Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
35. Kelinci taruhan


__ADS_3

"Kita sudah sampai, masuklah!" perintah Samudra ketika mereka tiba di tempat tujuan. Mereka sudah berada di halaman sasana bela diri tempat Aliando disekap. Namun, sebelum menemui Aliando, Samudra yang memang sangat menginginkan Alisha, terlebih dahulu mengajak Alisha ke sebuah ruangan seperti sebuah kamar, didalamnya lengkap, ada sebuah tempat tidur, karpet sebagai alas duduk, dan televisi. Ruangan ini berada di utara bagian depan sasana.


Alisha yang mengerti maksud Samudra, tentu saja berontak dan melakukan perlawanan.


🌡


"Hoh, pertemuan yang manis sekali, sangat mengharukan!" ucap Samudra bertepuk tangan, saat ia masuk ke sasana.


Sebenarnya Samudra masih sangat geram dengan tingkah laku Alisha sebelumnya. Bagaimana tidak, alat vitalnya ditendang sekuat tenaga kaki Alisha, setelah ia menampar pipi mulus Alisha dengan sangat kuat.


*flashback on*


"Dasar kelinci tak tau diri, pengkhianat!" ucap Samudra saat itu sambil menampar Alisha. Awalnya, ia mendorong Alisha ke tempat tidur dengan kasar, lalu naik ke kasur dan seperti siap menerkam Alisha. Namun, sebelum ia menindih Alisha, Alisha dengan cepat bangun, dan menghindar, berlari ke arah pintu.


Sayangnya, secepat itu pula Samudra menangkapnya dari belakang. Alisha yang terkunci, segera membenturkan kepalanya kuat-kuat ke belakang, hingga mengenai hidung Samudra, dan itu menyebabkan Samudra merasakan sakit sehingga melonggarkan dekapannya bahkan melepaskan tangan satunya dan mengusap hidung.


Kesempatan ini tidak di sia-siakan oleh Alisha, ia segera melepaskan diri kemudian menendang wajah Samudra.


Tentu saja, cowok itu marah besar, ia mendekati Alisha, menarik tangannya dan menamparnya sangat kuat, kemudian melemparkan kembali tubuh Alisha ke kasur.


Namun, sebelum Samudra bisa menindihnya, Alisha segera menendang alat vitalnya dengan sangat kuat. Kemudian berlari keluar bermaksud mencari Aliando, dan membiarkan Samudra kesakitan.


*flashback off*


"Hmhh, jadi kamu yang melakukannya, dasar pecundang! Beraninya dengan perempuan, memalukan!" ucap Aliando geram. Nadanya sangat meremehkan Samudra.


"Jaga ucapanmu!!" Samudra tidak terima. Ia melangkah mendekat. Alisha segera bangun, dan berdiri di belakang Aliando, berusaha melepaskan ikatan. Namun, ia kesulitan membuka ikatannya.


"Kamu! kamu pecundang! hanya bisa menampar perempuan!" teriak Aliando.


"Oh, sialann!" Samudra semakin naik darah. Hampir saja ia menampar Aliando kalau Alisha tidak menghalanginya.


"Buktikan kalo kamu bukan pecundang, Sam! Jangan hanya bisa melawan orang yang sedang terikat! Tadi aja kamu kalah lawan aku, mau lagi?" teriak Alisha dengan mata menatap ke arah vital milik Samudra.


"Hiiisssh, dasar kelinci nakal, kurang ajar!" Samudra hendak menampar Alisha, namun tangan Alisha bisa menepisnya.


"Jangan sentuh dia, Sam!" teriak Aliando.


"Hmm, menarik, gimana kalau kita teruskan yang tadi, Sayang," Samudra menyeringai.


"Sepertinya akan lebih asyik jika disaksikan dia!" imbuhnya sambil menunjuk Aliando.


"Dasar pecundang gila!" maki Alisha.


"Kelinci nakal pengkhianat!" ucap Samudra sambil memegang dagu Alisha kuat.


Dengan sigap Alisha segera menyerang Samudra dengan teknik Judo jegal dari depan, hingga membuat Samudra yang tidak siap terbanting.


Ia kaget, namun dengan cepat mengembalikan keadaan, kini Alisha ada di bawahnya.

__ADS_1


"Kekuatanmu gak sama, Sayang!" seringai Samudra yang merasa di atas angin.


