
Aliando benar-benar tidak peduli dengan kehadiran Michelle. Ia hanya ingin bermanja dengan mencari kehangatan dengan Alisha.
"Al, lihat tempat kenapa! Kamu gak ngehargain orang lain yang ada di sini, tau gak!" teriak Michelle mulai kesal. Tadinya, ia hanya ingin meminta bi Titi membawakan camilan untuknya ke ruang keluarga, namun, yang ia dapatkan justru pemandangan menyesakkan hatinya.
Alisha berusaha melepas tangan Aliando yang melingkar di pinggangnya. Jujur saja, ia merasa tidak nyaman. Namun, melihat Aliando hanya diam saja, dan tidak peduli akan keberadaan yang lain di sekitar mereka, ia pun memilih mengikuti permainan Aliando.
"Kamu benar-benar menggemaskan, Cha," kata Aliando sambil menciumi pipi Alisha beberapa kali.
"Abang, ini dapur lho!" kata Alisha sambil melirik wajah Aliando.
"Suka hati aku lah," kata Aliando yang justru malah sengaja memajukan bibirnya hendak mengecup bibir Alisha.
"Abang," panggil Alisha sambil telapak tangannya menempel di bibir Aliando dengan maksud menahannya agar bibir Aliando tidak sampai menyentuh bibirnya.
"Singkirkan jarimu, Cha!" kata Aliando dengan nada perintah.
Suara tegas itu dan tatapan yang diberikan Aliando membuat Alisha mengerti, jika saat ini Aliando tidak menerima penolakan.
Akhirnya, Alisha menurunkan tangan yang menempel di bibir Aliando. Kemudian membiarkan Aliando mencium bibir Alisha.
"Lebay! Menjijikkan!" gerutu Michelle. Ia pun meninggalkan dapur, sehingga lupa dengan maksudnya ke dapur tadi. Padahal, ia juga bermaksud ingin mengerjai Alisha yang sedang memasak, namun, karena ada Aliando, ia urung melakukannya.
"Mmuach, makasih Cantik, akhirnya dia pergi juga," kata Aliando sambil mencium kening Alisha dan bibirnya sekilas.
"Abang sengaja kan?" tebak Alisha.
Bi Titi terkekeh memahami maksud Aliando.
"Den Al bisa aja, non Michelle nyampe sebel,"
"Eh, bibi malah dukung Abang?" tanya Alisha.
"Iya atuh, Neng, bibi mah akan selalu dukung den Al,"
"Tuh, bibi aja dukung aku, masa kamu gak mau dukung aku?" tanya Aliando.
"Eh siapa bilang, aku kan dukung Abang," protes Alisha.
"Lah tadi kamu nahan aku buat nyium kamu,"
__ADS_1
"Abis, Abang nyium aku gak lihat tempat, ya kan, Bi, seharusnya kan malu," kata Alisha sambil meminta persetujuan bi Titi.
"Kenapa mesti malu, kita kan gak buat salah!" kata Aliando.
"Iya Neng, nggak papa sama bibi mah, bibi malah seneng ngelihat kalian bisa romantis dan harmonis kayak gini, bibi ngerasa jadi muda lagi,"
"Yah, Bibi gak pro ma aku," keluh Alisha.
"Kamu gak bakal dapet dukungan dari bibi, Cha!" kata Aliando merasa di atas angin.
"Ya udah, kamu mau selesaikan masak, atau ikut aku sekarang, ke teras samping, aku mau nunjukin sesuatu," lanjutnya.
"Aku milih menyelesaikan ya, bentar lagi aja, nanggung ini," kata Alisha.
"Ya udah, jangan lama-lama ya," kata Aliando. Ia kemudian meninggalkan dapur.
"Udah, Neng, biar bibi yang menyelesaikan," kata bi Titi sesaat setelah Aliando tidak lagi di dapur. Ia menyarankan agar Alisha segera menemui Aliando.
"Oke Bi, ini tinggal plating ya," kata Alisha sambil mematikan kompor.
"Siap Neng, soal pleting mah gampang,"
"Bibi tau soal plating?"
"Mamahnya Abang, baik banget ya Bi?"
