
"Maaf, kita gak mau kamu salah dapat pacar, Al," kata Benni.
"Kalian percaya?" tanya Aliando.
"Kita sebenarnya gak percaya jika Alisha melakukan itu, tapi kalo di logika dan lihat bukti ini, jujur, kita jadi ragu-ragu," akhirnya Rafael buka suara. "Apalagi sekarang, dia ketemuannya di hotel, yaaa, walaupun cuma di restoran," imbuhnya.
Aliando menarik nafas panjang, andaikan mereka tahu, bahkan Aliando pernah memergokinya di sebuah kamar hotel.
"Apapun Alisha aku akan tetap mencintainya," tegas Aliando.
"Jangan bucin, Al, dia bukan yang terbaik buat lo!" kata Robby yang mendapatkan anggukan dari Benni.
"Bagiku, dia yang terbaik,"
"Masih banyak cewek baik-baik buat lo, Al!" kata Benni.
"Kita belum tau kebenarannya, kan?" kata Aliando masih membela diri, perasaannya masih menolak jika Alisha termasuk gadis cabe-cabean.
"Ya udah, kalo lo masih ingin juga dengan dia, kita gak bisa apa-apa," kata Rafael mengalah dan tak ingin memperpanjang masalah.
"Tapi gue gak terima kalo sahabat gue dapetin cewek kayak gitu, cantik sih tapi murah sih untuk apa," ujar Robby tanpa saring kata, hingga Benni dan Rafael sempat memberi kode dengan mata mereka yang sedikit melotot.
"Terserah kalian mau anggap aku bodoh, bucin atau apa, yang jelas, feel aku gak pernah salah," kata Aliando sangat yakin.
"Ya udah, Raf, aku duluan ya, aku mau ikutin mereka," pamit Aliando terburu, saat dilihatnya, Alisha pergi bersama pria tersebut.
"Yakin lo gak papa?" tanya Benni.
"Aku gak apa-apa,"
"Hati-hati, Al, kalo butuh kita, kita selalu siap!" kata Rafael yang kemudian diiyakan oleh Benni dan Robby.
βοΈ
"Ada apa? kok wajahnya kayak gitu?" tanya Alisha pada Aliando saat di teras rumah Alisha malam itu. Ternyata Aliando kehilangan jejak Alisha, dan akhirnya ia memutuskan menunggu Alisha di pos satpam kompleks bersama pak Mamat. Ada perasaan lain, pikiran buruknya sampai pada titik dimana Alisha 'ngamar' dengan pria itu.
"Masih marah ya, karna aku tadi gak mau diajak ke acaranya Rafael?" Alisha melirik Aliando, ia duduk di samping cowok itu, dengan kedua tangan memeluk lututnya.
"Menurutmu?" tanya Aliando.
"Menurut ku sih, kamu gak marah," jawab Alisha cuek, pandangannya kembali ke depan.
Aliando menghembuskan nafasnya kasar. Gadis ini benar-benar tidak peka, atau memang dia sengaja tidak memedulikan perasaan Aliando.
"Jadi siapa bapak itu?" tanya Aliando akhirnya. Ia sudah tidak tahan menahan rasa penasaran yang terus berputar di pikirannya.
"Oh, itu, pak Haikal," jawab Alisha santai.
Aliando merasa pernah mendengar nama tersebut.
"Dia guru aku, sahabat papah, masih inget?" Alisha memberi penjelasan.
"Dia yang nyuruh aku pindah ke sini!"
__ADS_1
Aliando mulai mengingatnya, Alisha memang pernah menceritakan hal itu.
"Apa? Tunggu dulu, apa mungkin Alisha dan gurunya ada hubungan? Ya Tuhaaaaaaan," jerit hati Aliando.
"Lalu, kalian kemana tadi setelah dari restoran,"
"Kenapa ingin tau?"
"Aku butuh tau, Cha,"
"Aku gak kemana-mana,"
"Tapi aku cari gak ada,"
"Tunggu! Kamu ngikutin aku?"
Aliando terdiam. Ia salah, padahal ia tahu, Alisha paling tidak suka jika ia ikut campur urusannya.
"Maaf, aku cemburu,"
"Apa? cemburu? sama pak Haikal?"
Aliando terdiam, tak dapat menjawab.
"Apa aku gak boleh cemburu? bukankah cemburu tandanya sayang?" tanya Aliando menegaskan.
"Sayang boleh, tapi jangan norak dan bodoh, katanya kamu juara umum, dipake dong logikanya! Masa iya, kamu cemburu sama guru aku? Dia yang ngejaga aku setelah papah meninggal, sampai akhirnya aku disuruh ke kota ini,"
"Cinta gak pakai logika, Cha, tapi pakai perasaan, wajar ketika aku ngelihat kamu jalan sama orang, sementara ajakan dari aku, kamu abaikan,"
"Maaf, aku belum terbiasa memiliki seseorang, yang kalo kemana pun aku pergi aku harus ijin, atau kalo aku ada urusan, aku harus ngasih tau pasanganku ...," jelas Alisha meminta maaf karena sudah menolak ajakan Aliando, karena dia memang sudah lebih dulu ada janji dengan pak Haikal.
