
Alisha yang sedang duduk di bibir tempat tidur hanya diam sambil memejamkan mata saat Aliando menciumnya. Kedua tangan ke belakang menahan tubuhnya, agar tidak jatuh di kasur.
Akhirnya, Aliando menahan tengkuk Alisha agar dia tidak kepayahan menahan tubuhnya, sehingga kini kedua tangannya merangkul pinggang Aliando. Namun, sayang, ketika Aliando telah melepaskan ciumannya, Alisha justru menarik handuk Aliando dengan cepat. Kemudian ia segera berdiri dan berlari menuju kamar mandi.
"Gantian, aku mau mandi," kata Alisha nyengir sambil menutup pintu kamar mandi.
Sementara Aliando hanya bisa bengong, ia terduduk di bibir tempat tidur sambil menutup tubuhnya menggunakan bantal.
"Awas kamu, Cha, kamu gak akan aku ampuni!" ancam Aliando.
"Terserah!" teriak Alisha dari dalam kamar mandi.
Akhirnya Aliando segera mengenakan celana boxernya, kemudian ia berbaring kembali sambil memainkan ponselnya.
Kurang lebih lima belas menit kemudian Alisha keluar kamar mandi, ia hanya berbalut handuk yang menutupi dada sampai bagian pahanya.
"Ups! Abang tetap lihat hape, jangan lihat sini!" kata Alisha mode serius.
"Apa? jangan lihat hape? tapi lihat ke situ?" tanya Aliando malah sengaja melihat ke arah Alisha, ia segera menyimpan ponselnya di kasur begitu saja. Kemudian ia berdiri menghampiri Alisha.
"Eh, Abang mau apa?" tanya Alisha.
"Menurutmu aku akan melakukan apa jika kamu menggodaku, hm?" tanya Aliando melingkarkan kedua tangannya di pinggang Alisha.
Alisha mengerjapkan matanya memperhatikan kedua netra Aliando, ia mencoba menemukan maksud dari ucapan Aliando, dan hasilnya ia hanya bisa pasrah apalagi saat Aliando menggendong dan membawanya ke tempat tidur, lalu dengan lembut ia membaringkannya di kasur.
"Gak papa kan?" tanya Aliando, sambil membelai lembut pucuk kepala Alisha. Gadis cantik yang telah resmi menjadi istrinya itu langsung menganggukkan kepalanya pelan dan sangat yakin.
Aliando tersenyum.
"Yakin?" tanya Aliando.
Alisha kembali mengangguk.
"Boleh ya, sekarang?" tanya Aliando masih memastikan jika istrinya itu yakin untuk melakukannya.
Lagi-lagi Alisha mengangguk. Wajahnya makin merona berwarna merah muda, menahan hasrat dan rasa malu.
Setelah menemukan jawaban yang membuatnya yakin, Aliando pun kemudian mengecup kening Alisha agak lama, dan melanjutkan mencium kedua mata, pipi, dan hidung Alisha.
Ada getaran hebat yang indah terjadi di hati mereka, jantung keduanya berdetak cepat dan tak karuan, ada desiran indah dan tak biasa dirasakan oleh mereka, sehingga rasa hangat pun menjalar dalam tubuh keduanya. Terlebih, saat Aliando mulai mendaratkan ciumannya di bibir mungil dan indah milik Alisha dan memperdalamnya.
Segenap rasa yang kumiliki
Kuserahkan hanya untukmu, Cintaku
Aku hanya ingin selalu berbahagia denganmu
selamanya bersamamu
Ku mohon, jangan pernah meninggalkan aku
__ADS_1
Aku mencintaimu, Alisha-ku
(Aliando Ivander)
Ini adalah cintaku
Aku hanya menyerahkan kepadamu
Janganlah engkau ragu lagi,
hatiku ini hanya milikmu.
Tolong, jagalah aku, jagalah cintaku selama hidupmu
Aku mencintaimu, suamiku tersayang
(Alisha Leandra)
π΅
Aliando memeluk Alisha, lalu mengecup keningnya lembut, sementara Alisha masih saja membenamkan wajahnya di dada Aliando. Rasanya ia masih ingin berlama-lama merasakan kehangatan yang Aliando berikan.
"Makasih, Cha," ucap Aliando, lagi-lagi ia membelai pucuk kepala Alisha dan menciuminya beberapa kali. Alisha mengangkat kepalanya, menatap mata indah milik Aliando sehingga keduanya saling memberikan senyuman terbaiknya dengan pandangan mata yang saling menembus hati mereka. Seakan-akan menggambarkan apa yang baru saja dan sedang mereka rasakan adalah sebuah kebahagiaan yang istimewa di subuh ini.
Hening sejenak, mereka saling menetralkan perasaan mereka dan mencoba menormalkan kembali detak jantung yang sempat berdegup kencang.
"Subuh, Cha," kata Aliando saat samar-samar terdengar suara adzan Subuh.
"Mandi yuk, trus, nanti kita sholat berjamaah," ajak Aliando.
"Yah, mandi lagi deh," keluh Alisha.
Aliando hanya tersenyum.
"Ayok, aku gendong, apa masih sakit?" tanya Aliando.
Gadis itu menggeleng perlahan.
"Masih sih, tapi udah gak papa kok, Bang," jawab Alisha malu-malu.
"Maaf ya," kata Aliando merasa bersalah.
Alisha hanya mengangguk kecil, karena pada dasarnya, ia tahu jika Aliando tidak bermaksud menyakitinya.
"Ya sudah, aku mandi duluan ya," kata Aliando yang kemudian mendapat anggukan dari istrinya itu.
Pada akhirnya, Aliando menggendong Alisha ala bridal style ke kamar mandi, setelah sebelumnya Aliando menyelesaikan ritual mandinya terlebih dahulu.
"Ya ampun, Cha, ini darah," kata Aliando ketika merasakan ada yang basah dari balik handuk yang dikenakan Alisha.
"Hah, yang bener Bang," Alisha ikut panik. Ia pun segera memeriksanya.
__ADS_1
"Kamu datang bulan lagi?" tanya Aliando.
"Nggak, ini bukan waktunya kok," jawab Alisha.
Kemudian mereka saling tatap penuh kebingungan. Namun, Aliando segera menyadari sesuatu. Ia pun tersenyum dengan sangat apik.
"Udah, mandi aja, gak papa," perintah Aliando.
"Hmm?" Alisha mengernyitkan kening tak mengerti.
"Makasih ya, udah ngejaganya untuk aku," ucap Aliando sambil mengecup kening Alisha. Ia tahu, darah yang keluar adalah sesuatu yang istimewa, walaupun dia bukan penganut fanatik soal keharusan ada darah jika pertama kali berhubungan, namun ia merasa sangat bahagia.
Alisha paham dengan maksud ucapan Aliando 'menjaganya untuk aku'. Ia pun tersenyum bahagia dengan perasaan yang luar biasa.
Tak lama kemudian, setelah Alisha mandi, mereka pun melakukan sholat Subuh berjama'ah. Ini adalah sholat mereka yang dilakukan berjamaah untuk pertama kalinya, Aliando menjadi imam dan Alisha menjadi makmumnya, karena biasanya Aliando sholat di masjid.
Alisha mencium punggung tangan Aliando dengan sangat khidmat, sesaat setelah ia mengaminkan semua doa-doa yang dipanjatkan oleh Aliando, kemudian cowok tampan itu mengecup pucuk kepala istrinya penuh kasih sayang.
Aliando masih diam saat Alisha melipat alat sholatnya. Tatapannya datar seperti ada yang sedang ia pikirkan.
"Ada apa, Bang?" tanya Alisha merasa aneh.
Kini, giliran Aliando yang mencium punggung tangan Alisha, dan itu membuat Alisha semakin bingung.
"Maafkan aku, Cha!" tegasnya sambil memperdalam ciuman di punggung tangan Alisha.
"Ada apa, Bang? Kenapa minta maaf?" Alisha semakin merasa heran.
"Maaf, aku khilaf!" jawab Aliando terdengar penuh penyesalan. Ada yang menggenang di kelopak matanya. Kali ini ia sudah kembali duduk dengan tegak, namun kedua tangannya masih menggenggam erat tangan Alisha.
"Ada apa sih, Bang? Khilaf apaan? Abang yang jelas dong?" tanya Alisha tak sabar.
"Karna aku gak bisa menahannya, Cha, seharusnya kita tidak melakukannya sekarang-sekarang, kalaupun iya, seharusnya kita hati-hati, kamu masih sekolah, Cha, kalo hamil gimana?"
"Ya ampun, Bang, kenapa mikirnya kayak gitu sih? Aku kayak melakukannya dengan pacar tau gak, padahal, aku kan jelas melakukannya dengan suami sendiri, kenapa Abang merasa bersalah?"
"Kamu mau masuk kelas tiga ini, tapi kalo ada anak, itu bakal jadi beban buat kamu!" tegas Aliando sambil mengusap perut Alisha.
"Gak papa, Bang, akunya juga mau, dan lagi, kalo iya hamil pun, ya nggak masalah, kan ma suami sendiri, ada yang tanggung jawab,"
"Seharusnya jangan, Cha, kasihan kamu, usia kamu belum boleh hamil! Maaf, aku egois, aku khilaf," tegas Aliando penuh penyesalan.
"Abang gak usah khawatir ya," Alisha mencoba menenangkan.
"Nggak, Cha, aku gak tenang, paling tidak, seharusnya saat kita akan melakukannya, kita ada persiapan, memakai ... yaaa, kamu pasti tau ...,"
"Tau, aku tau kok Bang, aku juga sadar kok, jadi Abang jangan bilang ini khilaf ya, karena ini adalah ibadah, Bang, pahala kan?" jelas Alisha santai dan cukup meyakinkan.
"Kamu gak papa?" tanya Aliando.
...π»π»π»π»π»...
__ADS_1