Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
69. Berdamai


__ADS_3

Aliando menatap ayahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kerinduan, sakit hati, dan perasaan iba saat melihat ayahnya. Empat tahun tidak bertemu, ada perubahan di wajah Arsyad, garis wajah yang memperlihatkan semakin menua namun tampak semakin gagah dan bijaksana.


"A-lian-do ...." Arsyad tak percaya jika anak lelaki tersayangnya telah kembali. Ia menghentikan aktivitasnya mengeluarkan pakaian-pakaian Vanya dari dalam lemari.


"Kamu pulang?" tanya Arsyad.


"Tidak, Al hanya berkunjung," ucap Aliando tegas.


Arsyad menarik nafas panjang, kecewa, ada rasa nyeri di sudut hatinya. Karena sesungguhnya ia sangat berharap Aliando datang untuk kembali, hidup bersama dan melupakan masa lalu yang tidak jelas siapa yang bersalah.


Namun di saat ini, ia tahu, kebahagiaan ini hanya semu, Aliando datang ke rumahnya pasti ada maksud tertentu yang benar-benar penting.


Meskipun pertemuan ini tidak sepenuhnya mengobati rasa rindu yang telah mengakar selama empat tahun ini, tapi ia sangat bersyukur, tanpa kehadiran dirinya dalam hidup Aliando, nyatanya Aliando telah tumbuh lebih baik, dia adalah anak lelaki kesayangannya, yang kini terlihat lebih dewasa, semakin tampan dan gagah.


"Oh, ada apa? Langsung saja!" ucap Arsyad yang juga tak ingin berbasa-basi namun dengan rasa kecewa yang tertahan.


"Aku hanya ingin tau, apa hubungan papah dengan Alisha?"


"Alisha?"


"Ya, gadis yang bersama papah seharian ini!"


"Apa? apa kamu mengenalnya?"


"Ya!" jawab Aliando singkat.


"Apa kalian teman satu sekolah?"


"Lebih dari itu,"


"Pacar?"


"Cukup, Pah, jawab saja pertanyaanku!"


"Kami tidak ada hubungan apa-apa, kecuali dia bekerja untuk papah,"


"Pekerjaan apa?"


"Emm, papah tidak bisa bilang,"


"Pekerjaan apa, Pah? Kenapa kalian harus masuk hotel, jalan-jalan di mall, makan di kafe?"


"Hei, tunggu! jangan bilang kamu mencurigai Papah,"


"Al hanya penasaran, bukan curiga, Al hanya ingin kepastian,"


"Kamu mencurigai papah? Kamu kira papah main-main dengan anak kecil?"


"Terserah papah mau main dengan siapapun, mau wanita dewasa atau gadis kecil, Al gak peduli, asal jangan Alisha!"


"Wah, apa sebegitu buruknya papah di mata kamu Al?"


"Maaf, Pah, semenjak Al tau Papah menikah dengan wanita yang bernama Vanya, Al udah ga percaya lagi dengan papah, karena papah sudah tidak bisa memilih wanita baik-baik,"


Arsyad terdiam, ia menyadari hal ini, ia salah dalam memilih pasangan hidup.


"Maafkan Papah," kata Arsyad penuh penyesalan.

__ADS_1


"Sudah Al maafkan," kata Aliando cepat.


"Maaf papah sudah menampar kamu waktu itu demi membela Vanya,"


"Gak perlu diungkit, sudah terjadi, Pah, Al juga sudah tidak peduli papah mau dekat dengan siapa, tapi Al mohon, papah jangan dekati Alisha, Al cuma punya dia,"


"Hmm, dia pacarmu? Dan kamu takut dia main dengan papah?"


"Tidak, tapi kalo sampai papah dekati dia, Al gak akan segan bertindak,"


"Hoh, rupanya kamu semakin punya nyali," Arsyad mulai terpancing emosi.


"Jawab Al, Pah, Al sedang tidak ingin berdebat,"


"Pergilah! Kamu gak akan dapat jawaban dari papah!"


Aliando menarik nafasnya panjang. Tatapan keduanya beradu. Sangat sulit untuk dilukiskan, antara rindu, kecewa dan marah.


Ah, mata itu, mata milik Aliando, sama seperti milik Aliandra, dan hati Arsyad tiba-tiba merasakan rindu yang menggebu.


Sementara Aliando tiba-tiba saja teringat kata-kata Alisha untuk bisa berdamai dengan ayahnya. Ia menundukkan kepalanya, kemudian berbalik dengan maksud meninggalkan kamar itu.


"Apa kamu tidak merindukan papah, Al?" tanya Arsyad sebelum Aliando benar-benar melangkah meninggalkan kamar.


Aliando seketika itu juga menghentikan langkahnya, ia hanya berdiri mematung.


"Tak inginkah kamu berbalik dan memeluk papah? Papah merindukan kamu," kata Arsyad penuh permohonan.


Aliando masih terdiam, seperti memikirkan sesuatu.


