Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
18. perasaan Alisha


__ADS_3

"Kamu butuh apa?" tanya Alisha pada Aliando. Ia kini sedang berada di kamar Aliando.


Akhirnya, setelah istirahat sekitar satu jam, Aliando pun melajukan mobil untuk melanjutkan perjalanan mereka, dan kini mereka sudah berada di rumah panggung Aliando. Sebelumnya, pak Aman dan mak Leha menyambut kedatangan Aliando dan Alisha.


"Aku ga butuh apa-apa, kamu istirahat dulu di sini ya, aku belum bisa nganter kamu pulang," kata Aliando sambil membenarkan letak bantal menjadi posisi berdiri, sehingga ia bisa duduk bersandar di kepala tempat tidur.


"Gak papa, yang sehat aja dulu," ujar Alisha.


Hening seketika, keduanya terdiam, mata Aliando terpejam namun pikirannya benar-benar tidak tenang, sementara Alisha yang duduk di pinggir tempat tidur hanya bisa memperhatikan cowok tampan itu.


"Beneran kamu nggak butuh apa-apa?" tanya Alisha memastikan sekali lagi.


"Nggak, Cha, sama sekali nggak," jawab Aliando dengan mata yang masih terpejam.


"Trus, kenapa bukannya tidur, malah diam aja, ada yang kamu pikirkan? Ada apa?" tanya Alisha hati-hati.


"Apa aku boleh nanya sesuatu sama kamu?" tanya Aliando pelan namun pasti.


"Apa?"


"Siapa Aidyn? Apa kamu mau menceritakannya?"


Pada akhirnya, inilah yang tidak Alisha inginkan, waktu dimana Aliando harus mengetahui tentang Aidyn.


Gadis itu terdiam beberapa saat. Dia seakan bimbang untuk menceritakan siapa Aidyn yang sebenarnya kepada Aliando.


"Emm ... Aku akan ceritakan siapa Aidyn ...," Alisha menarik nafasnya sebelum melanjutkan ceritanya, mungkin memang inilah saatnya dia jujur pada Aliando. Walau bagaimanapun cowok yang mengakui dirinya sebagai pacar harus tahu yang sebenarnya.


"Dia adalah cowok aku," tegas Alisha namun terdengar lirih.


"Hmm," Aliando mengangguk. Seperti yang sudah ia duga sebelumnya. Ia paham dan sudah mempersiapkan diri menerima hal tersebut. Keduanya terdiam beberapa saat.


"Maaf, sebelumnya, aku tidak pernah menceritakan yang sebenarnya, dan kamu juga nggak pernah menanyakan hal itu padaku," kata Alisha.


"Gak papa, Cha, semua ini salahku, aku memang nggak pernah menanyakan apa kamu sudah punya pacar atau belum, aku yang memaksamu untuk jadi pacar aku!"


"Kamu nyesel kan sekarang?" tanya Alisha.


Aliando menatap lekat wajah Alisha.


"Sudah kubilang kan, kalau kamu tau aku, kamu akan nyesel," lanjutnya.


"Dan sudah kubilang juga, aku gak nyesel, karna feel aku tepat!" tegas Aliando.


Alisha mengernyitkan keningnya, ia sangat tidak memahami kemana jalan pikiran Aliando saat ini.


"Maksudnya tepat?"


"Memilih kamu jadi pasanganku adalah tepat, kamu begitu istimewa!"


"Aku gak paham, kenapa kamu gak marah tau aku punya cowok?"


"Kenapa mesti marah, aku kan di sini yang salah,"

__ADS_1


"Ah iya, bener, kamu memang salah,"


"Tapi aku nggak merasa bersalah,"


"Kenapa bisa gitu?"


"Cinta aku ke kamu itu, nggak salah Cha, kamu nggak tahu, apa itu cinta pada pandangan pertama?"


"Bohong banget, istilah itu hanya ada di cerita atau sinetron-sinetron,"


"Biarlah cerita dan sinetron itu adanya, tapi yang ini adalah kenyataannya, Cha,"


"Haih, iyalah iya, terserah kamulah, percuma debat sama kamu, ujung-ujungnya kamu juga yang menang,"


Aliando sempat menyunggingkan senyumnya. Ia senang, jika Alisa menyerah dan mengingat semua kata-katanya.


"Eh, kamu nggak ngantuk, tidur dan istirahatlah!" perintah Aliando.


"Kamu nyuruh aku tidur? Tidur di mana? Sementara rumah ini hanya ada satu kamar, satu tempat tidur,"


"Ya di sebelahku lah,"


"Nggak usah gila ya,"


"Ya udah, kamu tidur di sini, aku tidur di karpet,"


"Eh, mana boleh, kamu kan lagi sakit, masa tidur di karpet?"


