Cinta Cool Dan Barbar

Cinta Cool Dan Barbar
59. Pergi


__ADS_3

"Apa maksudmu? kamu ingin pergi ninggalin aku?"


Alisha masih bungkam, mulutnya seakan terkunci untuk menjelaskan apa yang sebenarnya ia rasakan.


"Kamu gak boleh pergi, kamu istri aku, dan kamu gak aku ijinkan untuk pergi!" tegas Aliando..


"Aku akan tetap pergi tanpa atau dengan ijin kamu," kata Alisha tanpa ragu.


"Kamu gak boleh keluar dari rumah ini, mana ada istri yang keluar dari rumah meninggalkan suaminya begitu aja?"


"Ada, mamahku, dan sekarang aku!" tegas Alisha.


"Nggak, Cha, kamu ga bisa melakukannya,"


"Kenapa nggak? Setelah aku pikir, aku gak pantas buat kamu, aku bukan istri yang baik, dan aku istri yang durhaka, jadi kamu lepasin aku aja!"


"Ya ampun, Cha, apa maksud kamu? Kenapa kamu bicara seperti itu, hm? Ada apa sebenarnya?" tanya Aliando masih sangat tenang dan hati-hati. Ia tidak ingin istri tercintanya itu semakin terluka jika dia tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Sebelum kita terlanjur melangkah terlalu jauh dengan pernikahan ini, sebaiknya, kita cukupkan di sini aja," kata Alisha dengan penuh penekanan sambil mengusap air mata yang dari tadi sudah mengalir membasahi pipinya.


"Kita baru seminggu nikah, Cha, kamu ingin kita berpisah?" tanya Aliando sambil menyembunyikan keterkejutannya.


"Iya, aku rasa, landasan kita untuk menikah belum terlalu kuat, dan aku gak bisa menjalani hal ini,"


"Ada apa sebenarnya, Cha? Kenapa kamu jadi berubah kayak gini? Katakan! Apa yang terjadi?"


"Kamu inget-inget dulu deh, sebenarnya niat kamu menikah itu apa?"


"Aku mencintaimu," jawab Aliando sangat tegas.


Alisha tersenyum tipis.


"Hmh, ya, dan dengan mudahnya aku percaya gitu aja kalau kamu cinta aku," tukas Alisha.


"Tapi aku memang mencintai kamu, Cha, sangat-sangat mencintai kamu,"


"Aku gak tau sejatinya kamu, aku salah udah nerima kamu, aku salah karena kita udah menikah,"


"Kenapa kamu ngomong seperti ini, hm?" tanya Aliando sambil memegang kedua lengan atas Alisha. Tatapannya memindai kedua netra istrinya itu.


"Saat aku sudah yakin, aku mau menikah dengan kamu karena cinta, justru sekarang aku dihadapkan pada kenyataan, jika tujuan kamu menikahiku, karena kamu menganggap aku hamil dengan orang lain, dan kamu ingin bertanggungjawab menutup aibku,"


"Hah?" Aliando terkejut.


"Iya, kamu kira aku cewek apaan?" nada Alisha mulai meninggi.

__ADS_1


Aliando terdiam, ia mulai menyadari, hal inilah yang membuat Alisha kecewa dan sakit hati karena merasa dibohongi.


"Kamu percaya kalo aku cabe-cabean, hagh?" lanjutnya dengan nada suara yang semakin meninggi, naik satu oktaf, terdengar penuh penekanan.


"Nggak, gak seperti itu, Cha, maaf, maaf aku salah,"


"Aku memang bukan apa-apa, aku udah biasa sendirian dan dihina, tapi baru kali ini aku merasakan sakit yang luar biasa, ketika suami sendiri gak percaya sama aku, dan menganggap aku cewek gak bener,"


"Nggak, nggak seperti itu, Cha, murni, aku menikahimu karena sungguh-sungguh mencintai kamu, tanpa alasan lain, hanya karena cinta, dan aku tidak pernah meragukan kamu,"


"Tapi aku udah ga percaya, aku udah gak punya harga diri, aku malu ketemu kakek dan nenek, juga pak Idris, bodohnya aku, kenapa tidak pernah berpikir bagaimana mungkin mereka bisa setuju kita menikah di usia muda, kalau ternyata hanya karena cinta, pantas saja kakek, nenek, dan pak Idris tidak memprotes, karena mereka taunya aku hamil,"


Aliando mematung, ia bingung untuk menjelaskan, karena pada kenyataannya, dia memang bersalah.


"Maaf, aku memang udah bohong pada mereka kalo kamu hamil, tapi itu tidak disengaja," kata Aliando meminta maaf.


"Apa? gak disengaja? maksud kamu, karena kamu terpengaruh ucapan sahabatmu yang mengatakan aku hamil, hanya karena aku muntah-muntah makan bakso?"


