
"Kamu ada apa Aliando? Dari tadi diperhatikan senyum-senyum sendiri, kamu sudah selesai mengerjakan?" tanya pengawas ujian pada Aliando. Sejak awal mengerjakan senyumnya memang tak pernah berhenti, padahal saat ini dia sedang ujian di laboratorium komputer.
"Oh, sudah, Pak," jawab Aliando.
"Kalo gitu, kamu boleh keluar,"
"Nggak lah, Pak, kasihan nanti yang lain panik kalau sudah ada yang keluar, mereka jadi gugup saat mengerjakan," kata Aliando.
"Ya, sudah tapi kamu jangan senyum-senyum sendiri, bapak jadi khawatir ngelihatnya, kamu baik-baik aja, kan?"
"Oh, baik, Pak, bahkan saya sangat baik,"
Bagaimana tidak sangat baik keadaannya saat ini, setelah semalam Alisha memberinya semangat melaksanakan ujian akhir.
"Apa soalnya terlalu mudah sehingga kamu senyum-senyum?" tanya pengawas.
"Iya, Pak, ini ada soal yang lucu," bohong Aliando pada pengawas ujian tersebut.
"Ya, sudah, kalo gitu dicek lagi jawabannya!" perintah pengawas lagi.
"Siap, Pak!"
Kejadian semalam memang membayangi terus pikiran Aliando, semenjak ia pulang dari rumah Alisha, senyumnya terus saja terbit di wajah Aliando hingga mak Leha dan pak Aman menggelengkan kepala mereka karena merasa aneh.
"Ada apa?" tanya Aliando saat di pintu pagar.
Cup
Alisha mengecup sekilas pipi Aliando. Penuh cinta dan kehangatan.
"Semoga lancar ujiannya ya, Bang, semangat!" ucap Alisha.
Sempat terpaku, namun hatinya tak membeku, yang terjadi justru hatinya meleleh dan berbunga-bunga. Rasa bahagianya seperti seorang anak kecil mendapatkan mainan kesayangannya.
βοΈ
Hari ini terasa begitu indah, namun menjelang siang tiba-tiba saja kesenangan itu terganggu dengan adanya chat di ponsel Aliando.
"Aku gak akan nyebarin ini, asal kamu putus dengannya!" Sebuah pesan dari Nayna muncul di ponsel Aliando. Sebelum pesan ada beberapa foto, gambar Alisha bersama dengan pria-pria yang berbeda dikirimkan juga oleh Nayna.
Aliando geram. Foto-foto yang dikirimkan Nayna sama persis dengan yang kemarin dilihatnya di ponsel milik Robby. Sepertinya, harus ada yang dibereskan olehnya saat ini. Ia kemudian sengaja mengundang Robby, Benni dan Rafael untuk berkumpul di rumah panggung miliknya.
"Beneran bukan gue, Al, gue gak tau darimana Nayna mendapatkan foto itu," Robby membela diri ketika di interogasi oleh Aliando. Hampir saja Aliando muka Robby lebam karena tinju Aliando, kalau saja Benni dan Rafael tidak mencegahnya.
__ADS_1
"Sabar, Al, gak usah emosi, kita akan bantu lo cari tau darimana Nayna mendapatkannya," Rafael berusaha menenangkan.
"Jujur ya Al, awalnya gue emang pengen banget lo putus sama Alisha, karena rasanya sayang banget seorang Aliando sahabat gue cuma ngedapetin cewek murah kayak gitu," jelas Robby membuat Aliando mengepalkan tangannya.
"Tapi demi ngelihat elo bahagia, gue cuma bisa dukung lo, Al," imbuhnya.
"Iya Al, ngelihat ketenangan dan keyakinan elo ke Alisha, kita hanya berdoa kalo dia memang yang terbaik buat lo, dan berharap kalo itu semua hanya prasangka kita aja" tambah Benni.
"Iya Al, bener banget, gue nggak ada niat untuk ngehancurin hubungan lo sama Alisha, toh kalo dipikir nggak ada untungnya juga buat gue," ujar Robby lagi.
"Tunggu dulu, gue inget!" kata Rafael tiba-tiba, membuat ketiganya mengalihkan pandangannya pada Rafael.
"By, lo inget, Nayna pernah sempet minjem hape lo? waktu kita jengukin dia dua hari yang lalu di rumahnya?" ujar Rafael.
"Ah iya, bener juga, waktu itu dia minjem hape gue buat manggil hapenya yang lupa diletakkan dimana," kata Robby.
