
Motor yang dikendarai Aliando sempat oleng ketika Alisha benar-benar melompat. Ia panik.
"Astaghfirullah, bener-bener nekat ni cewek!" kata Aliando sambil menghentikan laju motornya. Kemudian, ia segera berlari menghampiri Alisha yang tengah memperhatikan lengannya.
"Apa?" tanya Alisha ketus. Tatapannya sangat tidak bersahabat saat Aliando menghampirinya.
"Luka, kan? Coba kalo kamu nurut, kejadiannya gak akan kayak gini!" kata Aliando.
"Harusnya itu kata-kata aku, coba kalo kamu yang nurut!" gerutu Alisha. Ia cemberut.
"Iya, maaf, tapi untuk saat ini kita ga usah berdebat! Kamu ikut aku aja, kamu pasti selamat, dan gak usah ada penolakan lagi, juga gak usah macem-macem, apalagi berbuat nekad kayak tadi!"
Alisha terdiam, dengan keadaannya saat ini, dia memang tidak ingin berdebat. Sebenarnya, ia memang sengaja melakukannya, karena ingin menunjukkan pada Aliando jika dia tidak bisa diatur seenaknya oleh cowok itu.
"Dekat sini ada klinik, ayo kita ke sana! Kita obati luka kamu!"
"Gak perlu, aku mau pulang!" kata Alisha penuh penekanan.
"Cha, plis, gak usah nolak!" mohon Aliando.
"Terserah! Pokoknya aku mau pulang!" kata Alisha berusaha berdiri sambil menahan rasa sakit di lututnya.
Aliando gemas, ia pun menggendong Alisha ala memanggul karung beras di pundak lalu membawanya menuju motor.
"Eh apa-apan ni, lepasin!" Alisha berontak sambil memukul punggung Aliando.
"Keep calm, Cha!!" perintah Aliando. Suaranya terdengar berat dan tegas, membuat Alisha menyerah. Ia kemudian mendudukkan tubuh gadis itu ke atas motor bagian depan.
"Eh, apa ni?" tanya Alisha merasa aneh karena harus duduk di bagian depan, bukan di belakang pengemudi.
Aliando hanya diam, ia sedang malas menjawab pertanyaan Alisha. Ia segera mengendarai motornya menuju klinik.
Hening. Hanya semilir angin menerpa keduanya. Meraba-raba perasaan masing-masing. Sungguh, ini pengalaman pertama bagi keduanya.
Tak ada lagi jarak. Alisha berada dalam kungkungan kedua lengan Aliando. Ada debaran hebat di hati mereka yang tidak dapat dilukiskan oleh apapun. Namun mereka sengaja membiarkannya, seakan ingin tetap menikmati. Bahkan Alisha merasa menjadi seorang putri yang menaiki kuda putih dalam pelukan seorang pangeran, persis seperti impiannya yang selama ini dia hayalkan.
☘️
Aliando tetap menggendong Alisha masuk ke ruang periksa di klinik, namun kali ini ala bridal style. Semua yang dilakukan Aliando pada Alisha sukses membuat gadis itu terdiam, tak ada lagi penolakan, hanyut dalam manisnya perlakuan Aliando.
"Bisa jalan?" tanya Aliando setelah Alisha selesai diperiksa.
Gadis itu hanya mengangguk.
"Aww," ternyata Alisha masih merasakan nyeri di lututnya.
"Stop! Ga usah gendong aku!" tegas Alisha dengan satu tangannya menahan pergerakan Aliando yang hendak menggendongnya.
"Kamu kan masih sulit jalannya!" kata Aliando.
"Sini, aku pinjam tangan kamu aja!" kata Alisha sambil memegang kuat lengan Aliando.
"Kenapa gak mau digendong, hm?" tanya Aliando sambil memapah Alisha.
"Gak lihat apa, di sini banyak orang,"
Aliando tersenyum merasa lucu.
"Kenapa senyum gitu? kayak ngejek aku tau gak?"
"Bukan ngejek, hanya lucu, Cha,"
Alisha melempar tatapan tajamnya.
"Kalo gak banyak orang kamu mau digendong?" tanya Aliando.
"Gak!" jawab Alisha singkat.
__ADS_1
Aliando hanya terbahak.
Akhirnya Alisha bersedia mengikuti Aliando. Terpaksa, karena memang keadaannya sedang tidak memungkinkan untuk berjalan sendiri.
☘️
“Turunlah, kita sudah sampai!" ucap Aliando sesaat setelah menghentikan laju motornya.
Saat ini, mereka berada di pinggir sebuah danau yang cukup tenang, ada beberapa ekor angsa sedang asyik bermain di danau tersebut, ternyata sebelum mengantarkan Alisha pulang ke rumah, Aliando mengajaknya ke danau tersebut untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi seharian tadi di sekolah.
"Kenapa kamu bawa aku kesini?" tanya Alisha sambil mendaratkan bokongnya di rerumputan.
"Sengaja! Agar aku bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di pikiranmu ini dengan tenang!" ucapnya sambil menunjuk kening Alisha.
"Ah iya, bener juga, aku emang butuh kejelasan dengan kejadian hari ini!"
"Tanyalah!" perintah Aliando.
"Dari awal kita ketemu ... kenapa kamu tau kalau aku mau ke sekolah Garuda!"
"Sekolah terdekat dari bengkel itu hanya ada satu yaitu sekolah Garuda, gak ada yang lain!"
"Trus kamu kok mau nganter aku, padahal kita belum kenal!"
"Kamu tau feel?"
Alisha mengangguk. Ah, masa sesederhana itu, seorang Aliando mau mengantarkan seorang perempuan? Bukankah kata Melly, Aliando dingin sama perempuan?