"Dan aku gak tau caranya punya pasangan, bagi aku, jika kita sudah komit jalani sebuah hubungan, rasa saling percaya itu sudah cukup, maaf kalo itu tidak sejalan dengan pandangan kamu," lanjutnya.
"Untuk itu kalau kamu gak percaya sama aku, hentikan aja perasaan kamu buat aku, daripada tersiksa bathin kamu!" kata Alisha kembali menatap Aliando. Ucapannya kali ini sangat serius.
"Aku cinta kamu, Cha, dan itu untuk selamanya, gak mungkin aku menghentikan perasaan ini begitu saja! Aku minta maaf jika rasa cemburu ku, membuat kamu merasa tidak nyaman," tegas Aliando membalas tatapan Alisha.
"Kedepannya, aku akan berusaha untuk tidak cemburu, untuk tidak norak dan bodoh!" lanjut Aliando.
Alisha memindai mata Aliando, terpancar kesungguhan di situ hingga membuat hati Alisha sangat terharu .
"Apa kamu percaya padaku?" tanya Alisha sambil mengulurkan tangan mengusap pipi Aliando.
"Aku percaya, sangat percaya," Aliando mengangguk, tangannya menggenggam tangan Alisha yang masih ada di pipinya. Kemudian ia menciumi punggung tangannya beberapa kali.
"Aku nggak pernah izin pada siapapun, begitu pun ketika aku hidup sama papah, papah membebaskan aku, asal pulang tepat waktu,"
Aliando mengangguk tanpa melepaskan genggaman tangannya.
"Apa aku harus melaporkan semua kegiatan aku sama kamu?" tanya Alisha.
"Gak perlu, Cha,"
__ADS_1
"Maaf, aku bener-bener belum terbiasa menjalani suatu hubungan, aku kira cukup dengan rasa percaya,"
"Kamu benar, kepercayaan adalah segalanya, kalo hal itu sudah tidak ada, maka hancurlah sebuah hubungan, maafkan aku sudah cemburu, itu karena aku sangat menyayangimu,"
"Maafkan aku juga, karna udah abai dengan perasaan kamu, bukan berarti tidak menghargai kamu, tapi aku merasa, kalo aku masih memiliki kebebasan untuk mengurus segala sesuatu tentang hidup ku, karena aku hidup sendiri, aku gak punya siapa-siapa, dan aku harus bisa survive, because life must go on,"
"Kamu gak sendirian, Cha, selain Tuhan, kamu memiliki aku, Cha,"
"Kamu bukan suamiku,"
"Maka jadilah istri aku!" pinta Aliando tegas.
"Tapi aku gak bisa menggantungkan hidup aku sama kamu, meskipun kelak kamu jadi suamiku,"
"Tapi paling tidak, kebersamaan yang kita jalani ini menjadi berarti dan tidak sia-sia,"
Alisha tersenyum haru, matanya mulai berkaca-kaca. Benarkah, Aliando seseorang yang tepat untuknya? terlalu dini menuju pernikahan, sementara menikah itu bukan cuma perkara remeh tentang cinta, ada persoalan yang lebih kompleks dari semua itu.
"Udah ah, ga usah ngomongin tentang nikah, masih kecil usia kita untuk ke arah sana,"
"Dibawah umur dua puluh tahun, tapi kita sudah baligh, Cha,"
"Iya, tapi mental kita belum siap,"
"Tapi feel aku mengatakan jika kita siap,"
"Kamu siap, aku nggak,"
"Aku ingin kita halal, Cha,"
"Ck, nikah, nikah," kata Alisha melepas genggaman tangannya kemudian mengetuk kening Aliando sekali dengan penuh kelembutan. "Pikirannya jangan nikah mulu, ingat, besok udah ujian akhir kelulusan kelas dua belas, belajar gih, persiapan sana!"
"Kalo soal ujian akhir aku udah siap,"
"Ah iya, aku lupa kalo pacarku ini juara umum yang otaknya encer, tapi tetep aja kamu harus pulang, udah jam sembilan nih," kata Alisha sambil memperlihatkan jam di ponselnya.
"Eh, udah jam sembilan ya?" tanya Aliando kecewa.
"Hm," Alisha mengangguk.
"Ya udah, aku pulang ya," kata Aliando langsung bangkit dari duduknya, kemudian ia sempatkan mengacak pucuk kepala Alisha sebelum gadis itu ikut berdiri dan dengan segera ia melangkah menuju pintu pagar.
"Bang, tunggu!" panggil Alisha sambil. berlari mendekati Aliando.
"Ada apa?"
...π»π»π»π»π»...
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
Halo kak readers mampir juga yuks ke novel sahabatku kak AG Sweetie Judulnya Not You pokoknya seru n kereeen bgt, jgn lupa dukungan buat authornya yaaa.... πππ
__ADS_1
...Happy Reading yaaπππ...
...π»π»π»π»π»π»π»π»π»π»...