"Hm, tapi setelah itu dia nggak langsung ngembaliin hape lo kan?" tanya Rafael memastikan.
"Bisa jadi saat itulah dia ngambil foto dari galeri hape lo, kan dia sempet mainin hape lo," jelas Rafael lagi.
"Wah, bener juga, gue gak inget sampai sana," Robby masih mengingat.
"Iya lah, otak lo, kan cuma sejengkal," kata Benni sambil menoyor kepala Robby.
Ketiganya menyadari perubahan intonasi bicara Rafael. Lebih pada menahan emosi.
"Sabar Raf," kini Benni yang menenangkan Rafael.
"Lihat, sudah aku bilang kan, cewek yang kamu anggap baik dan lembut itu adalah siluman jadi-jadian, feel aku gak pernah salah!" kata Aliando sinis dan terkesan meremehkan keberadaan Nayna.
Rafael menarik nafasnya panjang. Ia memang sudah tidak banyak berharap pada Nayna, karena pada kenyataannya semua yang dia lakukan untuk Nayna tidak pernah dianggap olehnya.
"Iya, gue udah sadar saat Alisha nasehatin gue waktu di rumah sakit tempo hari," kata Rafael.
"Oh, waktu dia tiba-tiba pergi tanpa sepengetahuan ku?" tanya Aliando memastikan.
"Maaf soal itu, Al, tapi ... kalo waktu itu dia gak mau datang ke rumah sakit, mungkin sampai saat ini aku masih dibutakan oleh Nayna," jelas Rafael.
"Emang, Alisha bilang apa?" tanya Benni.
"Dia bilang, 'terbukalah, cinta memang harus diperjuangkan, tapi jangan bodoh, ngapain juga masih lmengharapkan orang yang sama sekali tidak mencintai kita, apa untungnya dan jangan karena dia sakit trus dijadikan alasan untuk mengasihaninya,"
"Gue setuju, Alisha memang bisa dipercaya," komentar Benni.
__ADS_1
"Feel aku gak pernah salah," tegas Aliando.
"Termasuk dia yang cabe?" tanya Robby.
"Iya, sampai sekarang, feel aku mengatakan kalo dia gadis baik, karna aku gak bisa marah,"
"Atau karna lo yang udah bucin, Al," ujar Robby.
"Aku masih mencari kebenarannya, mungkin selama ini bukti-bukti mengarahkan dia ke arah sana! Tapi suatu saat pasti ada bukti kalau dia adalah gadis baik,"
βοΈ
"Aku tau kamu bakal datang," kata Nayna berbinar saat Aliando datang ke rumahnya.
Kondisi Nayna sekarang memang sudah lebih baik dari sebelumnya, namun keluarganya memilih merawatnya di rumah.
"Bukan cuma aku, tapi mereka juga datang," kata Aliando sambil menunjuk Robby, Rafael dan Benni di belakangnya. Saat ini mereka berada di halaman rumah Nayna. Kebetulan sore itu Nayna sedang menikmati indahnya bunga-bunga di halaman rumahnya, meskipun dia hanya bisa berdiam di kursi rodanya.
"Kamu udah putus, kan? dan kesini memilih aku?"
Nayna tampak bahagia.
"Aku hanya ingin menegaskan, bahwa aku tidak akan pernah meninggalkan Alisha, aku mencintainya, bahkan sangat mencintainya!"
"Tapi dia gak baik buat kamu, dia bukan cewek baik-baik,"
"Dia memang gak baik, tapi dia yang terbaik buat aku! Dan kamu, apa kamu merasa paling baik? Aku gak mungkin berpaling sama cewek kayak kamu!"
"Memangnya aku kenapa?"
"Mirip siluman, lembut tapi jahat!"
"Jadi kamu nolak aku lagi?"
"Bukan cuma nolak, kalo diijinkan nendang aku ingin banget nendang kamu,"
"Sialann, berarti kamu gak takut kalo aku nyebarin ini!" kata Nayna sambil mengangkat ponsel di tangannya.
""Sebarlah! kalo memang terbukti dia melakukannya, biar itu jadi peringatan dan pelajaran buat dia, tapi kalo sampai tidak terbukti, maka, siap-siap aja, kamu akan aku tuntut!"
"Aku gak takut, apalagi cewekmu itu memang murahan!"
"Tutup mulutmu dan buktikan, aku tunggu!"
__ADS_1
...π»π»π»π»π»...