
"Karena sudah bersedia bersamaku, meski terpaksa,"
"Ah, iya, bener, aku mau karna terpaksa, untung kamu, tampan, pinter, populer lagi,"
Aliando tergelak.
"Kenapa ketawa?" Alisha merasa aneh.
"Cha, Cha, bisa gak kamu mau bersamaku tu, karna emang kamu cinta dan sayang ma aku?"
Alisha tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Tunggu waktu ya, sampai aku beneran yakin, kalo aku suka kamu," ucap Alisha meyakinkan.
"Sampai kapan?"
"Entah!" jawab Alisha enteng.
"Kamu tau alasan aku kepingin nikahin kamu?"
"Biar halal?"
"Biar tenang, mungkin selama ini kita terbiasa hidup sendiri, tapi, aku merasa hidup bersama itu lebih baik,"
"Belum tentu, buktinya, bagi mamah, bersama dengan papah, tidaklah lebih baik,"
"Mungkin, makna cinta untuk ibu kamu hanya sebatas harta, dan aku harap, harta bukan jadi masalah kamu nolak aku,"
"Nggak, aku udah biasa hidup kekurangan, apalagi sekarang, aku udah terbiasa mencari penghidupanku sendiri,"
"Kalo soal harta, aku rasa aku bisa menghidupimu, bahkan kita bisa kuliah bareng, aku punya usaha sendiri, aku gak berada di bawah ketiak papahku,"
"Iya, aku tau, aku hanya belum siap punya tanggung jawab sebagai istri, aku juga gak mau punya anak usia dini,"
"Aku juga, aku belum ingin jadi papah muda, risih juga usia kita dipanggil ayah ibu, atau papah mamah,"
"Hehehe, iya bener, aneh rasanya,"
"Jadi, mau kan nikah sama aku?"
"Gak sekarang!"
Aliando hanya tersenyum. Ia memasang wajah serius penuh ancaman, "Lihat saja, aku akan menikahimu secepatnya, karena sampai kapan pun kamu gak akan pernah siap menikah," gumam bathinnya.
π΅
"Halo, Sayang, akhirnya kita bertemu di sini! Sudah ku bilang, kita berjodoh! Walaupun aku cukup kesulitan menemukanmu setahun ini, tapi ternyata Tuhan sangat menyayangiku, dan kamu gak akan bisa pergi lagi!" kata seseorang yang tiba-tiba menghampiri meja tempat Aliando dan Alisha menikmati cappucino.
Ia datang dari arah belakang Aliando dan langsung berhadapan dengan Alisha tanpa memedulikan keberadaan Aliando disitu.
Suara bass yang sangat familiar di telinga Alisha, ia pun segera melihat lelaki yang kini berdiri tepat di dekatnya.
"Sam?" Alisha terhenyak. Ia sangat terkejut, ada rasa takut yang kembali ia rasakan. Wajah cantiknya memucat dan ia tidak tahu harus berbuat apa.
__ADS_1
"Ternyata, kamu pergi ke kota ini, hm? Kamu selama ini sembunyi di sini, Sayang?" tanya lelaki itu dengan nada tegas dan penuh penekanan di setiap katanya, ada kekecewaan, sakit hati, dan amarah saling bercampur.
Tangan kanannya memegang dagu Alisha, dan menekannya agak kuat. Sepertinya, ia benar-benar geram dengan kelakuan Alisha yang telah membuatnya emosi.
"Hei! Lepaskan tanganmu! Jangan menyentuhnya sedikitpun!" Aliando yang tidak terima melihat Alisha diperlakukan demikian oleh lelaki itu, segera berdiri kemudian mencengkram tangan orang tersebut guna menyingkirkannya dari dagu Alisha.
Lelaki itu dan Aliando kini berhadapan, dengan tangan yang masih dicengkeram kuat oleh Aliando.
"Oh ...? Aliando?" tanya lelaki itu memastikan, ia seakan mengingat dan mengenal Aliando.
"Samudra?" Aliando langsung melepas cengkeraman tangan lelaki yang bernama Samudra ini.
Rupanya Aliando dan Samudra saling mengenal. Keduanya sempat terkejut, dan akhirnya bertatapan cukup lama, penuh dendam dan amarah. Sementara, dari ketiganya yang ada disitu hanya Alisha yang paling tidak menyukai situasi seperti ini.
"Siapa dia, Sayang?" tanya Samudra sambil melirik Alisha penuh tanya yang harus segera dijawab.
Namun gadis itu memilih diam. Bukan bingung, tapi dia memang tidak ingin menjawab, karena sudah dipastikan akan terjadi sesuatu antara Aliando dan Samudra.
"Jangan bilang selama di sini, kamu selingkuh dengannya, hagh?" tanyanya lagi penuh penekanan.
Aliando hanya memperhatikan Alisha yang merasa terancam dan ketakutan. Otaknya dengan cepat bekerja mencermati situasi yang terjadi antara Alisha dan Samudra. Pasti Alisha dan Samudra memiliki hubungan di masa lalu dan sesuatu telah terjadi sehingga Alisha merasa takut terhadap Samudra. Itu yang ada dalam benak Aliando.