"Kamu tau kejadian itu?"


"Iya aku tau,"


"Tapi itu tidak mempengaruhi aku, kamu kan tau, aku udah mengajakmu menikah, jauh sebelum kamu muntah-muntah,"


"Tapi kemudian, kejadian itu kamu jadikan alasan untuk bilang sama nenek dan kakek untuk menikah denganku?"


"Padahal kamu tau, kita aja sampai sekarang gak pernah melakukannya, dan kenapa dengan gampangnya, kamu percaya aku melakukannya dengan orang lain? Kamu kira aku cewek apaan?" Alisha benar-benar meluapkan emosinya, dengan air mata yang terus mengalir.


"Maaf, nggak seperti itu Cha, mereka tahunya kamu hamil karena aku dan aku bertanggung jawab untuk hal itu,"


"Iya benar, tapi kamu percaya aku melakukannya dengan orang lain,"


"Maafkan aku,"


"Apa menurut kamu, aku senang diperlakukan seperti itu, hah? NGGAK, aku merasa seperti cewek amoral, rendahan, dan sampah yang harus dibuang, dan kamu ... seolah-olah seperti pangeran yang mengangkat derajatku,"


"Maafkan aku, aku salah, tapi kamu tahu kan, aku sangat mencintai kamu, dan sudah sering ngajak kamu nikah,"


"Tapi yang jelas, kamu percaya kalau aku adalah cabe-cabean dan itu udah cukup membuktikan padaku, kalau kamu gak punya rasa percaya untuk aku,"


"Tidak seperti itu, Cha," kata Aliando penuh penyesalan.


"Aku memang gak punya siapa-siapa, dan juga gak punya apa-apa, tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya sama aku, sikap kamu ini membuat aku seperti benar-benar ternoda,"


"Nggak, plis Cha, jangan berpikiran ke arah sana!"

__ADS_1


"Terus apa? di mata kamu, kakek, nenek, pak Idris, aku sudah ada harga dirinya,"


"Kamu wanita terhormat, dan teristimewa,"


"Udahlah, pokoknya aku gak bisa nerusin ini, aku nggak bisa hidup dengan orang yang lebih mempercayai orang lain daripada pasangannya," kata Alisha menyerah.


"Maafkan atas kesalahanku,"


"Aku maafkan, tapi biar kita sendiri- sendiri aja,"


"Aku gak akan biarkan kita berpisah, sampai kapanpun, aku gak akan mengucapkan kata pisah atau sejenisnya, kamu tetap jari istriku selamanya,"


"Terserah, yang jelas aku udah gak mau nerusin pernikahan ini, kita hidup sendiri aja,"


"Nggak Cha, tidak ada yang sendiri kita akan selalu hidup bersama," kata Aliando sangat yakin.


"Sayang itu tidak akan pernah terjadi aku sudah memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan dari hidup kamu!"


"Jangan berkata seperti itu, kamu boleh marah tapi please jangan pergi, kalaupun kamu pergi, aku akan anggap, kamu hanya berlibur, kamu butuh menenangkan diri!"


"Aku gak akan kembali, karena aku nggak bisa hidup dengan orang yang lebih percaya pada orang lain bahkan menganggap istrinya sendiri cewek murahan,"


"Aku gak pernah nganggap kamu seperti itu,"


"Tapi nyatanya seperti itu, kamu udah bohong! Dari awal sudah ada kebohongan dan fitnah, maka gak akan berjalan baik,"


"Aku akan memperbaikinya, beri aku kesempatan, aku tau aku salah, aku hanya ingin hidup bersama mu!"


"Apa kamu bisa ganti rasa sakit hati aku? gak bisa kan?"


"Bisa, beri aku kesempatan!"


"Udahlah, aku pergi, terimakasih untuk waktu yang sudah kita lewati,"


"Aku akan tetap menunggumu, Cha, ini rumah kamu,"


"Gak usah ditunggu, aku gak akan kembali, dan aku kembalikan rumah ini," kata Alisha kemudian melangkah meninggalkan Aliando.


"Tidak, Cha, kamu masih istriku, kamu wajib taat sama suami, jangan pernah kamu keluar dari rumah ini!" kata Aliando sedikit berteriak.


Alisha menghentikan langkahnya, kemudian berbalik menghadap Aliando.


"Kalau aku keluar, kenapa? aku udah jadi istri durhaka, kan? maka lepaskan aku!"


Aliando menarik nafas panjang, ia menjambak rambutnya sendiri kemudian mengacaknya. Pikirannya kacau saat ini, ia tahu, Alisha adalah gadis yang nekat, dan dia tidak ingin salah langkah jika masih ingin bersama dengan istrinya itu.

__ADS_1


...🌻🌻🌻🌻🌻...


__ADS_2