"Ya udah, kalau emang kamu nggak ngantuk, kita nggak usah tidur aja,"


"Cha, panggilanmu itu yang jelas, abang atau Kakak? kadang kak Ando, kadang Bang Dodo, jadi aku panggilan spesialnya apa?"


"Dua-duanya, suka-suka hati aku, mau manggil kamu apa,"


"Yaaa iyalaah, bolehlah, apapun buat kamu, yang penting kamu seneng, tapi sini deh, Cha, duduk deket aku," pinta Aliando agar Alisha duduk di sampingnya.


"Eh, kayaknya kamu udah baikan deh," kata Alisha.


"Kenapa?"


"Otakmu mulai waras,"


"Apa? Emangnya kalau aku sakit, aku seperti apa? Dan kalau aku nggak sakit, aku juga seperti apa?"


"Kalau kamu sakit, kamu diam aja, seperti anak kecil, lucu menggemaskan, tapi kalau kamu nggak sakit, wah, otak mesumnya tuh mulai kumat,"


"Wah, wah, wah, memutar balikkan fakta nih, yang otaknya yang selalu ngeres, itu kamu, jadi kamulah yang harus dibersihin tuh pikirannya,"


"Nah, tuh kan, bener, kamu udah sehat, udah bisa protes ini itu," kata Alisha sambil mendekat ke arah Aliando, kemudian meraba kening Aliando.


Wah, cowok itu tidak menyia-nyiakan kesempatan, ia justru malah meraih pinggang Alisha, menariknya dan memeluknya, hingga gadis itu duduk membelakangi Aliando, di pangkuannya,"


"Apa yang kamu lakukan?" kata Alisha memberontak, mencoba melepaskan pelukan Aliando.

__ADS_1


"Bentar, Cha, begini dulu aja ya, aku butuh yang anget,"


"Nggak usah gila deh,"


"Terserah!"


"Tuh kan, mungkin pikiranmu emang nggak ngeres, tapi kelakuanmu ini nih yang harus dibenerin, main peluk, cium, megang,"


"Ini salah kamu, ini akibatnya karena tadi di mobil, dalam keadaan aku sakit, kamu berani meluk aku, sekarang aku sehat, kamu dipeluk gak mau, bukannya kamu curang, ya," protes Aliando.


"Eh beda lagi ya, ceritanya,"


"Bentar aja, Cha, kamu diam tiga detik aja, eh tidak, lima detik ya, kamu yang hitung,"


Akhirnya Alisha pun menyerah, ia pun menghitung dalam hatinya, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, ...


Ah, ia lupa hitungannya, dan membiarkan tubuhnya terus dipeluk oleh Aliando. Ia merasakan kehangatan dan kenyamanan. Ada getaran lain yang hadir, dan itu terasa sangat halus di hatinya. Tiba-tiba, air matanya pun menetes hingga mengenai lengan Aliando.


Cowok tampan itu terkejut, karena, merasakan ada yang basah di tangannya, ia pun segera melepaskan pelukannya.


"Maaf, apa aku menyakiti kamu?"


"Nggak," ucap Alisha sambil mengusap air matanya.


"Lalu kenapa kamu nangis dan kenapa kamu melebihkan hitungan? Aku kan cuma minta 5 detik saja,"


"Nggak apa-apa, tadi juga waktu dari rumah Aidyn, aku nangis di pelukan kamu lama,"


"Apa kamu sangat mencintai Aidyn? Kamu pasti merasa kehilangannya, ya?" tanya Aliando memastikan.


Alisha terdiam, ia tidak tahu harus seperti apa menggambarkan perasaannya kepada Aidyn, karena yang jelas, dia hanya merasakan kenyamanan saat bersama dengan Aidyn.


Namun, kebersamaan mereka yang hampir satu tahun, tidak membuat Alisha merasakan getaran halus yang indah di hatinya, tidak seperti saat dia bersama Aliando.


Sebenarnya dia sendiri tidak tahu apa statusnya dengan Aidyn. Semua teman manganggap mereka punya hubungan spesial sebagai 'pacar', Aidyn pun memang pernah menyatakan perasaannya, namun, Alisha tidak pernah menjawab 'ya'. Saat itu, dia hanya mengatakan 'kita jalani aja seperti ini dulu ya'. Itu yang dia ingat.


"Hei, kenapa diem aja?"


"Karena aku nggak tahu jawabannya,"


"Kok bisa? Apa kamu merasa mengkhianatinya karena telah bersamaku?"


Alisha memandang Aliando. Ia turun dari pangkuannya kemudian duduk di samping cowok tampannya itu. Tatapan mereka beradu, namun tidak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


Halo kak readers, sehat selalu ya, sambil nunggu UP, jangan lupa mampir ke novel sahabatku kak Selvi_19 judulnya Cahaya dalam Kegelapan pokoknya kereeen banget, jangan lupa ya dukungan like comment dan vote buat authornya yaaaa


Happy Reading yaaaa😘😘😘


__ADS_1


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


__ADS_2