Aliando segera bangun meskipun dalam keadaaan terikat, sehingga kursi yang ia duduki pun ikut terangkat. Ia segera mendekat ke arah Samudra dan memutar badannya sehingga kaki kursi yang ada dibelakangnya mengenai kepala dan badan Samudra hingga ia terjungkal ke belakang.


Sementara, keempat orang yang ada di situ, yang tadinya hanya menjadi penonton, mulai beraksi. Aliando pun menghadapi mereka dengan brutal hingga kursi yang terikat di tubuhnya hancur berantakan. Ia pun bebas beraksi melawan keempatnya. Satu demi satu ia lawan, dan aksinya itu tidak lepas dari pandangan Alisha.


"Luar biasa!" gumam bathin Alisha.


Keempatnya kewalahan, dan bisa saja mereka tumbang kalau saja Samudra tidak dengan cepat menghampiri Alisha dan mengunci tubuhnya, sehingga Alisha tidak bisa bergerak.


"Stop!! Atau Kelinci ini terluka!" kata Samudra penuh ancaman.


Aliando menghentikan aksinya.


"Ini urusan kita, Al! Ayo kita bertarung, kita teruskan pertarungan kita empat tahun lalu,"


"Bukannya pertarungan itu sudah selesai? Kamu kalah, Sam!" ujar Aliando lantang. Keempat orang yang ada di dekat Aliando memilih mundur sambil menahan nyeri dan luka di tubuh mereka.


"Aku tidak kalah kalau waktunya masih panjang!" Samudra membela diri.


"Kamu masih gak bisa terima kekalahan? Rupanya kamu dendam?"


"Ya! aku sangat-sangat ingin menghabisimu! Apalagi kamu membunuh sahabatku dan sekarang, kamu curi juga kekasihku!"


"Okke! Ayo kita lanjutkan pertarungan empat tahun yang lalu!" tantang Aliando.


"Ada syaratnya!" kata Samudra penuh penekanan.


"Syarat pertarungan masih sama! Tapi kita bertarung kali ini tidak menggunakan waktu, sampai benar-benar K.O, dan jika kamu kalah, lepaskan kelinci manis ini, biarkan dia jadi milikku! Begitupun sebaliknya, dan aku akan mengakui kekalahanku, juga mengakui kalau kamu bukan pembunuh!"


"Terserah soal anggapanmu tentang aku pembunuh, tapi apapun keadaannya, aku gak akan pernah melepaskan Alisha kepada pecundang sejati seperti kamu!"


"Sial! Ayo kita buktikan!" Samudra sudah geram.


🌡


"Kakak gak apa-apa? Kakak yakin akan bertarung?" tanya Alisha pada Aliando yang tengah bersiap menuju arena pertarungan. Ia yakin keadaan Aliando tidak begitu fit setelah melawan empat orang belum lagi ada kemungkinan Aliando kelaparan setelah disekap kecuali mereka sempat memberi makan.


"Kamu manggil apa, Cha?"


"Yang mana?" Alisha bingung tidak menyadari jika dia spontan memanggil "Kakak" bukan "Abang" seperti biasanya, dan menurut Aliando itu adalah panggilan spesial.


"Lupakan," kata Aliando asal.


"Kamu yakin?" Lagi, Alisha menanyakan kesiapan Aliando untuk bertarung.


"Kalo kamu gimana?"


"Kebiasaan ih, jawab pertanyaan dengan pertanyaan!"

__ADS_1


"Kamu harus yakin ya, karena itu adalah kekuatanku, kamu adalah support untukku, tetaplah berdoa, aku akan baik-baik aja!" kata Aliando sambil mengusap pipi Alisha. Ah, perlakuan manis seperti inilah yang selalu membuat Alisha merasakan hal yang berbeda namun indah.


"Tapi ...." Alisha menghentikan ucapannya, ia sedikit menunduk menghindari Aliando yang akan memindai matanya.


"Gak usah ragu, kamu adalah milikku, calon istriku, kamu akan aku perjuangkan, dan gak akan aku lepaskan pada siapapun," ucap Aliando sungguh-sungguh, seakan ia tahu apa yang ada di dalam pikiran Alisha. Tangannya pun mengusap pucuk kepala gadis cantiknya itu penuh rasa sayang membuat hati Alisha kian berdesir dan akhirnya ia pun menganggukkan kepalanya pelan namun pasti.


