
"Papah?" gumam Aliando penuh keterkejutan.
Ia sama sekali tidak menyangka jika Alisha mengenal ayahnya. Bahkan mereka terlihat seperti sudah lama saling mengenal.
"Tidak mungkin! Bagaimana kalian bisa kenal?" Aliando masih bermonolog.
"Apa sebenarnya kamu sudah tau kalo orang yang bersama kamu adalah papah? Untuk itulah kamu selalu menyuruhku untuk berdamai dengan papah?"
"Atau jangan-jangan, papah booking kamu? tapi rasanya, itu tidak mungkin apalagi setelah pertengkaran yang berakhir dengan hukuman yang menyiksa ku ini," Aliando berbicara dengan dirinya sendiri.
"Bagaimana mungkin perkataan Robby bisa dipercaya, tentang kamu adalah cabe-cabean, karena kamu aja marah banget, itu berarti, kamu sebenarnya cewek baik-baik, tapi apa sebenarnya yang sedang kamu perbuat?" gumam Aliando dalam hatinya.
Aliando teringat jika Alisha pernah mengatakan bahwa hal ini adalah bagian dari pekerjaannya, namun pekerjaan seperti apa. Sampai detik ini, Aliando tidak memahaminya.
Aliando mencoba mengirimkan pesan walaupun ia tahu jika Alisha tidak akan membalasnya. Akhirnya, ia pun mencoba melakukan panggilan telepon kepada gadis itu, namun tetap saja tidak ada respon yang diberikan oleh gadis cantiknya itu, bahkan setelah ia menyadari ada panggilan, ia malah menolak panggilan dari Aliando.
"Kita lihat, apa yang kamu dan papah lakukan?" ucap Aliando sambil menutup teleponnya.
Aliando menunggu, ia memperhatikan Alisha dan ayahnya dari kejauhan dengan sangat serius. Ia sengaja duduk di kursi makan paling pojok di sudut ruangan, agar lebih leluasa mengawasi keduanya.
Namun, ternyata tak ada kejadian yang berarti, bahkan hingga saatnya pembicaraan yang berlangsung hampir satu jam itu sama sekali tidak memperlihatkan layaknya antara om-om dan cabe-cabean.
Hanya saja, Aliando sempat dibuat bimbang, ketika Alisha diantar pulang oleh ayahnya hingga ke depan pintu pagar rumah kontrakannya. Kemudian ia melihat interaksi keduanya.
Ayah Aliando, pak Arsyad sempat mengusap lembut pucuk kepala Alisha penuh kasih sayang, serta mereka saling melambaikan tangan penuh kebahagiaan, yang menurut Aliando hal itu adalah suatu kemesraan antara seorang pria dan wanita.
Rasa penasarannya masih sangat besar. Namun ia belum bisa berbuat apa-apa. Ia hanya mencoba untuk menenangkan dirinya dengan menghilangkan segala macam pikiran negatifnya.
"Ya Tuhan, beri aku titik terang,"
βοΈ
Hari ini acara ulang tahun kota, ada festival dan karnaval. Semalam saat Aliando mengajak Alisha untuk menyaksikan karnaval, gadis itu justru menolaknya.
"Kalo kita ketemu, berarti, perjanjiannya batal, kita mulai dari awal,". Ini adalah jawaban pesan dari Alisha.
Aliando lemas membaca pesan balasan dari Alisha. Bagaimana mungkin, Alisha bisa memiliki pikiran seperti itu. Rasanya dia tidak sanggup kalau harus memulai dari awal. Padahal ini sudah berjalan sepuluh hari.
__ADS_1
"Kenapa anak ini gak ada kangen-kangennya sama aku? Apakah dia sudah tidak mencintai ku lagi? Apa dia akhirnya membenci aku?" gumam hati Aliando.
"Gak boleh! Dia harus tetap mencintai aku, aku harus mendapatkannya kembali, suka atau tidak suka, dia milikku!" tegas Aliando.
Pagi sekali dia menuju komplek perumahan Alisha. Bukan untuk menemuinya, melainkan untuk memastikan keberadaan Alisha agar mudah diikuti, apalagi ini akan menuju keramaian kota.
Benar saja, Aliando bahkan hampir saja kehilangan jejak istri tersayangnya itu, namun, untung saja ia dengan cepat mengenalinya diantara kerumunan orang banyak yang sedang menyaksikan pawai karnaval.
Suasana begitu riuh. Tidak sedikit yang saling berebut tempat dan berdesakkan ingin menyaksikan pawai dari dekat. Bahkan ada yang sampai saling dorong. Tidak terkecuali orang-orang yang berada di sekitar Alisha, sehingga membuat Alisha sempat terjatuh.
Aliando yang melihatnya segera mendekat walau agak kesulitan langkahnya, karena suasana begitu padat manusia.
Namun, ketika tinggal lima langkah lagi, ia mengehentikan niatnya. Ia teringat pesan Alisha yang mengatakan 'jika bertemu maka perjanjian batal dan harus dimulai dari awal,'
Akhirnya Aliando memutuskan membiarkannya, apalagi setelah melihat Alisha bisa segera bangun dari jatuhnya, ia yakin Alisha baik-baik saja.
Pawai karnaval sudah berlangsung selama setengah jam. Tapi bagi Aliando sama sekali tidak ada yang menarik. Ia hanya fokus pada satu titik, yaitu keberadaan Alisha.
