando atau foto ini akan disebar!"
Ini chat dari Nayna untuk Alisha.
"Wah, bisa-bisanya ni cewek ngancem," gumam Alisha saat membaca chat dari Nayna dan melihat foto-foto yang dikirimkan.
"Ada apa?" tanya Aliando heran.
"Ada yang mau fitnah aku,"
"Oh," Aliando hanya mengucapkan kata 'Oh', seakan dia sudah tahu masalahnya.
"Kamu udah tau?" selidik Alisha.
"Sudah lah, yang seperti ini kan cepat sekali menyebar,"
"Menyebar?"
"Iya, emang kamu belum lihat grup kelasmu atau medsos sekolah?"
Alisha segera membuka grup kelasnya dan medsos sekolah yang ia ikuti.
"Waduh, cabe? bisa-bisanya ini gosip? Dasar gosip murahan!" Alisha bergumam sedikit kesal namun terlihat santai, sambil melihat foto-fotonya dengan caption "Cabe segar, hot".
Aliando tersenyum, hatinya tenang, karena Alisha tampak cuek melihat foto-fotonya.
Saat ini keduanya sedang menikmati cappucino di sebuah kafe, tempat yang membuat Aliando pernah menghabiskan empat cangkir cappucino.
Entah kenapa sore itu, Aliando ingin sekali menikmati cappucino ditemani Alisha. Niatnya hanya ingin mengajaknya bersantai agar melupakan masalah foto-foto itu, oleh karenanya, semenjak bertemu Alisha, Aliando sengaja tidak membahas postingan tersebut. Tapi siapa yang tahu, justru Alisha malah baru mengetahuinya saat mereka sedang menikmati cappucino sekarang ini.
"Kamu gak marah?" tanya Aliando.
"Kamu percaya?" Alisha malah balik bertanya.
Aliando tersenyum sambil menggeleng. Jujur saja, feel dia sama sekali tidak percaya, namun jika dia teringat Alisha yang pernah kepergok oleh seorang ibu di kamar hotel bersama suaminya, terkadang memunculkan keraguan di benaknya.
"Tidak, feel aku mengatakan kamu bukan cewek cabe!"
Alisha mengangguk. "Kalo gitu, tetaplah dengan feel kamu ya," pinta Alisha.
"Trus apa yang akan kamu lakukan?"
"Biarkan saja, gosip kan cepat berlalu, walaupun itu suatu fakta, pasti booming pada awalnya, tapi lama-lama menguap gitu aja bahkan gak ada yang ingat, apalagi ini, hanya gosip murahan, gak jelas, gak sesuai fakta,"
"Lalu kamu gak pengen klarifikasi?"
"Pasti aku akan melakukannya, apalagi urusannya sama sekolah, tapi kalo ternyata tidak diperlukan, abaikan aja, percuma kalo klarifikasi, bagi orang yang gak seneng aku, tetep aja mereka gak akan percaya,"
"Itu bener!"
"Tapi, kita lihat aja, sekolah bakal manggil aku apa nggak,"
"Trus apa yang akan kamu jelaskan?"
"Tinggal bilang aja kalo aku bukan cabe, soal bukti, biarkan pihak sekolah yang cari buktinya, dan cari pelaku fitnah ini, ngapain aku susah-susah, toh aku gak bersalah!"
"Boleh aku tanya?"
"Apa?"
__ADS_1
"Sebenarnya apa pekerjaan mu? Orang-orang mencurigai mu ke arah sana karena kamu hidup sendiri, dan dugaan mereka, cara kamu bisa survive adalah dengan cara seperti itu!"
"Apa kamu percaya?"
Aliando menggeleng pasti.
"Syukurlah, yang penting kamu gak percaya hal itu,"
"Lalu, kamu dengan para pria yang berbeda itu apa?"
"Hanya makan, dan foto-foto itu tidak membuktikan apapun! Hanya orang negatif aja yang akan punya prasangka buruk!"
"Iyah, kamu bener, itu hanya makan, tidak ada hal lain," kata Aliando sambil menarik nafasnya kasar. Seakan kecewa karena tidak mendapatkan jawaban yang dia inginkan.
"Tunggu dulu! jangan-jangan, sebenernya kamu juga mencurigaiku?"
"Bukan curiga, aku hanya cemburu, kamu makan dengan beberapa pria tanpa sepengetahuanku, di belakangku! Aku pernah bilang, aku pengen kamu jujur, tapi, ya ... balik lagi, di sini memang yang paling mencintai itu adalah aku, untuk itulah, aku harus nerima apapun kamu,"
"Uuuu, Abang cemburu ya?" kata Alisha sambil tertawa kecil.
"Nggak usah diketawain, aku tahu, cemburunya aku menurut kamu norak dan bodoh,"
"Hei, itu kan kalau kamu cemburu sama Pak Haikal, tapi kalau yang ini, aku suka kok, kalau kamu cemburu itu tandanya sayang sama aku, justru kalau kamu gak cemburu, aku jadi curiga, sebenarnya kamu beneran sayang gak sih sama aku,"
"Jadi, kalo yang ini aku boleh cemburu?" Aliando berbinar.
"Tentulah," ucap Alisha penuh keyakinan.
"Bukan norak apalagi bodoh?" tanya Aliando.
"Ya jelas bukanlah, aku malah senang, asal jangan berlebihan ya cemburunya, aku takut kamu marah-marah sama aku,"
"Mana bisa aku marah sama kamu, Cha!"
"Makasih ya, Bang, tapi percaya lah itu adalah bagian dari pekerjaanku,"
"Maaf, aku belum bisa bilang,"
"Kenapa?"
"Bagian dari kontrak kerja, kamu percaya, kan?"
