Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
46. Hadiah terindah


__ADS_3

"Selamat ulang tahun yang ke tujuh belas, istriku," ucap Aliando sambil menyerahkan kotak yang sejak tadi dipegangnya.


Alisha terkejut, ia bahkan sampai lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya.


"Abang ingat?" tanya Alisha sambil menerima kotak tersebut.


"Apapun tentang kamu, aku ingat,"


"Makasih, ini apa?" tanya Alisha sambil. membuka kotak tersebut yang ternyata kotak perhiasan.


"Ini set perhiasan milik mamah, kata nenek, sudah saatnya menjadi milik kamu, lihat, kalung, gelang, dan anting-anting ini adalah pasangan dari cincin pernikahan kita!" kata Aliando sambil memegang tangan Alisha, menunjukkan cincin yang telah disematkan di jari manis gadis itu setelah akad.


"Ya ampun, ini istimewa banget, Bang,"


"Iya, dari mamah, untuk wanita yang istimewa, menantunya,"


Alisha kembali tersipu, ia masih merasa aneh dengan kata menantu yang sekarang telah menjadi 'status'nya.


"Sini biar aku pasang ya," kata Aliando sembari mengambil gelang dari dalam kotak.


"Malam ini aja ya, Bang, kan gak boleh dipakai ke sekolah," kata Alisha.


"Oh, iya, bener juga, kan gak boleh pakai perhiasan ke sekolah ya," kata Aliando, ia teringat jika peraturan sekolah melarang siswinya memakai gelang dan kalung emas.


"Ya udah, malam ini aja, biar mamah seneng!"


Alisha mengangguk. Ia menurut kala Aliando memasangkan gelang ke tangannya.


"Tangan aku jadi makin cantik!" komentar Alisha.


"Iya, semua tentang kamu, adalah cantik, Cha!" kata Aliando masih memegang tangan Alisha, dengan posisi berlutut di hadapan gadis itu.


"Mulai kan ngegombal lagi!"


"Itu bukan gombal, tapi memuji istri, dan memuji istri itu pahala, Cha!"


"Iya deh, iya, Suamiku," kata Alisha yang tetiba membuat Aliando merasa di awang-awang.


"Kamu manggil apa, Cha? Suamiku?" Aliando berbinar.


"Iya, ada yang salah?"


"Nggak, aku hanya bahagia ngedenger panggilan kamu, biasanya kan kamu pake 'Abang', pake 'kamu' ...,"


"Kakak! Aku pengen manggil Abang dengan kakak!" sela Alisha.


"Terserah kamu, suka-suka hati kamu, tapi, apapun panggilan dari kamu, aku suka, kamu ingat? kamu pernah manggil aku 'kakak' setelah aku bertarung dengan Sam,"


"Benarkah?" tanya Alisha sembari mengingat.


"Iya, aku bahagia banget!"


"Emh, iya, itu spontan, gak tau, tiba-tiba aja, aku pengen manggil Abang saat itu dengan panggilan 'kakak',"

__ADS_1


"Dan kamu tau, itu mengingatkan aku pada mamah, mamah selalu memanggil aku dengan panggilan kakak, atau kak Ando,"


"Ah, iya, Abang udah pernah cerita," kata Alisha. Ia ingat, Aliando memang pernah menceritakan tentang panggilannya sebagai 'kak Ando'.


"Jadi, Abang suka aku manggil apa? Abang atau Kakak?"


"Kakak, aku suka, spesial, ngingetin aku sama mamah dan Alifia, tapi kalau abang, khusus, baru kamu yang manggil aku dengan sebutan itu, yang lain dengan kata 'mas',"


"Tadinya, aku pengen manggil Abang dengan 'kakak', tapi malah ngingetin sama mamah ya, ya udah manggil abang aja ya,"


"Apapun, Cha, kamu manggil aku dengan Dodo juga, aku suka,"


Alisha tertawa kecil memperlihatkan gigi putihnya yang rapih. Ia ingat, nama kontak Aliando masih 'Bang Dodo', ia berencana akan merubahnya menjadi 'Suamiku'.


"Sini, biar aku pakaikan kalungnya, ya," kata Aliando, kali ini dia mengambil kalung dari dalam kotak, kemudian memasangkannya di leher Alisha.


"Cantik banget," komentar Alisha pada kalung yang sudah terpasang di lehernya.


"Iya, kamu memang cantik, Cha!"


"Bukan aku, tapi kalungnya, Bang, ini cantik banget,"


"Dan yang make juga sangat cantik, jadi, makin terlihat luar biasa," ujar Aliando sambil menunduk menatap cermin, ia menempelkan pipinya dengan pipi Alisha, dan tangannya melingkar di tubuh Alisha, memeluknya erat.