Kadang ia tersenyum saat melihat Alisha sedang tertawa karena ada hal yang menurutnya lucu diantara barisan pawai seperti barisan badut dengan kostum tokoh-tokoh kartun dan orang-orang yang mengenakan topeng tokoh-tokoh dunia, mulai dari tokoh sejarah, tokoh politik bahkan artis-artis yang melegenda ataupun populer.
Namun, ada yang tidak beres ketika barisan kuda sedang melewati penonton. Ada salah satu kuda mengamuk dan berlari menuju barisan penonton, suasana pun akhirnya menjadi kacau. Parahnya kuda itu berlari ke bagian dimana Alisha menonton.
Aliando panik, ia segera menuju tempat Alisha, ia tidak peduli perjanjian itu, dalam benaknya hanya ada satu yaitu 'menyelamatkan Alisha'.
Tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya yang juga terjatuh, Aliando langsung mendekap Alisha sangat erat, ia menyembunyikan tubuh istrinya itu di dada agar tidak ada yang menyenggol apalagi menginjaknya. Biar dia sajalah yang merasakannya.
"Abang!" ucap Alisha lirih. Jujur saja, Alisha bahagia bisa bertemu dengan Aliando dan bahkan diselamatkan olehnya. Saat ini, ia benar-benar merasakan sebuah kenyamanan. Ia pun semakin membenamkan wajahnya di dada Aliando, menghirup aroma tubuh lelaki yang sudah resmi menjadi suaminya itu. Ia juga tidak peduli dengan perjanjian yang sudah dibuatnya.
π΅
Setelah dirasa cukup bisa untuk bergerak, akhirnya, Aliando menggendong Alisha ala bridal style. Pandangannya lurus ke depan, dan sama sekali tidak melihat wajah Alisha. Gadis itu merasa heran, padahal posisi mereka saat ini sangat dekat. Bahkan kedua tangan Alisha melingkar di leher Aliando, dan kepalanya bersandar di dadanya.
"Kenapa Abang jadi dingin gini sikapnya?" gumam hati Alisha. Namun, ia mencoba untuk tidak diambil hati.
Aliando pun akhirnya membawa Alisha ke tempat yang jauh dari keramaian. Ia masuk ke sebuah halaman kantor, lalu mendudukkan Alisha di bawah pohon yang cukup rindang.
"Kamu gak papa, kan?" ucap Aliando dengan wajah penuh kekhawatiran. Padahal sebelumnya, wajah suami tampannya itu sangatlah cuek dan dingin.
__ADS_1
Aliando memeriksa seluruh tubuh Alisha, bagian tangan, kaki sampai punggungnya.
"Kita ke klinik ya, kita periksa, ini siku kamu lecet, pasti ada bagian tubuh lainnya yang nyeri karena terdorong dan terinjak,"
"Aku gak papa, justru kamulah yang harus ke klinik, karena melindungi aku, badan kamu yang akhirnya terkena injakan orang-orang," Alisha menenangkan Aliando.
"Jangan pedulikan aku," kata Aliando masih memeriksa bagian tubuh Alisha yang lain.
"Udah, aku gak papa," kata Alisha sambil memegang tangan Aliando dengan maksud agar Aliando berhenti mengkhawatirkannya.
"Maaf, aku gak bermaksud bertemu kamu, tapi yang jelas aku gak bisa lihat kamu terluka, kamu tau itu, kan?" kata Aliando dengan pandangan menunduk.
"Aku mengerti, aku gak papa!"
"Jangan diulangi perjanjian kita dari awal ya, anggap ini bukan pertemuan yang dimaksudkan dalam perjanjian, tapi lebih pada sebuah pertolongan," kata Aliando masih menundukkan kepalanya.
"Iya aku ngerti, Bang," kata Alisha sambil menyelidik wajah Aliando. Ia mulai menyadari, jika Aliando sejak tadi memang tidak menatap ke arahnya bahkan sejak saat menggendong dirinya.
"Syukurlah kalau kamu gak papa, aku lega," ucap Aliando masih menunduk namun kali ini ia menggenggam kedua tangan Alisha dan menciumnya dalam-dalam.
"Ada apa, Bang, kenapa gak lihat aku?" tanya Alisha masih merasa heran, ia, mulai memanggil Aliando dengan sebutan 'Bang'. Satu tangannya terulur memegang dagu Aliando agar wajah Aliando bisa terlihat jelas. Namun suaminya itu justru malah memejamkan matanya.
"Kenapa Abang gak mau ngelihat aku?" tanya Alisha.
"Karena, biarkan bagian mata ini yang tidak bertemu dengan mata kamu, dengan begitu kita memang tidak melakukan pertemuan, dan yang kedua, aku gak akan sanggup bila harus menatap mata kamu, karena aku pasti akan di luar kendali,"
...π»π»π»π»π»...
...πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ...
Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Rara69 pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.
Judul : Bahagiaku Setelah Berpisah Denganmu
Ini Blurbnya.
Rani Yuliana harus merasakan kepedihan berumah tangga saat sang mertua ikut tinggal bersama mereka. Apalagi saat itu kondisi Ilham Hadiwijaya sedang tidak bekerja karena terkena PHK. Setiap hari Bu Rumiati memperlakukan Rani seperti seorang pembantu. Apalagi di luar sana Ilham juga selingkuh dari Rani.
__ADS_1
Apakah Rani bisa mempertahankan rumah tangganya?