Aish, pemandangan itu membuat Samudra kepanasan, ia emosi, darahnya seakan mendidih tersulut api cemburu, apalagi sesaat sebelum Aliando masuk ke arena, Alisha mengecup pipi Aliando. Ini adalah kali kedua, Alisha mengecup pipi Aliando sebagai penyemangat, namun tanpa ia sadari perlakuannya itu justru mengacaukan perasaan Samudra. Ia masuk ke arena dengan penuh amarah yang memburu ingin segera menghabisi Aliando.


Sementara Aliando dengan penuh kesiapan, keyakinan dan ketenangan, ia masuk ke arena sasana, meskipun di pundaknya ada beban harus berjuang mempertahankan Alisha.


Sepuluh menit berlalu, keadaan masih seri, kekuatan keduanya seimbang, belum ada yang bisa tumbang, mereka masih saling menyerang, melawan dan mempertahankan diri. Seluruh tenaga, kekuatan, jurus maupun tekhnik bela diri satu per satu mereka gunakan.


Tak ada istirahat, terus bertarung, dan di menit kelima belas, kelelahan, luka, lebam dan darah di sekitar wajah sudah mulai terlihat.


Alisha cemas, ia sangat mengkhawatirkan keadaan Aliando, karena keadaan Aliando tampak mulai tidak stabil. Sepertinya, tendangan Samudra yang mengenai tulang rusuknya benar-benar sakit dan membawa efek ketidakseimbangan tubuh Aliando.


Alisha menutup wajahnya dengan kedua tangan lalu mengusapnya kasar. Ia takut Aliando akan kalah. Sungguh, saat ini ia tidak ingin melihat pertarungan.


Namun dugaannya meleset, di saat Samudra merasa di atas angin, karena tidak akan lama lagi bisa mengalahkan Aliando, justru Aliando bisa merubah keadaan, ia membalikkan kondisi dimana posisi Samudra yang kini tertekan. Tepat di menit ke dua puluh satu melalui satu tendangan milik Aliando, Samudra pun terkapar, dan sulit untuk bangun.


Tubuh Alisha yang tadinya tegang, kini melemas, ia berlutut, kemudian bersujud berterimakasih pada Tuhan. Air matanya juga mengalir karena rasa bahagia dan penuh syukur.


"Sudah kubilang empat tahun lalu, yang benar tetaplah benar," ucap Aliando pada Samudra, yang dia sendiri tidak yakin jika Samudra mendengarnya.


Dengan langkah berat namun pasti, ia segera menghampiri Alisha yang saat ini sudah bangun dari posisi sujudnya. Ia menatap Aliando kemudian bangkit dan berlari mendekap Aliando sangat erat.


"Makasih udah selamat!" isak Alisha.


"Apapun untuk memperjuangkanmu!" ucap Aliando menenangkan.


"Makasih kakak udah baik-baik aja," Alisha melepas dekapannya lalu memandang wajah Aliando yang penuh luka dan lebam. Tangannya masih memegang kedua lengan Aliando yang sedang melingkar di pinggangnya. Alisha membiarkan, ia merasa nyaman dengan posisi seperti ini.


"Ini sakit ya?" tanya Alisha sambil menunjuk pelan luka di pelipis mata Aliando.


"Tidak lebih sakit melihat kamu diperlakukan seenaknya oleh Sam!" jawab Aliando.


"Aku baik-baik aja, Kak Ando!" tegas Alisha.


Aliando pun tersenyum sangat manis. Ah, walau bagaimanapun, babak belurnya wajah Aliando, tetap saja bagi Alisha, ia terlihat tampan apalagi dengan senyum manisnya itu.


Gadis itu pun ikut tersenyum sangat manis.


"Lama-lama aku jadi diabet, Cha, selalu dikasih senyuman kamu yang terlalu manis!"


"Mulai!" Alisha heran, bahkan dalam keadaan seperti ini pun Aliando masih saja bisa gombal.


🌡


"Ada apa ini?" tiba-tiba terdengar suara bariton dari arah pintu masuk, tepat sesaat keempat orang yang ada disitu membawa Samudra keluar dari arena pertarungan dan meletakkannya di lantai di sisi dinding.

__ADS_1


Alisha dan Aliando segera mengalihkan pandangan ke arah sumber suara, memandangi pemiliknya, yang samar-samar dalam ingatan, sepertinya mereka tahu siapa pemilik suara bariton yang baru saja datang.


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2