Hati Alisha berdebar tak karuan, irama nafasnya terasa tak beraturan, rona wajahnya menjadi merah muda. Ia mematung, sambil menatap cermin.


"Terima kasih, Cantik, sudah mau menjadi istriku, kamu adalah hadiah terindah dari Tuhan untuk hidupku!" ucap Aliando lembut namun terdengar tegas, menandakan dia tidak bercanda.


Pelan Alisha menarik kedua sudut bibirnya, kemudian mengangguk.


"Kamu gak nyesel nikah muda?" tanya Aliando sambil memandang wajah Alisha di cermin.


"Gak tau, aku masih bingung dengan perasaan aku sekarang,"


"Memangnya, gimana dengan perasaan kamu, hm?"


"Aneh aja, dapat status baru jadi seorang istri,"


"Lama-lama juga akan terbiasa,"


"Emang Abang gak merasa aneh?"


"Agak sedikit kaku sih, tapi aku udah sangat siap dengan hal ini, tinggal menyesuaikan aja,"


"Apaaa ...," Alisha menjeda kalimatnya.


"Ada apa?" tanya Aliando penasaran karena Alisha menghentikan kalimatnya.


"Apa nikah kita ini nyata, apa kita betulan nikah? atau cuma main-main?"


Aliando sedikit tercengang, ia merasa aneh dengan pertanyaan Alisha.


"Wah, otak kamu harus diberesin," kata Aliando. Tanpa melepas pelukannya, ia mengetuk kepala Alisha bagian pelipisnya.

__ADS_1


"Kamu kira, waktu tadi aku ngucapin akad nikah, dan disaksikan banyak orang, aku main-main?" tegas Aliando memastikan.


Alisha nyengir. Sebenarnya ia sadar betul jika sudah menikah, namun perasaannya yang masih tidak percaya jika dia sudah menikah.


"Bang, apa itu berarti kita kayak suami istri lainnya?"


"Tentu saja!" kata Aliando sambil melepaskan dekapannya, ia kembali berlutut sehingga Alisha menghadap ke arahnya.


Alisha langsung menutup mulutnya.


"Ada apa? kenapa kayak kaget gitu, hm?" tanya Aliando.


"Apa, kita ntar ada malam pertama?"


"Uhhuk, ekhem," Aliando tersedak udara. Ia terkejut dengan pertanyaan Alisha. Ia tak menyangka jika Alisha akan berpikiran ke arah sana.


"Abang kenapa?" tanya Alisha dengan polosnya.


"Kamu bisa gak sih kalo ngomong gak frontal kayak gitu, lagian cewek kok blak-blakan banget!"


"Lho emang salah ya, katanya kita udah suami istri ... wajar dong aku nanya gitu,"


"Jadi, kamu mau?" tanya Aliando sambil berdiri, kemudian ia menunduk mendekatkan wajahnya ke wajah Alisha hingga tersisa jarak beberapa senti.


Alisha terpaku, ia menelan salivanya sangat berat, menatap bola mata Aliando dengan tatapan yang tertahan.


"A-bang m-au a-pa?" tanya Alisha terbata.


"Menurutmu mau apa, hm?"


"Abang jangan macem-macem ya!"


"Kita kan sudah suami istri ... Ayok, kita lakukan yang kamu katakan tadi!" kata Aliando tersenyum sambil menaik-turunkan alisnya beberapa kali.


"Iiiih, Abang bikin aku merinding!"


"Kenapa? Takut?"


Alisha menganggukkan kepalanya cepat.


Melihat reaksi Alisha, cowok tampan yang telah resmi menyandang status suami ini hanya tersenyum. Jujur saja, dia tidak pernah memiliki pengalaman seperti yang dibayangkan Alisha, dan dalam hatinya terbesit rasa takut, jika memang Alisha sedang hamil (di luar nikah), bukankah dilarang untuk melakukan hubungan suami istri dulu, hingga perempuan tersebut melahirkan. Jika sudah melahirkan, kedua pasangan ini harus menikah lagi, baru boleh melakukan hubungan suami istri.


"Aku belum siap," ucap Alisha terbata.


"Kita lakukan kalo kamu udah siap," kata Aliando.


"Bener, Bang?" tanya Alisha berbinar.


"Iya,"


"Kalo ntar malam aku siap berarti kita akan MP ya Bang?" tanya Alisha dengan wajah biasa saja.


Aliando kembali tersedak. Padahal, yang dia maksudkan 'siap' itu bukan hitungan jam, melainkan bulan atau bahkan tahun. Tapi ternyata yang ada dalam pikiran gadisnya ini 'siap' dalam hitungan jam.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2