Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
64. di luar kendali


__ADS_3

"Karena, biarkan bagian mata ini yang tidak bertemu dengan mata kamu, dengan begitu kita memang tidak melakukan pertemuan, dan yang kedua, aku gak akan sanggup bila harus menatap mata kamu, karena aku pasti akan di luar kendali,"


Alisha tersenyum tipis. Ternyata itulah alasan kenapa Aliando tidak menatapnya sejak tadi. Ia tahu, Aliando sangat menghormati perjanjian itu, tapi kenapa hatinya menjadi sakit saat suami tercintanya itu tidak menatapnya.


Akhirnya, kedua tangan Alisha menangkup pipi Aliando, kemudian ia mengecup sekilas kedua mata Aliando.


"Abang, buka mata ya, aku pengen ditatap sama Abang!"


"Jangan menggoda, Cha," kata Aliando masih menutup matanya.


"Aku mau digoda," ucap Alisha pelan, benar-benar terdengar menggoda, dan hal itu membuat Aliando akhirnya membuka matanya.


Pemandangan yang indah, yang sejak tadi Aliando menahan diri untuk tidak melihatnya, wajah cantik milik Alisha. Mata bulat dengan bulu mata yang lebat dan lentik, pipi yang merona, bibir merah muda yang mungil, dan setiap inchi kecantikan Alisha terpampang jelas di hadapannya saat ini dengan jarak yang begitu dekat hanya sekitar beberapa senti.


"Jangan salahkan aku, Cha, kamu tau kalo aku kangen banget sama kamu!" seru Aliando sambil menatap Alisha penuh kerinduan.


Alisha mengangguk dan tersenyum. Dia sangat mengerti akan perasaan suaminya itu.


Tak butuh waktu lama, Aliando pun akhirnya mendaratkan ciuman di bibir mungil Alisha. Lembut dan hangat. Darah keduanya berdesir, degup jantung mereka berdetak tak beraturan, keduanya saling memejamkan mata dan menahan nafas, menikmati segala luapan kerinduan.


Alisha merasakan seluruh sendinya melemah, ia seakan pasrah dengan apa yang dilakukan oleh Aliando, apalagi saat suaminya itu memperdalam ciumannya sambil menahan tengkuk Alisha, membuat Alisha mengeratkan pegangannya di kedua sisi kemeja Aliando.


"Abaanghh," panggil Alisha tak kuasa menahan tubuhnya yang lemas sesaat setelah keduanya melepas ciumannya. Ia segera melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Aliando, mendekapnya erat, dan membenamkan wajahnya di dada kekasih halalnya itu.


"Maaf, sudah kubilang kan, jika aku ngelihat kamu, aku pasti akan di luar kendali," ucap Aliando sambil mengeratkan dekapannya.


Alisha hanya mengangguk di dada Aliando. Jujur saja ia juga berada di luar kendalinya, karena sesungguhnya, ia pun sangat merindukan Aliando.


"Jadi ... perjanjian kita bagaimana? Aku gak akan sanggup harus mengulangnya dari awal, Cha, dan jika kamu masih memaksaku, maka kamu tau kan, aku akan berbuat apa?" tanya Aliando dengan nada penuh ancaman. Ia sangat berharap, agar Alisha tidak mengulang perjanjian dengannya, dan bila perlu, diakhiri saja.


Saat ini Aliando memposisikan diri di samping Alisha tanpa jarak, kedua lengan mereka berhimpitan.


"Kita teruskan, Bang, masih sembilan hari lagi," ujar Alisha memberi keputusan.


"Aku kira, kamu akan mengakhirinya hari ini," kata Aliando penuh kekecewaan.


"Nggak lah Bang, kita kan udah deal, tapi, sembilan hari ini, kita pacaran lagi ya, Bang!" kata Alisha memberi ide. Ia menggenggam telapak tangan Aliando erat, agar mengurangi rasa kecewanya.


"Maksudnya?" tanya Aliando.


"Iya, kayak dulu, aku dianter, dijemput, dan makan bareng di luar, hanya sembilan hari saja,"

__ADS_1


"Berarti boleh telepon dan saling balas pesan?" tanya Aliando masih tak percaya dengan keputusan Alisha. Ia merasa sangat bahagia. Meskipun tidak satu rumah, setidaknya, dia masih bisa memperlakukan Alisha seperti dulu.


"Iya, Bang, boleh!"


"Baiklah kalo gitu, aku setuju! Bener ya?" tanya Aliando masih berusaha memastikan kebenaran akan keputusan Alisha. Rupanya ia masih tidak percaya dengan keputusan yang dibuat oleh istrinya itu.


"Iya, Bang, bener," jawab Alisha sangat meyakinkan. Sesungguhnya, ia benar-benar tidak tega harus berlama-lama menghukum Aliando, namun, ia juga tetap ingin melanjutkan hukuman atas perilaku Aliando yang telah berbohong dan memfitnahnya.


Aliando hanya mengangguk dengan senyumannya yang merekah. Lalu ia merangkul pundak Alisha dan mengecup sekilas pipi istri cantiknya itu.


"Makasih ya, Cha!"


Alisha tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Ayo kita pulang, tidak usah melanjutkan nonton pawai karnaval," ajak Aliando.


"Tapi, aku gak pengen pulang," kata Alisha sambil. melirik Aliando.