Aliando mengangguk. Ada ketenangan di hatinya, karena kecurigaannya salah, meskipun sebenarnya masih ada setitik keraguan, namun biarlah, dia lebih memilih menerima alasan Alisha yang menyembunyikan identitas pekerjaannya.
"Kamu tau, aku mau nuntut Nayna ke jalur hukum,"
"Maksudnya?"
"Aku tau, Nayna yang nyebarin ini!"
"Kok bisa?"
"Iya, bisa, kemarin dia ngancem aku dengan foto ini, pokoknya dia minta aku buat mutusin kamu,"
"Lho kok sama? Ini orangnya yang aku bilang ada yang mau fitnah aku, nih lihat, katanya kalo aku gak putus sama kamu, maka dia akan nyebarin foto-foto ini!" kata Alisha sambil menunjukkan chat dari Nayna.
"Lho, kalo seperti ini, berarti bukan dia yang nyebarin?" Aliando mengernyitkan keningnya.
"Iya, karna kalo baca pesannya, ini hanya sebatas ancaman, jadi dia belum menyebarkannya," jelas Alisha.
"Kalo gitu, ada orang lain yang tau foto-foto ini lalu menyebarkannya,"
"Ah iya, ya udahlah, gak papa, biarin aja!"
"Tidak! pokoknya aku akan selidiki hal ini!" tegas Aliando .
"Ya udah gimana kamu aja," kata Alisha.
__ADS_1
Aliando tersenyum.
"Oh iya gimana ujian kamu?" tanya Alisha mengalihkan topik pembicaraan.
"Semua dilancarkan dan dimudahkan, tinggal nunggu hasil,"
"Aku percaya! Oh iya, trus kalo udah lulus mau kuliah dimana?"
"Mau nikahin kamu dulu!"
"Mulai lagi deh, nikah nikah nikah, bisa gak seh ngomongin nikahnya lima tahun lagi?"
"Kenapa? kamu takut nikah muda?"
"Iya, aku gak yakin bisa menjalaninya apa nggak, aku juga gak yakin apa kamu akan sebaik papah?dan aku juga gak yakin apa aku bisa jadi istri yang baik, juga ibu yang baik?"
"Pasti kamu bisa, mungkin aku tidak bisa sesempurna papah menyayangi dan melindungi kamu, tapi aku akan berusaha untuk selalu membahagiakan kamu!" janji Aliando pasti.
"Jangan janji, Bang, kalo akhirnya tidak ditepati,"
"Aku tidak menjanjikan apapun, aku hanya punya niatan untuk selalu membuatmu bahagia,"
"Bisa gak sih, kita jalani aja dulu seperti ini, tanpa harus ngomongin nikah? Jujur, aku takut untuk mencinta, karena aku gak siap buat kecewa, aku gak mau sakit hati, bahkan aku tidak pernah berpikir untuk menikah,"
"Kenapa?"
"Karena banyak sekali pernikahan yang awalnya cinta, ternyata setelah menikah, banyak yang tidak puas pada pasangannya dan memutuskan untuk selingkuh,"
Aliando terdiam mendengar penjelasan Alisha. Ia menyadari sesuatu, jika gadis cantiknya itu, memiliki trauma dalam keluarganya.
"Apa kamu takut aku meninggalkan kamu?" tanya Aliando. Dia tahu Alisha pernah kecewa dengan sosok ibunya yang pernah meninggalkannya.
"Iya, makanya nyampe sekarang aku takut jatuh cinta sama kamu! Aku takut, disaat aku sudah cinta, kamu pergi! Seperti mamah ninggalin aku dan papah!" mata Alisha berkaca.
"Mungkin, semua orang punya kesempatan yang sama untuk mengecewakan pasangannya, tapi setiap seseorang pasti punya kesempatan untuk memilih, mana yang terbaik untuk hidupnya dan pasangannya, dan aku memilih untuk selalu membuat kamu bahagia,"
Alisha tertegun mendengar penuturan Aliando. Dia benar-benar terharu, hatinya bahagia, ia merasa sangat dihargai oleh Aliando.
"Kalo aku bahagia karena kamu, lalu apa kebahagiaan mu? apa aku bisa membuatmu bahagia?" tanyanya sambil menahan kuat-kuat agar air mata yang sudah penuh di kelopak matanya tidak sampai turun.
"Kebahagiaanku adalah membuat kamu bahagia, Cha!"
Akhirnya jatuh juga butiran bening dari pelupuk matanya.
"Kanapa-kamu-baik- banget- sih," kata Alisha terharu, sambil mengusap air matanya.
"Jangan nangis, Cha,"
"Ini karena kamu yang buat aku nangis,"
"Maaf,"
"Ini bukan nangis sakit hati, ini karena aku terharu,"
"Jujur, Cha, hampir empat tahun aku hidup sendiri, hati aku itu kosong tanpa warna, tapi setelah kenal kamu dan menjalani kebersamaan ini, walau aku harus memaksa kamu, hidup aku jadi lebih berwarna," jelas Aliando.
"Aku juga, setelah meninggalnya papah, aku sendiri, dan setelah kenal kamu, ada rasa yang berbeda di sini," kata Alisha sambil menunjuk dadanya.
"Tapi aku gak yakin itu apa, dan aku pun menolak semuanya, aku takut salah mencinta!" lanjutnya.
Aliando sangat mengerti dengan perasaan Alisha. Ia tahu, jika gadis cantiknya itu telah mencintainya, namun ia selalu menolak perasaannya itu karena ada ketakutan di hatinya, traumanya begitu dalam.
"Makasih, Cha," ucap Aliando sambil menggenggam tangan Alisha.
"Eh, untuk apa?"
...π»π»π»π»π»...
__ADS_1