
"Entahlah, aku gak tau, apa aku memang mengkhianati Aidyn atau tidak, aku juga gak tau apa aku cinta sama dia," ujar Alisha.
"Maksudmu?" Aliando tidak mengerti.
"Aku hanya merasa nyaman bersama dengannya,"
"Perasaan nyaman? Apa kamu tidak merasakan cinta?"
"Entah, aku juga gak tau, apa itu cinta?"
"Apa kamu pernah berdebar-debar saat bersamanya?"
"Biasa aja, sama kayak ke temen,"
"Pernah merasa kangen kalo gak ketemu?"
"Biasa aja,"
"Haa iya, sepertinya, kamu memang tidak pernah merindukannya selama di sini," terka Aliando. Alisha kembali terdiam. Mungkin memang benar, dia bahkan sama sekali tidak mengingat Aidyn saat bersama Aliando.
"Lalu gimana kamu bisa jadi pacarnya dia?"
"Aku gak tau, tapi waktu dia menyatakan perasaannya aku gak jawab 'iya', aku hanya bilang, 'jalani seperti ini aja dulu', gitu," Alisha terdiam sesaat, ia mencoba memperhatikan raut muka Aliando. Terlihat seperti masih ada pertanyaan yang belum terjawab, "Terus, temen-temen pada bilang kita pacaran, gitu sih menurut kesimpulan mereka,"
"Jadi, cuma karena temen-temen kalian? Dan dia gak tau gimana perasaan kamu ke dia?"
Alisha menggeleng.
"Aku suka bingung, kalo dia nanya perasaanku, karna aku cuma merasa nyaman sama dia, apa aku termasuk pengkhianat cinta?" tanya Alisha.
Aliando diam, seperti memikirkan sesuatu.
"Ah, ternyata iya ya, aku selingkuh," keluh Alisha, "Dan kamu adalah selingkuhanku, Bang!" imbuhnya.
"Aih, jangan seperti itu, Cha, aku merasa seperti pencuri, aku bukan perebut pacar orang lah,"
"Ya lalu apa? tanpa tahu statusku kamu nembak aku dan jadikan aku pacar? Apaan itu?"
"Itu karena aku sudah menemukan kamu, jodohku, kalaupun ternyata status kamu dengan Aidyn itu pacar, aku tidak peduli, yang jelas kamu jodohku dunia akhirat dan aku perlu berterima kasih kepada Aidyn, karena dia telah menjagamu,"
"Eh kok gitu?"
"Iya, itu bener banget, dan kenapa aku katakan kamu istimewa, karena dia menjagamu sampai akhir hayatnya,"
"Hah? Ya Tuhan, kenapa kamu berpikiran seperti itu? bukannya, merasa bersalah, malah bersyukur, apa karena Aidyn udah meninggal?"
"Bukan seperti itu," kata Aliando sambil mengetuk kening Alisha.
"Masa iya, aku bahagia di atas penderitaan orang lain, aku hanya merasa berterima kasih karena selama aku nggak ada, dia telah menjaga kamu,"
"Apa?"
"Iya, kamu itu milik aku, dan Aidyn hanya menjagamu saja, salah sendiri kamu ada di kota T, coba kalau kamu dari dulu di sini, pasti kita sudah lama bareng, untuk itulah, sekarang, giliran aku yang menjaga kamu, okke,"
"Kamu terlalu percaya diri,"
"Sudah seharusnya, memang begitu, kan?"
"Terserahlah!"
"Sekarang, aku tanya, gimana perasaan kamu ke aku, hm?"
"Biasa aja," kata Alisha sambil mengedikkan kedua bahunya menutupi segala perasaannya. Karena dia sendiri masih ragu-ragu, apakah ini cinta atau bukan.
"Jangan bohong," Aliando tak percaya.
"Lah gimana sih, nanya, tapi dijawab malah gak percaya!"
"Ya udah, aku percaya, tapi siapa peduli dengan perasaan kamu saat ini padaku, yang penting kamu adalah milikku, dan sekarang, aku adalah satu-satunya pacar kamu!"
"Ih, pede banget!"
__ADS_1
"Kenapa? Gak mau?"
"Gak lah, aku mau cari pasangan yang gak suka maksa dan gak suka seenaknya,"
"Gak boleh! kamu adalah milikku, gak boleh dengan yang lain, titik, tanda seru!"
"Gak mau!"
"Aku gak butuh persetujuanmu, Cha!"
"Tuh, kan, percuma nolak juga, emangnya kamu gak kasihan apa sama aku?"
"Kasihan kenapa?"
"Aku kan juga berhak milih siapa yang akan jadi pasanganku!"
"Akulah satu-satunya, Cha!"
"Terserah lah, ni lihat, di sini, sudah ada label kalo aku pacar kamu, semua orang di sekolah udah pada tau," gerutu Alisha sambil menunjuk keningnya sendiri.
"Haha, kenapa? kamu nyesel?"
"Banget!"
"Apa? Nyesel? Sini, aku peluk lagi biar ga nyesel,"
"Eits, enak ajah!" kedua tangan Alisha menahan dada Aliando, agar tubuh cowok itu tidak mendekat dan memeluknya.
"Gak usah modus, Bang!"
"Ya udah megang tangan aja ya!"
"No!"