"Emh, iya, baik banget, suasana rumah ini nyaman banget waktu mamahnya den Al masih idup, begitu hangat, berbeda waktu ada nyonya Vanya, ibu tiri den Al, suasana rumah sering sunyi, gak nyaman, orangnya arogan, pokoknya nyonya rumah banget, tinggal nyuruh ini itu dan dia sering pergi, pulang-pulang, kalau tuan Arsyad udah mau pulang dari kantor,"
Alisha terdiam. Ia tidak bisa berkomentar apapun akan penjelasan bi Titi mengenai ibunya, ia tahu, Vanya memang bukan seorang wanita yang baik.
"Ah, untung aja, sekarang sudah berakhir, tuan Arsyad udah gak lagi ma nyonya Vanya, dan bibi seneng banget, sekarang den Al mau kembali lagi ke sini, soalnya, semenjak datang nyonya Vanya, den Al justru malah meninggalkan rumah,"
"Bertengkar sama papah ya," komentar Alisha sambil menebak perkara Aliando pergi dari rumah ini.
"Neng tau soal itu?" tanya bi Titi.
"Dikit, nenek Maryam yang menceritakannya, ya udah ya Bi, ya, aku tinggal dulu, aku mau nemuin Abang,"
"Iya, Neng tenang aja, ini pasti beres, semua pasti sudah tersaji di meja makan," kata Bi Titi, sehingga Alisha pun bisa tenang meninggalkan dapur.
__ADS_1
π΅
Alisha menghampiri Aliando, namun ternyata Aliando malah masuk ke dalam rumah dan terlihat tergesa. Mereka berpapasan di pintu masuk.
"Abang mau kemana?" tanya Alisha heran.
"Tunggu ya, nanti aja aku nunjukinnya, aku ke depan dulu, bentar," kata Aliando tanpa menunggu jawaban Alisha, ia segera berlalu.
"Eh tapi Bang, masih hujan," cegah Alisha namun tidak berhasil, karena Aliando sudah berlalu pergi.
"Hmh, kasihan, dicuekin? Itulah Aliando, lama-lama kamu akan tau dia seperti apa," kata Michelle yang ternyata tidak sengaja melihat interaksi Alisha dan Aliando.
"Maksudnya apa ya?" tanya Alisha tak mengerti.
"Nih ya, gadis sok polos, asal kamu tau, kamu itu hanya mainan buat dia, tunggu aja kalo dia udah bosan, dia pasti ninggalin kamu dan gak peduli sama kamu,"
"Oh ya?" Alisha pura-pura tak percaya.
"Iya, lihatlah, dulu kami akrab tapi begitu dia bosan, dia cuek ma aku, jadi, kamu berhati-hatilah," jelas Michelle.
"Syukurlah, dia udah gak akrab sama kamu, karena sekarang, dia sudah jadi suami aku," tegas Alisha.
"Eh belagu, pokoknya aku udah peringatin kamu ya, hati-hati, aku cuma mau ngasih tau ke kamu, Al itu gimana, kamu belum mengenalnya dengan baik kan?" jelas Michelle.
"Gak usah manasin, dan menurutmu aku percaya gitu ama cerita kamu? Aku harus terima kasih? Dan lagi, gak usah nunjukin derita kamu yang dicuekin Abang, bilang aja kamu iri, kalo Abang lebih milih aku untuk dijadikan istrinya," kata Alisha cuek sambil berlalu dari hadapan Michelle yang sudah dipastikan sedang menahan emosi.
π΅
Arsyad sedang menikmati makan malamnya, ia sempat berterimakasih pada Alisha karena melayaninya mengambilkan nasi. Satu suapan sudah masuk, ia benar-benar menikmatinya.
"Mmh, tumben, masakan bi Titi agak beda," komentar Arsyad sambil kembali menyuapkan nasi dan lauknya ke mulut.
"Kenapa, Pah, gak enak?" tanya Alisha, dia sedang mengambilkan nasi untuk Aliando, karena Aliando baru saja datang ke ruang makan dan duduk di kursi.
"Nggak, justru ini enak banget," komentar Arsyad.
"Alisha yang masak Pah," kata Aliando sambil tersenyum. Ia merasa senang karena Arsyad menyukai masakan yang dibuat oleh Alisha.
"Hmm, biasa aja tuh," kata Michelle yang juga sedang menikmati makanannya. Ia berbohong, karena sebenarnya, rasa masakan Alisha di lidahnya memang benar-benar berbeda dan nikmat.
__ADS_1
"Sial! Ini masakan kok lezat banget," gumam Michelle dalam hati.
π»π»π»π»π»