
"Kamu anaknya Rey?" tanya Shafiya, nenek Alisha pada Alisha.
Saat ini Alisha sudah berada di kamar rawat VVIP, tempat Adrian dirawat. Di sana, sudah ada Arga yang juga sedang menemani Adrian.
"Benar, Nek, saya Alisha," jawab Alisha sambil mencium tangan Shafiya.
"Ya Tuhan, akhirnya, aku bisa bertemu dengan kamu, maafkan nenek ya, maafkan nenek dan kakekmu," kata Shafiya sambil memeluk Alisha sangat erat. Air matanya mengalir di pipi, ada sebuah penyesalan yang mendalam dari lubuk hatinya, serta sebuah kerinduan yang begitu jelas tergambar di wajahnya pada Reynaldi, anaknya.
Hening sesaat, melepas segala rasa yang ada di hati keduanya. Ini adalah pertemuan pertama mereka, pertemuan antara seorang nenek dan cucunya.
"Kamu cantik," komentar Shafiya sambil mengusap rambut panjang Aiisha.
"Nah, Ma, sudah acara mengharu birunya, kenalin ya Ma, ini calonnya Arga, restui mereka," sela Armadon.
"Apa?" Shafiya terkejut, ia segera melepaskan pelukannya dan melepas pandangan ke arah Armadon. "Kamu pasti membuatnya terpaksa menikah dengan Arga, ya, kan?" lanjutnya.
"Sudahlah, Ma, kita sudah sering membicarakan ini ... karena Mama tidak bisa membantuku membujuk Papa, maka jangan salahkan aku berbuat sesuai keinginanku,"
"Apa kamu mau, Ga?" tanya Shafiya pada Arga kali ini.
"Dikasih cewek cantik, tentu Arga mau lah, Nek," kata Arga sekenanya.
Alisha terpaku mendengar jawaban Arga. Ia tidak menyangka jika Arga tidak seperti pemikirannya selama ini.
"Tapi aku yang gak mau," sanggah Alisha.
"Untuk menikah, gak perlu kamu mau atau tidak, yang penting kalian udah saling kenal, entar soal rasa suka bisa menyusul," jelas Armadon.
"Kamu gak bisa memaksa orang, Don!" Shafiya mulai emosi.
"Udah Ma, diem aja kalo Mama masih pengen hidup dan selamat," tukas Armadon.
"Kamu gila!" Shafiya makin emosi namun tak berdaya sama sekali.
"Aku gak bisa menikah karena aku sudah menikah," sela Alisha tegas.
"Apa? Gak usah gila!" kata Armadon terkejut.
"Kamu sudah menikah?" tanya Shafiya ikut terkejut.
"Iya, Nek," jawab Alisha singkat.
"Kok bisa, kamu kan masih muda? kamu hamil?" tanya Shafiya lagi.
"Enggak, Nek, jangan khawatir, Cha dan suami baik-baik menikah, karena cinta,"
"Kamu bohong, kan?" tanya Arga memastikan.
"Aliando suami aku, kamu tau dia, kan?"
__ADS_1
"Cowok kasar yang waktu itu?" tanya Arga sembari mengingat-ingat.
"Kamu hanya mengetahuinya, tidak mengenalnya, jadi gak usah berkomentar buruk tentang dia," ujar Alisha.
"Jadi, cowok yang dekat denganmu itu sudah menjadi suami kamu? Pantes aja, kalian berani hidup bareng satu rumah," komentar Armadon.
"Iya," jawab Alisha cepat.
"Berarti ada kemungkinan, sekarang, dia sedang mencarimu?" tanya Armadon.
"Itu sudah pasti!" jawab Alisha penuh keyakinan.
"Kalo gitu kita harus mencari kembarannya kamu nikahi aja saudaranya," usul Armadon.
"Apa? Rey punya anak kembar?" tanya Shafiya.
"Iya," jawab Armadon singkat.
"Kalo nggak, suruh dia cerai aja, Pah," kali ini Arga memberi usul.
"Tapi, kita perlu kamu menikah sekarang, sebelum kakekmu meninggal,"
"Tetep aja kan, cari kembarannya pun butuh waktu, cerai juga butuh waktu, harus ada pernyataan cerai dari suaminya," kata Arga.
"Aaargh, ini bisa gila!" ketus Armadon terlihat putus asa.
π΅
Dua hari yang lalu, kek Haidar dan pak Idris mengabarkan jika Adrian kritis dan dirawat di rumah sakit miliknya di kota tersebut. Aliando diminta mengawasi rumah sakit dan rumah Adrian.
Sayang, rumah dengan alamat yang diberikan oleh Haidar ketika itu, terlihat sepi dan tak berpenghuni, untuk itulah, Aliando memutuskan menunggu di rumah sakit tepatnya di koridor yang tak jauh dari kamar Adrian dirawat.