"Ya udah, kalo ga boleh juga ceritakan, kenapa Aidyn meninggal? Apa dia sakit?"
"Tidak, dia kecelakaan, karena buru-buru mau ke rumahku, setelah aku kabari, jika papah meninggal! Dia mengalami koma,"
Alisha mengangguk.
"Aku merasa bersalah karena ga bisa nemenin dia di saat terakhirnya,"
"Bukan salahmu, tapi keadaan,"
"Ya, dan keadaanku di sini, malah jadi pacar kamu, nambah rasa bersalah ku pada Aidyn,"
"Kamu belum menerima cintanya, kan?"
"Iya, sama kayak keadaanku sekarang, aku belum menerima cinta kamu, tapi aku udah dianggap pacar kamu!"
"Baiklah, kalau kamu keberatan, aku gak akan nganggap kamu pacarku lagi, gimana?"
"Benarkah?" Alisha terkejut. Wajah yang ia tunjukkan terlihat berbinar, sok bahagia, padahal jauh di dalam sudut hatinya, ada nyeri yang sulit ia ungkapkan.
"Iya, bener, karna sekarang kamu adalah calon istriku!"
Alisha memejamkan matanya, kemudian menarik nafas panjang. Kali ini wajah yang ia tunjukkan terlihat lesu, sok kecewa, padahal jauh di dalam hatinya ia bahagia, seperti ada bunga-bunga yang bermekaran di sekitarnya.
"Emang aku mau jadi istri kamu? lagian kita masih SMA tau, pikirannya udah nikah, dasar aneh!"
"Aku gak butuh persetujuanmu, Cha, kalo perlu, nikah sekarang gak papa, lagian aku kan udah ngantongin restu dari papah kamu!"
"Enak aja, gak mau," tolak Alisha.
"Lagian, papah juga belum tentu mau punya mantu kayak kamu!" lanjutnya.
"Emang aku kenapa?"
"Aneh, pemaksa, dan seenaknya!"
"Yang penting aku sayang dan cinta sama anaknya!" tegas Aliando.
__ADS_1
"Haish!" Alisha hanya memicingkan matanya.
"Ga usah natap horor, Cha!" ledek Aliando. "Eh, iya, gimana papah bisa meninggal?" tanyanya kemudian.
"Korban tabrak lari!"
"Wah, kenapa penjagamu semuanya meninggal karena kecelakaan?"
"Kenapa? Nyesel udah bilang mau jaga aku? Takut kecelakaan juga?"
"Ih, otak kamu ini, bisa gak sih, gak negatif prasangka sama aku?" Lagi-lagi Aliando mengetuk kening Alisha.
"Bodo, ah,"
Aliando menggelengkan kepalanya. Gemas.
"Tapi, ada yang aneh, setelah papah meninggal, pak Haikal, guruku, yang juga sahabat papah, langsung nyuruh aku pindah, ke kota ini!"
Aliando mengerutkan keningnya. Seperti ada yang dia pikirkan. Pasti ada sesuatu dibalik kepindahan Alisha. Itu yang terlintas dalam benaknya.
βοΈ
Aliando kesal malam itu, karena dia dipaksa harus bertemu dengan Nayna. Wajahnya terlihat tidak ramah saat menuju tempat parkir rumah sakit. Kemarin, atas segala bujuk rayu Alisha yang penuh 'pemaksaan', akhirnya Aliando mau menemui Nayna.
Alisha sudah menunggunya dengan senyuman yang begitu manis melihat kedatangan Aliando.
"Ya ampuuuuun, beneran cuma lima menit, pas banget, di ruangan berapa lama, Bang?"
"Hanya sembilan puluh detik!"
"Di hitung?"
"Hm,"
"Lalu apa aja yang dibicarakan selama sembilan puluh detik?"
*flashback on*
"Al, akhirnya kamu dateng, aku suka, makasih,"
"Hmm," Aliando mengiyakan dengan malas.
"Ada apa? katakan, aku gak punya waktu lama,"
"Plis, jangan kayak gitu, Al, aku ingin kamu di sini, temani aku sebentar aja,"
"Tujuh puluh lima detik lagi, cepat katakan apa yang akan kamu katakan padaku!"
Nayna terkejut dengan ucapan Aliando.
"Kamu sungguh-sungguh?"
"Iya, dan kalo gak ada yang akan kamu katakan, aku akan pergi!" kata Aliando sambil membalikkan tubuhnya hendak keluar.
"Eh, tunggu Al, okke, aku cuma minta kamu putusin Alisha, jadilah pacarku atau kalau tidak mau, temani aku di sisa waktuku, atau kalo kamu masih gak mau juga temani aku sehari aja, atau sejam, plis, kabulkan permintaan terakhirku ini!" rengek Nayna lembut.
"Maaf, aku tidak bisa, dan tidak punya waktu untuk kamu, okke, makasih, aku pamit!" tegas Aliando. Dia langsung pergi, dan tidak peduli dengan teriakan Nayna yang memanggil namanya.
*flashback off*
...π»π»π»π»π»...
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...
Halo kak readers. mampir juga yuk ke novel sahabat ku kak Nita.P judulnya Benteng Penghalang Kita. Cuss ah.... pokoknya keren banget.
jangan lupa ya dukungan buat authotnya.
happy Reading yaaaπππ
__ADS_1
...πΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉπΉ...