Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
26. Cabe? (cabe-cabean)


__ADS_3

"Aku, gak tau, apa aku bisa menjalaninya, dan apa kamu bisa menerimaku dengan semua keadaanku?" kata Alisha sambil menatap Aliando dengan tatapan sendunya.


"Apapun kamu, Cha, aku akan selalu menerima keadaan kamu!"


Alisha terdiam tidak terlalu merespon.


"Aku harus masuk," kata Alisha akhirnya, ia berpamitan pada Aliando dan membuka pintu mobil. Kemudian berlalu menuju pintu pagar serta membukanya, disusul di belakangnya Aliando.


"Cha, pokoknya kita tetap bersama, tidak peduli kamu setuju atau tidak," ucap Aliando, sebelum Alisha masuk ke rumah.


Gadis itu hanya diam sambil memegang gagang pintu. Ia memejamkan matanya sesaat, kemudian berbalik menatap Aliando. Hanya lima langkah jarak mereka. Namun kini tinggal beberapa senti jaraknya ketika Alisha mendekati Aliando.


"Ayo kita tetap bersama, berjanjilah untuk selalu menjagaku dan tidak menyakitiku, apa kamu sanggup?" tantang Alisha.


"Iya, insyaaAllah aku sanggup menjagamu dan membahagiakanmu lahir bathin," ucap Aliando penuh keyakinan.


"Jangan menyanggupi jika kamu sendiri tidak sanggup, karena andai kata itu terjadi, kamu jangan berharap banyak dari aku," kata Alisha.


"Bisakah kamu hanya mempercayaiku saja?" tanya Aliando.


"Biarkan saja begini, hingga aku benar-benar yakin dengan kamu, dan aku yakin pada diriku, jika aku mencintai kamu,"


"Aku akan menunggu hal itu,"


"Okke," Alisha mengangguk, "Udah, pulang sana, dah malem," usir Alisha. Ia mendorong tubuh Aliando.


"Eh, tunggu dulu, apa kamu lupa?" tanya Aliando.


"Apa?"


"Aku ini ulang tahun,"


"Trus?"


"Kamu sebagai pacar apa gak inget ngasih hadiah?"


Alisha sebenarnya ingat, ini adalah ulang tahun Aliando, dan dia diberi waktu oleh cowok itu untuk menjawab 'iya' atas lamarannya tadi pagi, sebagai hadiah.


"Oh, kan belum jam dua belas malam, bukannya batas waktu untuk menjawab lamaran kamu jam dua belas ya? Lagian tanpa aku jawab juga, kamu udah tau kan jawabannya?" kata Alisha.


"Berarti kamu jawab 'iya'?" tanya Aliando memastikan.


"Mau tidak mau seperti itu kan? bukannya kamu yang bilang, kalo aku jawab 'tidak', tandanya aku gak ngasih kamu hadiah,"


Aliando tergelak.


"Makasih ya," ucap Aliando bahagia, karena akhirnya Alisha menerima lamarannya.


"Ini adalah hadiah terindah buat aku," imbuhnya.


"Iya, selamat ulang tahun ya, aku mau jadi istri kamu, tapi gak sekarang, nunggu nanti aku siap, boleh, kan? bukankah itu adil?"


"Dua bulan lagi ya, setelah kamu usianya tujuh belas tahun,"

__ADS_1


"Gila! Gak mau, udah sana, sana! Pulang!" kata Alisha kemudian mendorong kembali Aliando sampai pintu pagar.


Tiba di pintu pagar, Aliando berbalik.


"Tunggu, Cha!"


"Apa lagi?" Alisha gemas melihat tingkah Aliando yang tak kunjung pergi.


Secepat kilat tangan Aliando menarik kepala Alisha kemudian mengecup keningnya.


"Aku minta hadiah tambahan, okke," ujar Aliando tanpa merasa bersalah.


Gadis itu tertegun. Selalu saja seperti ini perasaannya jika Aliando memberikan perlakuan lembut dan sayangnya. Hatinya berdebar kencang tak karuan, namun ia merasakan kenyamanan dan kehangatan.


"Gak usah bengong! Mau lagi?" goda Aliando.


"Eh, gak! udah sana, pulang!"


☘️


"Alisha?" sapa Aliando hari itu di sebuah restoran hotel.


"Kak Ando?" Alisha tampak terkejut, pasalnya sebelum dia ke restoran ini, dia menolak ajakan Aliando ke acara ulang tahun Rafael.


Hubungan empat sahabat ini akhirnya membaik walaupun Aliando hanya sesekali saja bergabung dengan mereka. Seperti halnya hari ini, dia mau mengikuti acara makan bersama yang sudah dipersiapkan oleh Rafael, di restoran hotel milik keluarga besarnya.


Sebenarnya Aliando setuju ikut dengan syarat Alisha harus ikut serta. Sayangnya, saat diajak, Alisha justru menolak dengan alasan ada urusan. Tapi tak disangka, justru Aliando bertemu dengan Alisha di hotel milik keluarga Rafael.


"Iya," jawab Alisha tanpa ragu.


"Laki-laki?"


"Iya,"


"Siapa?"


"Halo," tiba-tiba ada suara bariton dari belakang Aliando yang membuat Aliando langsung menengok ke arahnya.


"Maaf, ini kursi saya," ucapnya sopan.


Aliando menelan salivanya dengan sangat berat.


"Ya Tuhan, bapak ini tampan sekali, dan sangat berwibawa," gumam hati Aliando.


"Oh iya, Pak, maaf, saya hanya menyapa teman sekolah saya, gak nyangka ketemu dia di sini," kata Aliando sambil bangkit dari duduknya.


"Oh, tidak papa, kamu mau sekalian gabung?" ajak pria itu.


"Oh, tidak, Pak, saya bareng temen-temen saya di sana!" kata Aliando sambil menunjuk ke arah Rafael, Robby dan Benni. "Saya ke sini hanya menyapa saja, silahkan diteruskan, hm ... saya permisi dulu!"


Pria itu hanya mengangguk mempersilahkan. Aliando pun meninggalkan Alisha bersama pria itu dengan berjuta tanya di benaknya.


"Ya Tuhan, Cha, mangsa kamu kali ini tampan, dan sangat berkelas, sepertinya dia sangat sopan, tapi masih suka juga dengan cabe-cabean! ck, dasar laki-laki! udah punya istri masih jajan di luar," gerutu Aliando yang tak wajar.

__ADS_1


Hatinya tidak bisa terima, ingin marah, bahkan mengamuk dengan brutal, tapi entah kenapa ada sesuatu, yang membuat dia sulit sekali untuk melakukannya. Dia ingat sebuah janji, untuk menjaga Alisha dan tidak menyakitinya, baik lahir maupun bathin.


"Sudahlah, yang penting aku memiliki hatimu, Cha, mau gimana lagi, karena ternyata aku mencintai kamu yang tubuhnya sudah di pake orang banyak," pasrah Aliando pada nasib percintaannya.


"Itu siapa, Al yang bareng Alisha?" tanya Benni. "Bukan ayahnya kan?" lanjutnya.


"Bukan, ayahnya sudah sudah meninggal,"


"Om nya ya?" tanya Benni lagi.


"Aku gak paham," jawab Aliando.


"Bukannya Alisha hidup sendiri, iya, kan?" Robby ikut memastikan.


Aliando memandang ketiga sahabatnya, sepertinya pertanyaan mereka hanya basa-basi, karena sebenarnya pasti mereka mengetahui sesuatu.


"Ada apa, cerita lah, apa yang kalian tau tentang Alisha?" akhirnya Aliando mengerti isyarat pertanyaan mereka.


Robby dan Benni saling pandang. Seakan mereka saling memberi kode, ini saatnya memberi tahukan kepada Aliando apa yang pernah mereka lihat sebelumnya.


"Sori, Al, sebenernya, kita pernah ngelihat Alisha dengan cowok lain, mungkin .... lebih tepatnya cowok yang usianya di atas dia berberapa tahun, tapi kayaknya lebih muda daripada bapak yang itu," kata Benni sambil menunjuk ke arah pria yang bersama dengan Alisha.


"Kita sebenarnya pengen ngomongin ini udah dari sebulan yang lalu, tapi, menurut Rafael, kita ga usah ikut campur urusan lo ma Alisha," lanjutnya.


"Tapi kita gak asal ngomong kok, Al! Ini, kita punya buktinya," imbuh Robby. Ia mengeluarkan ponsel, lalu membuka galeri sebentar, dan memperlihatkannya pada Aliando.


"Sama cowok yang agak muda ini kita lihat dua kali, di kafe yang berbeda," kata Robby sambil menjelaskan sebuah foto Alisha ketika bersama pria yang usianya sekitar dua puluh sembilan.


"Yang ini diambil pas lima hari setelah foto sebelumnya," jelas Robby sambil menunjuk foto yang berbeda.


"Trus, yang ini dengan seorang bapak, di kafe yang lain, hari yang lainnya," kata Robby lagi. Kali ini dia memperlihatkan Alisha sedang duduk di kafe bersama seorang pria berkacamata, memiliki tubuh atletis.


Aliando menarik nafas panjang. Rasanya ada beban yang ingin sekali dia lepaskan.


"Ya Tuhan, Cha, aku berusaha menutupi tapi malah kamu yang membuka aibmu, aku harus bagaimana?'" kata Aliando dalam hatinya.


"Apa yang kalian pikirkan?" tanya Aliando akhirnya.


"Kami sebenarnya gak mau suudzon, tapi karena kami tau, Alisha itu hidup sendiri, dan dia pasti butuh biaya hidup, jadi ... apa mungkin dia kerja yang begituan?" tanya Benni ragu-ragu.


"Maksudnya cabe, Al," kata Robby mempertegas.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Halo kak readers mampir juga yuks ke novel sahabatku kak Kay_21 Judulnya Hasrat Sang Penggoda pokoknya seru n kereeen bgt, jgn lupa dukungan buat authornya yaaa.... 😘😘😘



...Happy Reeading yaaa😍😍😍...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...

__ADS_1


__ADS_2