Mereka mencurigai jika Alisha diculik oleh Don, karena harta warisan diketahui telah berpindah tangan pada anak-anaknya Reynaldi.
Dari kejauhan, ia memandang ke arah kamar rawat Adrian ada dua sampai empat penjaga disisi kanan dan kiri pintu kamar.
Sampai malam ini, sebenarnya, Aliando masih belum juga melihat adanya Alisha datang ke rumah sakit. Namun, ia yakin, jika di kamar tersebut adalah kakeknya Alisha.
Hanya beberapa kali saja, ia melihat Arga masuk ke kamar rawat itu. Selebihnya ia juga sempat melihat seseorang yang ia duga adalah Armadon.
Aliando cukup cerdas, hampir semalaman dia berada di dekat kamar tersebut, namun, keberadaannya ia atur agar tidak mencurigakan.
Namun sayang sekali, saat Alisha datang ke kamar tersebut, Aliando sedang ke mini market, membeli beberapa keperluan untuk bergadang.
π΅
"Sini kamu!" kata Armadon pada Alisha malam itu di kamar rawat Adrian. Sejak siang, Alisha memang tidak bermaksud kembali ke rumah, ia hanya ingin menemani Shafiya dan Adrian di rumah sakit.
Armadon menarik lengan Alisha dengan paksa. Dilemparkannya sebuah map di hadapan Alisha.
__ADS_1
"Tandatangani ini, kamu harus segera cerai dengan laki-laki itu!" kata Armadon penuh paksaan.
"Aku gak mau cerai!" kata Alisha sambil menggelengkan kepalanya.
"Ada apa ini, Don? Jangan buat keributan, kasihan papah," bentak Shafiya yang terbangun karena keributan yang disebabkan oleh Armadon di kamar itu.
"Om nyuruh Cha menandatangani surat cerai, Nek, tapi Cha gak mau," tolak Alisha.
"Don, kamu nggak bisa sembarangan, dia sudah menikah dan kamu jangan memaksakan dia untuk cerai dari suaminya,"
"Ma, apa Mama tahu siapa yang dinikahi cucu mama?" tanya Armadon penuh rasa kesal.
Shafiya hanya terdiam, memandang Armadon penuh tanya.
"Dia menikah dengan cucunya Haidar," tegas Armadon.
Shafiya terpaku, ia terkejut, dan ingatannya kembali ke masa beberapa tahun lalu, ketika dia dipermalukan oleh Aliandra dan keluarganya tepat di hari pernikahan Reynaldi.
"Anaknya ... Aliandra?" tanya Shafiya agak terbata.
"Iya," jawab Armadon.
"Ya Tuhan," Shafiya menarik nafas panjang. Ia tidak mampu berkomentar lebih. Nyatanya, kebencian pada keluarga Khaidar kembali muncul, dan lukanya kembali menganga.
"Benarkah kamu menikahi cucu dari Maryam, anaknya Aliandra?" tanya Shafiya pada Alisha penuh rasa kecewa.
"Iya, Nek," jawab Alisha, ia cukup mengerti apa yang dirasakan oleh Shafiya. Namun semua itu adalah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri lagi, dan beruntungnya, Alisha telah mengetahui masalah ini sebelum dirinya diculik.
Shafiya terdiam menahan amarah dan kecewa. Ia benar-benar tidak menyangka, semua adalah takdir, apa yang seharusnya terjadi, maka terjadi, keluarganya memang harus berhubungan dan memiliki ikatan dengan keluarga Haidar. Walaupun bukan anaknya yang berjodoh, nyatanya cucunya yang berjodoh.
"Apa kamu tau siapa suamimu itu? Dia anak dari Aliandra, orang yang mengecewakan ayah kamu," jelas Shafiya.
"Iya, Cha tau, Nek,"
"Kamu tau? Tapi kenapa kamu masih mau menikah dengannya? mereka sudah menyakiti kita terutama ayahmu!" jelas Shafiya tegas.
"Awalnya, Cha tidak tau, baru tiga hari ini Cha mengetahuinya," jawab Alisha.
"Lalu kamu tidak merasa sakit hati?"
"Suami Cha orang yang baik dan perhatian, dia sayang sama Cha, dia tidak pernah menyakiti Cha,"
"Tapi ibunya sudah menyakiti dan mempermalukan ayahmu di depan umum,"
"Yang melakukan kesalahpahaman itu papah dan mamahnya, kami sebagai anak, tidak tau sama sekali... Tuhan mentakdirkan kita bersatu pasti dengan maksud agar kita hidup penuh damai ... Apa kebencian, sakit hati, dan kekecewaan harus diturunkan? Bahkan almarhum papah tidak pernah memiliki dendam apapun, sekalipun sama mama kandung Cha, yang jelas menyakiti dan meninggalkan kami,"
Shafiya terdiam. Sedikitnya ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Alisha.
...π»π»π»π»π»...
__ADS_1