
"Sha, aku pengen ngomong," cegah Fahri sebelum ke lapangan untuk pelajaran olahraga. Ia tahu jika Alisha selalu berusaha menghindarinya dalam beberapa hari terakhir.
Semenjak hari itu, Alisha memang membatasi diri baik secara tatapan apalagi komunikasi. Ia lebih menyibukkan diri berbincang dengan teman-temannya daripada harus sendirian, karena tidak ingin memberi celah sedikitpun pada Fahri untuk mendekatinya, ia benar-benar tidak memberi kesempatan untuk hal itu.
"Ada apa?" tanya Alisha cuek.
"Gak usah sok polos, aku tau dua minggu ini, kamu mencoba ngehindari aku, kan,"
"Emang ... trus kenapa? masalah buat kamu?"
"Jelas lah, kamu tuh gak bisa berbuat seperti ini, Sha!" ungkap Fahri.
"Suka-suka hati aku lah, aku ngelakukan ini karna aku gak nyaman sama kamu!" jelas Alisha.
"Kenapa kamu bisa gak nyaman? Kamu tau kan aku bakal ngasih kamu kenyamanan? Apa kamu lupa yang sudah kita lalui bersama? Kenapa kamu sampai melupakannya?"
Alisha mengernyitkan keningnya. Ia sama sekali tidak paham dengan perkataan Fahri.
"Kapan kita bersama, kita baru kenal lho,"
"Kamu bohong, kamu mengingkarinya, kenapa kamu sampai merubah nama kamu?"
Alisha hanya diam, tatapannya pada Fahri masih menunjukkan ketidakmengertiannya. Ia merasa ada sebuah misteri tentang Fahri.
"Ayo, Sha, kenapa kamu masih disini sih?" tanya Naira menghampiri Alisha dan Fahri yang sedang berbicara di koridor sekolah. Ia tiba-tiba saja datang memotong pembicaraan sambil merangkul Alisha.
"Eh iya, ini Fahri ...." ucapan Alisha tiba-tiba terhenti. Ia melirik Naira.
"Aish, kamu lagi Ri, udah, jangan ganggu Alisha!" kata Naira memotong ucapan Alisha.
"Ayo, Sha, tinggalin dia!" ajak Naira sambil menarik tangan Alisha.
"Tunggu, Ra," Alisha menghentikan langkahnya. Ia berbalik menghadap Fahri untuk mengatakan sesuatu.
"Aku rasa, kecuali hal penting, kita gak usah bicara lagi, okke, dan satu lagi, jangan suka membual!" tegas Alisha.
Fahri terdiam tanpa ekspresi, pandangannya kosong menatap kepergian Alisha dan Naira menuju lapangan olahraga. Hatinya begitu bergemuruh menahan emosi.
"Aku harus keluarkan kartu As ku!" kata Fahri tegas.
π΅
"Tunggu, Sha," kata Fahri sambil menarik tangan Alisha yang hendak menuju kantin setelah pelajaran olahraga.
"Eh, lepasin," kata Alisha sambil melepas paksa tangannya dari cengkraman Fahri.
"Kenapa sih kamu masih gangguin Alisha?" tanya Naira sebal.
__ADS_1
"Gak ada urusannya dengan kamu!" kata Fahri.
"Kamu mau apa sih? Kan sudah aku tegaskan kalo gak ada hal penting gak usah bicara ma aku, apa masih belum paham?" sewot Alisha.
"Ini lebih dari penting!" kata Fahri.
"Oh ... Ya udah, ngomong aja!" kata Alisha mengalah.
"Hanya berdua! Cuma kamu ma aku! Gak ada orang lain!" tegas Fahri dengan lirikan tajamnya pada Naira.
Alisha melempar pandang pada Naira, dan Naira mengerti maksud dari tatapan Alisha. Ia mengerti jika Alisha meminta Naira untuk pergi dan membiarkan Alisha bisa berbicara berdua dengan Fahri, dan dipastikan jika ia akan baik-baik saja,.
"Ya udah, aku tinggal ya," kata Naira sambil mengusap lengan Alisha, seakan memberi isyarat jika Alisha harus berhati-hati.
Setelah kepergian Naira, Fahri mengajak Alisha duduk di pinggir lapangan olahraga berpayung pohon yang rindang.
"Ya udah, katakan apa yang mau kamu omongin," kata Alisha tidak ingin berbasa-basi.
"Malam minggu ini kita kencan ya, dan kamu gak boleh nolak," ajak Fahri tegas.
"Apa? Kamu gak usah aneh deh, kenapa kita harus kencan? pacar bukan dan kita juga gak deket,"
"Aku kangen kamu," ucap Fahri penuh percaya diri.
"Kamu gila, Ri!" tegas Alisha.
"Apa maksud kamu? Aku gak paham," ujar Alisha bingung.