"Ya sudah, ayo kita jalan-jalan aja," kata Aliando sambil berdiri lalu. mengulurkan tangannya agar Alisha bisa memegangnya untuk bisa berdiri.


Alisha tersenyum sambil menerima uluran tangan Aliando, tatapannya hangat penuh kebahagiaan.


"Iya, ayo kita kencan, Bang," kata Alisha.


"Iya, kita kencan nyampe malem, sekalian aku pengen lihat festival budaya, pasti meriah, bakal banyak budaya yang ditampilkan, belum lagi kulinernya,"


"Ah, iya, baiklah, kita kencan,"


Alisha tersenyum kemudian melingkarkan tangannya di lengan Aliando dengan penuh semangat.


Akhirnya, mereka berjalan bersama berdua di tengah keramaian orang yang berlalu lalang. Mereka memilih jajanan ringan yang disajikan para penjual, membelinya dan menikmatinya sambil berjalan mengelilingi stand lainnya. Keduanya benar-benar menikmati, kadang mereka terlihat begitu kagum dengan apa yang mereka lihat, namun kadang mereka tertawa sambil menunjuk sesuatu yang menurut mereka lucu.


Hingga mereka tiba di sebuah stand ramalan cinta. Entah kenapa Alisha merasa penasaran. Sebuah stand lebih tepatnya tenda, berwarna hitam, dengan tulisan ramalan cinta berwarna pink.


"Masuk yuk, Bang," ajak Alisha.


"Buat apa?"


"Ya, lihat-lihat aja,"


"Trus?"

__ADS_1


"Gak terus, hanya penasaran aja, didalamnya kayak apa? kok tertutup sih!"


"Ya udah," Aliando menyetujui.


Akhirnya, mereka pun masuk. Entah bagaimana dengan perasaan mereka. Begitu masuk, aura yang terasa begitu dingin dan mistis. Ingin rasanya keluar, namun seperti ada yang menghalangi. Alisha dan Aliando saling pandang, cukup untuk merasakan keganjilan di stand tersebut. Apalagi, stand ini cukup sepi pengunjung, saat ini saja yang masuk stand ini hanya Alisha dan Aliando.


Sejak awal sebenarnya, stand ini memang terasa aneh, karena nuansa cinta itu seharusnya penuh warna dan keindahan, tapi ini bernuansa gelap, apa mungkin untuk menunjukkan sisi gelap cinta?


Tak banyak yang mereka lihat, hanya aksesoris dan souvenir cantik terpajang di stand itu.


"Kamu suka? kalo mau, ambillah, biar aku bayar!" kata Aliando saat Alisha melihat sebuah gelang yang menurutnya unik. Sebuah gelang yang terbuat dari perak, berbentuk spiral, di kedua ujung gelang ada permata berbentuk hati dengan warna merah darah dan hitam.


"Suka sih, tapi aku udah terlalu banyak perhiasan,"


"Pakailah, buat ganti-ganti, dan lagi, perhiasan emas kan gak boleh dipake ke sekolah," kata Aliando.


"Iya deh, aku ambil,"


"Sini, biar aku bayar," kata Aliando. Ia mengambil gelang tersebut dari tangan Alisha, kemudian segera menuju tempat dimana seorang wanita paruh baya duduk, ia bertubuh tambun, mengenakan pakaian yang serba hitam ala peramal, ada slayer hitam yang diikatkan di kepalanya. Wanita itu juga memakai anting yang cukup besar, di kedua tangannya masing-masing ada lima gelang yang juga cukup besar berwarna gold, tak lupa, hampir seluruh jemarinya juga memakai cincin batu akik.


Aliando hanya tersenyum. Benar-benar orang ini niat dalam berdagang.


"Harganya berapa ini, Bu?" tanya Aliando sambil meletakkan gelang spiral di meja yang ada di hadapan wanita tersebut.


Anehnya, wanita itu malah melihat Aliando dengan tatapan yang sangat tajam.


"Ini tidak dijual!" seru wanita itu dengan nada cukup menakutkan.


Aliando tertegun sesaat, ia pun melirik Alisha yang sudah berada di sampingnya. Sungguh aneh.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Hilmiath_ pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa.


Judulnya : Athmosphere


Ini blurb nya:


Adhara Andromeda, seperti namanya yang berarti bintang paling terang di antara rasi bintang. Adhara adalah gadis ceria yang selalu menerangi orang di sekitarnya. Adhara bukanlah gadis dari keluarga kaya, ia hanya gadis biasa yang berhasil masuk dalam sekolah elit. Namun, di hari pertamanya sekolah ia malah harus terjebak pada tiga laki-laki tampan yang di sebut pangeran sekolah. Masalah tak pernah henti melibatkannya pada ketiga pangeran tersebut. Hingga rasa sayang menjebak mereka, ketiga pangeran tersebut perlahan menyayangi Adhara dengan rasa yang berbeda. Sedangkan Adhara juga mulai menyayangi mereka delam berbagai arti menyayangi. Bagaimana Adhara akan menghadapi setiap masalahnya bersama tiga pangeran tersebut? Baca ceritanya agar kalian tidak penasaran siapa yang kira-kira akan menarik hati Adhara dan menjadi pelabuhan untuk gadis itu. Arche dengan sikap hangat nya, Chan dengan sikap dinginnya, Atau Antariksa dengan sikap kasarnya?

__ADS_1



__ADS_2