"Trus, siapa cewek yang di kantin dan yang menghalangiku di koridor?" tanya Alisha lagi.
"Aku rasa kamu udah tau jawabannya!"
"Fans gilamu?" tebak Alisha.
"Hm," ucapnya datar membenarkan.
"Maksudnya?"
"Waktu di kantin, kamu berharap aku nolong kamu! kamu ngenalin aku sebagai pacar kamu! Itu maksudnya buat ngehindarin nenek sihir itu kan?"
"Nenek sihir? Nikita maksudnya? Hahaha, aku suka jukukanmu buat dia,"
"Gak usah ketawa, kamu juga kayak kakek sihir, ketawanya jelek!"
"Hahaha, mana ada kakek sihir, Cha? Tapi yang jelas, aku gak ngejebak kamu, dan aku gak manfaatin kamu! Aku beneran suka kamu, bahkan aku sudah jatuh cinta sama kamu,"
"Hah?" Alisha masih tidak bisa menerima pengakuan Aliando, ia merasa jika cowok tampan itu hanya main-main.
"Bener, Cha, pokoknya aku mau kamu jadi pasanganku," ucap Aliando mantap.
"Gak usah ngaco, kita belum kenal banget lho! kamu gak tau siapa aku!"
"Aku pasti akan mengenal kamu, feel aku gak pernah salah!"
"Wah, kamu terlalu pede! kalau ternyata feel kamu kali ini salah gimana?"
Aliando hanya tersenyum, lirikannya membuat hati Alisha tak karuan, terlebih senyuman Aliando sungguh sangat mempesona, membuat hati Alisha berdebar. Dari situ saja, Alisha sudah tahu jawabannya, bahwa feel Aliando tidak akan pernah salah.
Hening sesaat, keduanya menikmati sore dengan memandang ke arah danau.
"Kamu tau konsekuensinya buat aku kan? Aku bakal gak tenang belajar di sekolah, karena bakal banyak bullyan dari fans gilamu," kata Alisha memecah keheningan.
"Kita hadapi bareng, ya,"
"Aku gak mau, itu masalahmu! Kenapa aku harus ikut-ikutan menghadapi mereka!"
"Aku butuh kamu!"
__ADS_1
"Berarti, bener kan, kamu cuma manfaatin aku!" tegas Alisha.
"Tapi rasa yang aku miliki buat kamu ini sangat tulus!" ucap Aliando sangat yakin.
"Boleh aku gak percaya?"
"Silahkan!"
"Emang kamu yakin aku mau jadi pacar kamu?"
"Aku gak butuh persetujuanmu! Dan aku juga ga nerima penolakan dari kamu!"
"Kamu sadar, kan? Aku bahkan gak kenal kamu, aku gak tau sejatinya kamu!"
"Nanti kamu akan mengenalku dengan sendirinya, seperti aku akan mengenalmu,"
"Ya Tuhan, beri aku kewarasan lebih untuk ngadepin orang ini!" gumam Alisha yang masih bisa didengar oleh telinga Aliando.
"Tenang, aku bukan orang gila kok, cukup kamu hadir untukku terutama di waktu yang tepat!"
"Aku gak paham!" kata Alisha bingung.
"Nanti juga kamu akan paham! Berjanjilah untuk tetap menjadi pacarku!"
"Aku gak bisa!"
"Aku ga nerima penolakan, Icha!" ucapnya lembut namun penuh penekanan saat ia memanggil Alisha dengan sebutan Icha.
Alisha terdiam, ketika Aliando memanggilnya dengan "Icha". Ada nyeri terasa di ulu hatinya. Awalnya, itu adalah panggilan kesayangannya. Namun kini dia sangat tidak menyukainya.
"Kenapa kamu manggil aku Icha?" tanya Alisha.
"Karna aku suka, dan cocok aja buat kamu!"
"Tapi aku gak suka, aku sangat membenci panggilan itu!'
"Kalau gitu, aku akan membuat kamu menyukainya lagi!" tegas Aliando, dia seakan paham jika panggilan 'Icha' justru menyakiti hatinya dan Aliando yakin jika gadis di sampingnya ini punya masa lalu yang sulit dan sakit.
Hening kembali.
"Hei, Cinta …." panggil Aliando lembut namun penuh penekanan saat menyadari jika Alisha hanya diam menatap danau. Aliando tidak lagi memanggil Alisha dengan sebutan Icha melainkan dengan panggilan 'Cinta'.
Alisha pun menatap kedua mata indah Aliando. Ah, entah ada apa dengan hati Alisha, ia tiba-tiba luluh hanya dengan menatap mata Aliando. Seperti terhipnotis, Alisha merasakan kesejukan, ada ketulusan disana, dan sepertinya, cowok itu memang membutuhkan kehadiran Alisha. Akhirnya, Alisha pun setuju menjadi 'pacar' seorang idola sekolah, walau mungkin hanya sebuah permainan.
"Baiklah, aku mau jadi pacar kamu, tapi kamu harus siap dengan segala konsekuensinya, begitupun aku!"
"Aku gak perlu persetujuanmu, Cha, dan aku juga ga nerima penolakan!"
"Ya,ya, aku paham, tapi ada syaratnya!" ucap Alisha.
"Apapun, katakanlah!" kata Aliando pasti.
Alisha tersenyum penuh makna. Banyak hal yang harus dilakukannya. Semua itu ada di dalam pikirannya.
"Let's play the game," gumam hati Alisha.
...🌻🌻🌻🌻🌻...
Halo kak Readers
semoga sehat selalu
mksh udah baca
mksh vote like n komentnya yaa
lopyuol😘😘😘
__ADS_1