"Udah, gak usah berpura-pura lagi, aku tau, aku yang salah, tapi aku udah minta maaf, kan, aku menyesal, dan aku gak mau kehilangan kamu lagi,"
"Kamu aneh, aku rasa kita gak ada yang harus diomongin lagi!" kata Alisha sambil bangkit dari duduknya. Ia merasa apa yang diobrolkan sama sekali tidak dipahami olehnya.
"Cukup Dhea Wijaya! Kamu gak usah bersandiwara lagi! Gak bisa kah kamu maafin aku?" tanya Fahri sambil bangkit dari duduknya, kemudian mencengkram tangan Alisha.
"Ish, gak usah megang-megang!" kata Alisha sambil melepas paksa tangan Fahri yang mencengkeramnya.
"Aku gak tau apa yang terjadi setelah kamu pergi? Apa kamu kecelakaan hingga kamu amnesia dan melupakan aku?" tanya Fahri.
"Aku gak tau ya apa yang kamu maksudkan? Dan siapa Dhea Wijaya?" tanya Alisha masih dalam kebingungannya. Apalagi saat Fahri memanggilnya dengan sebuah nama yang sangat asing, Dhea Wijaya.
"Ini kita, Sha!" kata Fahri sambil memperlihatkan beberapa foto di ponselnya. Foto yang menampilkan kebersamaan Fahri dan seorang gadis yang wajahnya seratus persen mirip dengan Alisha.
Alisha terkejut saat melihat gambar tersebut.
"Gimana? Kamu lihat kan, ini kamu, apa kamu ingat sesuatu setelah lihat ini?" tanya Fahri menyelidik.
"Tidak!" Alisha menggeleng.
__ADS_1
"Jangan bohong, aku tau, kamu pasti bisa merasakannya meskipun kamu tidak ingat!"
"Sama sekali tidak, tapi aku cukup salut, hasil editannya bener-bener bagus, kayak asli, gimana caranya?" tanya Alisha berusaha tenang. Ia tidak semudah itu untuk percaya jika yang diperlihatkan Fahri adalah foto asli.
"Ini bukan editan, Sha, ini kita, aku punya banyak foto kita, aku harap setelah lihat ini kamu mengingat sesuatu!" kata Fahri tegas.
"Sori! aku gak ada waktu buat dengerin omong kosong ini!" kata Alisha sambil melangkah pergi.
"Satu kali saja, Sha! Beri aku kesempatan, aku minta satu hari untuk kencan, aku akan buktikan kalo kita memang punya hubungan,"
"Gak usah ngaco! Sampai kapanpun aku gak akan mau! Dan apa kamu gak punya muka, ngajak kencan cewek orang?"
"Hah iya, pelayan itu ...."
"Aliando! Namanya Aliando paham!" tegas Alisha.
"Ya lah, siapapun dia, yang jelas aku gak peduli, aku ingin kita kencan!"
"Dasar gila!" Alisha kesal.
"Terserah, aku beri kamu waktu dua hari ini, sampai hari Sabtu untuk memutuskan, tapi kamu jangan coba-coba menolaknya, karna aku nggak akan segan-segan menyebarkan video kamu dengan pelayan itu!"
"Howh, video apa lagi? kamu seneng banget sih ngedit-ngedit," kata Alisha semakin jengah.
"Yang aku miliki ini bukan editan, Sha, semuanya asli!" tegas Fahri.
"Nih, kamu lihat!" pinta Fahri sambil memperlihatkan video saat Alisha berciuman dengan Aliando di gazebo ketika hujan.
Alisha benar-benar terkejut karena kejadian dalam video itu benar-benar nyata. Ia ingat akan hari itu. Hari dimana Aliando menciumnya saat hujan di gazebo.
"Sekarang, kamu udah percaya kan?" tanya Fahri.
"Jadi hari itu kamu ngikutin aku?" tanya Alisha emosi dan canggung.
"Iya, kamu tahu perasaan aku saat itu, hati aku sakit banget, aku gak nyangka kamu berani berciuman di sekolah, apa kalian gak punya malu?"
Alisha bingung, ia tahu, yang ia lakukan dengan Aliando salah, meskipun mereka adalah suami istri tapi tidak seharusnya mereka bermesraan di tempat umum, apalagi sekolah.
"Kenapa kamu di sini, Sha?" tanya seseorang yang baru saja datang menghampiri keduanya. Dia Aliando.
Alisha dan Fahri mengalihkan pandangan kepada Aliando. Jujur saja, tatapan ketiganya terasa begitu canggung.
"Ayo kita pergi, kamu belum istirahat kan?" ajak Aliando sambil menarik tangan Alisha.
"Tunggu! Sha, kamu pikirkan aja dalam dua hari ini, kamu sudah tahu segala resiko dan konsekuensinya, aku tunggu, okke," kata Fahri sambil tersenyum tipis. Ia merasa selangkah lagi menuju kemenangan karena ia memegang kartu As.
π»π»π»π»π»
__ADS_1