Aliando berbalik, ia menatap Arsyad penuh kerinduan dan merasa bersalah.


"Maaf," hanya satu kata itu saja yang keluar dari bibir Aliando.


Ia teringat semua informasi tentang Arsyad sepeninggalnya empat tahun lalu. Bi Titi yang selalu memberikan informasi tersebut.


Arsyad yang mengalami sakit selama hampir dua minggu. Tidak diketahui penyebabnya, namun dokter pribadinya mengatakan, bahwa Arsyad mengalami demam kerinduan pada anaknya. Sama hal nya ketika sang ayah, ditinggal oleh istrinya, ia sempat sakit beberapa hari, sampai akhirnya Vanya memberikan semangat hidup yang baru.


Sesungguhnya, Arsyad memang seorang yang keras kepala namun hatinya sangat rapuh. Belum lagi, ketika dia harus masuk rumah sakit karena terkena serangan jantung ringan, terlalu stress.


Hati Aliando sakit saat mendengar kabar tersebut. Ia sempat ke rumah sakit, namun tertahan, tidak sampai menemui Arsyad, karena selalu ada Vanya di ruang rawat, setiap dia ke rumah sakit.


"Kenapa papah tidak hidup baik, bukannya ada tante Vanya?" gumam hati Aliando saat itu.


"Kemarilah, apa papah juga yang harus menghampirimu dan memelukmu?" tanya Arsyad sambil melambaikan tangannya agar Aliando menuju ke arahnya.


Dengan langkah berat, Aliando melangkah mendekati Arsyad. Dan tanpa butuh waktu lama, Arsyad segera mendekap Aliando dengan sangat erat.


"Dasar, anak keras kepala, apa kamu tidak mau memaafkan papah? Apa kamu tidak merindukan papah, hah?"


Aliando justru malah menangis dalam pelukan Arsyad.


"Apa sebegitunya kamu tidak mau memaafkan papah? Apa kamu masih sangat marah sama papah? Apa kamu membenci papah?"


Tak ada jawaban. Hanya tangis yang bisa dilakukan Aliando.


"Mamah, Al berdamai dengan papah," gumam hati Aliando sambil mengeratkan dekapannya.

__ADS_1


Kini mereka duduk bersama di tempat tidur. Arsyad menghapus air matanya. Ia terharu, ada beban yang seakan lepas dari pundaknya, hatinya terasa ringan.


"Bagaimana kehidupanmu, Al?" tanya Arsyad.


"Baik, Pah, sangat baik,!" jawab Aliando tegas.


"Hmm, sangat terlihat, hidup kamu sangat baik," ujar Arsyad sambil menganggukkan kepalanya.


"Kamu makin gagah dan tampan," komentar Arsyad kemudian.


"Apa papah hidup dengan baik?" tanya Aliando kini.


Arsyad tersenyum tipis, tidak dapat menjawab. Namun Aliando bisa merasakan bagaimana beratnya hidup yang dijalani oleh Arsyad.


"Apa papah tidak bahagia?"


"Bahagia," bohong Arsyad, "Tapi tidak sebahagia bersama mamahmu dan kamu," kata Arsyad jujur.


"Kenapa papah sampai sakit, apa papah tertekan? banyak pikiran?"


"Kamu tau papah sakit?"


"Iya,"


"Kenapa kamu tidak menemui papah?"


"Al malas bertemu tante Vanya,"


"Hm, papah mengerti ... Al, feel kamu bener, Vanya bukan wanita yang baik, seharusnya papah percaya dengan apa yang kamu katakan,"


Aliando hanya diam, ia tidak ingin berkomentar.


"Kamu tau, ini papah sedang membereskan barang-barang Vanya, papah akan menyuruhnya keluar saat ini juga,"


Aliando hanya diam, masih tidak ingin memberikan komentar.


"Kamu pulang ya, tinggallah di sini, karena Vanya tidak akan ada lagi di rumah ini,"


"Maaf, Pah, tapi Al sudah punya kehidupan sendiri," tolak Aliando hati-hati.


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻...


...🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺...


...Halo kak readers sambil nunggu Up, mampir juga yuk ke novel sahabatku kak Aveiiii pokoknya keren banget, seru banget. Jangan lupa dukungan buat author nya. Happy reading yaaaaa....


Judul : Ambil Saja Dia Untukmu


Ini blurbnya:


Salma seorang wanita karir di bidang entertainment, harus rela meninggalkan dunia karirnya untuk mejadi ibu rumah tangga yang sepenuhnya.


Menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak kembar sangat tidak mudah bagi ia yang belum terbiasa dengan pekerjaan rumah tangga. Salma juga harus menghadapi tuntutan suami yang menginginkan figur istri sempurna seperti sang Ibunda.


Di saat ia masih berjuang menopang ekonomi keluarga karena suami sempat mengalami PHK, ia harus menerima kenyataan jika suaminya ingin menikahi sahabatnya.


__ADS_1


__ADS_2