Tatapan Aliando dan Alisha bertemu, lalu Aliando memberi isyarat dengan matanya, mengatakan 'tenanglah semua akan baik-baik saja'.
"Jawab, Sayang, kamu kan tau, kalo aku paling tidak sabaran kalo harus menunggu?"
"Dia pacarku!" jawab Alisha tegas. Walaupun sebenarnya Alisha merasa takut, ia tetap mencoba berani. Ia yakin, Aliando akan melindunginya.
"Beraninya! Dasar kelinci nakal!" Samudra emosi, ia menggebrak meja sangat keras.
"Minggir lo, ini urusan gue dengan kelinci nakal ini!"
"Urusan dia menjadi urusanku sekarang!" tegas Aliando, ia sama sekali tidak ingin menyingkir.
"Oh, sekarang seorang pembunuh sudah jadi pahlawan rupanya?" kata Samudra pedas.
"Oh, ternyata selain jadi pengecut dan pecundang, kamu sekarang jadi pemfitnah?" ujar Aliando tak kalah pedas.
Samudra yang mudah tersulut emosi segera menarik kerah baju Aliando. Namun Aliando pun segera menahan dengan kedua tangannya.
Penjaga kafe dan lainnya mulai mendekat bermaksud melerai, dan pada akhirnya, perkelahian pun tidak sampai terjadi.
π΅
"Abang mengenalnya?" tanya Alisha pada Aliando, Saat ini mereka sudah berada di rumah Alisha, tepatnya di teras. Duduk lesehan bersantai beralaskan karpet. Sejak keluar dari kafe, mereka sama sekali tak ada yang memulai pembicaraan. Setelah sampai di rumah Alisha dan keduanya duduk di teras, barulah Alisha bertanya.
"Samudra?" walaupun sudah tau siapa yang dimaksudkan oleh Alisha, namun Aliando sengaja memastikan dengan pertanyaannya.
" Iya,"
"Dulu kami bertemu di turnamen bela diri, dia lawan yang cukup hebat, beberapa kali dia bertemu tanding denganku, namun, selalu aku bisa mengalahkannya,"
"Waktu SMP ya?" Alisha ingat pernah mendapatkan cerita dari Melly, jika Aliando saat SMP adalah atlet bela diri.
__ADS_1
"Iya, terakhir kali, kami bertemu di turnamen tiga tahun yang lalu, akhir SMP,"
Alisha mengangguk mengerti.
"Lalu, kenapa abang di bilang pembunuh?"
"Apa kamu percaya?"
"Ya nggak lah, hanya saja aku penasaran kisahnya,"
"Itu karena ada lawan yang meninggal saat bertanding dengan ku!"
"Wah, abang pake jurus apa sampai mematikan lawan?
"Tak ada, setelah dua pukulan dan satu tendangan, tiba-tiba lawanku tumbang, dia kejang, dan ketika ditangani oleh medis, dia dinyatakan meninggal," jelas Aliando kemudian dia menghentikan ceritanya, seakan malas untuk mengingatnya apalagi harus menceritakannya.
"Terus?" Alisha masih penasaran dengan cerita yang sebenarnya.
"Apa?"
"Iya kejadian selanjutnya, apa abang dinyatakan bersalah atau tidak?"
"Aku tidak bersalah, karena dia meninggal bukan karena aku, akan tetapi pemakaian doping berlebihan,"
"Hah, overdosis maksudnya?"
"Iya,"
"Wah SMP udah pake doping? kan bahaya," komentar Alisha yang mendapatkan anggukan dari Aliando.
"Lalu, apa karena hal itu, setelah tamat SMP, abang berhenti menjadi atlet bela diri?"
"Iya, itu salah satu alasannya, tapi, alasan utamanya karena aku gak mau jadi idola, untuk itulah, saat SMA aku masuk klub sepak bola sekolah, karena kita kerja tim,"
"Hahaha, ternyata sama aja, abang malah jadi kapten tim, dan jadi idola semua cewek-cewek, Alilo dan Alianers,"
"Hmm, mereka memang aneh,"
"Tapi emang kamu pentes jadi idola, Bang, semua bidang kamu nomer wahid, olimpiade bahasa Inggris, MIPA, juga jadi juara umum sekolah,"
"Iya, dan itu hal yang paling tidak aku sukai,"
"Tapi aku suka, aku beruntung, bisa jadi pacar sang idola, tanpa harus capek-capek ngejar,"
"Hahaha, iya, kamu beruntung, karena akulah yang menyukaimu terlebih dahulu?"
"Iya ya, apa coba alasannya? padahal kita gak kenal sebelumnya, bahkan aku lihat di sekolah banyak yang cantik dan pinter, tapi kenapa kamu gak tertarik?"
"Feel, Cha,"
"Ah iya lah iya, feel kamu memang gak pernah salah," ucap Alisha yang sudah hafal betul kalimat Aliando.
Aliando hanya tersenyum.
__ADS_1
"Lalu siapa Samudra sebenarnya, apa hubungan kamu dengan dia, hm?" tanya Aliando membuat Alisha terdiam sesaat.
...π»π»π»π»π»...